
1 bulan sebelum hari H.
Bagaimanapun keadaannya frisa tetap tidak bisa untuk melanjutkan pernikahan ini, sekuat apapun dia mencobanya namun hati dan pikirannya telah tertutup dengan rasa benci.
"gak, gak bisa.. aku gak bisa kalau harus kayak gini terus menerus, aku harus memikirkan suaru cara, cara agar aku bisa terlepas dari pernikahan ini dan ibu ku baik baik saja" gumam frisa sembari memikirkan ide ide yang bermunculan di kepalanya.
"apa aku kabur dari rumah saja ya? tapi nanti kalau aku kabur dari rumah, ibu pasti tambah emosional dan penyakitnya bisa kambuh. enggak enggak jangan kabur dari rumah deh". celetuk rencana frisa yang masih dengan penuh pertimbangan.
"atau enggak aku bunuh diri aja? ahh tapi nanti kalau aku jadi arwah penasaran gimana donk? lagian dosa ku juga masih banyak, aku gk mau nantinya disiksa di alam kubur". lanjut pikir frisa dengan ide ide gila yang ada di otaknya.
"ahh oke, aku sekarang sudah memiliki jalan keluar dari semua ini untuk menghindari pernikahan dan tetap membuat ibu ku tidak kambuh lagi sakitnya". pikir frisa dengan mantapnya.
H-25
Ini adalah hari yang tepat untuk melancarkan rencana cemerlang frisa, rencana yang dengan susah payahnya disusun serapi dan secantik mungkin.
"bu ibuuu" teriak frisa memanggil bu asih.
"iya fris, ada apa sih teriak terik kayak orang kesetanan saja" sahut jengkel bu asih.
"bu, ada yang mau frisa omongin sama ibu" jawab frisa dengan raut wajah yang mulai diatur semelas mungkin.
"kamu mau ngomong apa fris?" jawab bu asih yangbsedikit khawatir.
"jadi begini bu frisaa...... " frisa tidak melanjutkan ucapannya tetapi dia malah menangis sejadi jadinya.
"kamu kenapa malah menangis seperti ini, jangan buat ibu mu panik dong" ucap bu asih dengan penuh kebingungan.
"bu frisa gak bisa melanjutkan pernikahan ini bu" jawab frisa dengan penuh isakan tangis yang sudah direkayasanya.
"APA... Apa kamu bilang fris, kamu tidak bisa seperti ini dong, tanggal pernikahan kamu sebentar lagi" bentak bu asih yang sontak membuat frisa kaget.
"tapi bu, ibu harus membantu frisa untuk membatalkannya bu, ini demi keluarga kita bu" pinta frisa kepada bu asih.
"kenapa ibu harus setuju dan membantu kegilaan mu ini fris?" tanya bu asih dengan penuh emosi.
"karena frisa ...(bruk)" belum sempat frisa melanjutkan ucapannya, kini akting pingsan mode on.
"ya allah fris, kamu kenapa nak?" ucap bu asih dengan kepanikannya.
"pak... bapakkk... frisa pingsan paakkkk" teriak bu asih histeris.
"ibu juga tidak tau pak, hiks... frisaaaa bangun nak" jawab bu asih sambil menangis memeluk frisa.
"maafin frisa bu, pak.. karena ini yang menurut frisa terbaik untuk frisa dan kalian" gumam hati frisa.
Setelah bu asih dan pak rudi berusaha menyadarkan frisa, akhirnya frisa membuka matanya. Dia terlihat sedikit bingung dan merasakan nyeri pada kepalanya (masih dalam mode akting).
"bu pak, kenapa kalian terlihat sedih?" tanya frisa pura pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
"kamu pingsan nak, sebenarnya ada masalah apa? cerita sama bapak dan ibu sini" ucap pak rudi sembari menenangkan anaknya itu.
"iya fris.. kamu jujur saja, ibu akan berusaha menerima apa yang kamu inginkan fris" ucap bu asih dengan raut sendu.
"iya nak, kami berdua tidak mau melihat mu yang seperti ini nak, lihat wajah mu pucat, badan mu jadi kurus kering seperti ini, tidak bersemangat seperti biasanya". ucap pak rudi dengan penuh kekhawatiran memikirkan kondisi anaknya ini.
"ibu minta maaf fris, maafin ibu.. ibu terlalu memaksakan kehendak ibu, ibu terlalu buta dengan kekayaan yang mereka janji janjikan untuk kehidupan mu" ucap bu asih penuh penyesalan. Bu asih merasa sangat bersalah kepada frisa, dia tidak tega melihat keadaan anaknya yang seperti ini.
"ibu yang salah fris, ibu yang salah, maafin ibu.. hiks". bu asih menangis tersedu sedu sembari memeluk frisa dan mengucapkan kata maaf berkali kali.
"maafin frisa bu, pak... maafin frisa, karena frisa udah ngebohongin kalian semua dengan pura pura sakit" gumam frisa didalam hati sambil membalas pelukan ibunya dan menangis sejadi jadinya.
pak rudi yang melihat keadaan ibu dan anak ini merasa tidak tega. dia merasa gagal sebagai kepala rumah tangga. pak rudi membulatkan tekat ingin menebus semua kesalahannya kepada frisa, dia sudah memutuskan untuk membantu mengagalkan pernikahan frisa ini.
"fris, kalau kamu memang tidak mau menikah dengan si agus, mulai saat ini bapak dan ibu akan membantu kamu mengagalkan pernikahan ini". ucap pak rudi.
"iya fris, ibu dan bapak sudah terlalu menyakiti kamu, kami sudah menyadari semua kesalahan yang telah kami perbuat" imbuh bu asih.
"apapun keputusan mu, akan bapak dan ibu dukung frisa" ucap pak rudi.
"terimakasih bu pak, aku sayang kalian... hiks" jawab frisa dengan penuh air mata kebahagiaan, karena orang tuanya sekarang berada dipihaknya.
Perasaan frisa sudah mulai terasa lega. kini dia tidak sendirian lagi menghadapi segala masalah ini, karena sekarang ada ibu dan bapaknya yang akan selalu mendukung setiap langkah dan keputusannya.
______hai hai hai ganks, jangan lupa klik fav, like, dan komen yaa...
oh iya, buat kalian yang suka genre horor action jangan lupa mampir di karya author yang judulnya CERMIN..
sekian dari author belajaran ini, apabila ada kesalahan ketik dan cerita yang tidak menarik harap di maklumi yaa, seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya pengalaman, author akan belajar menata dan memperbaiki karya author yang masih amburadul ini.. see yaaa ganks, love you all