REAL

REAL
REAL (Episode 4 - Pertemuan)



Kesokan harinya pukul 10.30 datanglah seorang laki laki usia 65 tahunan dengan seorang pria yang tampak malu malu mengikuti setiap langkah kaki laki laki tua itu masuk kedalam rumah frisa.


“assalamualaikum.. rud rudi, paman mu datang” teriak laki laki tua itu dari depan pintu masuk.


“waalaikumsalam.. silahkan masuk paman” jawab pak rudi sambil mempersilahkan tamu yang sangat ditungu tunggunya untuk duduk.


“eh paman sudah datang ternyata” jawab bu asih yang tiba tiba sudah ada di ruang tamu untuk melihat calon menantu kebanggaannya.


“eh iya, kenalin ini agus yang mau saya jodohin sama frisa” ucap pak edi sembari menyuruh laki laki yang duduk dipojokan itu menyalimi tangan orang tua frisa.


“oh ini toh anak nya…” jawab bu asih sambil senyam senyum.


“frisa nya mana? Kok belom kelihatan?” Tanya pak edi.


“iya sebentar paman, saya panggilin dulu” jawab bu asih dan langsung berlalu ke belakang mencari frisa. Tak lama kemudian datanglah frisa dengan wajah yang sembab dan sedikit ditekuk. “nah ini anak saya yang paling cantik” ucap bu asih sambil mengusap usap kepala frisa.


“perkenalkan diri dong frisa, jangan malu malu” ucap pak rudi sambil mendorong tangan frisa untuk berjabat tangan dengan laki laki itu.


“perkenalkan nama saya agus” ucap laki laki itu.


“saya frisa” jawab frisa singkat padat dan tanpa basa basi. “jadi dia yang mau dijodohin sama aku? Gak salah? Tampangnya standar banget, usia udah tua, cupu, iyuh penampilannya seprti orang kampungan saja, ok fixx aku gak mau sama dia, buset deh jauh banget sama ekspetasi ku ini yang sering baca komik dan nonton drakor, bayangin aja udah gak bisa apalagi harus menjadi kenyataan ini pernikahan, aduuhh enggak deh, emang yaa realita itu menyakitkan” gerutu frisa dalam batinnya.


“kok diam aja ini mas nya?” celetuk bu asih menanyakan kepada agus.


“iya sih, agus ini anaknya sangat pendiam, dia ini jarang bicara, jarang keluar rumah juga” jawab pak edi.


“ih buset udah tua juga maen dirumah aja, pantesan cupu gitu, dih kampungan banget sih” gerutu batin frisa.


“wah enak yaa punya suami kayak kamu ini gak aneh aneh jadi orang” ucap bu asih sambil ketawa ketiwi.


“diihh… enak dari mananya punya suami kayak kepiting sawah yang hari harinya ada di dalam lubang terus, aduh ibu please deh, hari gini di rumah aja ndeso banget” kembali gerutu frisa dalam batinnya.


Erisa tidak mau berkata apapun, dia hanya bias berkomentar didalam batinnya sambil mengumpat nasib buruk yang dialaminya ini. Dari pandangan pertama pun tidak ada fell apapun untuk laki laki itu, bahkan frisa merasa sangat muak denga apa yang dilakukannya saat ini hanya demi menuruti keinginan orang tuanya.


“fris.. frisa.. kamu dimana sayang” teriak bu asih sambil mencari frisa kesana kemari. “aduh dimana sih ini anak, kok main ngilang aja sih” gerutu bu asih sambil tengok kanan kiri.


Diwaktu yang bersamaan ternyata frisa sedang tidur di gazebo kebun belakang rumahnya, dia merasa nyaman tiduran disana sambil menghayal kalau kalau dia betemu dengan jodohnya yang sesungguhnya, calon suami yang sangat di idam idamkannya, calon suami yang sesuai kriterianya yang sangat mencintainya, menyayanginya, tubuh yang atletis, tinggi, berkulit putih, usia masih muda ahh membayangkannya saja rasanya mau menetes saja air liur frisa.


"ahh mungkin rasanya bakal enak banget yaa kalau punya suami kayak gitu" rancau frisa. Lamunan frisa seketika buyar berantakan tak kala si kampungan agus masuk kedalam angan angannya dan merusak pandangan indah tampang rupawan sang calon masa depan.


“iihhh.. si kampungan ngapain sih masuk ke pikiran ku, gangguin orang menghayal saja” gerutu frisa, “semoga nanti malam gak mimpi buruk deh gegara keingetan wajah si kampungan tadi” harap frisa sambil sesekali memejamkan matanya.


Buakkkkkk… suara gebakan bangku. “astagaaaa… anak ini dicariin dari tadi juga, ternyata malah leyeh leyeh di sini” kata bu asih sambil terheran heran melihat kelakuan anak sulungnya ini.


“apaan sih bu… tugas ku kan udah selesai, jadi biarin aku istiahat dulu” gumam frisa.


“tugas selesai apaan, tamu mau pulang malah ditinggal pergi, gimana sih kamu ini” jawab bu asih dengan nada tinggi.


“lah tugas ku kan cuma menemui mereka, untuk selanjutnya bukan urusan ku dong bu” jawab ketus frisa.


“ya nggak bias gitu dong, yang mau dijodohin dan di nikahin kan kamu, jadi harusnya kamu ada di sana sampai acaa selesai” perjelas bu asih kepada frisa.


“lah bu, siapa juga yang mau nikah sama itu orang, aku gak bilang kalau mau menerima perjodohan ini, lagian ibu gak lihat yaa gimana tampang orang itu, jauh bu jauuhhhh banget dari kata selera ku” jawab frisa dengan kesal.


“tidak, pokoknya tidak bisa kamu tolak perjodohan ini, ibu sama bapak sudah setuju denagn pejodohan ini” jawab bu asih dengan masa bodoh.


“ENGGAK… pokoknya enggak, aku enggak mau nikah sama dia bu, kalau ibu tetap memaksa aku bisa kabur dari rumah ini, biar ibu sama bapak puas” ancam frisa sambil beteriak.


“coba saja kalau kamu mampu menghidupi diri sendiri, lagian kamu mana ada uang buat kabur dari rumah, tabungan gak punya, kerjaan juga gak punya, kamu gak bisa apa apa selain nurut sama kemauan ibu dan bapak” ejek bu asih sambil meninggalkan frisa,


“OK lihat saja” gumam frisa.


-------------------------- Jangan lupa klik Like dan Komen yaa ganks ----------------------------