
Pagi ini frisa mulai berangkat ke hotel bersama franco demi keamanannya. Frisa yang mulanya merasa sungkan dan tidak enak hati karena merepotkan franco, dia mencoba untuk menikmati dan mencoba akrab dengan franco.
"aku gak boleh gini gini aja, aku harus mencoba menjalin hubungan baik dengan pak franco, lagian orangnya ternyata baik dan pastinya ganteng, hehe" gumam frisa dalam hatinya yang merasa geli dengan pikirannya.
"pak, terimakasih untuk semuanya"
"iya fris, sama sama. Yang penting kamu aman dan nyaman"
"iya pak, hehe"
"udah kamu nyaman nyamanin aja yaa"
"siap pak"
senyum frisa merekah indah di pagi hari bak bunga mawar yang sedang bermekaran di taman setelah terkena guyuran hujan... segaaarrrr.
"astaga astaga... senyumnyaaa fran, astagaaa.... kalo aku liatin terus bisa nabrak nih mobil karena gk konsen"
Gumam franco dengan wajah merah merona setelah memandangi senyum frisa.
"bapak kenapa pak? bapak demam?"
"aahh enggak, saya gak kenapa napa kok fris"
"tapi wajah bapak merah gitu"
"oh, karena AC nya kurang dingin ini, panassss"
Franco langsung mencari cari alasan untuk menyembunyikan rasa malunya itu, dia langsung menyalakan AC mobilnya padahal cuaca masih bagi, dan di luar cukup dingin karena kota ini memang memiliki iklim yang lebih dingin daripada kota asal frisa di jawa.
"pak, saya mau ngomong sama bapak, boleh?"
"boleh, silahkan ngomong aja fris"
Jantung franco langsung dag dig dug, jiwa kebucinannya mulai tumbuh, dia mengira ngira kalau frisa akan menyatakan perasaannya kepada dia.
"anjaiiii... jangan jangan dia mau nembak nih!astaga,, aku sudah siap kok fris bilang IYA" gumam franco dalam batinnya yang sangat berharap besar.
"jadi begini pak, apa bapak mau... mau berhenti sebentar di minimarket? soalnya ada kebutuhan mepet yang harus saya beli pak?"
"oh"
Harapan franco pupus, wajahnya yang mulanya bersinar sekarang berubah menjadi muram karena kata kata yang keluar dari mulut frisa tidak sesuai dengan yang dia bayangkan.
"emmm.. jadi bagaimana pak, apa boleh?"
"ahh.. iya iya, tentu... nanti di depan ada minimarket"
Franco mencoba tersenyum kembali, dia tidak mau kalau frisa merasa tidak nyaman lagi dengan interaksi mereka berdua.
"berani dong pak, oh iya bapak mau nitip apa? kopi? roti? atau yang lain pak? "
"enggak usah fris, minuman dari kamu kemaren aja masih numpuk di kanto"
"hehe.. iya pak"
Frisa keluar dari mobil franco dan menuju minimarket di depannya, sesampainnya di dalam frisa membeli kebutuhan pribadi mepet yaitu "roti putih" aka "pembalut". Karena hari ini adalah "harinya".
Frisa juga mebeli berbagai macam snack dan susu kotak buat jaga jaga saja kalau seumpama franco ingin mengetahui apa yang dibelinya jadi dia bisa beralasan agar dia tidak merasa malau kalau sebenarnya dia membeli pembalut.
"kamu beli apa aja fris?"
"tuh kan nanya, sudah ku duga hohoho" gumam hati frisa.
"oh, ini pak saya beli susu kotak sama snack, bapak mau?"
"jadi kebutuhan pribadi mepet yang kamu katakan tadi itu ini?"
"hehe, iya pak?"
"astagaaa fris... saya kira kamu beli barang yang sangat penting"
"ini itu sangat penting pak buat saya, contohnya susu coklat ini, saya selalu meminumnya setiap pagi, karena tadi stok di rumah habis jadi gak sempat minum deh"
Frisa menjawab pertanyaan franco dengan nada yang lucu dan mengemaskan, dia sudah merasa nyaman berbicara dengan franco.
"kalo begitu, mana kasih saya satu susu coklatnya"
"bapak juga suka susu coklat ternyata?"
Frisa bertanya sambil memberikan sekotak susu coklat dari keresek belanjaannya.
"suka banget... kemarin saja minuman dari kamu langsung saya minum susu coklatnya"
"hehe.. syukurdeh kalau ada yang bapak suka"
Setiap obrolan obrolan yang mereka lakukan semakin renyah dan ringan, frisa sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini, begitupun franco dia sangat menikmati setiap waktu yang dihabiskan dengan frisa, meski hanya obrolan obrolan ringan saja dia sudah merasa sangat bersyukur bisa sedekat ini dengan frisa dibandingkan saat awal mereka bertemu.
"benar fris, langkah yang bagus kamu bisa mengimbangi pak franco seperti ini" gumam frisa dalam hatinya, dia memuji dirinya sendiri atas kemajuan interaksi antara dirinya dengan franco.
Hati frisa mulai lega, dia berharap semoga hubungan interaksi antara dirinya dengan franco kedepannya menjadi lebih baik lagi, apalagi kalau dipikir pikir franco itu laki laki yang baik dan bertanggung jawab, meski ada sedikit sifat menyebalkan dari dirinya namun itu tidak menjadi masalah buat frisa.
Begitupun pemikiran franco, dia berharap kedepannya hubungan mereka menjadi semakin dekat bahkan tidah hanya sebagai tetangga, rekan kerja maupun partner semobil melainkan menjadi partner perasaan yang bisa bertahan selamanya.
_____hay hay hay ganks, jangan lupa klik fav, like and komen yaaa... thx