REAL

REAL
REAL (Episode 29 - Langkah Pertama)



Perasaan marah, benci, cemburu yang selamaini menyelimuti si penguntit sudah tidak dapat lagi dibendung, dia sudah lama ingin mengakhiri sakit yang dideritanya karena frisa dan dia ingi mengakhirinya saat ini juga.


Si penguntit itu sedah menyiapkan rencana apik untuk membalas rasa sakitnya terhadap frisa.


***


Saat franco dan frisa tiba di hotel mereka segera berpisah menuju kantor masing masing dan segera melakukan pekerjaannya seperti biasa.


Disaat yang bersamaan si penguntit itu memasuki hotel itu dan menyamar sebagai pelanggan, demi melancarkan rencana jahatnya dan agar tidak ada yang mencurigainya dia datang berpenampilan seperti orang orang pada umumnya, memaka baju rapi dan membawa koper yang besar. Para staf security tidak ada yang mencurigainya sama sekalih karena penyamarannya begitu sempurna sebagai pelanggan hotel yang sedang ingin memesan kamar.


"hai, selamat siang. Saya bisa check in sekarang?" ucap si penguntit itu kepada staf resepsionis hotel itu.


"selamat siang bapak, boleh saya meminjam kartu identiyasnya? ucap resepsionis itu.


"ini mbak" si penguntit itu menyodorkan kartu identitasnya.


"dengan bapak Rio Mahendra, benar?"


"iya mbak"


"baik pak, bapak mau memesan untuk berapa hari di sini?"


"saya mau memesan untuk 2 hari"


"terima kasih pak, ini kartu identitasnya dan kunci kamar hotelnya"


"terima kasih mbak" senyum indah nya terukir di ujung bibirnya, namun dibalik senyum itu ada niat jahat tersembunyi.


Rio merasa puas karena sebentar lagi dendamnya akan segera terbalaskan.


Dia mulai mendorong koper besarnya menuju lift, namun tiba tiba petugas hotel memdatanginya.


"permisi pak... " sapa staf hotel tersebut.


"iya, ada apa yaa?" dia menjawab dengan perasaan dag dig dug karena khawatir penyamarannya akan segera terbongkar.


"mari pak saya bantu membawa kopernya" pinta ramah staf hotel tersebut.


"eh iya.. makasih yaa" (anjiirrr aku kira bakal ketahuan *gumam hati rio)


Setelah sampai di depan pintu kamar hotelnya rio segera memberi tips kepada staf hotel itu dan segera masuk kedalam kamarnya.


"haha.. akhirnya frisa, aku bisa sedekat ini dengan kamu.. HAHAHAHA" tawa jahat rio.


Disisi lain saat frisa sedang berada di kantornya dia merasakan hawa dingin dan perasaan yang tidak nyaman dari tadi.


"eh fris, kamu kenapa? kamu sakit? muka kamu pucat banget" tanya diana rekan satu kantor frisa.


"eh enggak tau nih, dari tadi perasaan ku gelisah terus, kenapa yaa mbak?" jawab frisa.


"aku bikinin teh anget yaa, mungkin karena kamu sebentarlagi mau datang bulan, soalnya aku gitu kalo memasuki periode itu" jelas diana.


"apa mungkin begitu yaa mbak? kalo gitu aku bikin sendiri aja mbak" ungkap frisa.


"udah kamu duduk aja, lagian aku juga mau bikin teh anget, sekalian aku bikinin aja" paksa diana.


"makasih yaa mbak" jawab frisa.


"it's ok, santai aja fris" jawab diana dengan ramah.


Setelah meminum teh hangat buatan diana, perasaan frisa tak kunjung membaik, semakin lama perasaannya semakin gelisah dan tidak tenang.


"frisa.. istirahat dulu yuk, ayo kita makan ke kantin" ajak diana.


"enggak deh mbak, kamu aja aku lagi gak nafsu makan" ucap frisa.


"kamu masih gak enak badan?" tanya diana.


"iya mbak" jawab frisa dengan muka pucatnya.


"yaudah aku bungkusin aja yaa fris, kamu buat tiduran aja, itu di sebelah sana ada sofa yang biasanya buat karyawan yang lembur, kamu bisa rebahan di situ" ungkap diana.


"iya mbak diana, terima kasih yaa mbak" ucap frisa.


"yaudah aku tinggal dulu yaa fris, kamu baik baik" kata diana.


"iya mbak" jawab singkat frisa.


Frisa segera menuju sofa dan merebahkan badannya yang sedaritadi tidak enak.


***


"loh diana kok sendirian, frisa mana? bukannya kalian selalu makam bersama yaa?" tanya franco.


"itu pak, dari tadi frisa tidak enak badan, jadi dia nunggu di kantor" jawab diana.


"frisa kenapa?" tanya franco dengan kaget.


"katanya perasaannya lagi gak enak pak dari tadi pagi" jawab diana.


"perasaan tadi pagi dia baik baik saja" gumam franco dalam hatinya.


franco segera meninggalkan kantin dan segera menuju ruangan frisa.


"fris.. frisaa... kamu kenapa sayang?" tanya franco dengan lembut kepada frisa.


"eh mas,, aku gak kenapa kenapa kok mas, cuma gak enak badan aja" jawab frisa dengan lemas.


"kamu keliatan gak baik baik saja loh, mas antar ke rumah sakit yaa" pinta franco.


"enggak usah mas, dibikin tidur sebentar aja nanti juga baikan" jawab frisa.


Franco menempelkan keningnya diatas kening frisa untuk mengecek suhu badannya.


"tuh kan kamu demam, udah ayo kita ke rumah sakit aja" jawab franco dengan khawatir.


"enggak usah mas, disini lagi banyak kerjaan kalo aku tinggal kalian mbak diana bakal kewalahan" ucap frisa.


Franco yang semakin khawatir langsung membopong badan frisa menuju tempat parkir.


"mas, gak usah mas.. aku gak kenapa napa" rengek frisa.


"udah lah fris, kali ini kamu harus nurut. saya kan bos di sini jadi kamu haris nurut sama saya, soal diana itu urusan saya nanti" ucap franco dengan tegas kepada frisa agar menuruti segala ucapannya.


"iya mas" jawab pasrah frisa.


Franco membawa frisa menuju rumah sakit terdekat, dan disana frisa segera mendapatkan penanganan dokter.


"pasien saat ini baik baik saja, dia hanya demam dan sedikit kelelahan. kami sudah memberikannya obat dan cairan infus, besok pasien sudah boleh pulang" jelas dokter rumah sakit itu.


"baik dok terima kasih, oh iya dok apakah saya juga boleh meminta di infus di sebelah dia dok?" pinta franco.


"apa bapak juga merasakan sakit yang sama seperti pasien?" tanya dokter itu.


"akhir akhir ini saya cukup banyak bekerja dan kelihatannya badan saya kekurangan vitamin" jelas franco.


"oh begitu, baiklah pak. silahkan berbaring di ranjang sebelah pasien, nanti akan saya minta suster memberi bapak infus" ucap dokter itu.


"terima kasih dok" jawab franco.


***


Pukul 7 malam


Frisa saat ini sudah terbangun dari tidurnya, nadannya sudah lebih baik setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.


"mas franco kemana yaa?" gumam frisa.


grook.. groookkk.. groookkk suara dengkuran di ranjang sebelah.


"ya ampun bisa bisanya di rumah sakit seperti ini ada yang mendengkur keras sekali, kasihan pasien lain dong" ucap frisa sedikit jengkel.


Frisa segera menyibak kain penyekat antar ranjang untuk melihat siapa gerangan yang sedang mendengkur sangat keras itu.


"astagaa.. mas,, mas bangun mas.. " ucap frisa.


Frisa sedikit terkejut ketika dia mengetahui yang mendengkur terlalu keras itu adalah kekasihnya sendiri. Frisa berusaha membangunkannya namun franco tak kunjung bangun, dia terlihat benar benar kelelahan.


"hehe.. ternyata mas franco bisa juga yaa tidur setenang ini, jadi gak tega membangunkannya" ucap frisa sembari tersenyum bahagia melihat sang pujaan hatinya selama itu terus berada di sisinya.


***


hay hay hay ganks.. maaaaaaffff banget baru bisa update😥😥..semoga kalian tetep enjoy sama karya karya ku yaa, jangan lupain aku guys, aku akan usahain sering update...


thx kalian semua...