REAL

REAL
REAL (Episode 5 - Tertekan)



Hari hari yang di lalui frisa terasa sangat menyesakkan, tidak ada senyum maupun kebahagiaan lagi. Dia selalu teringat akan perjodohan yang sangat tidak diinginkannya itu, membayangkannya saja tidak sanggup apalagi harus menjalaninya pikir frisa setiap hari.


"ah tuhan, kenapa hidup ku begini amat? apa salah ku? kenapa aku tidak bisa memilih jalan kebahagiaan ku sendiri tuhan?" gumam frisa sambil terisak di dalam kamarnya. "tuhan, aku harus bagaimana? hidup ku ini nyata bukan skenario seperti di film maupun novel yang akhirnya bahagia" sambung frisa yang masih dalam keadaan terisak dan merenungi nasib buruknya.


*Diwaktu yang bersamaan bu asih dan pak rudi sedang membahas perjodohan serta lamaran frisa kedepannya.


"pak, jadi gimana kelanjutan hubungan frisa ini?" tanya bu asih.


"bapak sih gak mau memaksa frisa bu, kalau frisa setuju sama perjodohan ini bapak sih ok ok aja, tapi kalau frisa menolak yaa bapak gak bisa maksa dia kan" jawab pak rudi.


"yaa gak bisa gitu donk pak, bapak harus bisa yakini frisa buat nerima perjodohan ini karena bapak itu kepala keluarga di rumah ini, janagn lembek sama anak sendiri" ucap bu asih sambil mengebu ngebu emosinya.


"kita gak bisa begitu donk bu sama anak sendiri, bapak tidak mau kalau frisa hidupnya tidak bahagia kelak" jelas pak rudi kepada bu asih yang masih mengeluarkan otot mukanya.


"enggak pak, pokoknya ibu mau perjodohan ini tetap dilanjutkan, mau gak mau, bisa gak bisa frisa harus menerimanya" tegas bu asih.


"jadi orang tua itu jangan seperti ini bu, kamu gak mikirin gimana perasaan frisa?" ucap pak rudi yang mulai terpancing emosinya kerena bu asih yang masih keras kepala.


"pokoknya pak, ibu mau DILANJUTIN titik" teriak bu asih, namun tiba tiba "Braaakkkkk" bu asih tersungkur ke tanah, penyakitnya kambuh karena ledakan emosi yang tidak dapat dibendungnya.


"bu ibu bangun bu" teriak pak rudi sambil menggoyang goyangkan tubuh bu asih. "frisss frisaaaa sini nak bantu bapak, ibu mu terjatuh" teriak pak rudi memanggil frisa yang sedari tadi berada di kamarnya.


"ibu mu pingsan frisa, penyakitnya kambu karena terlalu emosi" jawab pak rudi. "ayo bantu angakat ibu mu ke ranjang" ucap pak rudi sambil mengangkat bagian badan bu asih, sedangkan frisa mengangkat bagian kepala bu asih.


"buu hiks bangun buu" ucap frisa sambil tersedu sedu menggoyang goyangkan tubuh bu asih.


"udah frisa, kamu yang tenang dulu, ini minyak kayu putih kamu olesin dulu ke ibu" pinta pak rudi kepada erisa.


"i iya pak" jawab frisa sambil mengoleskan minyak kayu putih itu. "pak, kenapa penyakit ibu bisa kambuh lagi? padahal sudah satu tahunan gak ada masalah" tanya frisa kepada pak rudi.


"ya itu frisa, ibu mu masih tetap ngotot soal perjodohan kamu? kamu sendiri gimana, menerima perjodohan ini atau tidak?" tanya pak rudi yang masih merasa sedikit khawatir dengan keputusan frisa.


"maafin frisa pak, frisa gak bisa menerima perjodohan ini pak" rengek frisa dengan air mata yang sudah berjatuhan begitu derasnya.


"iya frisa, bapak sebenarnya tidak memaksa kamu, tapi ibu mu yang sangat menginginkan perjodohan ini" jelas pak rudi.


"terus aku harus bagaimana pak? aku gak suka sama laki laki itu, aku gak bisa kalau harus hidup dengan orang yang tidak aku cintai pak" jawab frisa yang semakin kencang tangisannya.


"semua ini salah bapak, karena dari awal bapak yang sudah meng iya kan perjodohan ini kepada paman bapak" ucap pak rudi dengan penuh penyesala dan tidak mampu menatap mata anak sulungnya, karena pak rudi juga merasa matanya mulai panas seakan juga ingin meneteskan air mata, tapi pak rudi dengan cepat menyadarinya dan pergi meninggalkan bu asih dan frisa karena pak rudi tidak ingin terlihat lemah didepan anaknya.


_______hai ganks, jangan lupa like dan komen yaa..... terima kasiiihh...