REAL

REAL
REAL (Episode 1 - Frisa)



Cuit…cuit…cuit… suara burung gereja di pagi hari yang menenangkan hati dan menambah sahdu pagi ini begitulah menurut perasaan wanita cantik yang sudah lulus dari salah satu univesitas swasta di kotanya, ya dialah erisa. Setelah menyelesaikan study nya di kota kecil tempatnya lahir kini dia sudah kembali ke rumah orang tuanya yang ada di kampung kecil yang terletak di bagian pinggir kota tersebut. Kampung yang seperti kampung pada umumnya, tidak ada menariknya, tidak ada yang sepesial begitu menurut erisa, bahkan wajah muda mudi di kampunya pun juga terbilang standar masih jauh dari kata standar rupawan menurutnya.


“friiiiiiiiiiiiiiissssssssssss……frisaaaaaaaaaa”, teriak bu asih, ibu dari frisa dan sebagai satpam di rumah ini. Begitulah anggapan frisa terhadap ibu nya, karena setiap hari ibu nyalah yang memiliki tanggung jawab membangunkan frisa dan adik adiknya.


“eungh…iya buuuu” sahur frisa dari dalam kamarnya sambil meregangkan badannya diatas ranjang karena masih merasa sangat capek berkat semalaman marathon drama korea.


“kamu ini udah dewasa tapi kelakuan tetep aja sama, masa ibu harus selalu bangunin kamu sih” teriak bu asih dari luar kamar frisa.


“iya iya bu…udah jangan marah marah lagi ah, masih pagi juga” jawab frisa sambil membuka pintu kamarnya.


“kamu ini anak perawan masih aja kelakuannya kayak anak kecil. Noh liat noh anak anak perawan teman ibu gak ada yang kayak kamu ini, mereka udah pada dapat kerjaan udah pada punya penghasilan udah bias beli jajan pakek duit sendiri, nah kamu masih aja males malesan kayak gini, katanya mau jadi orang sukses, kapan suksesnya kalau kerjaan kamu masih aja kayak gini” celoteh bu asih yang tiada henti mengomeli frisa setiap hari.


“siapa juga sih bu yang gak mau kerja, aku kan juga udah usaha kesana kemari buat nyari kerjaan tapi apa hasilnya zonk juga kan” sahut frisa yang udah merasa jengkel dengan keadaannya.


“kamu ini bisa aja jawabnya kalo ibu lagi ngomong” omel bu asih


“iya iya buu… udah deh” sahut malas frisa. Sambil menarik lengan ibunya ke arah meja makan.


“loh bu, bapak mana? Kok dari tadi enggak keliatan?” Tanya frisa.


“oh bapak mu lagi ketemuan sama pamannya yang dari kampung sebelah” jawab bu asih.


“owalah… pamannya yang rumahnya di lereng gunung itu?” kata frisa sambil menyendokkan makanannya kedalam mulut.


“iya” jawab singkat bu asih yang sedang sibuk menata perkakas dapur.


Satu jam kemudian setelah frisa selesai makan, pak rudi yaitu bapaknya frisa datang dengan wajah sedikit binggung menghampiri frisa dan bu asih yang sedang asik bercengkama di halaman belakang.


“bu..ibu..” teriap pak rudi.


“iya pak kenapa? Kok muka bapak begitu sih, ada masalah apa sama paman mu? Tanya bu asih dengan sedikit bingung.


“begini buu, anu….” Ucap pak rudi yang tidak langsung dilanjutkan yang malah membuat bu asih dan frisa tambah bingung.


“jadi gini fris, buu… paman ku tadi kan kesini dia minta kita besanan sama saudaranya yang tinggal di kampungnya sana” jelas pak rudi kepada frisa dan bu asih.


“APA?” teriak frisa. “aku gak mau pak, aku gak mau buu” sambung frisa dengan wajah kaget dan memelas.


“jangan teriak teriak fris, malu didengerin tetangga, nanti dikirain ada apa apa aja” ucap bu asih sambil menenangkan frisa. “jadi gimana sih pak kok sampai paman mu ngomong gitu? Sambung bu asih menanyakan konologi kepada pak rudi.


“jadi gini bu, paman ku tadi bilang, katanya saudaranya jauhnya yang tinggal satu kampong itu sedang mencari calon menantu untuk anak nomor lima nya, dan usianya sudah 30 tahun, kata paman ku tadi dia anaknya pendiam, baik, mandiri, terus orang tuanya termasuk orang terpandang di kampung itu” jelas pak rudi.


“terus bapak bilang apa sama paman mu itu?” Tanya bu asih dengan penasaran.


“yaa bapak bilang kalau nanti bakal ditanyain dulu sama si frisa nya gimna” jawab pak rudi.


“GAK, pokokna aku gak mau titik” bentak frisa.


“huss.. jaga bicara mu fris, gak boleh gitu sama orang tua” sahut bu asih dengan sedikit emosi.


“pokoknya buu pak AKU GK MAU DIJODOHIN apalagi sama oang kampungan” teriak frisa sambil marah marah dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


“FRIS… jangan kuang ajar kamu sama oang tua mu, hei sini dengarin dulu ibu sama bapak mu ini” teriak bu asih yang terbawa emosi karena tingkah anak sulungnya itu.


“udah lah bu, kita tunggu emosi frisa mereda dulu baru kita bicarakan lagi” ucap pak rudi sambil menenangkan istinya.


“tapi pak, anak itu sudah ketelaluan, kurang apa coba laki laki itu” jawab bu asih yang emosinya sudah mulai berkurang.


“sudah sudah buu sudah…” ucap pak rudi.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hi ganks.. maaf yaa kalau tulisan ku masih jelek dan berantakan karena ini juga perdana nulisnya hehe.. maklumin yaa….


Terimakasih untuk readers yang sudah mau membaca tulisan ku ini, jangan lupa like dan komen yaa biar author semangat update nya.. love you all..