REDproject

REDproject
Bab 15: Red Flower



"Dengarkan dulu! Aku sungguh-sungguh!"


Hening mengudara hingga celoteh si gadis pirang memadati ruang putih. Tak ada yang berujar; tak ada yang menjawab; tak ada yang membuka mulut. Hanya ditemani desir dingin ruang juga peralatan alumunium di atas meja besi nan suram. Xavier bersedekap, siswi berbaju biru muda berdiri tepat di belakangnya. Mizu dan Jin bergeming, tak ada respons pun guru lain.


"Dia yang menyelamatkan aku! Dia orangnya baik! Jika tidak ada dia aku---"


"Diam!" Bentak si pemuda berambut pirang menggema bak guntur yang tak henti bersua.


Jin beranjak, kursi yang diduduki berderak sebab hentak kaki. Sepasang tungkai jenjang diseret paksa, pelan tapi pasti ia mendekati si gadis dengan wajah yang masih enggan dilihatkan. Detik kemudian, dentum sol menggaung ritmis seiring derap langkah sang hawa. Wajah tanpa gurat emosi tersebut menoleh sementara mata hitam hermatite mengedar pandang. Mizu mendahului langkah Jin.


"Maaf Apple."


"Kenapa? Eh, Ah!"


Mizu menangkupkan tubuh Apple ke dinding, tanpa berniat melepas cengkeraman pada lengan sang gadis kecil. Menarik lengan tersebut ke belakang, menyilangkannya dengan kaki yang menjejak tepat di pergelangan tangan.


"Ini demi kebaikanmu juga." Mizu berbisik seiring merogoh tas pinggang si gadis, mengambil buku cerita kuno bertulisakan Story about "RED".


"Tu-tunggu! Itu bukuku!"


"Kau, antar Apple ke kamarnya." Siswi itu menegak dengan menyembul senyum ramah, menekuk tangan di kening bak memberi hormat dan menuruti titah Shikurai muda, "Jaga dia terus, jangan sampai keluar."


Ia menyaruk kaki, mendekap Apple yang kian meronta. Kuat sekali siswi ini di balik wajah manisnya, terasa lengan kekar di belakang baju melebihi ukuran yang menjuntai.


"Apa ini?! Ada apa sebenarnya?!" Teriak si gadis pirang makin samar tatkala siswi itu menyeretnya pergi, menjauhi ruang.


Tawa renyah mengudara. Tak bergeming dari pijakan, Mizu berbalik badan. Tanpa gentar beradu pandang dengan pemuda mata hijau kelam di depan yang kian melahap jarak.


Jin mengukir senyum janggal dan memiringkan kepala. "Heee sayang, kenapa repot-repot?" Suara ramah seperti biasa, sopran khas miliknya, tetapi tidak. Memang Jin terkenal dengan orang berkepala dingin dan penyayang anak kecil, tapi Mizu paham betul ada yang tak beres dengan kekasihnya. Paling tidak sampai pemuda ini menenang, sampai mata kelam itu hilang dan senyum anehnya.


"Setidaknya kita sudah mendapatkan buku yang kamu maksud, Jin."


...-oOo-...


"Istirahat, nona muda." Sungguh nada ramahnya tak kontras dengan sikap.


Setelah menyeret menjauhi ruang, siswi itu melempar Apple tepat ke dalam kamarnya dan menutup pintu keras hingga berdebam. Tangis pecah mendapat perlakuan tersebut terlebih, Jin membentak kasar ... gadis ini benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Lengking suara khas anak kecil mengudara berbaur dengan isak.


Langkahnya limbung—kehabisan tenaga untuk menopang tubuh—lantaran pusing meretas kepala dan sakit pada dalam dada kiri, rasa pembuat mata biru langitnya memuntahkan air kian banyak. Sesak tertimbun di rongga rusuk, seperti sesuatu menyumbat pernapasan. Apple membuka mata, berusaha keluar dari kabut mimpi. Menyandarkan raga pada bangku kecil, memandang sendu sang cakrawala.


Guratan langit bak racun mematikan kontras dengan lara si gadis. Arak-arakan awan magenta dan kilap guntur penghias fenomena tersebut. Rintik meneduh, tetapi rintik di pelupuk mata tidak. Bening sang air menitik dari pucuk-pucuk helai dedaunan pun pada Apple, menggantung pada bulu mata lentiknya. Bukan lengkung sabit sarat akan gurat bahagia di bibir, tetapi sebaliknya ketika hujan reda.


Satu kesempatan bertemu pada orang yang ia cari sepenuh hidup, berakhir dengan mimpi terburuk. Kondisi semua orang bancuh; perasaan hati mereka bersepah; apa mereka bisa berpikir lurus? Tidak tahu. Dalam benak yakin bahwa orang yang ia bela itu benar. Dia yang memang menyelamatkan malamnya; menemani di dunia gelap; membuat lupa akan malam penuh cekam tersebut. Tetapi kenapa tidak ada yang mau mendengar?


Andai waktu itu Yukio lebih memilih untuk berbicara dengan hati daripada pedang, pasti tidak seperti ini akhirnya. Setidaknya, ia ingin tahu kenapa pemuda itu pergi. Kenapa ia memilih untuk baru muncul sekarang dari sekian lama? Apakah ... perasaan mereka terhubung? Karena Apple ingin sekali bertemu dengannya, walau satu kali, satu kali saja. Sekedar mengucapkan terima kasih pun tak apa. Mungkin ... dia juga merasakan hal ini sehingga memutuskan untuk kembali? Ataukah dia---


Prang!


...-oOo-...


Surya masih tak berpendar di balik kumulus awan, mendung dan ini tak menguntungkan mereka. Masih di ruang sama; masih dengan ekspresi sama; mereka terdiam, setidaknya belum ingin meninggalkan tempat ini. Sebentar lagi .... Di luar, angin berdesir membawa helai daun yang tanggal dari inangnya. Terombang-ambing sejenak sebelum mendarat di suatu titik asing karya Tuhan. Hujan reda tetapi tidak dengan petir yang terus bergejolak.


Hening kembali menyapa sampai Jin angkat bicara, "Jauh-jauh hari, Apple pernah meninggalkan tasnya, ya 'kan? Saat sebelum ujian. Kau juga meninggalkan aku, Mizu. Lalu aku menemukan buku ini."


Kalimat yang menyebut namanya, membuat dingin merambat halus; menggelitik punggung; membuat merinding. Memang Mizu waktu itu meninggalkannya di ruang rawat, tapi karena tidak ingin merusak tidurnya 'kan? Entah kenapa dengan kondisi Jin yang seperti ini membuat seram. Halnya, jika dia marah sama mengerikan seperti Yukio.


"Iya, saat kita menyegel ingatannya. Dia tidur, cukup lama ... dan kamu terus mengawasinya, khawatir bukan?" Mendengar ucap Mizu, Jin tersenyum dengan ringisan sok manis hingga mata yang sudah sipit itu membentuk garis. Berhentilah Jin, itu menakutkan, sungguh.


"Iya, aku sangat mengkhawatirkan Apple. Sepuluh lembar pertama buku itu sangat tebal, sisanya tipis dan lembarnya banyak ... tidak bisa kubaca dan tintanya luntur. Untuk lembar tebal, hanya lembar satu dan dua yang ada isi."


Tanpa mengulur waktu Mizu merentang buku tersebut, membukanya lebar di atas paha berepidermis serupa pualam. Si guru bermata kucing mencondongkan badan, menekuk wajah dan berusaha keras menyisir tiap baris tulisan buku di depan sampai-sampai menghela napas.


"Terakhir, lembar satu dan dua saja yang ada illustrasi. Sekarang sudah bertambah,” ucap Jin.


Cepat Mizu membuka lembar lain hingga sampai pada lembar tipis. "Ini ... terkena air mata."


"Air mata?"


"Ketika menulis lalu menangis, tinta akan merebah jika terkena air mata, seperti ini."


"Mizu." Di genggamlah jemari lentik kekasihnya yang leluasa, amat lembut seolah takut melukai. "Kenapa kamu tahu? Apa aku pernah ... membuatmu menangis?"


Mizu berdecak mendengar nada lembut sang kekasih. Malu membuat ubun-ubunnya berdenyut, pengganti semburat merah muda pada pipi. Melempar muka, jelas sekali kalau perempuan Shikurai tersipu. Dasar, malu-malu tapi mau. Jin tertawa kecil dibuatnya sampai pipi memerah. Ah, dia sudah lebih baik. Tak apa lah kalau ini membuat Jin tenang.


"Walau berbeda setidaknya kita ada kunci kalau buku ini menjelaskan tentang The Hope, kita bisa menyelidikinya lebih lanjut. Dan ini ... di memoar book milik Apple? Mungkin---"


Dobrak pintu memecah telinga. "Guru!" Tungkai siswa kini menapak dalam kamar. Terdengar tergesa, membuat para penghuni tertarik paksa dari keseriusan.


"Apa apa? Santai kawan." Xavier beranjak, mendekati sang siswa dan menyentuh lengannya yang bergetar karena kepalan tangan dia terlampau kuat.


"Ad-ada pemuda misterius menjebol masuk ke kamar Light nomor tiga puluh sembilan! Sekarang sedang ditahan oleh murid Esquire 2!"


"Itu kamar Apple."


"Apa?! Ck, dia sudah sampai di sini? Evakuasi seluruh murid Page dan Esquire ke ruang bawah tanah, kerahkan guru ...," titah Xavier menyamar karena buru-buru meninggalkan ruang dan menarik siswa tersebut, diikuti guru lain.


Mizu terkejut, dia bangkit dari duduk hingga buku cerita kuno terjatuh. Perempuan berbalut pakaian khas boneka mempercepat langkah, menyusul ke mana guru kekar itu pergi. Tentu dia harus sigap, satu-satunya Meister dan Mizu harus melindungi murid lain. Sampai tidak menyadari, buku itu terbuka pada lembar ke empat yang sangat tebal diikuti sorot cahaya menyilaukan.


Tergambar seorang pemuda meringkuk di tengah tempat amat gelap, tak ada cahaya sedikit pun. Di balik bayangan ada suatu senyum, senyum lebar dan mematikan. Di bawah tertulis tulisan sambung: "Harapan sekarang tergeletak, membunuh banyak manusia. Dalam hari pertama ia mengambil nyawa manusia, dia menangis. Hari berikutnya. Dan berikutnya. Dia menangis seperti anak kecil. Berapa banyak waktu berlalu saat dia menangis? Air matanya sekarang mengering, pupus sudah hati dan perasaan. Tidak ada tersisa keinginan mempelajari tentang dirinya. Harapan berpikir untuk kembali hidup seperti kehidupannya yang dulu. 'Aku berharap tidak pernah belajar tentang dunia ini, seberapa mudah hidup yang aku jalani jika aku bertahan di kegelapan, pemikiranku yang kosong?' Harapan pergi keluar memutuskan untuk mencari tempat, di mana dia tidak akan bertemu dengan siapa pun dan bisa sendirian. Berapa jauh dia berjalan? Harapan terus tumbuh dengan kondisi seperti ini. Jiwa, perlahan mati."


Sangat ricuh. Suara manusia begitu riuh memenuhi lorong juga langkah kaki mereka. Namun pemuda Vermillion masih di ruang rawat, sendirian. Ia memungut buku yang sudah tak bercahaya tersebut. Wajahnya serius melihat lembar empat yang terbuka, kemudian berbalik melihat ke jasad Yukio di atas kasur. Dia tidak berpikir untuk balas dendam 'kan?


...-oOo-...


Di langit malam, bulan yang meneteskan air mata meratap, melayang ke mimpi remang-remang. Aku akan menunggu. Namun semakin aku memikirkanmu, semakin dadaku sakit. Itu membuatku putus asa, bahkan jika itu tenggelam ke kedalaman air. Hei, tolong buat mimpiku menjadi kenyataan.


"Aku akan hidup dan kembali padamu." Bahkan jika aku mempercayai kata-kata itu ....


Aku menyampaikan impian yang tidak pasti ke langit. Bagiku yang bahkan tidak bisa mengangkat jari ... silakan kirim benih bunga merah. Bulan semakin gelap, matahari terbit. Pada pagi yang istimewa ini, semua bunga berharga bermekaran. Aku terus memikirkanmu, hanya bersedih karena kamu, hanya menangis karenamu. Sambil memeluk bunga indah berkelopak merah. Ini harus mencapai akhir, bahkan jika harus tenggelam ke kedalaman air.


Tidak dapat mengubah ....


Ini adalah kata yang terbuat dari keputusasaan bahwa tidak ada yang mendengarkan. Seseorang di hatimu, di mana kita ingin tinggal. Misalnya, jika kenangan itu mekar dalam hatiku lagi, maka segera itu berubah menjadi kabut. Jika mimpi itu meleleh menjadi kesedihan dan kebencian, itu akan diam-diam mengalir dan mati. Jadi, aku akan mengucurkan air mata yang berbeda. Tubuh ini, bunga-bunga ini, semuanya mati dalam api semu. Selamat tinggal, aku akan tenggelam di sini sekarang. Dan pergi menuju rasi bintang Lyra di mana kita akan bertemu. Bulan semakin gelap, matahari terbit. Bunga merah yang kau berikan padaku, terjatuh.


Kemudian pagi itu datang.


Apa ini? Kesempatan ke dua? Apa mimpiku menjadi kenyataan?


Membayangkanmu dalam pikiranku, aku tertidur di luar. Semuanya sendirian, sendirian. Begitu kesepian, sangat menyedihkan. Tapi aku yakin, aku akan selalu mengawasimu. Aku akan menuangkanmu ke dalam kata-kata ini.


Oh Tuhan. Aku mohon tolong dengarkan keinginanku ... lagi, dan dengarkan keegoisanku. Aku mohon pada dirimu juga. Dan ....


Kesedihan menyelimutiku, berubah sebelum lama menjadi keinginan yang tersayang. Kesedihan menelanku, tak lama aku merasa kasihan pada bintang-bintang di atas. Aku mungkin tidak akan melupakanmu, meskipun kita berpisah. Tidak, kamu tidak akan dilupakan, bahkan jika kita berpisah lebih jauh.


Sambil memikirkanmu, aku tertidur di luar jendela. Itu terjadi padaku sekarang, bersamaan dengan yang lain, hanyalah setengah mati. Sebuah kata sedih bergema dan bergema. Aku mengutuk takdir. Melewati emosi yang menawan itu, tak lama lagi aku akan ... pergi.


Kamu tidak menjadi orang yang kesepian dan mungkin juga melupakanku dan bagiku, akan baik-baik saja. Selama kamu bisa tersenyum. Misalnya jika aku mati. Jika aku yang menyedihkan, menjadi tak berarti. Aku akan pergi ke tempat bintang yang bersinar, pada rasi Lyra. Dan mungkin hanya menunggu hatimu. Kamu tidak akan menjadi orang yang kesepian. Hanya aku saja ... itu tak apa, selama kamu bisa melupakanku. Dan kamu akan melupakanku.


Itu baik-baik saja bagiku, itu baik ... baik. Selama kamu bisa tersenyum.


Tetapi tidak. Aku justru makin menyakitimu. Ah, aku melukaimu. Itu mengerikan. Apakah ini terulang? Memang pada akhirnya kita hanya berputar, mengulang kejadian yang sama. Hal-hal itu mulai berubah. Ah, itu cukup menakutkan bagiku. Maka dari itu aku akan keluar, biarkan aku mengakhirinya lagi, dengan caraku sendiri, sebelum aku tidak bisa. Karena, jika aku terlepas---