R For Regis

R For Regis
terlambat bangun



Sekian lama berkutat pada kertas dan buku yang berisi rumus dan sejarah pahlawan. Perutnya berbunyi tetapi didapur sederhana yang mereka miliki tak sedikitpun terdapat makanan, ingin memanggil kakaknya tapi malas pasti digoda habis-habisan, karena setengah jam yang lalu baru saja regis menghabiskan sepiring nasi goreng dan sekarang cacing diperutnya berdemo lagi.


"Uuh, laper"gerutu regis tanpa sadar mengerucutkan bibirnya maju.


"Abang! Gama pengen nyemil"lirihnya


"Gama!! Abang bawain kue kering sama susu! Buka pintunya!!"teriak revin sambil menendang pintu kamar regis berulang kali,


"abang emang paling ngerti deh"gumam regis berdiri hendak membuka pintu lalu ia merubah tatapannya menjadi datar.


"Abang, gama kan nggak minta"judes regis tapi matanya menatap kue dan susu yang dibawa revin.


"Beneran? Kalo gitu abang kasih ke rahel aja lah, palingan anak itu masih main game diteras"revin berniat menggoda adiknya yang kentara berminat pada kue yang ia bawa tapi nggak mau mengakuinya


"Kok rahel!!"sinis regis, matanya melotot garang namun terlihat menggemaskan bagi revin,


"kamu nggak mau kan?"tanya revin menahan tangannya supaya tak mencubit pipi gembil regis


"Cape ngomong sama orangtua, nggak bakal ngerti"gerutu regis mengambil alih kue dan susu dari tangan revin. Revin membelalak kaget mendengarnya.


"Abang masih muda ya! Umur abang aja baru 23 tahun"bela revin kesal dikatai tua


"Makanya cari pacar terus nikah!! Biar hidup abang ada yang ngurus"ucap regis


Hidup abang kan dikamu dek-batin revin


"Yee! kalau abang nikah siapa yang ngurus kelinci buntal ini heh"ujar revin mencubiti pipi gembil regis gemas


"Abwang gwama lagwi makwan"


"Utututu,, ngomong apasih bayi gembulku!! Makan aja belepotan gini kok"tawa revin meledak sembari mengusap usap pipi regis yang menggembung.


"Kalau udah habis taruh dinakas ya! Istirahat! Abang kekamar dulu oke"pamit revin tak lupa mencuri kecupan dikening regis, membuat sang empu melotot lucu


"Beli kasur baru, gama nggak mau ya kalau abang punggungnya sakit terus minta pijit sama gama"regis berucap namun tak memandang kakaknya,


dan revin tentu saja senang karena dia tau adiknya sedang khawatir tapi ya gitu gengsinya gede banget.


"Apa abang bisa menolak?"revin terkekeh lalu menutup pintu kamar regis pelan setelah memberikan cengiran kuda andalannya. Dan meninggalkan regis yang tak hentinya tersenyum lembut pada kakaknya.


Sayangnya revin tak tau...


Pagi sekali regis menggerutu disepanjang ia memasuki koridor kelas, menghentakkan kaki kesal, bibirnya mengerucut lucu, mata bulatnya menatap sekeliling tajam jatuhnya malah gemas. Gimana nggak kesel coba udah telat bangun, nggak ada sarapan adanya cuman roti itupun nggak bikin kenyang, abangnya pergi pagi nggak pamit tapi ninggalin note kecil dikulkas.


"Abang pergi duluan, sarapannya roti selai. abang udah siapin uang jajan diatas kulkas. Nggak usah ngambek!! Pulangnya abang beliin ayam"


"Awas saja kalo pulang nggak bawa apa-apa,, gama bakalan ngambek seminggu"


"Lagian kan bisa bangunin gama dulu!!, terus pamit. Gama kan kesel kalo diginiin"gerutunya.


"Uuhh, bayiknya bang revin kok cembetut sih"goda putra sahabat karib regis,


"nggak dianter depan gerbang sekolah ya"tambah jani sahabat kedua regis,


"kalian apa-apaansih!! Mati saja kalian!!"umpat regis meninggalkan dua sejoli yang masih asik tertawa dikoridor,


"yak!! Regis tunggu"teriak putra membahana


"Mulutmu!!"kaget jani menggeplak tengkuk putra pelan.


"Hehe, reflek"cengir kotak putra. Dan mereka berdua menyusul regis yang ngambek ke kelas,


mereka satu kelas omong-omong, sebenarnya regis lebih muda satu tahun dari mereka, berhubung regis itu pintarnya diatas rata-rata regis mengikuti kelas akselerasi biar cepet lulus terus cari uang katanya.