
"Sialan!! Lo kalo nggak bisa bagi waktu buat adik-adik Lo mending bilang aja *******!"
"Maksudmu apa sih, nggak usah nyolot pagi buta begini"
"********!"
Buak
"ji, aku ngerti kamu itu suka nggak bisa ngendaliin emosi. Aku ngerti kamu itu terobsesi sama adikku. Tapi jangan harap bisa ngomong seenak jidatmu seperti itu"
Revin mengusap lelehan darah yang ada di sudut bibirnya, sakit sekali sialan!
"Anjing!"umpat jiko melihat revin yang nyelonong pergi begitu saja. Meninggalkannya seorang diri di pekarangan rumahnya.
Memang benar jika afeksi yang di berikan oleh jiko malah terlihat seperti obsesi. Tapi bukan seperti itu sebenarnya, hanya saja jiko terlalu menyayangi regis seperti keluarganya sendiri. Karena hanya regis yang bisa menembus sisi yang tak bisa orang lain sentuh
Beberapa menit berdiri kaku di depan pintu, jiko di kejutkan oleh suara wanita paruh baya yang dia yakini adalah ibu dari regis. Sekilas jiko bisa melihat ketulusan dari matanya, berbeda sekali. Tidak seperti beberapa tahun lalu, wanita itu dulu terlihat kaku dan kasar
"Tante"sapa jiko sopan
"Masuklah nak, mungkin ada beberapa hal yang harus tante sampaikan"
Tidak ada alasan untuk jiko menolak jika itu berhubungan dengan regis. Dia mengekor di belakang tante ketrin, menduduki sofa single tepat di hadapannya. jiko tiba-tiba merasa gugup.
"Langsung saja, apa gama bersamamu nak?"
jiko mengangguk.
Wanita itu tersenyum lega
"Akhir-akhir ini gama berbeda bila di rumah. Sering melamun dan tidak ceria seperti biasa"
"Tante, maaf menyela. Tapi gama sakit, kemarin dia mendatangi saya dengan berurai air mata. Saya tak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi gama pernah bilang jika revin akan pindah ke Aussie bersama tante dan om, tanpa dirinya"ungkap jiko,
Menghela napas pelan dan melanjutkannya-- "gama tidak mau pisah dengan kakaknya, dia sakit karena terlalu stres. Apa kalian tidak memikirkan bagaimana nasib gama nantinya tanpa kalian?!"sarkas jiko,
"Tante paham, sebenarnya ini keputusan dari suami tante. Revin dan giris yang akan di bawa ke Aussie sedangkan gama di tinggal, maka dari itu tolong jaga gama selagi kami pergi"
jiko rasanya ingin mengumpat mendengarnya. Sama saja mereka membuat regis mati perlahan, anak itu tidak bisa jauh dari revin. Dan ini malah ayah kandungnya sendiri yang memisahkan mereka, setaunya Om yudha itu adalah pribadi yang hangat dan adil. Tapi kenapa malah berubah seperti ini, jiko tidak mampu berkata-kata lagi. Dengan tidak menunjukkan etika jiko beranjak berdiri,
"Baiklah. Jika itu yang Om dan tante mau, tapi jangan harap jika kalian kembali gama akan sama. Saya berjanji akan mengubahnya hingga Om dan tante menyesal"desis jiko,
"Apa gama baik-baik saja? Maaf, karena kami gama sering merasa sakit. Dan sampaikan maaf tante padanya karena tak bisa menjenguknya"ucapnya. jiko tau di dalam suara wanita di depannya terdapat kekhawatiran yang tulus sebagai seorang ibu. jiko sedikit merasa lega.
"Ya"
Hanya itu yang mampu jiko balas
Dia berbalik dan melengos pergi begitu saja. Lama-lama eneg juga mendekam di rumah itu,
Tak lama jiko pergi, muncullah pria paruh baya dengan menggendong seorang bocah kecil di tangannya, dia mendekati istrinya yang terisak di sofa setelah peninggalan jiko. Tangisannya memilukan.
Ketrin mendongak, menatap tepat di mata coklat tegas suaminya. "Kamu puas?!"isak tangisnya belum mereda malah semakin keras
Giris terulur untuk mengahapus air mata ibunda, hati kecilnya terenyuh melihat ibunda menangis seperti ini. Meski tak paham apa yang membuat ibunda terisak seperti ini,
"Mama jangan nangis, giris sedih melihat mama"gumam giris, beralih menatap sang bunda erat.
"Biarkan regis mandiri. 2 atau 4 tahun lagi kita akan mengambilnya dan tinggal satu atap dengannya, tapi sekarang ini biarkan regis merasakan betapa susahnya mencari nafkah"yudha menyela, tatapannya dingin seperti biasa.
"Tapi gama anakku, anak kesayanganku"gumam ketrin sendu
"Apa kau pikir dengan menyayanginya giris akan senang? Anak sekecil giris juga perlu perhatianmu, berhentilah memanjakan regis!"bentaknya
"Besok lusa kita berangkat. Katakan pada revin"lalu yudha pergi membawa giris dalam gendongannya,
'Aku semakin membencimu kak, karenamu mama selalu menangis. Karenamu mama tak pernah menyayangiku seperti mama menatapmu'-batinnya