
(3 hari setelah percakapan yang panas)
“friiissss…frisaaaa… sini nak duduk sama bapak” panggil pak rudi.
“friiiiissssss kamu dengar gak sih, bapak mu manggil ini loh” tereak bu asih sedikit jengkel.
“iya iya..masih jalan ini loh, ada apa sih tereak tereak ini rumah bukan hutan” sahut frisa dengan perasaan jengkel.
“kamu ini makanya kalau dipanggil cepetan dateng, bukannya nunggu ibu tereak tereak dulu baru dateng” ucap bu asih sambil melototin frisa.
“iya iya bu, gitu aja dibikin besar, ada apa sih ganggu orang sibuk aja” jawab frisa dengan malas.
“emang pengangguran kayak kamu ini sibuk apaan?” ucap bu asih dengan nada ejekannya.
“udah lah bu, jangan gitu sama frisa, kan kasihan, namanya juga belom rejeki, ntar kalau emang udah rejeki pasti dia dapat kerjaan yang mapan” kata pak rudi sambil menenangkan suasana.
“jadi gini nak bapak sama ibu disini mau membahas tentang perjodohan kamu yang kemaen itu, bagaimana menurut mu nak?” sambung pak rudi dengan nada alus dan sabar meladeni anak sulungnya ini yang keras kepala seperti batu gunung.
“pak bu.. aku kan udah pernah bilang kalau aku gak mau dan gak setuju sama perjodohan ini” jawab frisa.
“kamu ini dasar anak gak tau diuntung bisanya nyusahin orang tua saja, udah disekolahin tinggi tinggi tapi mana balas budi mu sama kami HAH?” ucap bu asih sembari naik pitam karena mendengar penolakan dari anaknya itu.
“kenapa sih kalian gak pernah ngedukung keputusan ku?” Tanya frisa sambil mengusap air matanya yang tidak sengaja menetes.
“karena kami tau yang terbaik untuk kamu nak” jawab pak rudi masih dengan kata kata sabarnya.
PLAKKKK…. Dengan penuh emosi bu asih menampar frisa yang sedang menangis itu, sontak frisa langsung memegangi pipinya yang memerah terasa panas dan sakit itu dan berlari meninggalkan orang tuanya sendiri.
“kamu ini bu, jangan kayak gitu sama anak sendiri” ucap pak rudi sambil memelototi istrinya.
“biarin pak, jengkel aku sama itu anak, anak gak bias diatur banget, bisanya ngebangkang aja” sahut bu asih dengan penuh amarah dan emosi.
“hussss… kamu ini, gak boleh gitu bu, seharusnya kita juga harus menghargai pendapat frisa bukannya malah memaksanya seperti ini” jelas pak rudi kepada bu asih.
“terserah bapak mau gimana, pokoknya ibu pengen frisa mau dijodohin sama laki laki itu, sebenarnya apa sih yang gak disukai sama anak itu, ibu jadi heran” kata bu asih dengan rasa bodo amatnya. “bayangin deh pak, laki laki itu udah pendiam, baik, anak orang terpandang, tanah warisannya dimana mana, kurang apa lagi coba? Memang anak mu itu batu” sambung bu asih dengan emosinya yang masih belum reda.
“kamu ini bu, yang dipikirin hartana aja, pikirin juga itu perasaan anak mu” jawab pak rudi untuk menadarkan sikap keegoisan istrinya.
“yaelah pak hari gini gak mikirin harta itu munafik pak, lagian siapa sih di dunia ini yang gak suka banyak harta?mau tau aku orangnya seperti apa yang tidak suka harta itu” jawab sembrono bu asih.
“memang harta itu penting bu, tapi perasaan jauh lebih penting. Inggat bu kita dulu bias sampai menikah sampai sekarang ini juga kan bukan karena harta tapi karena cinta” perjelas pak rudi kepada istrinya.
“alah pak pak, itu kan jaman kita dulu, jaman susah. Kalau sekarang frisa bisa mendapatkan secara cepat dan praktis kenapa harus nyari yang susah susah” ejek bu asih.
“oalah bu ibu, terserah kamu aja deh bu, capek bapak ngomong sama wanita, karena pasti ujung ujungnya bakal kalah juga meski sebenarnya pendapat bapak yang benar” jawab pasrah pak rudi. (memang benar kata meme meme yang pernah aku baca di sosmed, kalau wanita selalu benar dan laki laki selalu salah, gak rugi ternyata kemaren belajar sosmed hehe) gerutu dalam hati pak rudi.
-------------------------- Jangan lupa klik Like dan Komen yaa ganks ----------------------------