
Regis kesal.
revin tau itu, adiknya sering merubah raut wajahnya sejak kedatangan kedua sepupunya, Tomi dan Reno.
"Udah deh, nggak usah manyun gitu. Cuma seminggu kok ntar gua jemput reno lagi"ujar tomi melihat raut regis yang tak enak dipandang.
"Lo gak suka gua disini"sinis reno
"Kalo iya?!! Lo mau apa?!!!"lawan regis tak kalah sinis
"Udah udah, gama lebih baik langsung tidur aja ya. Lagian besok sekolah kan? Biar reno nginep disini seminggu, apa gama nggak kasian sama kak tomi yang harus bolak balik buat nengok reno. Ijinin ya?"bujuk revin setenang mungkin
Regis memandang reno jengah, sedangkan yang ditatap memeletkan lidah kearahnya. Membuatnya ingin sekali mencakar wajah sepupunya itu.
Lagi lagi regis menunjukkan ketidak sukaannya pada reno dan tomi. Regis melengos menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun
"Gua titip adek gua ya vin. Kalo reno bandel hajar aja"tomi berucap santai tak mengindahkan tatapan tak suka dari adiknya
"Cepet pulang, buntelan gembulku ngambek tuh"canda revin
"Cepet keluar!! Lama banget sih"ucap reno menendang kaki tomi keras, membuat sang empu meringis kesakitan
"Sabar kenapa. Numpang juga kebanyakan gaya!! Lo buat ulah lagi gua aduin ke papa"ancam tomi lalu beranjak pergi setelah meneriaki regis.
Pagi ini bagi regis terasa sangat menyebalkan karena dirumahnya tak hanya ada kakaknya tapi juga sepupunya, reno.
Dimeja makan regis melihat reno bermanja ria dengan kakaknya, membuat hatinya terasa panas. Tangannya mengepal dan nafasnya tak beraturan. ia langkahkan kakinya menuju dua sejoli yang masih bercanda ria tak menyadari kedatangannya yang sudah duduk dihadapan mereka
Bahkan revin tak menyadarinya, biasanya juga tingkat kepekaannya selalu tinggi jika menyangkut regis.
Ini yang ditakutkan regis jika berhadapan dengan reno, anak itu bisa merebut segala kebahagiaannya. Sedari kecil memang seperti itu makanya regis sangat tak menyukai sikapnya.
"Bang, susu gama"pinta regis
"Manja"gumam reno
"Masalah buat lo!! Abang gua aja nggak masalah kok lo yang repot"balas regis
"Gama.. ini susunya"lerai revin dengan cara mengalihkan fokus adiknya pada segelas susu hangat.
Terbukti regis langsung menenggak susunya melupakan sedikit pertikaian kecil pagi ini. Membuat reno berdecih pelan karena usahanya gagal membuat kelinci buntal dihadapannya kesal.
"Bang berangkat,, dan lo awas saja sampai masuk kamar gua"ucap regis
Yang mana membuat seringai tipis tercipta dibibir reno
"Gua malah semakin penasaran"batin reno sinis
"Kenapa? Nggak enak banget dipandang wajahnya"bisik putra
Mereka putra, jani, regis, dan yugi berada dikantin sekolah, karena kelas mereka kosong.
"Nih makan bakso, aku traktir"jani menyodorkan semangkok bakso dihadapan regis yang mana langsung diembat habis.
"Regis kenapa?"tanya yugi hati hati
Regis hanya diam memandang yugi datar tanpa senyum kelinci andalannya
"Kurang baksonya?"putra menimpali
"Regis bisa cerita sama kita"bujuk jani yang diam memerhatikan
Helaan nafas terdengar dari regis. Mereka tau regis sedang menahan kesal serta gusar, terbukti dari raut wajahnya yang berubah ubah.
"Sepupuku menginap dirumah selama seminggu"ucap regis pelan
"Apa yang salah"balas putra heran
"Aku nggak suka sama sepupuku yang satu ini, dia selalu merebut apa yang harusnya jadi milikku. Tadi pagi saja dia selalu merebut perhatian bang revin. Sedari kecil selalu seperti itu"jelas regis menggebu
"Kamu cemburu"timpal jani
"Buang aja rasa gengsimu itu"tambah yugi
"Hanya seminggu kan? Lebih baik kamu nggak usah ngeladenin kalau sepupumu itu membuatmu kesal atau apalah. Tahan aja seminggu"putra memberikan solusi dengan muka yang tak meyakinkan
"Aku nggak yakin bisa"gumam regis
"Muka lo kok gitu sih put, harus yakin muka lo itu"celetuk yugi pada putra yang tengah mengerucutkan bibirnya sebal
"Yaudah sih, emang dasarnya muka gua kaya gini"jawab putra
Kemudian regis beranjak dari kantin menuju kelasnya. Mengabaikan teriakan teman temannya, bahkan jani dan yang lain sudah mewanti wanti supaya tak terlalu memikirkan masalah perihal sepupunya.
Sekali lagi mereka tak mengerti apa yang sedang dirasakan regis.
Regis hanya khawatir.
Regis belum siap jika perhatian kakaknya terbagi meski dengan sepupunya sendiri. Lebay memang, tapi mau gimana lagi.
Walaupun hanya satu minggu, regis tak mungkin rela membaginya, sampai kapanpun.
_____________
Baru sehari menginap saja sudah membuatnya gerah hati dan gerah body. Didepannya kakak tersayang merangkul pundak reno sembari tertawa entah apa yang lucu.
Lagi lagi regis harus menahan sikap kakaknya yang terlalu friendly dan hyper akut. Bukannya regis tak suka dengan sifat kakaknya hanya saja itu dengan reno, sepupunya itu licik. Hanya didepannya reno tak menyukainya jika dengan semua orang reno biasa saja.
"Aku pulang"lirih regis lesu
"udah pulang?"sahut revin lembut
"Menurut abang?"tanya balik regis ketus
"Kak ayo ajarin reno rumus ini"ucap reno
Revin langsung memutar badannya membelakangi regis, tidak melihat raut kecewa adiknya. Bahkan revin tak menyuruhnya makan atau mandi seperti biasanya.
Regis masih memaklumi ini semua, mungkin memang reno itu tamu makanya diutamakan.
Lalu tanpa pamit regis berjalan melewati kakak dan sepupunya,
Ceklek
"Loh, kok gelap? Tadi kan lampunya nggak kumatiin"regis mencari cari saklar lampu dan menghidupkannya.
Tau apa yang terjadi?
Kamarnya berantakan, seprai dan bantal entah ada dimana.
Meja belajarnya bahkan berserakan.
Lemari pakaiannya terbuka
Laci? Regis mengingat terdapat kertas ujian yang bahkan belum sempat ia tunjukan pada revin
regis mengobrak abrik isi lacinya, ia panik tak mendapatkan kertas itu. Yang dia pegang sekarang hanyalah kertas kecil kecil yang baru saja disobek paksa. Kertas ujiannya, hasil kerja kerasnya selama ini. Hangus sudah..
"RENO!!!"
Regis berteriak kencang hingga revin dan reno berjingkat kaget, yeonjun tetangganya bahkan sampai keluar rumah karena teriakan regis.
Setelahnya revin berlari panik menuju kamar adiknya, reno sih biasa saja.
"Gama, kenapa? Loh, kamarmu?"tanya revin melihat seberapa berantakannya kamar regis
"Apa yang lo lakuin dikamar gua, kan udah gua peringatin jangan masuk kamar gua"emosi regis sudah tak bisa ia kontrol, suaranya bahkan meninggi.
"Kenapa lo nyalahin gua?"balas reno
"Siapa lagi kalo bukan lo, bang revin?"tanya regis nggak nyelo
"Mungkin lo lupa beresin kamar lo, jangan seenaknya lempar kesalahan sendiri pada orang deh"sengit reno
"Udah udah, beresin sekarang aja abang bantuin"lagi lagi revin tak membelanya
"Manja banget sih"umpat reno melengos pergi dari kamar regis
"Abang keluar, biar gama beresin sendiri"ketusnya
"Bener?"tanya revin
"Keluar bang"
Regis tak bermaksud ketus pada kakaknya. Namun, dia masih kesal karena kertas ujiannya robek tak berbentuk lagi.
Regis memandangi kertasnya sendu,
Merematnya kuat hingga kukunya memutih,