
Franco lebih dahulu sampai di hotel, dia memandang ke luar dari balik kaca kantornya mencari cari seorang yang tengah membuatnya merona pagi ini.
"nah, itu dia"
Franco melihat frisa datang dengan abang ojol yang mengantarnya. Seketika franco merasa lega dan senyum indahnya merekah di wajah tampannya.
"syukurdeh dia sampai dengan selamat"
Perasaan franco yang sedikit lega dibuat khawatir lagi dengan frisa, karena setelah frisa turun dari motor abang ojo ternyata dibelakang frisa ada seorang berpakaian hitam lengkap mengikuti ojol frisa sampai berhenti di depan lobi hotel.
"aduh... si anjir, itu pasti orang yang kemarin mengikuti frisa"
Franco langsung berlari menghampiri frisa yang akan masuk ke hotel.
"fris, kamu gak papa kan?"
"saya baik baik saja pak"
"syukurlah, ayo cepat masuk ke kantor"
Franco langsung menarik lengan frisa menuju ruangan kerjanya. Kurang sedikit lagi laki laki berpakaian serba hitam itu akan mendekari frisa, namun semua itu gagal karena franco berlari lebih cepat menghampiri frisa.
"maaf pak, sebenarnya ada apa?"
"ah enggak, saya cuma mau kamu cepat mulai mengerjakan tugas tugas kamu"
"iya pak, baik"
Franco tidak mau memberitahu frisa apa yang sebenarnya terjadi, karena franco khawatir frisa akan merasa ketakutan dan cemas.
Setelah memastikan frisa berada di ruang kerjanya, franco menuju ke kantor keamanan untuk mengecek CCTV yang tengah terpasang di area hotel.
"ah sial, wajahnya tidak kelihatan karena memakai masker dan topi"
Franco merasa sangat jengkel dengan semua ini, dia sangat khawatir apabila terjadi sesuatu dengan frisa.
Akhirnya franco memberikan perintah kepada bagian kendali CCTV dan bagian keamanan, untuk tidak membiarkan laki laki yang memiliki ciri ciri seperti di rekaman berada di hotel maupun di sekitar hotel.
Franco juga berpesan untuk lebih waspada dan berhati hati dengan tamu yang sedikit mencurigakan, semua ini ia lakukan untuk meminimalisir kejahatan yang terjadi di area hotel, begitu alasan franco kepada para petugas keamanan, padahal yangbsebenarnya dia hanya ingin melindungi frisa.
Jam sudah menunjukkan waktunya makan siang. Frisa berencana membeli makanan di depan seperti kemarin, karena di sana selain ada bakso ternyata banyak abang abang lain yang berjejer menjajakan makanannya. Ada abang soto, abang nasi pecel, abang sate, abang nasi goreng, dan abang abang lainnya.
Saat frisa masih merapikan mejanya datanglah franco yang ingin mengajaknya makan bersama.
"hay fris.. kamu udah makan?"
"siang pak, belum pak, ini masih beres beres terus ke depan beli makanan"
"kamu mau makan apa?"
"saya pengen ayam geprek pak"
"di depan pak, tepi jalan"
"gak, kamu gak boleh makan di sana"
"kenapa pak? terus saya makan di mana pak?"
"pokoknya kamu gk boleh keluar dari area hotel ini"
"memang semua karyawan harus selalu berada di hotel pak saat istirahat?"
"iya benar"
Franco terpakasa membohongi frisa, agar frisa tidak meninggalkan hotel dan luput dari pengawasannya.
"terus saya harus makan di mana pak?"
"di hotel ini kan banyak makanan, kenapa kamu repot repit nyari makan di luar, apalagi di tepi jalan yang makanannya belom tentu higienis"
"maaf pak, jujur kalau saya harus makan di restoran hotel saya tidak mampu bayarnya pak"
"saya tau, tapi di sini kan ada kantin yang makanannya gak jauh beda sama yang dimakan tamu hotel, harganya juga terjangkau karena memang disediakan untuk para pekerja di hotel ini"
"beneran pak? wah enak nih, saya gak tau soalnya.. hehe"
Franco merasa terpesona dengan sikap frisa yang polos dan senyumannya itu seakan meruntuhkan dinding dinding es yang bertahun tahun telah dibuatnya itu.
"yasudah, kamu ke kantin aja gih, tempatnya di basement sebelah parkir mobil, di sana ada musholla dan banyak karyawan lain saat jam ostirahat berada di sana"
"iya pak, terima kasih"
Frisa segera berjalan menuju kantin karena rasa laparnya sudah tidak dapat di bendungnya lagi.
"loh bapak ngapain ngikutin saya pak?"
"lah PD amat kamu, saya kan juga mau ke kantin nyari makanan"
Frisa merasa malu karena menanyakan hal yang sangat bodoh itu.
"astaga iya yaa.. bodoh banget sih lu fris.. mikirin apa lagi" gumam frisa dalam hatinya.
Frisa berjalan dengan menundukkan kepalanya karena merasa sangat malu, dia tidak berani mengangkat dagunya dan tetap berjalan menunduk sampai di kantin.
Franco yang melihat tingkah aneh frisa dari belkang seakan ingin membuatnya tertawa terbahak bahak, namun rasa tawa itu di tahannya karena dia tidak ingin kehilangan muka di depan frisa dan karyawan lainnya.
_____hay hay hay ganks, jangan lupa klik fav, like and komen... see yaaa
thx....