REAL

REAL
REAL (Episode 3 - Paksaan)



Kringgg… krriinggg… kriinnggg…


“iya hallo” jawab pak rudi


“hallo rud, ini aku paman mu, jadi gimana anak mu setuju kan sama perjodohan ini?” sahur seorang laki laki tua yang usianya sekitar 65 tahun yang tak lain adalah paman dari pak rudi yang bernama edi.


“jadi begini paman, frisa belum bias diajak bicara, mohon tunggu beberapa hari lagi yaa” pinta pak rudi kepada pamannya.


“apalagi sih yang dipikirin sama frisa, calonnya ini anak orang baik baik, dia itu ada dikasih tanah berhektar hektar sama orang tuanya, pasti hidupnya kelak bakal enak dan makmur, kamu tenang aja rud” celoteh pak edi dengan membangakan calon frisa yang sama sekali belum diketahui wujudnya seperti apa.


“iya paman iya… tapi saya sebagai orang tuanya tidak bias memaksa frisa kalau memang dia tidak mau, sebagai orang tua mau bagaimana lagi kalau yang menjalani kehidupan rumah tangga tidak mau” jelas pak rudi kepada pamannya.


“udah rud, kamu atur saja pasti mau itu si frisa” yakin pak edi.


“begini loh paman, masalah ini kan bukan masalah yang sepele yang bias diputuskan dengan ucapan OK OK saja, karena juga menyangkut kebahagiaan frisa kelak” jawab pak rudi untuk memperjelas pamannya yang terlalu ngotot soal perjodohan ini.


“yaudah rud, kamu omongin dulu lah sama keluarga mu, nanti kalau udah ada kepastian kamu hubungin paman yaa…” ucap pak edi.


“iya paman, baiklah” pungkas pak rudi sambil menutup telepon tesebut.


*Tok tok tok… suara ketukan pintu kamar frisa


“bapak boleh masuk fris?” Tanya pak rudi dengan pelan.


“iya pak boleh, masuk aja pintunya gak aku kunci kok” sahur frisa dari dalam kamarnya.


Sambil duduk ditepi tempat tidur frisa, pak rudi pelan pelan menanyakan masalah yang sensitive ini.


“friss… jadi gimana keputusan mu soal perjodohan kemaren” Tanya pak rudi dengan penuh kehati hatian.


“pak… kan aku udah pernah bilang, aku gak mau pak kalo dijodohin sama laki laki itu, aku belom pernah tau orangnya seperti apa, saat ini kan kita hanya tau dari \=katanya\= bukan kenyataanya” jawab frisa sembari ingin mengutarakan pendapatnya.


“iya memang kita belom tau orangnya seperti apa, tapi kata pamannya bapak dia laki laki baik kok” perjelas pak rudi kepada frisa.


“yaa belom sih” jawab pak rudi.


“terus bapak kenapa bisa bilang kalau orangnya baik? Itu hanya *tembong jarene (katanya) saja, kita semua gak ada yang tau baik buruknya laki laki itu” jawab frisa.


“iya riss benar kita belom tau apa apa tentang laki laki itu, makanya kalau kamu bersedia besok laki laki itu akan kesini sama pamannya bapak” jawab pak rudi. “jadi gimana kamu?” sambung pak rudi.


“maaf pak, aku tetap tidak bisa, aku ingin menemukan pujaan hati ku sendiri” jawab frisa. Tanpa diketahui ternyata sedari tadi bu asih mencuri dengar di depan pintu kamar frisa, seketika bu asih langsung masuk dan menampar pipi frisa untuk kedua kalinya.


Plakkkk….”dasar anak ini, anak tidak tau diri, kamu suka yaa membuat orang tua mu ini menderita HAH?” teriak bu asih seperti orang kesetanan.


Frisa hanya bias diam dan memegangi pipinya yang terasa sakit, tapi untuk saat ini dia menahan air matanya untuk tidak jatuh kembali seperti kemaren.


“BUKK.. apa apaan sih kamu ini, datang datang main nyelonong nampar anak sendiri” bentak pak rudi kepada istrinya.


“biarin pak, ibu sudah gak tahan sama anak yang susah diajak bicara ini” jawab bu asih dengan penuh emosi. “frisa dengar yaa.. kalau kamu sampai menolak perjodohan ini, inggatlah sampai kapanpun kamu sudah bukan anak ibu dan bapak lagi” sambung ancaman bu asih sambil berlalu keluar meninggalkan frisa dan pak rudi.


Hiks.. hiks.. hiks.. “bagaimana ini pak, aku gak sanggup pak, aku gak bias” rengek frisa sambil menangis tersedu sedu disebelah pak rudi.


Pak rudi sebenarnya tidak tega memaksa frisa seperti ini, tapi mau bagaimana lagi istrinya sudah seperti orang kesetanan dan pak rudi juga menyadari sikap temperamental istrinya itu tidak bias diubah maupun disembuhkan, jadi mau tidak mau dia lebih memilih menuruti kehendak istrinya, karena pak rudi khawatir apabila kehendak istrinya tidak dituruti dia akan kabur dari rumah seperti tahun kemarin saat ada masalah keluarga.


“frisaa.. nak.. kamu tau kan keadaan emosional ibu mu itu seperti apa, bapak khawatir kalau ibu mu pergi dari rumah lagi seperti tahun kemaren” ucap pak rudi, “kamu kan tau sendiri bagaimana susahnya tahun kemarin saat mencari ibu mu, ternyata dia besembunyi di dalam goa bersama kucing kucing liar” tambah pak rudi.


“iya pak aku juga tau soal itu, tapi pak…” belum selesai frisa melanjutkan perkataannya pak rudi memotong nya “gak usah tapi tapian frisaa, begini aja bagaimana kalau kamu bertemu dulu dengan laki laki itu” pinta melas pak rudi.


“tapi kalau seandainya aku tidak suka dengan dia, aku bias menolaknya kan pak?” Tanya frisa.


“iya frisaa… setidaknya temui dulu laki laki itu yaa, biar ibu mu juga tidak uring uringan terus” pinta pak rudi.


“yaudah pak, bapak atur saja gimana baiknya besok” jawab frisa dengan pasrah.


-------------------------- Jangan lupa klik Like dan Komen yaa ganks ----------------------------