R For Regis

R For Regis
hidup revin yang baru



"*PAH!! REVIN GAK MAU NINGGALIN GAMA!!"


"Ikut atau Papa coreng nama Regis dalam kartu keluarga!"ancam Yudha, matanya menyiratkan amarah yang kapan saja bisa meledak. "Atau Papa bisa melakukannya sekarang"ujarnya lagi sembari menenteng sebuah kertas dalam genggamannya,


"PAPA EGOIS!!"napas Revin memburu, kepalanya ia senderkan di tembok belakangnya,


"Kau harus tau ini demi kebaikanmu, jika kau sudah sukses nantinya kau bisa kembali ke sini lagi"bentak Yudha, uratnya mencuat sebab emosi telah melingkupi atmosfer di ruangan itu. Ketrin lebih dulu pergi keluar dari sana entah kemana, yang pasti wanita itu hanya ingin menenangkan diri di kamar putra kesayangannya.


Yudha menggebrak meja hingga vas bunga yang semula berada di tengah bergeser, lalu pria tua itu berlalu membawa segala emosinya yang hampir saja lepas kendali. Jika itu terjadi mungkin Revin tak bisa berdiri tegak di hadapannya, Yudha juga tidak mungkin memberikan pemandangan itu untuk si kecil Giris


"Kak"


Sebuah suara mengintrupsi Revin, dia menoleh dan tersenyum. Giris berjalan pelan ke arah Revin, memeluk kakinya erat. Tubuhnya gemetar, meski giris pikirannya sudah dewasa sebelum waktunya, tapi Giris juga punya rasa takut lagipula dia juga anak kecil seperti anak pada umumnya.


"Kenapa heum?"elusnya di surai sang adik, matanya memanas.


Revin rindu adiknya


Revin tidak ingin jauh dari adiknya,


Dirinya bingung mau ambil keputusan yang mana,


"Jika kakak pergi bersama kalian, lalu Gama disini sama siapa?"tanyanya pada angin lalu, jelas saja orang tuanya tidak lagi berada di hadapannya. Mereka entah pergi kemana, Revin sudah tak mau ambil pusing.


"Giris, apa yang harus kakak lakukan?"Giris kecil hanya menggumam tak jelas, Revin pening*.


......


"Gama kakak rindu___


"Gama kamu pasti udah dewasa banget kan ya? Apa kamu masih minum susu pisang? Apa kamu masih inget kakak?. Haha, pasti masih kan?"


Revin menatap hamparan tanah lapang di depannya tanpa gairah, hujan masih mengguyur dengan derasnya di kota yang ia diami bersama keluarganya. Meski tanpa sang adik tercinta, Regis.


Hari-hari Revin hambar tanpanya. Tidak ada teriakan melengking di pagi hari, tidak ada rengekan manja yang keluar dari bilah bibirnya setiap saat. Tidak ada. Segalanya berubah dalam sekejap, Revin rindu momen seperti itu, di sini dia tidak mendapatkannya. Revin terbiasa hidup berdua dengan Regis dari kecil, maka dari itu berpisah dari sang adik meski hanya sebentar akan membuatnya kehilangan separuh jiwanya. Karena Revin telah memberikan setengah dari hidupnya untuk Regis.


"Kak Revin di panggil Papa di ruang tamu"kepala Giris menyembul di balik pintu kamarnya, Revin mengangguk dan berjalan beriringan di sebelah Giris.


Omong-omong soal Giris. Anak itu menjelma jadi pemuda tampan seperti dirinya, jika di lihat dari tingginya dia mirip dengan Regis. Bahkan tatanan rambutnya pun mirip Regis waktu SMP.


"Kenapa Pa?"


Revin mengangguk dan pergi. Dia nggak betah jika berlama-lama di depan ayahnya, Revin merasa kesal dan kecewa


Di melirik sang bunda yang duduk diam di meja makan, ibunya memang lebih banyak diam. Tidak ada senyuman hangat yang tersemat di bibir wanita itu, yang ada senyum getir dan mata yang menyorot kesedihan. Revin tidak tega melihatnya, dia mendekat dan memeluk ibunda sembari membisikkan kalimat-kalimat penenang untuknya.


"Istirahat nak, turuti ucapan ayahmu. Jangan buat dia marah lagi, mama baik-baik aja kok"ucap Ketrin, padahal matanya berkaca-kaca. Tapi tangannya mendorong kecil tubuh bongsor Revin agar cepat pergi dari hadapannya. Ketrin tak sanggup jika harus menatap lekat-lekat wajah putranya itu. Dia mengingatkannya pada Regis yang selama ini ia tinggalkan dan sekarang kembali meninggalkannya


"Maaf ma___


"Giris lebih baik masuk kamar dan belajar. Nggak usah di gubris mama mu yang lagi nangisin anak manja itu ya!"


Giris mengangguk dan berlari menuju kamarnya.


Yudha menatap kepergian Giris sampai anak itu tertelan di balik pintu kamarnya, sekarang dia berjalan menuju sang istri dan memeluknya perlahan. Dia mengecupi kepala sang istri sayang


"Masih belum juga berhenti mikirin Regis?"ujar Yudha,


Ketrin mendongak dan menggeleng


"Percuma dong susah payah memboyong kalian agar jauh dari anak haram itu. Nyatanya kamu tetap mikirin dia"sinis Yudha, sekarang wajahnya menatap Ketrin jijik


Ketrin menunduk.


"Padahal dulu kamu yang kasar sama Regis dan apa ini, sekarang malah terbalik"Yudha kembali berkata dengan nada sinis dan sedikit meremehkan, Ketrin diam. Hatinya sakit.


"Meski begiu Regis tetep anak kita"lirih Ketrin. Dia mencengkram erat ujung kemeja Yudha, sarat akan kekesalannya.


"Anak kita? kamu bercanda heh!" sinis yudha


"tetep aja itu buah hatimu dengan si brengsek itu"sarkas Yudha. "Dulu memang aku masih menerimanya, tapi sekarang tidak. kamu liaht.. makin kesini regis lebih mirip sama Dia, bahkan wajahnya pun juga. Apalagi tahi lalatnya"tambahnya,


Yudha meninggalkan Ketrin dengan isakan yang terdengar jelas. Dan sekarang Revin tau kenapa ayahnya begitu membenci Regis, tapi apa adiknya yang salah di kasus mereka?


Revin tak habis pikir dengan pola pikir ayahnya yang cetek itu, jelas-jelas seorang anak tidak tau kesalahannya karena dia ada juga karena mereka.


Jika Regis tau, apa responnya?


Jika seandainya Regis memilih pergi dari kehidupannya lalu bagaimana dengan setengah jiwanya yang hilang. Revin tak mau jika adiknya itu pergi. Apalagi dengan membawa separuh jiwa yang ia patenkan untuknya