R For Regis

R For Regis
ucapan ayah



"Akhirnya selesai juga! Tinggal nunggu si gendut siap menyanyikannya"jiko menggeliat di sofa nya.


Mendial nomor si gendut dan menyuruhnya main ke studionya. Rencananya dia akan memberikan lagu ini padanya. Untuk dia nyanyikan di acara sekolah nanti. Pasti merdu sekali.


"Yak! Apa bang jiko tak bisa menungguku sebentar lagi?!"


"Cepatlah bodoh! Tidak sampai di sini 5 menit lagi, bye untuk jatah jajan lo"


"Licik!!___


Tut tut tut


Sambungan di putus oleh jiko. Dia terkikik penuh seringai, berhasil membuat kelinci manisnya merajuk.


........


"Persiapannya sudah selesai?"


"Kita tak bisa memisahkan mereka. Regis akan sedih jika kau melakukannya, dia masih butuh bimbingan. Regis masih membutuhkan orang dewasa di sampingnya"


"Tapi di sini ada kakak ku, kita titipkan saja Regis padanya. Dan masalah selesai"ujarnya enteng. Bahkan tak memikirkan efek samping jika dia benar benar melakukannya


"Aku benar benar kecewa padamu"yudha memandang kepergian istrinya datar.


Lagipula ini untuk kebaikan revin kedepannya. Ini untuk masa depan revin,


Omong omong soal regis, keputusannya sudah bulat akan menitipkan pada saudaranya. Atau orang tua dari satria juga tak masalah, baginya regis itu tidak terlalu berpengaruh untuk kehidupan keluarganya. Revin, dia orang pekerja keras dan juga bisa di andalkan. Membawanya pergi akan sangat menguntungkan.


Tidak tau saja, di balik pintu kamar mereka. Regis ada, dia tidak sengaja menguping obrolan ayah dan ibunya. Hatinya tercubit akan fakta yang terkuak, lagi-lagi pihak yang akan di singkirkan adalah dirinya. Di jauhkan paksa dari revin,


Regis menggeleng. Bulir air mata menumpuk di ujung sudut, sekali kedip pasti akan meluruh. Cepat-cepat regis menghapusnya dan berlari menjauh, niat hati ingin meminta ijin pupus sudah.


Regis berjalan pelan di sepanjang jalan, lupa akan tujuan yang sebenarnya. Dia melamun, memikirkan nasibnya nanti tanpa seorang kakak.


"Siapa yang akan jadi senderanku nantinya"bibir regis tertekuk dalam, dia menggigit bibirnya supaya isakan tak keluar


Kakinya melangkah ke studio jiko. Tujuan utamanya adalah kakak keduanya, kakak yang sangat di sayanginya selain revin.


Bunyi bel pintu studio menggema. Regis memencet tanpa niat, kepalanya menunduk. Rasanya berat menopang tubuh, tanpa sadar tubuhnya limbung ke samping, terbentur di lantai dingin nan keras itu.


Derap langkah terdengar, jiko membuka pintu dan melongok ke depan namun tidak ada siapapun. Lalu pandangannya meluruh ke bawah, dia terkejut bayi kelincinya tak sadarkan diri dengan posisi yang tak elit,


"REGIS!"


Lagi lagi kejadian seperti ini terulang. Adik kecilnya, kembali terbaring. Padahal kan niat jiko mengundangnya kemari untuk bernyanyi bersama kenapa malah tumbang begini.


Eunggghh


Lenguhan kecil dari regis membuat jiko segera mendekat ke arahnya, dan membantu regis untuk duduk bersandar menggunakan bantal.


"Kok bisa kayak gini? sakit?"


Regis menggeleng. Sumpah, rasanya pengen nangis inget obrolan ayahnya.


"Loh kok nangis?"jiko panik, tiba tiba saja regis nangis. Padahal dirinya tidak memukul atau melakukan hal yang aneh-aneh kok ke regis.


"Ayah mau bawa abang pergi. Katanya gama mau di titipin ke bang tomi, gama nggak mau. Gama mau sama abang"


Sakit ngeliat regis terisak di depannya, jiko ngerti dia dekap tubuh regis ke pelukan hangatnya. Mengelus naik-turun lembut. Menenangkan regis dengan segala bentuk hati yang baru saja pecah tak terangkai.


Setiap kalimat yang di ucap regis, jiko paham. Untuk saat ini biarkan semuanya seperti ini, jika menurutnya kondisi tidak memungkinkan untuknya berdiam diri. Maka jiko bertekad merawat regis, meminta ijin kepada yudha supaya di ridhoi apa yang akan di lakukannya.


"Ssstt.. sekarang gama diem. Biar abang yang ngomong sama ayah ya"selorohnya, bahkan jiko tidak yakin akan ucapannya. Namun, menenangkan kelincinya adalah yang utama.


Beberapa menit di dekapan jiko, regis tertidur pulas. jiko baringkan tubuh itu ke kasurnya dan mengelus sayang surai lembut regis. Hidung memerah dan mata yang sembab karena terlalu lama menangis-- jiko terenyuh melihat adiknya seperti ini.


"Mau keadaan apapun abang bakalan di samping gama terus. Blue promise"


Janji yang jiko ucap akan dia tanamkan dalam relung hatinya. Karena regis sudah seperti bagian keluarganya sendiri. Bertahun- tahun mengenal regis membuatnya memiliki rasa cinta lebih dari sekedar sahabat. Dan itu adalah regis, adik tercintanya.


Orang kedua yang akan dia beri kasih dan cinta di kehidupan ini setelah bunda. Orang kedua yang akan di carinya nanti.