R For Regis

R For Regis
penampilan regis



Lampu kerlap-kerlip membuat suasana kian meriah dan elegan. Apalagi music yang mengiringi menggema sampai sorak sorai kembali riuh dalam kerumunan itu, berbagai musisi underground bahkan yang ber label entertainment turut memeriahkan acara itu. Blitz camera tak berhenti mengeluarkan cahaya dan suara


Di situ jiko terduduk lemas di kursi penonton paling depan, dia datang bersama bunda dan kedua sahabatnya. jiko itu baru pulang dari studionya, dia belum mengisi perutnya. Belum juga berganti pakaian. Kondisinya tak jauh beda dengan satria dan jay, mereka juga baru pulang dari tempat kerjanya. Pakaian yang mereka kenakan masih resmi anak kantoran dan juga chef. Jika bukan karena bunda menelponnya dengan suara yang panik mungkin mereka sudah rapi dan segar. Jay terlalu khawatir makanya langsung ke tempat bunda begitupun satria, mereka pikir bunda butuh bantuan mendadak, ternyata hanya ingin melihat regis tampil. Padahal regis tampil pas di tengah-tengah acara, jiko dan kedua sahabatnya pasti sempat membenah diri.


Hingga pada giliran regis dan kedua temannya tampil, jiko menyematkan senyumnya. Adik kecilnya memang selalu tampil menawan, memesona dan suaranya merdu. Membuat dadanya berdesir.


"EGIS! BUNDA DI SINI"


"tau gini gue make penyumbat telinga"jiko bergumam kesal


Beberapa lantunan lirik lagu dari exwan(produssatukosongsatu) yang berjudul dream for u.  Membuat bunda dan satria berteriak heboh seperti fangirl dan fanboy.


Gimana enggak, regis di depan sana soft baget.


"anakku"gumam bunda


jiko menatap bundanya sekilas, tersenyum kecil kala melihat bunda sangat menyayangi sosok regis yang ia boyong ke rumah lima tahun lalu. jiko juga masih ingat gimana antusiasnya bunda ketika dia mengangkat regis jadi bagian keluarganya, sekarang regis udah dewasa. jiko juga udah cocok berkeluarga harusnya, tapi jiko nggak mau itu terjadi. jiko harus mastiin dulu regis itu bisa dia lepas. jiko mau regis tetep jadi bayinya dia.


"nanti kalo kamu mau nikah, cari calon yang mirip kaya egis biar bunda betah di rumah"


jiko cuma nanggepin dengan hembusan napas malas, bunda nya selalu saja meminta yang aneh-aneh.


jiki terlalu lama termenung dengan pikirannya hingga tak sadar kalo regis dan wankawannya udah ganti lagu sama kostum, mereka bertiga kembali menaiki panggung. Mereka tampil dengan lagu dari bities yang judulnya micdrop


Pas di puncak acara bunda tiba-tiba pamit pulang, alasannya udah terlalu larut. Bunda cuma titip flying kiss buat regis di panggung, untung di respon baik sama dia. Satria nawarin diri buat nganterin bunda, pemuda itu memanfaatkan kesempatan itu untuk pulang bersama bunda


Regis sama kedua kawannya lagi di belakang panggung, mereka mendirikan tenda khusus buat ruang ganti mereka. Jadi nggak bakal berdesakan sama musisi lainnya, afkar sama zaidan berselonjor ria di karpet yang mereka bawa. Regis sendiri duduk di kursi plastik sebelah mereka, mengabaikan kedatangan jiko dan jay.


"Bukannya cepet ganti sama pakaian santai malah selonjoran"cerca jay


"kek orang ga guna hidup kalian!"cibir jay. Dia kesel omong-omong, mana tubuhnya lengket semua. Belum juga nganterin tiga piyik di depannya ini


Bukannya menjawab cercaan jay mereka asik pada dunia per sosmed an mereka. Membalas setiap komentar dari penggemar mereka, regis memusatkan atensi nya pada jiko.


"Penampilan gue gimana? Lebih keren yang sekarang kan dari pada kemarin"


jiko menggeleng acuh.


"Gak. Biasa aja tuh"jawab jiko. Gengsi dia kalo beneran setuju sama omongan si regis, bisa besar kepala entar.


Regis mencebik, ngomong aja yang jujur segala pake gengsi. Dih... Regis menatap jijik pada afkar yang mengusap keringatnya dengan kaos basah zaidan,


"Cepetan ganti deh, dah malem banget ini. Gue besok ada meeting pagi"ujar jay


"Bocah piyik diem aja dah"ketus jay


Afkar udah biasa denger perdebatan zaidan sama jay jadi dia diem aja, keliatannya regis juga masih sibuk sama bang jiko. Afkar jadi leluasa mengirim pesan dengan seseorang di sana, dia berkali-kali mendecih tak suka kala membaca pesannya di ponsel


Lalu regis berdiri menuju ruang ganti yang cuma di tutupin kain panjang dan lebar, di susul afkar setelahnya. Zaidan yang ngeliat mereka pada ganti pun ikut nyusul, biarin aja mereka berdempetan di sana


"Heran, kok mereka sama-sama nyebelinnya sama putra"jiko mendengus. Harusnya intropeksi diri sih, jay aja kelakuannya nggak jauh beda sama para bocil itu, pantes aja mereka ngerespon baik jay bahkan nggak segan mengerjainya


jiko diem aja dah dari pada kena semprot juga


"Entar mampir dulu ke mini market kuy, odol sama sabun gue abis"jiko mengangguk, males dia tuh mau buka mulut lagi


"Nyabun lo bang"tau-tau afkar udah ada di belakangnya


Zaidan dan regis menyusul tak lama kemudian, mereka memosisikan duduk bersila di karpet


"Piyik diem"


Afkar bungkam. Dia menoleh pada zaidan yang cengar cengir, kok pengen nabok ya rasanya.


jiko berdiri, begitupun regis. Mereka berdua keluar dari tenda, tanpa sepatah katapun jay dan afkar mengikutinya. Tinggallah zaidan seorang diri di tenda itu yang otomatis dia sendiri yang harus membereskan tenda beserta perlengkapan mereka.


Zaidan ngedumel tanpa henti. Menyumpah serapahi mereka yang seenaknya. "Brengsek. ********. ****. Anjing. Apa lagi? Setan"gumamnya


........


Sedangkan di belahan benua sana, terdapat seorang pemuda tengah menatap sebuah pigura besar yang terletak di samping kasurnya. Pigura itu berukuran besar, sehingga siapapun yang masuk kamarnya akan langsung melihat foto itu. Di sebagian dinding juga banyak foto polaroid kecil di sana, semua serba adiknya. Revin seperti seorang maniak, seperti seseorang yang terobsesi pada seseorang. Padahal dia hanya sangat merindukan adiknya, makanya revin melampiaskan dengan foto-foto itu


"Maafin abang ya, abang belum bisa pulang. Abang nunggu waktu yang tepat"gumamnya sedih,


Revin sekarang lagi di apartemen pribadinya, dia sengaja nggak pulang ke rumah utama. Karena revin muak dengan segala kelakuan ayahnya, dan juga air mata ibunya. Segalanya terlalu menyesakkan


Jika bukan karena tanggung jawab, revin nggak sudi ikut ayahnya.


Tapi memendamnya seperti ini malah semakin menyiksa dirinya, rindunya udah kepalang dalam. Rindunya udah terlalu menumpuk, revin semakin sesak saja ketika melihat rupa giris. Adik bungsunya itu kenapa mirip dengan regis nya, tatanan rambutnya dan juga perawakan tubuhnya juga sama


Harusnya revin bisa melampiaskan rasa rindunya pada giris tapi revin tak sejahat itu, dia nggak mau kalo giris sakit hati karenanya. Revin tetap tidak pernah menemukan rasa hangat dalam diri giris ketika memeluknya, berbeda dengan regis yang selalu menghantarkan rasa nyaman baginya.


"Kan gue bener, kak revin masih aja mikirin adik manja nya. Ayah juga ngapain sih nyuruh gue kesini"kesalnya. Giris mengintip di celah pintu kamar yang terbuka, dengan perasaan marah giris keluar dari apartemen revin.


Tanpa revin sadari semua perlakukan yang dia berikan terhadap regis membuat hati yang lain seolah tersisihkan, revin membuat kedua saudaranya tanpa sadar mengibarkan bendera perang sepihak.