R For Regis

R For Regis
keluarga baru regis



"Woho, Gis!! Tumben nongol di basecamp?"pekiknya, tangannya melebar ingin mendapat pelukan namun naas malah mengenai kepala temannya di samping


"Nggak ada akhlak emang!!"dengusnya, menggeser duduknya agak jauh. Regis lalu duduk di tengah-tengah mereka.


"Afkar, gimana buat besok?"


"Beres"Regis mengangguk, "yang belum tuh zaidan. Dia bingung mau pake lagu apa buat perform kita"lanjutnya,


Yang di panggil zaidan menoleh, dia menyengir lebar. Memang dia lagi bingung milih lagu, karena semuanya bagus.


"Abisnya gue bingung mau milih lagunya streykid apa exwan"dia menyodorkan laptopnya, regis melihat kerja kerasnya zaidan dan mengotak atik apa yang perlu dia perbaiki


"Exwan aja sih menurut gue, soalnya dari kita-kita kan emang milih tema nya yang slow nggak rap"kata afkar. "Apa perlu kita nambah anggota, biar ber empat. Putra mungkin"ujarnya lagi


Regis menggeleng, "nggak perlu. Bertiga aja cukup, putra udah pusing buat ngatur waktu jangan bebanin dia untuk hal ini"regis menatap satu persatu temannya


Regis emang selama ini mejadi penyanyi atau dancer underground di jalanan atau tempat-tempat yang memungkinkan butuh penampilan mereka. Regis sebenarnya di ajak oleh afkar karena dia pernah mendengar suara Regis, lalu zaidan join tak lama kemudian. Nama mereka cukup melambung, dan sekarang mereka asik menyiapkan lagu apa yang cocok mereka persembahkan di acara tahunan itu. Bukan hanya mereka saja, namun banyak penyanyi dan dancer di pemuka kota itu


"Perlu kostum nggak?"zaidan mengusulkan, "biar kakak gue yang ngatur"


"Gue ngikut regis aelah"


"Boleh. Nggak ngerepotin kan? Gue nggak mau ya kalo kakak lo terpaksa gitu"regis menggurau


"Santai elah, kaya sama siapa aja sih. Kakak gue juga pasti seneng soalnya kan regis yang mau tampil"canda zaidan


"Heran deh gue, kakak lo kok terbuka banget sama regis sedangkan sama gue ketus banget"afkar mengeluh


Pasalnya setiap berkunjung di rumah zaidan, yang di sambut baik hanya regis. Sedangkan afkar hanya di galakin, pilih kasih sih.


Zaidan tertawa sampai matanya menyipit. "Kakak gue emang begitu, sama gue aja berasa adek tiri"


"Gue jadi nggak enak kan, afkar sih"regis menyengir lebar.


"Lu aja seneng kan? Komuk lu gis!"


"Udah beres kan? Gue cabut duluan ya, mau ke rumah bunda"regis berdiri dan melakukan high five ala mereka.


"Salam buat bunda"celetuk zaidan, afkar mengacungi jempol.


Regis berhenti di halte, mendudukan diri sembari menunggu bus arah rumah yang saat ini dia tinggali bersama dua orang yang sangat dia sayangi. Menyender di tiang, menghembuskan napas kasar ketika ingatan 5 tahun lalu kembali berputar. Dimana dia di tinggal tanpa seorang pun di sampingnya, semua pakaian keluarganya tidak ada. Koper dan segalanya tidak ada di rumah lamanya. Dia di tinggal sendiri tanpa penjelasan, atau pun ucapan sepatah katapun.


"Mungkin mereka udah bahagia tanpaku"regis memejamkan mata seiring rintik-rintik hujan turun membasahi daratan. Dia melipat tangan di dada. "Aku udah berubah, nggak bakal kaya dulu lagi tapi kenapa abang nggak jemput gama"gumamnya


"Apa mereka lupa ada aku di sini. Aku kan keluarga mereka juga, kenapa mereka berubah cepat"


Regis menggeleng, menghalau segala pikiran buruk yang tiba-tiba ada di nalurinya. Mencoba menguatkan hatinya jika suatu hari nanti tidak ada yang berjalan mulus, atau bahkan tidak sesuai ekspetasinya


"Gama baru pulang apa gimana? Kok masih di halte sekitar sini"


"Bang sat ngapain di sini?"


"Ini bocah nggak bisa di bilangin apa gimana sih, satria ******. Sat sat sat"satria menjawab dengan kesal,


"Lah apa bedanya sih? Bang sat belum jawab loh pertanyaan gue"satria menghela napas kasar. Bocah satu depannya ini batu banget; untung sayang


"Gama nggak pulang sama afkar?"


"Jangan panggil gama lagi. Regis aja"


Satria menatap sendu. Adik kecilnya ini banyak berubah, segala hal yang berhubungan dengan dia di masa lalu entah bagaimana caranya dia akan melupakannya. Hingga nama kecilnya pun dia tak mau lagi mendengarnya.


"Mau nebeng nggak?"satria mengalihkan pembicaraan, supaya tidak berubah canggung


"Boleh. Anterin ke rumah bunda"


Satria paham siapa yang regis bilang bunda, karena hanya satu wanita yang mampu menyayangi regis seperti anaknya sendiri, siapa lagi kalau bukan bundanya jiko. Sedangkan, ibu satria ada di luar negeri mengurus bisnisnya di sana. Sedangkan sepupunya regis sama-sama anak rantau jadi susah untuk meluangkan waktu


Regis menaiki motor satria. Dia menyender di bahu satria nyaman, barulah satria tancap gas ke tujuan yang regis ucap