R For Regis

R For Regis
kebaikan hati



Hari menjelang petang, namun seorang pemuda bertubuh sedikit kurus dan rambut agak memanjang masih betah duduk di kursi terminal bus dengan pakaian yang terlihat kotor karena habis menyelesaikan kerja sampingannya sebagai kuli angkat karung beras, bisa kalian bayangkan bukan betapa melelahkannya pekerjaan itu?


Sosok itu Revin Gamaputra, pekerja keras dan pantang menyerah. Sosok yang bertanggung jawab dan berpikir sebelum bertindak, sosok yang memiliki senyum seperti matahari, ceria dan penyayang.


Sayang, takdir terkadang mempermainkannya?


“kau terlihat lelah, vin?”tanya seorang pemuda seumurannya, yang bernama satria dengan motor maticnya. “mau pulang bareng?”tawarnya sembari memberikan helm kepada Revin yang bengong menatap satria.


“ah tidak, terimakasih tawarannya. Saya menunggu bus saja.”tolaknya halus disertai senyuman lebarnya


“tidak usah formal begitu, aku-kamu atau lo-gue juga nggak masalah. kau emang dari kita kecil selalu bicara formal meski dengan anak yang lebih muda sekalipun, santai kawan”ucap satria sambil terkekeh pelan memperlihatkan lesung pipi disebelah kiri, terkesan manis dan menawan.


“haha, maaf maaf. Ini sudah jadi kebiasaan lebih nyaman seperti ini, terdengar sopan dan berwibawa”tawa revin meledak mendengar ucapannya sendiri,


memang sedari kecil revin dan satria telah menjadi teman bahkan seperti saudara kandung sendiri, SD-SMA mereka satu sekolah meski tidak satu kelas. Tetapi, rumah mereka searah meski tidak sebelahan. ibu revin adalah sahabat karib dari ayah satria, jadi mereka memang sejak kecil selalu bersama.


Setelah menunggu bebera menit kedepan selepas perginya satria, bus yang ditunggu-tunggu oleh revin akhirnya tiba, langsung saja revin memasuki bus itu, menoleh kanan dan kirinya berharap ada kursi yang kosong karena demi apapun itu berdiri selama satu jam tanpa melakukan kegiatan apapun melelahkan, dan sepertinya dewi fortuna sedang memihaknya terlihat kursi kosong dekat jendela bus tidak ada yang mendudukinya, revin segera duduk nyaman sambil menyenderkan kepalanya pada jendela yang tertutup tak lupa menyumpal kedua telinganya dengan earphone miliknya. Namun, kenyamananya tak berlangsung lama karena revin melihat ada seorang ibu hamil sedang berdiri didekat pintu, sambil berdesakan karena tak dapat duduk nyaman dikursi. Revin menghampirinya dan menepuk pundak si ibu hamil tersebut.


“bu, ibu bisa duduk ditempat saya”tawarnya kepada ibu hamil tersebut yang masih mode terkejutnya


“eh, tidak apa kau duduk saja nak, ibu bisa berdiri sampai dihalte selanjutnya”tolak ibu hamil tersebut menggeleng terlalu antusias


“ibu sedang hamil tak baik jika berdiri terlalu lama, apalagi ini dibus, kan kita tidak tau kedepannya seperti apa”ucap revin disertai senyuman lebarnya yang mirip seperti kuda. Tampaknya ibu hamil itu sedang berpikir akan ucapan revin, ingin menerima tapi tak enak, ingin menolak tapi ada benarnya pemuda dihadapannya sekarang.


“baiklah jika adik memaksa, tapi kau benar-benar tak masalah jika berdiri selama satu jam”tanya ibu hamil itu khawatir


“tidak apa bu, stamina anak muda lebih kuat dan lebih banyak dari orangtua, apalagi jika orangtua itu tengah mengandung”cengirnya lagi, kemudian menggiring ibu itu ketempat ia semula duduk


“baik sekali, semoga tuhan memberkatimu nak”gumam ibu hamil itu menatap revin lembut, sedangkan revin masih mengobrol dengan kakek tua yang ikut berdiri karena tidak kebagian kursi, meskipun terlihat tua tapi jiwanya jiwa anak muda