R For Regis

R For Regis
perubahan regis



"Gimana kuliah mu?"


"Biasa aja. Gak ada yang menarik"jawabnya, jari tangannya menyisir rambutnya yang agak memanjang menutupi mata.


Yang lebih tua mendengus, ini sudah lebih dari 5 tahun, tapi Regis tak juga berubah. Lebih dingin dan tak peduli seperti dirinya, jiko seneng sih. Tapi dalam benaknya jiko juga rindu sifat manja dari Regis meski hanya secuil,


Masih tersimpan ingatan, bagaimana Regis yang meraung memanggil Revin. Bagaimana tangisan itu berubah menjadi isakan memilukan. jiko juga masih ingat betapa melelahkannya dia membujuk Regis untuk tak terlalu memikirkan keluarga Revin,


Bukan. Bukannya jiko tak ikhlas, hanya saja dirinya tak kuat melihat lelehan air mata itu jatuh mengenai pipinya yang gembul itu. Satria dan juga Jay yang turut hadir menemani hari si adik kecil juga tak tega.


Terlalu banyak drama selama ini.


"Bang, besok dateng ke ruang dekan ya?"


"Lagi?"


Regis tak membalas. Tubuhnya menyender lelah di bahu tegap seseorang yang selama ini bersedia menampungnya,


"Give me the reason kid!!"


Kini gantian regis yang mendengus. Jika seperti ini mana mungkin dia menolak ucapannya.


"They're insulted you. They also insulted Mommy, I hate and I'm angry. So, dont mistake me if they have in the hospital"


jiko terkekeh gemas. Sedatar dan sedinginnya regis, anak itu ternyata peka juga terhadap sekitar. Mau senakal apapun regis asal alasannya masuk akal jiko bakal menerima, malahan mendukung penuh keputusannya. Karena sekarang jiko lebih mementingkan regis dari pada mengekangnya ini dan itu, bukan gayanya sekali.


"Nih"jiko menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke tangan regis. "Buat bayar uang semester"lanjutnya


"Gak usah bang, udah ke bayar kok. Hasil kerja di cafe nya bang jay sama hasil dari sambilan regis"


Ini yang jiko suka. Regis berubah menjadi sosok yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Tidak ada lagi attitude manja, tidak ada lagi regis yang merengek ini itu.


Terharu? Jelas. Siapa sih yang nggak bangga atas perubahan baik yang di buat oleh regis selama ini,


"Oke. Kalo butuh uang jangan sungkan minta ke abang, kamu udah jadi bagian keluarga abang. Bunda pasti bakalan marah kalo regis nolak pemberian beliau"ujar jiko. Regis mengangguk, paham betul perangai wanita tua itu, ahh jadi kangen kan.


"Bunda sehat kan bang?"


"Minggu depan deh"


"Di tunggu. Abang pergi keluar ya, mau nyerahin rekaman lagu untuk klien"


Regis mengiyakan. Cukup ngerti kesibukan abangnya itu, sebagai komposer lagu memang sesibuk itu. Selain terkenal juga dapet uang banyak, sayangnya regis nggak punya niatan untuk melakukan hal yang sama. Regis lebih memilih membantu menyumbangkan suara merdunya di rekaman itu, wahh berasa artis kan regisnya.


......


Regis nggak nyangka kalo dirinya bisa hidup tenang selama 5 tahun lebih belakangan ini, bahkan dirinya dulu nggak bisa jauh sama abangnya itu tapi nyatanya dia bisa bahkan lebih baik dari dirinya yang dulu. Regis beribu mengucapkan terimakasih untuk orang-orang yang selalu ada dan mensupportnya selama ini. Tanpa mereka mungkin dirinya tidak akan bisa seperti ini,


"Weh, bengong aja Lu!"


"Bisa nggak sehari aja gak usah mampir kesini"ucap regis tak suka. "Yee, tempat ini kan di buka untuk umum. Sewot aja lu!"jawab pemuda di depan regis.


"Mending kalo di sini lu mesen apa kek gitu, lah ini? Cuma numpang wi-fi. Dasar kere!"sinis regis. Matanya melotot garang, yang mana pemuda di depannya tidak takut sedikitpun. Malahan dia tertawa geli,


"Yaudah sih santai, orang yang punya cafe aja gak masalah"


"Gue yang nggak santai liat lu di sini!"


"Ngopi-ngopi aja sini. Lu yang bayarin tapi....


"Dasar tukang gratisan....


Regis pergi meninggalkan putra yang tertawa terbahak di meja pojokan, tempat yang biasa sahabatnya itu duduki. Bahkan tanpa ragu regis mengumpati sahabatnya yang ngutang minuman atau kue di cafe ini, namun regis tetap membawakannya meskipun bibirnya menggerutu kesal, regis bersyukur karena putra lah yang selalu ada di sampingnya. Omong-omong soal Jani, anak itu kuliah di luar negeri.


"Gue heran deh, lu kan udah ada bang jiko yang biayain lu tapi masih aja kerja beginian"kata putra sambil menghirup aroma kafein di hadapannya


"Emangnya gue apaan segala minta di bayarin? Selagi gue masih bisa and kuat buat cari kerja ngapain ngerepotin kakak gue, diem aja deh lu"


"Yaelah gue cuma nanya, sewot amat"


Regis cuek. Putra menatap kepergiannya sendu, ahh putra jadi kangen momen manjanya si regis. Tapi sekarang udah nggak bisa pasalnya regis berubah drastis,


Dalam hati putra berdoa semoga sahabat tidak semati nya itu always bahagia dan tidak terlalu cuek khususnya dengan dirinya. Sedih putra di gituin tuh.