REDproject

REDproject
Bab 01: Melting White Moon



"Ibu, biar aku yang pakai sendiri!" pekik Apple Luchifen.


Mendengar ucap lugu dari sang anak, dia tertawa kecil bak ratu. "Tidak apa-apa. Lagi pula kamu anak kesayangan Ibu, satu-satunya."


"Tapikan sudah besar! Kenapa dimanja terus, hmpt!" Dengan lugu menggembungkan pipi; memeluk Ibu; membuang muka.


"Mohon maaf, Yang mulia ...." Kehadiran pelayan laki-laki memecah kehangatan.


Memutar bola biru laut, ia meminta Apple berangkat. Anak sembilan tahun ini mengangguk; mencium jemari putih susu sang Ibu; lari melewati pemuda rambut perak yang baru tiba.


"Ke mana suamiku?"


"Atas segala hormat, baginda Raja belum kembali Yang Mulia."


"Ketika keputusan itu turun pasti akan banyak teror. Aku tak ingin apapun terjadi pada Apple." Ketika anaknya pergi, sang wanita berubah drastis; dingin dan tegas. Melonggarkan selendang biru penghias gaun emas, mata biru laut itu sangat tajam.


Pelayan membungkuk, pergi menyusul si gadis pirang. Di luar, Apple riang berlari, mengejar kupu-kupu gesit. Tak lupa diawasi dua penjaga tegap dekat lorong istana.


"Apple, ayo kita ke sekolah!"


"Yay! Garry!"


Dengan cepat gadis pirang menghampiri, melompat-lompat dan merentangkan tangan—tanda ingin digendong—sedangkan Garry mengukir senyum simpul, menghalau terik dari mata argentum.


"Hm? Sudah besar, apa harus digendong?"


"Habisnya asik! Ngomong-ngomong Garry wangi seperti biasa, ya! Berbeda dengan orang lain, bahkan Ayah dan Ibu ... malaikat!"


"Ahaha, iya? Apple sudah bertemu malaikat?"


"Belum! Tapi, kalau bertemu mereka pasti seperti Garry!"


Pemuda itu membopong Apple; canda dan tawa, tak menyadari tengah diawasi sosok kelam atas dahan pohon.


"Semenjak mendengar kabar itu, kamu tak henti-henti mengawasinya," perempuan transparan samping sang sosok angkat bicara.


"Aku tidak ... membiarkannya." Bariton dingin kentara bak tak berbicara dalam waktu lama. Namun, di saat itu pula perempuan kimono balut lamina kayu hilang, seolah tak pernah ada di sisi pemuda serba hitam.


Kembali pada putri Luchifenian dan Garry, mereka memasuki kereta kuda. Pelayan itu mempersilakan Apple masuk terlebih dulu. Tak lama, manik argentum mendelik pada pohon yang jauh—tempat sosok misterius. Apakah orang berpangkat rendah ini mengetahui keberadaannya? Tapi, tak ada siapa pun di sana. Sontak Garry mendengkus, mengatupkan mata.


Suara cambukan pecah, kereta pembawa dua penumpang pergi.


...-oOo-...


St. Gardenelia Elementary School memiliki kebun terhampar bak hutan; gedung serupa villa; kereta api mungil sebagai transportasi. Konyol memang, sekolah sebegini bergaya. Apa karena dikhususkan untuk orang berkelas?


Sinar mentari menyorot, penyebab suhu lebih panas. Anak-anak berhamburan, waktu istirahat tiba. Di tengah kebun si gadis memetik buah bernama sama dengannya. Dia mudah sekali dikenali dengan rambut pirang bergelombang, tak lupa jambang panjang berkepang pada tiap sisi.


Selesai dan membawa keranjang dengan hati-hati. Kejam, Apple terjengkang; seseorang mendorongnya keras hingga buah bercerai. Kekeh mengudara. Mata biru penuh bulir pilu menatap sumber suara—dua anak kembar dan si pendorong. Anak lain di sekitar langsung berlari, tidak ingin ikut campur, mungkin.


"Ahahaha, lihat dia kesakitan!" Si kembar bersahut-sahutan. "Ah, tapi dia tidak menangis!"


Sedangkan mata oranye samar cokelat menatap penuh emosi pada Apple.


Meremas baju, gadis pirang menahan nyeri dada yang lebih menyakitkan daripada lutut lecetnya. "Riyle, kenapa kamu selalu begitu?"


Namun, yang dituju membalas dengan decak kesal. Dendam ia simpan pada kerajaan Luchifenian. Kenapa? Untuk seorang anak kelas bangsawan seperti dia, sangatlah tidak etis berlaku seperti ini. Terlebih kerajaannya sendiri merupakan sekutu hingga makmur seperti sekarang. Hanya anak kerajaan Sathnael yang berani berlaku kasar pada Apple. Tidak ada yang tahu apa alasannya, tetapi dendam teramat kuat bisa saja mulai menghancurkan.


"Aku membencimu, Luchifen!" bentak Riyle tepat pada wajah merah itu, diiringi tawa si kembar.


Tak lama, mereka meninggalkan Apple. Mengeyahkan air mata pada pelupuk, payah ia berdiri seraya tubuh bergetar. Sontak uluran tangan terlihat. Mendongak hingga jelas sudah sang penolong, memancing pelipur lara si gadis.


"Kamu tidak apa-apa, Apple?"


"Vinschent! Umn, terima kasih. Kamu selalu menolongku.”


"Ahahaha, yah. Kamu tegar." Vinschent tersenyum ramah, mengusap pucuk kepala si gadis. Merah merebak ketika memandang mata emas menawan, cepat-cepat Apple memalingkan muka.


Anak laki-laki ini sigap, memungut buah yang berserak. Tak enak hati mulai menghantui ketika Apple melihat Vinschent rela membantu.


Seketika jemari kecil itu merenggut keranjang dalam genggam Vischent. "Ah. Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah hampir selesai."


"T-tapi ...." Gadis ini mulai gugup, mata biru itu membidik liar.


"Ahahaha, sudah. Ayo pergi, biar aku yang bawa."


Mengangguk tanda mengerti, Apple mulai mengekor. Satu langkah, suara debam menggaung, Apple terjatuh lagi. Mungkin, kaki lemas sebab nyeri menusuk impuls syaraf. Lagi-lagi Vinschent meraih tangan mungil itu. Dengan hati-hati ia menuntun Apple menuju bangku taman, tak jauh dari sana.


"Kita istirahat dulu, biar aku bersihkan lukamu."


"Hu umn, t-terima kasih," jawab Apple gugup.


"Tidak usah 'terima kasih' terus, ini sudah tugas seorang gentleman!"


"Ha?! Kamu masih kecil!"


"Hee? Aku ingin menghiburmu! Lagi pula kamu juga masih kecil!"


Apple mengerjap kemudian keduanya tertawa, sungguh naif. Anak laki-laki menarik sapu tangan dari saku celana. Beringsut, si gadis menahan perih ketika Vinschent membersihkan lukanya.


"Aku tidak mengerti, kenapa mereka membenci kerajaanku? Padahal Luchifenian tidak pernah menyerang kerajaan lain," ucap Apple lesu


Vinschent mematung mendengar rapal si bibil cheery, seperti memikirkan sesuatu. Mata emasnya mulai mengelam. Sedangkan Apple melakukan gelagat lugu, tidak mengerti apa yang terjadi pada bocah itu.


"Kamu kenapa?" tanya Apple pelan.


Akhirnya kembali dari dunianya, Vinschent menggeleng untuk mengumpulkan fokus. "O-oh, tidak. Aku yakin, setelah keputusan Marquess Revolution semuanya akan berubah!"


"Ha? Ma-mar ... apa itu?"


"Kamu tidak tahu? Itu tradisi sejak dulu, keputusan untuk memilih suatu negara menjadi Super Power. Karena negara sudah digantikan kerajaan, jadi memilih suatu kerajaan."


"Hooo, tujuannya?"


"Segala sesuatu memerlukan pemimpin, 'kan? Seperti organisasi, begitu pula dunia ini. Itulah cara untuk menunjuk pemimpin tersebut."


Mata biru si gadis berbinar. Apple menepuk tangan, kagum. "Vinschent hebat! Tahu banyak hal!"


"Heee, iya? Ahaha, aku hanya menghabisakan banyak waktu di perpustakaan untuk belajar. Sebagai putra mahkota, aku perlu tahu banyak hal agar bertanggung jawab sebagai penerus dan ...," ucap Vinschent menggantung kata.


Sempat senyap menemani jika Apple tidak langsung menyambar, "Dan? Dan apa?"


"Sebagai fiance kamu!" Dengan bangganya si anak laki-laki berujar.


Apple tertegun hingga merah sudah wajahnya."Vinschent D'Leviantha, kamu ... bodoh!"


...-oOo-...


"Be-benarkah?!"


"Iya! Dimenangkan oleh Luchifenian ...."


...-oOo-...


"Uuumm, Ibuu ...."


Kamar terhias gemerlap dan tumpukan boneka. Apple baru saja bangun dari istirahat malam, mengerjap; meregang; sesekali menguap. Ia mencoba bangkit, meniti langkah keluar pintu. Setiba di lorong, ia dikejutkan dengan suasana yang begitu sunyi. Tidak ada langkah kaki pun detak jam. Apa karena kerajaan ini begitu besar? Tidak, biasanya para pelayan hilir-mudik.


Awalnya si gadis ingin bersikap biasa, tapi ... tak mungkin orang-orang hilang begitu saja. Ia terus menelusuri lorong; mengunjungi tiap ruang; mencari penghuni lainnya. Mulai berjalan cepat—panik—dan memanggil nama. Tak ada jawaban, suara bergema kembali padanya. Dengan terseduh ia berjalan pelan pada ruang utama.


"Ayah, Ibu,” ujarnya merintih, sia-sia menyingkirkan bola dalam tenggorokan, memberanikan diri masuk ke dalam ruang gelap di depan ....


"Kejutan!" Sorot lampu menyeruak, confetti dan semprotan memekakkan. Ramai, semua penghuni kerajaan di sini.


"Selamat ulang tahun ke sepuluh sayang." Sosok pria awal empat puluhan menderap langkah—mendekati gadis mungil—diikuti ibunya. Mereka bertiga mirip; berambut pirang; bermata biru. Hanya si kecil pemilik mata berbeda yaitu langit siang tanpa awan, hambar tanpa pupil.


"Ayah ...." Kayu balsa melemas, dia ambruk. Jantung berdentum dalam kejutan yang didapat, sontak tangisnya pecah. Tawa geli mengusara. Pria tadi membopong Apple, memeluk hangat diikuti belai sang ibu.


Membalas peluk, enggan melihatkan wajah. Isak masih lekat, Apple mengentak-entak kaki dan mengeluarkan bariton lengking saat orang mencoba menyentuhnya. Ayah mengukir senyum simpul, mengangkat kedua pundak dan menggelengkan kepala. Kedua bola biru menatap istrinya, mengumbar isyarat. Mungkin terlalu berlebihan.


"Baik, dengar! Hari ini istimewa untuk Tuan Putri dan kerajaan kita. Jadi, ayo berpesta! Koki, keluarkan kue!" Nada antusiasme melambung, sang Ibu mencoba mencairkan suasana.


Paras gelisah berubah menjadi senyuman besar, mereka bersorak-sorai meramaikan keadaan. Sibuk kesana-kemari, para pelayan kerajaan mempersiapkan acara. Tak lupa kue putih bundar bagai menara dituntun menuju tengah ruang.


"Ingin ikut pesta tidak?" Dengan sedikit mengayunkan badan, sang Ayah kembali menghibur si kecil.


Mata lebam kini melihat seluruh penjuru. Isak mereda, tangan hangat mulai mengusap lembut air mata di pipi Apple.


"Pesta?" tanya Apple lugu.


"Iya sayang, sekarang ganti baju ya. Tuh, basah dengan air mata kamu. Ayah tunggu di sini, nanti kita makan kue."


"Iya?! Yaaay!" Tangisan berganti dengan senyum kuda. Sang Ayah kembali membelai dan menurunkan Apple, paras lega tergambar di wajah.


Gadis pirang bergegas menuju wanita anggun di sana. "Ibu, aku mau ganti baju dulu!"


"Iya sayang. Minta salah satu pelayan untuk menemanimu, Ayah dan Ibu ingin membantu dulu di sini, ya?"


"Hu um, jangan kemana-mana. Kue jangan dimakan, tunggu Apple!" Lugu, membuat sang wanita tertawa. Dengan ceria, Apple menghampiri salah satu pelayan wanita, menarik sekerat baju bawah—mengisyaratkan untuk diantar.


Pergi meninggalkan ruang penuh sesak, si gadis kecil berlari menelusuri lorong. Cepat-cepat membuka pintu dan memilih baju, membuat pelayan perempuan kerepotan. Dasar anak kecil. Memilih gaun serba putih berhias pita merah sebagai dasi, ingin sama seperti warna kue pikirnya.


"Bagaimana? Cocok?" Apple terlihat senang, tersenyum lebar dan berputar-putar. Pelayan itu terkekeh melihat tingkah bocah pirang.


Si gadis berkaca di jendela hingga menyadari ada yang tak beres. Langit mencekam, sejak kapan ada ukir merah di sana? Awan mendung berduru, apa akan badai? Bulan juga mengeluarkan aura tak biasa. Apple terdiam melihat fenomena tersebut, lupa akan sekitar.


Suara dentum memecah telinga, memaksa Apple untuk kembali fokus. Suara tembakan Shot Gun kembali terdengar berulang-ulang.


"Ayah! Ibu!" Bergegas menuju sumber suara—ruang utama—langkahnya panjang dan cepat, meninggalkan pelayan jauh di belakang.


Pelayan perempuan berteriak dan menggerakkan tangan. Namun jarak sudah memisahkan, tak terdengar. Dalam benak hanya satu, bagaimana keadaan orangtuanya? Khawatir, manik biru langit hampir memuntahkan airnya. Payah ia menelan ludah, menahan tangis.


Pintu putih besar depan mata, sedikit lagi sampai. Sedikit lagi!


Langkahnya terhenti, ketika lengan ditarik paksa dari belakang.


"Ibu?! Ayah mana?" Suaranya masih menunjukan kerisauan, hampir menangis.


Belum pertanyaannya dijawab, sang Ibu sudah bergegas, menggandeng anaknya jauh-jauh dari ruangan utama kerajaan. Mereka berlari membelah angin, berpacu dengan waktu.


"Ada apa ini, Bu?"


"Kita lewat pintu belakang!"


Tergesa-gesa, terbukti dengan pertanyaan kembali tak dijawab. Keringat bercucuran, ditambah api sudah menyulut dinding, merambat bagai mengejar mereka. Decak kesal terdengar kencang dari sang wanita, sedangkan gadis kecil kesulitan mengatur napas. Batuk-batuk, ia terjatuh.


Mengerti anaknya sudah mencapai batas, Ibu menggendong Apple. Mereka terus berlari, tapi sampai kapan? Karena langkahnya gontai, menahan berat anaknya juga sesak kebul-kebul api. Mungkin, tak akan selamat karena bongkah kayu terlahap jago merah runtuh tepat di hadapan.


Tanpa pikir panjang wanita pirang menerobos. Kedua tangan ia rangkul pada sang anak, berharap tak tergores barang secuil. Beruntung balak itu lapuk, tetap saja, Ibu terluka karena panas dan keruncingan kayu. Mungkin ini akhirnya, raga wanita Luchifenian ambruk.


"Ibuuu!" Tangis Apple pecah, begitu pula suara tembakan yang kesekian kali.


Hanya satu dalam benak, keselamatan si anak tunggal. Sekuat tenaga ia mencoba bangkit, menggertakkan gigi; menahan sakit. Tak mengindahkan tangisan Apple, Ibu kembali menarik anaknya walau terhuyung-huyung. Darah mulai mengalir dari tepian pun tirai kabut menghalangi mata biru untuk melihat.


Perjuangan terbayarkan, tibalah mereka pada halaman belakang kerajaan. Dari luar, sungguh istana megah Luchifenian tertelan jago merah. Kegagahannya runtuh oleh api.


Sampai di sini, ambruk dia tersungkur ke tanah. Yang penting anaknya selamat. "Apple, pergilah, selamatkan dirimu."


"Mana Ayah? Katanya ada pesta ...."


"Jangan egois!"


"Engga! Maunya sama Ibu!"


Suara rintih kalah dengan Apple yang memekik. Isak makin parah melihat Ibu tak berdaya, napas memburu. Sisa tenaga ia keluarkan, dengan tangan gemetar disentuhlah pipi merona anaknya, menyeka air mata dengan penuh kasih.


"Ibu mohon. Apple, kamu satu-satunya harta tak ternilai. Pergilah, Ibu sudah tak mampu. Asal kamu selamat ... akan terus tersenyum padamu. Ibu tidak akan melupakanmu, tidak ada yang bisa menggantikan rasa cinta ini padamu dan Ibu harap keselamatanmu, kebahagiaanmu. Berjanjilah, tiada takut kehilangan, jangan tunda hidupmu, kita selalu bersama. Berjanjilah, tidak menghabiskan waktu dalam kesedihan, hanya karena Ibu tidak ada, bukan berarti berhenti peduli padamu."


Seakan ingin mengikat waktu dengan benang-benang kata. Betapa sedih dan indahnya seni merelakan. Di telinga, ia mendengar suara bisik bagai serpihan doa. Itu adalah doa dalam sunyi, sesunyi air mata yang meleleh di pipi. Diserahkanlah begonia merah pada Apple, peninggalan satu-satunya. Dengan berat hati si gadis pirang menarik langkah, enggan melihat kebelakang.


Ia masih terlalu kecil.


Dunia begitu sepi. Baru saja tertawa, baru saja bahagia. Kadang engkau tidak tahu, kemana takdir akan membawa. Langit merah, bagai darah lorong itu. Bulan putih jatuh, bagai kue ruang itu. Rintik meleleh, bagai tirta netra.


Suara tembakan lagi-lagi terdengar. Apple langsung menoleh ke asal suara. Dengan mata kepalanya sendiri, Ibu yang benar-benar ia cintai mati. Tentu satu tembakan di ubun-ubun langsung merenggut nyawa. Mata biru berlinang melihat si pelaku, laki-laki tua dengan banyak luka di tubuh. Layaknya tak bernyawa, pucat dan bola mata berputar kebelakang


Tentu melihat itu semua membuat Apple sulit mengutarakan perasaan, badan lemas; mual. Dia ketakutan, ambruk kaki tak dapat lagi melangkah. Siapa yang masih tegar melihat orangtua mati di depan mata?


Pelaku kini menghampiri si gadis pirang, pelan pun langkah gontai. Ingin sekali menjerit, andai suara dapat keluar. Tercekak dalam jantung berderum laksana genderang perang. Mungkin ini akhir Luchifenian.


Suara dengung pedang mengusik telinga.


Pelaku terdiam di depan si gadis. Aneh, mulutnya mengap; wajahnya berkerut; urat-urat keluar. Apa dia kesakitan? Retak-retak badannya mengucurkan cairan amis. Bagus, akhirnya Apple dapat menjerit setelah pembunuh Ibu tercincang dalam satu kedipan.


Jeritnya kandas didapati mata pedang ramping tertuju padanya. "Ah, s-sia-siapa?"


Dilihatnya orang yang mengacungkan katana, dia yang melakukan ini? Orang itu ... pemuda jauh-jauh hari pengamat putri Luchifenian dan sang pelayan laki-laki. Berpakaian serba hitam. Mata tak berpendar pun rambut jelaga pendeknya berkebit. Seperti bayangan, laksana abyss.


"Aku? REDstar."