R For Regis

R For Regis
jatuh sakit



Kepercayaan itu sangat dibutuhkan dalam persaudaraan bukan?


Sakit....


Lelah.....


Pusing......


Semuanya menjadi satu,,


Regis jatuh sakit tanpa sepengetahuan revin.. ini bahkan pertama kalinya ia sakit tanpa seorang pun yang merawatnya.


Regis ingin mengeluh


Regis ingin mengadu


Tapi,, regis telah berjanji tidak akan merepotkan kakaknya lagi


Tidak akan bergantung pada kakaknya lagi


Dari pagi regis tak bersemangat, bahkan mendengar traktiran dari putra pun regis tak perduli dia lebih asik menelungkupkan kepalanya dimeja sekolah.


Kepalanya pusing, regis memandang sekelilingnya seakan berputar putar seperti gasing. Regis merasa tubuhnya terasa dingin padahal cuaca sedang panas terik


Hal itu membuat jani dan teman sekelasnya sangat khawatir karena regis tak bergerak sedikitpun pada posisi awalnya. Untuk pertama kalinya keadaannya terasa lebih dingin dan sangatlah asing,


Semuanya berbeda.


Perhatian dan kasih sayangnya teralihkan.


Regis sakit,! mereka tau itu


Jay dan satria bahkan dibuat hampir mati kutu ditempat ia berdiri dicafe, regis datang dengan keadaan pucat dan senyum kelinci yang dipaksakan, lalu setelahnya tubuh yang sedikit lebih kurus dari terakhir mereka bertemu sebulan yang lalu ambruk begitu saja.


Jay sangat panik melihat regis pingsan didepannya, bahkan satria tak hentinya mondar mandir menunggu buntelan kelincinya sadar.


Buntelan?


Bahkan tubuhnya sedikit kurus..


Ketika jiko datang dicafe milik jay setelah ditelpon oleh satria, pemuda berkulit pucat itu tak hentinya mengabsen hewan dikebun binatang, bagaimana tidak? Regis dengan seenak jidatnya tidak membiarkan mereka bertiga menghubungi kakaknya.


Alasannya, tidak ingin menambah beban sang kakak, bodoh memang!!!!


Jay dan satria tak mengindahkan tatapan tajam dari jiko, karena menurut mereka si es berjalan ini telah keterlaluan karena tega menyuruh revin untuk menjauhi regis, bahkan mereka tau regis dan revin tak dapat dipisahkan.


"Sinting lo bang!! Asli ini"ujar satria


"Bangsul kalian pada,, gua cuma ngusulin pendapat"bela jiko malas


"Cara lo keterlaluan ji"timpal jay


"Salah? Kalian tau gua orangnya emang gak suka basa basi"ucap jiko menggeram


"kita tau itu,, tapi cara lo ngungkapin ke revin itu salah. Apalagi sampe sikelinci denger!! Dan gua yakin mereka berdua lagi diem dieman apalagi sepupu mereka si reno itu nginep nyampe sebulan gini"ujar jay


Darimana mereka tau tentang reno. Sepupu regis dan revin? Karena memang sedari awal jay, satria dan jiko telah mengetahui seluk beluk kehidupan kakak beradik itu apalagi satria yang notabene nya sahabat seperpopokan revin.


Jangan heran jika mereka bertiga selalu ikut campur urusan revin, apalagi si gendut regis.


"Masih 17 hari kali bang"intrupsi satria dan jay hanya mengendikkan bahu acuh


"Diem sat"umpat jiko kesal


Lalu hening dalam ruangan dan regis yang masih setia memejamkan mata karena demam tingginya ditambah maag nya kambuh


Bohong kalau revin tak khawatir sama sekali terhadap regis, apalagi wajah adiknya 3 hari terakhir ini sangat pucat dan tak bertenaga. Ingin bertanya tapi ingat janji nya pada reno untuk tidak terlalu memanjakan regis selama ia berada dirumahnya teringat.


Revin mempunyai janji kecil pada reno karena kalah bermain game, ingin melanggar tapi revin bukan tipe yang seperti itu apalagi hatinya terasa sesak dan selalu memikirkan regis setiap saat,


Apa terjadi sesuatu pada regis?-batinnya


Revin telah mencoba menelpon jay dan satria, barangkali regis bersama mereka namun satu panggilan pun tidak mereka jawab. Revin geram, entah kenapa melihat regis sangat dekat dengan jiko dibanding dirinya membuat hatinya mencelos tak suka.


Hingga panggilan yang ketujuh satria akhirnya mengangkatnya,


"Halo, lama sekali?!"


"Maaf, gak sempet. kenapa?"tanya satria


"Dimana?"


"Regis disana?"


"Iya biasa, regis lagi dijadiin guling sama bang jiko"


"Oh, yaudah"


Lalu sambungan terputus sepihak oleh revin. Moodnya mendadak jadi berubah mendengar regis bersama agus.


Kernyitan heran tercipta jelas dikening satria.


"Disini khawatir malah yang disana lagi manja manjaan sama orang lain, tau gitu ngikut reno tidur dikamar tadi"gerutu revin


Kau bahkan tak tau. Adikmu tengah sakit dan mereka mencoba menengkan regis yang selalu mengigau dengan cara memeluknya dan mengusap kepalanya.


"Siapa sat?"tanya jay, sembari terus mengusap dahi regis yang berkeringat dan jiko yang melingkarkan tangannya diperut rata adik sahabatnya


"Satria!!"koreksinya


"Sama aja sih"acuh jay


"Revin cuma nanya regis dimana sama siapa. Gua jawab regis dijadiin guling sama bang jiko terus sambungan putus"celoteh satria


"Biarin aja. Kalian keluar aja deh, ganggu tau nggak!!"gumam jiko


"Kebo banget sih bang, kasian sigendut lo peluk gitu"ujar satria


"Ngapa? Ngiri!!"sewot jiko, satria hanya memandang jiko kesal.


"Apa nggak masalah kita nyembunyiin kalo regis sakit ke revin"timpal satria lagi


"Bener juga, mau kaya gimana pun revin tetep harus tau"tambah jay


"Terserah sih kalo kalian mau mati ditempat"ancam jiko sadis


"Kalo ada apa apa, tanggung jawab bersama"final jay lalu mereka keluar dari ruangan meninggalkan dua sejoli yang masih berpelukan seperti teletubis


Bukannya jiko tega atau tidak menganggap revin sebagai kakak regis, namun mengingat ucapan dan tatapan regis yang memelas dengan mata yang berkaca kaca siap menumpahkan tangisnya, jiko jadi tidak tega memberitau revin.


Masalah itu bisa dipikir belakangan, pikirnya.


Yang terpenting adalah cara menjinakkan buntelan kelinci yang tengah sakit memanggil sang kakak setiap saat.


jiko jengah


jiko kesal


Namun masih waras untuk tidak memukul pemuda bergigi kelinci yang sialnya telah sudah ia anggap adiknya sendiri.


"Kenapa gengsi banget sih, tinggal ngomong aja pengen dipeluk biasanya juga gua peluk"dumel jiko


"Sakit, tapi kenapa tingkahnya masih sama sih. Gengsinya ampun dah"gumam satria


"Tetep manggil revin, dipeluk kagak mau si gendut itu?"tanya jay yang berdiri ikut mengintip dicelah pintu yang terbuka dan diangguki oleh satria


Merek berdua bisa melihat usaha jiko untuk menenangkan dan memeluk paksa regis supaya bisa diam dan melanjutkan tidurnya.


Diam diam mereka berdua tersenyum samar.


Sudah terhitung 7 hari namun tubuh regis masih belum stabil. Jay dan satria dibuat panik memikirkan regis yang dilarikan ke rumahsakit oleh jiko, bahkan pemuda berkulit pucat itu terus menyumpah serapahi regis yang tengah terlelap akibat pengaruh obat bius,


"Bocah sialan. Awas saja kalau nyampe ntar malem kaga bangun!!"umpat jiko, pandangannya mengabur karena titik titik air menumpuk diujung ekor matanya


Beberapa menit lalu dokter mendiagnosis regis harus dioperasi karena usus buntu, entah apa yang dimakan regis. Dan sialnya dokter harus membiusnya supaya rasa sakit diperutnya tak menyiksanya.


jiko bingung.


Apa harus menghubungi revin untuk meminta ijin dan menyuruhnya menandatangani surat operasi itu, dia ragu akan janjinya pada regis.


Persetan dengan janji


Yang terpenting adalah regis, kemudian jiko mendial nomor revin secepatnya


Nomor yang anda tuju sedang tidak--


"Brengsek"umpatnya, hingga belasan panggilan namun hanya suara operator yang menjawab


jiko mengumpat dan menendang kursi tunggu keras, untungnya rumahsakit sedikit lenggang hingga tidak banyak yang melihat aura kelamnya.