
Di pagi hari yang indah, burung burung berkicau dengan merdunya mengiringi seorang wanita cantik sedang bersolek ria sembari menebarkan senyumnya yang menawan.
"cepat fris, mas bos keburu ngungguin ini"
ucapnl frisa pada dirisendiri sembari menepuk nepukan spons bedak pada pipi halusnya.
Setelah selesai bersolek frisa langsung menuju rumah franco yang berada di sebelah rumahnya.
"eh nak frisa sayang, ayo sini sarapan dulu, udah tante masakin nasi goreng enak loh"
"iya tante, jadi keenakan gini disuruh sarapan terus, hehehe"
"hahaha, kamu kan udah tante anggap anak sendiri"
"hehe.. makasih tante"
Frisa menyantap sepiring nasi goreng yang di sediakan bu endang di meja makan.
"wah, enak banget tante nasi gorengnya"
"aaahhh benar? terimakasih yaa sayang, baru ada yang bilang nasi goreng tante enak, biasanya mah para penghuni rumah ini gak pernah bilang apa apa asal mereka kenyang"
"yaelah mama mau dipuji terus terusan sama papa? yaudah nanti setiap hari bakal papa puji kalau masakan mama paling uenak"
"ih gak usah deh pah, mama gak mau dibohongin sama papa, mama lebih percaya sama frisa"
Bu endang bergaya sok cuek kepada pak bambang dan segera melengoskan senyum manis ke arah frisa seakan meminta dukungan frisa.
"tenang tante frisa gak pernah bohongin tante kok"
"uuhhh sayang, makasih yaa"
Bu endang bertingkah imut di depan frisa, dia sangat senang dengan sikap frisa yang sudah mulai terbuka dan santai seperti saat ini.
"oh iya mah, franco mana dari tadi kok belom turun turun juga"
"iya yaa paa.. kemana anak itu, coba deh mama panggil dulu"
"biar frisa aja tante yang manggil pak franco, tante selesain aja sarapannya, lagian frisa juga udah selesai makannya"
"yaudah kalau begitu, kamu tau kan kamar franco yang mana"
"iya tante"
Frisa menaiki tangga menuju kamar franco yang berada di lantai dua. Frisa mengetuk ngetuk kamar franco namun tidak ada jawaban dari dalam.
"pak.. pak franco.. ayo sarapan pak.. kok gak ada jawaban yaa, apa jangan jangan masih tidur?"
Frisa mencoba memanggil manggil lagi nama franco namun tetap tidak ada jawaban. Akhirnya frisa mencoba menarik handel pintu kamar franco dan ternyata pintunya tidak di kunci.
"pak.. pak franco, saya masuk yaa....."
"iya fris masuk aja" jawab frisa pada dirinya sendiri sebagai ganti suara franco.
"maaf pak saya masuk, hehe" gumam frisa pada dirinya sendiri dengan lirih.
Mata frisa mencari kesana kemari mengamati segala yang ada di kamar franco, tapi dia tidak menemukan tanda tanda kehidupan di dalm kamar itu.
"pak franco kemana yaa? apa jangan jangan ini bukan kamarnya?"
Gumam frisa lirih karena merasa heran dengan kondisi kamar itu yang sangat kosong tanpa ada jejak manusia yang pernah menempati.
"ini benar kamarnya franco kok"
Riba tiba suara franco muncul dari belakang pintu kamarnya yang songak membuat frisa terjingkat kaget.
"astaga... bapak ngagetin aja sih"
"hahaha.. lagian kamu masuk ke kamar laki laki tanpa permisi, emang kamu gak takut apa?"
"ngapain takut, kan bapak bukan singa.. lagian tadi aku udah permisi kok, bapak aja yang gak dengar"
"saya memang bukan singa fris, tapi saya bisa lebih ganas daripada singa"
"apaan sih pak, halu pagi pagi gini"
"udah berani yaa kamu ngatain saya halu, sini sini aku gelitikin"
Frisa tertawa terbahak bahak karena kegelian dengan ulah franco yang menggelitiki pinggangnya.
"hahaha... pak stop pak.. hahaha... jangan pak.. hahaha"
"haaa rasain kamu fris, hehe... aku gelitikin lagi... hayoo hayooo"
"aaa.. hahaha... jangan... hahaha... "
Saat franco sedang asyik menggelitiki frisa tiba tiba du endang datang.
"astaga francooooooo.... "
Bu endang yang tiba tiba datang langsung menjewer twlinga franco.
"aaaaaa... sakit maa"
"kamu ini bukannya cepat turun sarapan malah maen kucing kucingan di kamar"
"maaf tante, frisa yang salah"
"enggak sayang, kamu gak salah tapi franco yang salah, ayo kita turun"
Ekspresi bu endang langsung berubah kalem ketika berbicara dengan frisa sangan berbeda ketika tadi saat sedang memarahi franco.
"kalian ini lagi ngapain sih, dari bawah sampek kedengeran suara frisa teriak jangan jangan jangan gitu? kamu apain frisa fran?"
"akh, enggak franco apa apain kok paa.. mana berani franco apa apain anak orang"
"boong paa.. tadi mama liat franco lagi main kucing kucingan sama frisa"
"hah?... main kucing kucinga! kamu ini fran, anak orang itu, jangan macam macam atau kamu mau papa nikahin sekarang juga!?"
"ah beneran pa?? kalo aku sih ok ok aja, tinggal frisanya gimana, hehe"
Franco cengar cengir sambil memandangi frisa yang wajahnya memerah karena ucapan pak bambang yang ingin menikahkannya dengan franco.
"husss... kamu ini fran gak ada romantis romantisnya, ngajakin nikah itu yang bener, di lamar dulu kek pakek cincin berlian, gimana sih gitu aja masa harus mama ajarin.
"yaelah maa.. kalau soal kayak gitu franco juga tau maa, tapi kan siapa tau frisa langsung mau hehe"
"cocok fran, papa setuju sama kamu, haha"
Pak bambang mengacungkan jempolnya ke arah franco sambil tertawa, sedangkan frisa yang menjadi bahan omongan tetap diamenunduk dan tidak berani berbocara karena dia masih merasa sangat malu dan deg degan.
"ih lagian papa juga ini main nikah nikahin aja, tanyain dulu frisanya gimana"
"yaaa kan daripada kelamaan maa, liat anak mu aja udah berani diam diam main kucing kucingan gitu, jadi nak frisa gimana?"
"emm.. anu om.. tante.. asuh frisa harus jawab apa yaa...?"
Wajah frisa semakin pucat dan kebingungan dengan situasi saat ini.
"udah udah, papa sama franco ini sama aja, kasian kan frisanya jangan ditekan dong"
"hahahaha... om cuma bercanda fris jangan dimasukin hati yaa, tapi kalau mau dipikir pikir dulu boleh kok omongan om tadi, hehe"
"ba.. baik om"
Hati frisa sebenarnya sangat bahagia mendapat tawaran untuk menikah dengan kekasihnya franco itu, tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam masih sedikit ada keraguan untuk membangun kehidupan rumah tangga, apalagi kasus pembatalan pernikahan di kampungnya juga belum lama ini selesai.
_____hay hay hay ganks, jangan lupa klik fav, like and komen yaa... thx