
Cuaca hari ini pun biasa saja, dengan guyuran hujan deras. Tanah sembab dan bercak air menggenang di sepanjang jalan. Regis berdecak kesal, dia pengen cepet pulang. Pengen tidur bersama buntelan uwu nya. Yaitu bantal dan boneka kesayangannya coky.
Selepas guyuran hujan itu berhenti, regis tergesa berlari menuju kediamannya. Ketika rumahnya sudah terlihat dia tersenyum lebar, mendekati pintu yang tak terkunci, dipijakan kedua dia berhenti. Dia pertajam pendengarannya_
Dia berdiri sambil tangannya berada di telinga, ia dengarkan dengan teliti, dan__
Gotcha,, suara anak kecil!!
"Siapa itu?"gumam regis. Dia melihat seorang anak kecil duduk anteng di sofa sambil memeluk kue kesukaannya.
Sepupu kah?
Atau
Adik tetangga?
"Bang, dia siapa?"regis bertanya pada revin yang kebetulan lewat di depannya.
Revin menoleh pada regis. Dia tersenyum hangat, lalu menggendong anak kecil itu. Revin mendekati regis, berhenti tepat didepannya.
"Dia Giris gamaputra"ucap revin mengenalkan anak kecil itu pada regis.
Anak kecil itu diam dan masih melihat regis dengan tatapan yang sulit diartikan
Regis mengangkat alisnya satu, dia bingung. Kenapa nama belakang ayahnya ada pada anak itu, pikir regis.
"Kenapa dia disini? Kenapa dia make nama ayah? Dimana abang mungut dia"tanya regis bertubi tubi
"Satu-satu dong"kekeh revin. Giris lagi-lagi menatap regis tak suka,
"Apa!!"ujar regis nggak nyelo. Dia tau anak kecil seumuran adik diki itu tidak menyukainya.
Giris hanya memalingkan kepalanya ke arah lain. Bibirnya mengerucut lucu sambil menumpu dagunya di bahu revin.
Regis jadi kesal sendiri melihatnya.
"Lucunya,, jangan kasar pada giris, dia masih kecil. Nanti malam abang jelasin semuanya di kamar gama, sekarang mandi, makan dan tidur"ujar revin. Regis mengangguk dan pergi sebelumnya memberikan jitakan kecil di dahi lebar milik giris kilat.
Hingga yang punya surai itu memekik tertahan karena tidak terima. Revin tertawa lepas melihat tingkah adiknya.
Sepeninggal regis, giris bertanya sambil menyender nyaman dibahu revin.
"Kakak tadi siapa? Kok akrab sama kakak?"tanya giris lucu
"Dia kakak keduamu, dia baik kok, meski kelakuannya nggak jauh beda sama anak SD"ucap revin memelan diakhir
giris sejak tadi tidak meresponnya. Revin kembali melanjutkan ucapannya sembari mengelus rambut giris.
"Nanti giris nggak kesepian kalo dirumah ini. Ada kak revin dan kak regis yang menemani giris"hibur revin ketika melihat raut giris yang berubah suram
"Tapi aku nggak suka kakak itu"cicit giris
"Kenapa?"
"Pokoknya nggak suka!! Kakak cuma punyaku. Bukan punya kakak itu"pekik giris menahan tangis. Karena tak tega melihatnya, revin menganggukan kepalanya guna meredam tangis itu
Dibelakang mereka, regis melihatnya.
"Cih, baru juga baikan sama reno sekarang masalah lain datang lagi. Masa gue iri sih sama anak kecil?!"gumamnya.
Malamnya dua bersaudara itu duduk berhadapan. Bersila sembari yang termuda memainkan ponsel pintarnya. Revin menatap lekat rautnya yang setiap saat berubah karena memainkan ponsel itu. Kadang cemberut, menggerutu tak jelas, kesal. Revin terkikik geli melihatnya.
Regis tersadar kalo kakaknya menatap dirinya lekat. Dia simpan ponsel dinakas dan mulai menatap balik revin.
Regis berdeham keras hingga revin pun tersadar dari acara mari menatap buntelan kelinci di depannya.
"Jadi siapa?"
Revin menyamankan duduknya sebelum menjelaskan semuanya dengan rinci.
"Itu adik kita. Adik bungsu dari ayah dan bunda__
Sebelum melanjutkan ceritanya, revin mendongak, menatap manik jernih revin Hanya untuk melihat rautnya. Benar saja, regis terkejut hingga netra bulat yang selama ini berbinar meredup kembali seperti beberapa minggu yang lalu. (Regis sakit & dibawa ke hospital).
"Abang tau, gama kecewa dan benci menjadi satu sama ayah dan bunda. Tapi, giris masih kecil dia tidak tau apapun tentang masalah kita. Jadi, tolong bersikaplah dewasa dihadapannya, oke."ujar revin.
Dia tidak ingin berbasa basi ataupun menyembunyikan fakta yang sebenarnya meski hanya secuil pun, revin tak mau.
"Abang juga masih kecewa dengan mereka, tapi setiap abang melihat giris, abang melihat gama ada dalam dirinya"sambungnya, revin berani menggenggam tangan mungil regis dengan lembut.
"dimana abang ketemu mereka?"tanya regis
"Di cafe"
"Kenapa harus giris yang abang bawa pulang?"timpal regis
"Karena abang nggak mau gama kecewa, ayah sekarang berbeda dengan yang dulu. Sedikitpun ayah nggak menyinggung gama"
Tentu saja itu hanya kata batin dari seorang kakak kepada adiknya.
"Kakak nggak mau menodai rumah ini dengan kedatangan mereka. Cukup adik kecil kita saja"jawab revin.
Dia beringsut pindah kesamping regis. Dia peluk erat adiknya dengan possesif, dia kecup berkali kali surai hitam legam regis yang selalu mengeluarkan aroma coklat, yang bisa membuatnya tenang dalam keadaan apapun.
Regis balas memeluk revin tak kalah erat. Dia benamkan wajahnya pada ceruk leher sang kakak. Menghirup lamat aroma mint sang kakak.
Regis mencoba menurut pada kakaknya, karena selama ini dia selalu merepotkan sang kakak. Dia tak ingin jauh-jauh lagi dengan kakaknya. Apapun akan regis lakuin meskipun harus mengorbankan hal yang besar jika itu menyangkut kakaknya.
Revin saja bisa mengorbankan masa mudanya untuk regis.
Kenapa dia tidak?
Regis akan mencoba melakukan hal yang sama untuk kakaknya.
Regis hanya ingin dan selalu ada disamping revin. Begitupun revin.
Tapi takdir Tuhan siapa yang tau?
Revin yang akan berkorban atau sebaliknya?!
Ataukah
Salah satu dari mereka berada diujung tanduk malaikat kematian?
Sekali lagi ditegaskan__
Takdir dari Tuhan siapa yang tau?!