REAL

REAL
REAL (Episode 24 - Penyelamat)



knok knok knok... suara ketukan pintu rumah frisa semakin keras... knok.. knok.. knok.. ketukan pintu itu tidak kunjung berhenti dan terus di ketuk.


"ya tuhan, siapa itu yang mengetuk pintu dari tadi, hiks hiks hiks aku takut"


Frisa merasa sangat ketakutan, dia bersembunyi dibalik selimut dan terus menerus menangis.


knok..knok.. knok..


"hiks.. hiks.. hiks.."


Frisa terus menangis dibalik selimutnya sembari menutupi telinganya agar tidak mendengar suara berisik ketukan pintu rumahnya lagi.


kriiingggg... kriiiinngggg... suara ponsel frisa berbunyi dan frisa sontak kaget mendengar dering ponselnya itu.


Dilihatnya ponsel itu dan di layarnya tertera nama *Pak Franco, frisa langsung menjawabnya sembari menangis semakin kencang.


"pak.. hiks.. pak franco.. hiks.. saya takut pak"


"frisaaa... kamu kenapa fris?"


Franco yang merasa panik langsung mengambil jas dan kunci mobilnya, dia sudah tidak perduli lagi dengan pekerjaannya yang menumpuk.


Franco langsung menginjak gas menuju rumah frisa dengan pikiran yang tidak tenang.


"astaga fris, kamu kenapa? pantesan dari tadi perasaan ku kok gak enak" gumam franco pada dirinya sembari melajukan mobilnya dengan kencang.


Sekitar 20 menit franco telah sampai di depan rumah frisa, dia langsung mengamati sekeliling dan ternyata di kejauhan dia mendapati si penguntit itu.


Dengan berani franco menghampiri si penguntit itu, namun sebelum sempat franco lebih dekat dengan si penguntit itu tapi dia telah melarikan diri.


"ah sial, kurang ajar banget ba*ingan itu" umpat franco dengan kesal.


Franco segera mengetuk pintu rumah frisa untuk melihat keadaan frisa.


knok.. knok.. knok.. fris... frisaaa, ini saya fris.. franco"


Mendengar samar samar suara franco dari luar, frisa langsung berlarian dan segera membukakan pintu dan segera memeluk franco dengan sangat erat. Frisa menumpahkan semua tangisannya di dada bidang franco.


"sudah fris, kamu sekarang aman, ada saya di sini"


"hiks... hiks... hiks... pak franco.. saya takut pak.. "


Franco membalas pelukan frisa dengan hangat untuk menenangkannya bukan untuk maksud lain.


Perlahan franco mengusap usap rambut frisa dan menepuk nepuk punggungnya.


Frisa yang masih terisak isak melepaskan pelukannya dari franco.


"maaf pak, kalau saya sudah tidak sopan"


"iya fris, gak papa kok"


Franco memandangi frisa yang saat itu sangat berantakan, wanita yang disukainya saat ini berada pada titik paling memilukan. Wajahnya pucat, matanya sembab memerah, rambutnya acak acakan dan badannya masih bergetar.


Franco tidak tahan melihat wanita yang dicintainya menjadi seperti ini, dia merasa sangat bersalah kepada frisa karena telah membiarkannya pulang sendiri.


"maaf kan saya fris, karena tidak mengantar kamu pulang"


"tidak pak, bapak tidak bersalaha"


"gara gara saya, kamu jadi begini"


"tidak pak, bukan salah bapak. ini salah saya karena menjadi wanita yang lemah"


Franco tidak tega melihat frisa yang seperti ini, diambillah bahu frisa dan dipeluknya badan yang sedanv bergetar itu dengan erat.


Frisa merasa sangat nyaman dan aman berada di dekapan franco, perasaan takut, gundah, gelisah yang sedari tadi menyelimuti hatinya kini sudah berangsur menghilang.


Franco memeluk frisa dengan berjuta juta perasaan dan kehangatan, rasa cintanya kepada frisa semakin besar dan sulit untuk disembunyikan.


Kemudian franco mencium pucuk kepala frisa yang masih dalam dekapannya itu, dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan pernah membuat frisa seperti ini lagi dan dia berjanji akan segera menangkap si penguntit itu.


"maaf kan aku yaa fris yang telah gagal melindungi kamu, tapi tenang saja aku akan berjanji menangkap si penguntit itu dengan tangan ku sendiri dan menghancurkannya"


Franco berbicara dalam hatinya, perasaan marahnya terhadap si penguntit itu sudah tidak dapat di bendung lagi karena dia sudah keterlaluan sampai membuat wanita yang dicintainya menderita.


Frisa duduk terlelap dalam pelukan franco di ruang tamu rumah nya, segera franco membopong frisa ke kamarnya dan menidurkannya di tempat tidur.


Pelan pelan franco mengusap lembut rambut frisa yang sudah tertidur lelap, sesekali franco mencium kening wanita yang dicintainya itu.


"aku sayang kamu fris, aku gak akan ngebiarin siapapun nyakitin kamu" gumam lirih franco sembari menatap wajah terlelap frisa.


Franco tidak tega meninggalkan frisa sendirian, tapi dia juga bukan laki laki bajingan yang berada di dalam rumah wanita bujang berduaan, dia terlalu takut kedatangan orang ke tiga yaitu shaiton yang akhirnya menjerumuskan kedalam kemaksiatan.


Akhirnya franco memanggil bu endang mamanya untuk menemani frisa. Franco sudah memberitahu bu endang dan pak bambang tentang masalah yang sedang di hadapi oleh frisa.


Bu endang dan pak bambang merasa kasihan kepada frisa, jadi mereka ber dua sekarang sedang menunggu frisa tertidur, sedangkan franco sedang keluar ke suatu tempat.


_____hay hay hay ganks, jangan lupa klik fav, like and komen yaa... thx