
Seminggu telah berlalu, reno masih berada dirumahnya. Katanya sih, mungkin reno menginap satu bulan atau dua bulan, karena urusan tomi belum selesai. Regis kesal, perhatian kakaknya terbagi bahkan reno semakin menyebalkan, tapi kalau didepan kakaknya reno manis sekali. Munafik.
Regis sekarang sedang ngumpul bareng jani dan putra bahkan ada sahabat revin juga, jiko dan satria, jangan lupakan jay si pemilik cafe.
"Manyun mulu ni anak"celetuk satria
"Abang diem aja deh"jawab regis
"Ada masalah?"tanya jay
"nggak tau"jawabnya
"Kalian berdua jelasin semuanya"tunjuk jiko pada putra dan jani yang sejak tadi diam mendengarkan
Lalu tatapan mereka bertemu dengan manik bulat regis yang menggelengkan matanya kekanan dan kekiri. Menandakan jangan memberitau apapun.
Putra dan jani bingung, satu sisi takut karena tatapan jiko yang tajam.
Sisi lain mereka harus saling menjaga rahasia.
Tetapi mereka harus mengambil pilihan. Dan keputusan yang mereka ambil ini semoga yang terbaik bagi semuanya dan untuk persahabatannya.
"Aku tak tau, regis tak cerita apapun"sahut putra
"Aku juga"tambah jani
"Kalian yakin?"tanya satria menyelidik
"Yakin bang"kompak putra dan jani
Mereka hanya menganggukan kepala tanda mengerti alasan regis tidak mau cerita apapun pada mereka. Regis hanya butuh waktu sendiri.
"Anak ini bisa juga diem gini, apa ada hubungannya dengan revin?"gumam satria melihat lekat regis yang masih menatap lurus kedepan
Regis memandang kakaknya dan reno kesal. Karena mereka mengabaikan atensinya, malah asik entah bicara apa dan kemudian tertawa seperti orang gila.
"Kalian ngomongin apa sih, gama pengen ikut"ucap regis mendekat lalu duduk ditengah tengah mereka berdua,
membuat kernyitan tak suka dari reno.
Bahkan dengan sengaja reno menyikut area perut regis keras, regis tak tinggal diam dia membalas namun sialnya revin melihatnya menyikut balik reno hingga ia ditegur. Membuat senyum licik tercipta dibibir reno,
"Gama!! Jangan ulangi lagi ya"ucap revin lalu beranjak pergi keluar katanya ada keperluan sedikit tentang pekerjaan barunya disebuah cafe milik ibu satria, sahabatnya.
Omong-omong sekarang ini revin bukan lagi jadi buruh dan pekerja serabutan. Waktu ditempat ia kerja dahulu, satria mendatanginya menawarkan sebuah pekerjaan menjadi pelayan dicafe ibunya, gaji yang diterimanya bahkan cukup untuknya kuliah dan membiayai sekolah regis,
"Apa liat liat!!!"sewot reno
"Ini rumah siapa? Terserah dong, mata juga punya gua"jawab regis
"Anak manja kaya lo aja belagu"sinis reno
"Kok bang revin bisa betah tinggal sama lo"tambahnya
"Masalah lo apa?!!"nada suara regis meninggi
"Masalahnya, kenapa lo yang jadi adiknya bang revin"jawab reno
"Kenapa? Lo iri? Atau lo itu emang nggak mampu"sinis regis
"Gua? Iri sama anak manja kaya lo, yang apa apa ngadu, ini itu ngadu. Cih, amit amit"umpat reno
"Pantesan paman sama bibi ninggalin lo, karena lo itu emang gak guna"kekeh reno
Setelah itu hanya suara langkah kaki yang terdengar menjauh dari ruang tamu yang mereka duduki.
Regis mematung mendengarnya,
Lalu senyuman getir tercipta dibibirnya
"Aku emang ga guna, selalu nyusahin semua orang"gumam regis miris
Reno bahkan mengakuinya.
Tidak, memang reno selalu mengingatkannya kalau dia memang tidak berguna bagi keluarga besar Gama.
Kemarin itu hubungannya dengan revin masih berjalan sesuai yang diharapkannya, tetapi akhir akhir ini semenjak reno menginap dirumahnya perubahan itu mulai terlihat.
Mulai dari perhatian kecil bahkan kakaknya lempar pada reno bukan dirinya lagi.
Regis telah tergantikan oleh sang sepupu.
Dulu seseorang pernah bilang, meski ada orang ketiga dalam persaudaraan mereka,, Regis tetaplah nomor satu.
Halah, Bullshit.
"Gama kenapa sih, kok suka marah nggak jelas. Kasar lagi, abang ada salah"ucap revin menahan marah, regis tau itu.
"Dikamar abang nggak ada kaca ya?"tanya regis dengan senyuman kelincinya
"Nggak usah ngalihin pembicaraan!!"jawab revin
"Gama nggak kok. Harusnya abang tanya pada diri abang sendiri"lanjut regis
"Regis!! Kamu itu udah gede, tolong ngertiin abang yang udah banting tulang pagi sampe malem buat siapa coba?"tanya revin
Bahkan baru kali ini revin memanggilnya dengan sebutan Regis bukan lagi Gama.
"Maksudnya, abang selama ini cari uang buat regis nggak ikhlas gitu"sewot regis
Bahkan matanya sudah berkaca kaca siap menumpahkan cairan bening dipelupuk matanya
"Bukan gitu"sela revin mencoba memberikan penjelasan
"Apa bang apa!!!, bahkan hanya karena reno abang berani membentak regis"emosi regis, nafasnya sudah tak beraturan akibat berteriak dan meninggikan suaranya
"Astaga, reno itu sepupu kita, jangan menuduhnya yang bukan bukan"
"Kenyataannya emang gitu kan!!?"
"REGIS!!!"
regis tersentak mendengar suara bentakan kakaknya lagi, yang ini lebih keras dan menyakiti hatinya.
"Iya bang, regis emang salah. Selalu salah, manja dan gak berguna!!!"itu kata terakhir yang regis ucap sebelum berlari menjauhi rumahnya
Regis berlari menuju taman untuk menenangkan diri,
ini salah reno semuanya salah reno.
"Gak berguna, bodoh , manja, nyusahin"gumam regis mengacak kasar surainya
Reno benar, lama kelamaan juga kakaknya revin itu bakalan muak dengan semua sikapnya
"Semua ucapan bang revin emang manis tapi siapa yang tau jika berujung tragis, jika itu benar terjadi gua orang paling pertama yang bakalan tertawa ngeliat nasib lo itu"
Itu ucapan terakhir reno yang masih terngiang jelas dimemorinya.
Regis menggelengkan kepalanya keras, airmatanya tak dapat lagi dibendung.
Airmata langit bahkan ikut menetes dengan derasnya disertai dengan petir dan kilat. Regis masih menangis ditengah hujan, ini kedua kalinya ia menangis karena revin sang kakak, hatinya sakit mendengar bentakannya,
Regis pulang dengan keadaan basah kuyup, hidungnya memerah, kulitnya dingin, bibirnya pucat pasi, bahkan tubuhnya menggigil.
Lalu....
Revin?
Kakaknya bahkan selonjoran dengan sang sepupu menyebalkannya diruang tv ditemani dua coklat panas kesukaan regis,,
Regis hanya melewati mereka begitu saja, tanpa salam dan tanpa permisi.
Revin melihat sekilas wajah sang adik yang terlihat tak baik baik saja. Namun, ego dan ucapan adik sepupunya mengalahkannya untuk membiarkan regis merenungi kesalahannya.
"Maaf"batin revin sendu
Reno tau arah pandang revin namun ia biarkan,
Karena permainan baru saja ia mulai,
"Kak, besok temenin reno beli perlengkapan ekskul ya?"reno mencoba mengalihkan perhatian revin yang masih memandangi pintu kamar regis
"Boleh"jawab revin seadanya
"Yess, sekarang ayo kita tidur bersama dikamar kak revin"ajak reno menarik lengan revin membuat sang empu hanya pasrah
Bahkan revin lagi lagi lupa atau pura pura lupa mengucapkan selamat malam pada sang adik yang menunggunya dengan keadaan yang menggigil karena kehujanan.