REAL

REAL
REAL (Episode 17 - Khawatir)



Pagi harinya franco mendatangi rumah frisa untuk menanyakan keaddannya.


knok.. knok.. knok..


"fris.. frisaa... "


"iya sebentar"


"kamu baik baik saja kan fris?"


"iya pak, saya baik baik saja"


"sebenarnya kemarin itu siapa?"


"saya juga gak tau pak, dia sudah mengawasi saya dari beberapa hari yang lalu"


"terus kenapa kamu gak bilang sama keamanan sini?"


"saya takut pak, lagian saya juga gak kenal sama orang orang yang ada di sini"


"yaudah gini aja, kalau kamu ngerasa ada yang mengawasi lagi, kamu langsung hubungi saya saja"


"gak usah pak, nanti malah ngerepotin"


"enggak papa, anggap saja saya sebagai atasan sekaligus tetangga yang baik sama kamu"


"iya pak, terimakasih"


"atau enggak kalau kamu di rumah merasa takut, kamu ke rumah saya saja, mama selalu dirumah kok, lagian keliatannya mama suka sama kamu"


"iya pak"


Bu endang yang sedaritadi mencari cari franco untuk sarapan malah mendapatinya sedang bertetangga pagi pagi.


"aduh aduh.. masih pagi juga udah pacaran aja"


"ih mama, siapa juga yang pacaran"


"maaf tante, bukan maksud frisa menganggu pak franco pagi pagi begini"


"gangu aja terus gak papa kok fris, tante malah senang kamu bisa dekat sama franco"


"apaan sih maa! ayo masuk ke rumah"


Franco menarik lengan mamanya untuk kembali masuk ke dalam. Telinga franco terasa panas dan memerah karena merasa malu dengan apa yang diledekin mamanya tadi.


"fran, mama gak papa loh kalau frisa jadi salah satu penghuni rumah ini"


"hah? maksud mama apa?"


"you know lah fran, jangan pura pura gak tau gitu"


"apaan sih maa, franco sama frisa gak ada apa apa maa"


"ada apa apa juga gak masalah kok fran, papa setuju sama mama mu"


"dih papa kok ikut ikutan sih"


"mama sama papa sudah kasih kamu lampu hijau loh fran"


"maa... please deh"


"kenapa sih fran, frisa anaknya baik, pendiam, cantik juga"


"kamu yakin fran? setau mama frisa anaknya beda loh sama wanita wanita yang ada di pikiran kamu itu"


"papa setuju sama mama fran, frisa anaknya baik, sedikit unik, kalau kamu sama dia kayaknya bakal cocok deh"


"tauk ah paa! maa!.. aku mau berangkat kerja aja"


"loh, maaih pagi banget loh ini, beneran kamu mau berangkat?"


"iya, soalnya franco capek dengerin mama sama papa jodoh jodohin aku sama frisa"


"eh, frisa gak kamu ajak sekalian fran"


"males ahh maa.. nanti timbul gosip lagi"


Franco langsung tancap gas tanpa menoleh ke arah rumah frisa. Saat di tengah perjalanan, franco merasa jantungnya berdetak tidak karuan setelah mengingat percakapan tadi bersama orang tuanya.


"mama sama papa sudah setuju, lagian kayaknya frisa wanita yang unik juga, tapi apa dia mau sama aku yaa? mana kesan pertama kemaren kemaren itu buruk lagi"


Telinga dan pipi franco berubah memerah, sebenarnya dia tidak mau mengingat kejadian tadi pagi, tapi restu dan dukungan orang tuanya selalu terngiang ngiang di telinganya.


"kalau seumpama aku jadian sama frisaaaa.... hehehe"


Franco langsung memukul pipinya untuk menyadarkan diri "apasih bambankkk, mikir apa kau frann"


Franco merasa sebal dengan pikiran pikirannya itu, dia mengacak ngacak rambutnya.


"astaga iya, frisa kan lagi diikuti orang, terus nanti pas waktu berangkat kerja dia diikuti lagi bagaimana ini?"


Franco merasa sangat khawatir dengan keadaan frisa.


"tau gitu, tadi aku ajakin berangkat bareng aja.. ahh gara gara mama ini, aku jadi terlalu malu dan gak fokus"


Karena masih khawatir franco nenghubungi ponsel frisa untuk menanyakan kondisinya saat ini.


"hallo fris... "


"iya pak ada apa?"


"kamu sekarang di mana?"


"saya sedang naik ojol pak menuju hotel, apa saya sudah terlambat pak masuknya? perasaan masih jam setengah 7 ini"


"enggak, kamu enggk telat. saya hanya mau tau kondisi kamu saja, saya khawatir kalu kamu masih di ikuti"


bluuussshhhhhh... Pipi frisa merona setelah mendengar ucapan franco yang khawatir dengan dia.


Disisi lain franco juga merasakan malu yang luar biasa, karena dia merasa geli dengan kata katanya. Baru kali ini franco khawatir terhadap seorang wanita, makanya dia tidak terbiasa dan merasa sangat malu dengan tingkahnya saat ini.


"saya baik baik saja pak, terimakasih sudah menghawatirkan saya" dengan malu malu frisa menjawabnya.


"iya fris, sama sama"


Setelah itu franco langsunh mematikan ponselnya, pikiran dia sudah kacau balau dia tidak bisa berpikir jernih lagi.


"astaga fran, mau kamu taruh mana muka mu yang tampan nan menawan ini nanti saat di hotel dan bertemu frisa" gumamnya.


Sepanjang perjalanan menuju kantor Frisa maupun Franco masih memikirkan ucapan satu sama lain yang menurut mereka asing untuk diucapkan maupun didengar telinga mereka.


_____hay hay hay ganks, jangan lupa klik fav, like and komen yaa... thx