REAL

REAL
REAL (Episode 30 - Langkah Ke 2)



Setelah frisa mendapatkan perawatan di rumah sakit setempat, akhirnya pada keesokan harinya dia diizinkan untuk pulang.


"mas, langsung ke tempat kerja aja yaa" pinta frisa kepada franco yang sedari semalam menemaninya.


"tapi kamu kan baru pulih, kita pulang aja yaa" jawab franco.


"aku udah baik baik saja mas, kasian mbak diana pasti dari kemarin dia belom istirahat karena kerjaan yang menggunung" jawab frisa untul meyakinkan franco.


"tapi kamu bener udah baikan?" tanya franco.


"iya sayanggg.. sudah" jawab frisa sembari memberikan senyuman hangat kepada franco. Franco yang begitu lemah dengan frisa akhirnya menuritinya.


"yaudah kita ke kantor, tapi kamu jarus janji yaa jangan terlalu kecapekan, kalau badan kamu terasa gak enak lagi, kamu vepat cepat telepon aku yaa" pinta franco yang masih sangat khawatir dengan keadaan kekasihnya itu.


"iya mas iyaa... " jawab frisa sambil membenarkan dasi franco.


Akhirnya franco melajukan mobilnya menuju hotel tempat mereka bekerja.


Sesampainya di parkiran, frisa berjalan ke dalam bersama franco sambil bergandengan tangan. namun tanpa mereka sadari sedari tadi ada Rio yang sedang mengawasi gerak gerik mereka berdua.


"lihat saja frisa, kebahagian mu akan segera berakhir" gumam rio dengan tatapan mata penuh dendam.


***


"diana, tolong kamu jaga frisa yaa, kondisi tubuhnya masih sedikit lemah" ucap franco kepada diana setelah mengantar frisa ke ruangannya.


"baik pak franco" jawab diana.


"frisa, jaga kesehatan kamu yaa" ucap franco.


"iya pak" jawab frisa.


Saat ini masih belum ada staf yang mengetahui hubungan spesial franco dan frisa.


"psssttt... psssttt... fris, kayaknya pak franco naksir deh sama kamu" ucap diana seketika.


"ah.. mbak diana ini mengada ngada" elak frisa.


"iya fris beneran deh, aku tuh udah merhatiin pak franco beberapa kali dan dia itu sedang curi curi pandang ke kamu, apalagi saat tau kamu sakit, contohnya tadi, kamu liat kan dia khawatir banget sama kamu" jelas diana yang mencurigai gerak gerik franco.


"ahhh.. mbak diana, enggak lah mbak. mungkin pak franco memang atasan yang baik, jadi dia selalu perhatian kepada semua bawahannya" elak frisa untuk meyakinkan diana atas segala kecurigaannya.


"heemmm.. enggak sih kalo menurut ku, jadi tambah penasatan" ucap diana penuh kecurigaan.


"ehem, udah deh mbak jangan ngaco ah, ayo lanjut kerja masih banyak berkas berkah yang harus diselesaikan ini" ucap diana.


"hemmmm... firasat ku tidak pernah salah" gumam diana sembari kembali bekerja.


...


tring...


"ah ada SMS dari frisa, apa dia sakit lagi yaa" gumam franco saat mendapatkan pesan singkat dari frisa.


^gawat mas gawat, mbak diana mulai curiga sama hubungan kita, aku harus bagaimana sekarang^ isi pesan singkat frisa.


^yaa biarin aja diana tau, sekalian aja semua staf tau, aku gak keberatan kok sayang^ jawab enteng franco.


^ih.. mas kok gitu sih, aku gak mau mereka tau hubungan kita, nanti pasti bakal banyak gosip bertebaran^ balas frisa dengan jengkel.


^enggak akan ada gosip yang aneh aneh sayang, kamu terlalu khawatir^ balas franco.


^Hahah... tenang saja sayang, bila ada yang gangguin kamu lagi bakal saya pecat mereka^ jawab franco.


^ih.. kok main pecat pecatan sih, udah aha kamu jengkelin dari tadi^ balas frisa sedikit jengkel dengan tingkah santai franco.


"haha.. frisa frisa, kamu ini lucu banget sih" gumam franco.


***


Disisi lain, Rio sedang menyusun rencana apik untuk membalaskan dendamnya kepada frisa.


"kau tunggu saja frisa.. hahaha" ucap Rio di dalam kamarnya.


kriiingg.. kriiingggg..


"halo ada yang bisa saya bantu" ucap staf hotel


"halo, saya penghuni kamar 202 tolong segera panggilkan ambulan, saya sedang sakit parah" ucap Rio sembari berpura pura merintih kesakitan.


"ah iya baik, kami akan segera ke sana tuan" jawab staf hotel teesebut.


Rio sengaja melukai tangan dan pergi keluar mendekati kantor frisa.


Saat itu frisa hanya sendirian di dalam kantor, semua rekan kerjanya sedang keluar istorahat, sedangkan dia hanya ingin istirahat di ruangannya.


"tolongg.. toloongggg.. tolooongggg"


Rio berteriak teriak minta tolong dan sengaja masuk kedalam kantor frisa, frisa yang melihat darah bercucuran langsung bingung dan panik seketika.


"tuan.. tuan kenapa.. " ucap frisa dengan penuh khawatir.


Frisa merasa ragu untuk mendekati Rio yang sedang bersimbah darah seakan ingin menolong tapi dia juga merasa takut karena frisa memiliki trauma dengan darah.


"tolong saya.. tolong saya... " ucap rio sembari memegangi lengan frisa.


Rio sangat mengetahui kalau frisa takut dengan darah. Jadi dia sengaja menunjukkan darah dan menciprat cipratkan darahnya ke tubuh frisa.


"iya tuan, tenang tuan... ambulan segera datang" ucap frisa yang berusaha memberanikan diri untuk menenangkan rio, padahl dia sendiri sedari tadi sudah merasa pusing karena melijat begitu banyak darah yeng berceceran.


"aaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak rio untuk menambah kepanikan frisa.


Namun tidak berselang lama segerombolan tim medis datang untuk memberikan pertolongan kepada rio.


"pak... sakiittt pak... sakiitttttt... saya belom mau mati pak, tolong saya.. " ucap rio.


"bapak yang tenang yaa.. kami akan segera memberikan pertolongan kepada bapak" ucap salah satu tim medis yang menyelamatkan rio.


Bruuukkkkk...!


Frisa sudah tidak kuat lagi menahan sakit kepala yang dideritanya karena telah melihat begitu banyak darah akhirnya dia jatuh pingsan juga.


"mbak mbak... " ucap salah satu tim medis sembari menggoyang goyangkan tubuh frisa untuk menyadarkannya.


Namun tidak ada respon dari tubuh frisa, akhirnya frisa segera diangkat dan dilarikan ke rumah sakit sekalian oleh para tim medis.


***


hay hay hay ganks, thx buat kalian yang tetap stay mantengin cerita ini.. 😘😘