R For Regis

R For Regis
sesak menyayat hati



CEKLEK


..


(chapter sebelumnya)


....


Revin terduduk lemas dihadapan seorang pemuda yang sangat dia kenal terbaring dengan lemah, netra bulat nan jernih itu menutup rapat.


"T...ttidak mungkinh hik's hik's i....ni tip..uan kal,,lian bbukan"


"Jangan lagi, kumohhon"


"GAMA!"


Revin berteriak kesetanan. Memanggil-manggil adiknya. Bukan jawaban yang revin dapat, tapi hanya alat EKG yang menjawabnya.


"Vin, liat akibat kelalai an lo,"sinis jay melihat revin merosot dilantai


"Ini salahku, aku bukan kakak yang bisa ngejaga regis, ini salahku"


"Dengar. Ini bukan salah siapapun, ini takdir. Lo nggak bisa berlarut larut dalam penyesalan, regis butuh lo. Butuh kakaknya"ucap satria dengan penuh penekanan


"Ini salahku, gama maafin abang"isak revin bersimpuh disamping ranjang regis


jiko melihat semuanya. Sampai kapanpun dia sadar dia hanyalah sebatas sahabat bagi kedua saudara itu.


jiko meneteskan airmatanya tanpa dia sadari, jiko sayang sama regis, jiko pengen regis bersamanya. Tapi, dia nggak bisa egois.


Regis dan Revin memang tak bisa dipisahkan, jiko sadar itu.


"Maafin gua"selanya


"Tidak ada yang salah disini. Aku yang salah, jadi kalian tak perlu meminta maaf. Maaf, atas sikapku akhir akhir ini"ujar revin bersalah


Lalu mereka saling meminta maaf dan melupakan konflik diantara persahabatan mereka. Dan fokus pada keadaan regis.


"Bisa jelaskan kenapa semua ini terjadi"ucap revin


"Ikut aku"jawab satria


Jay dan jiko memilih menemani regis selagi menunggu satria menjelaskan semuanya pada revin lalu mereka akan pulang.


"Gama,, operasinya berhasil tapi kenapa gama belum bangun. Katanya kangen abang, abang udah disini"isak tangis revin tidak mau berhenti sejak 1 jam lalu


"Gama, maafin abang yang jahat sama gama. Abang sayang adek"lirihnya menciumi punggung tangan regis yang terbebas dari infus


*Flashback on#


"Lo tau? Sebisa mungkin gua nahan bang jiko buat nggak mukul lo"


Satria menghela nafas


"Regis sakit. Kami kira regis hanya demam biasa, dan maag nya kambuh. Ternyata bukan, lambungnya bermasalah lagi, dan usus buntu. Kami membawanya ke rumahsakit ini"jedanya___


"Dan selama 4 hari regis rawat inap. Gua liat lo diresepsionis, gua nyangkal kalo itu bukan lo. Dan gua nyesel karena gua nggak langsung nyapa dan dihari itu juga dokter bilang regis harus dioperasi"


"Selama ini regis selalu nanyain lo. Bilang kangen, bilang pengen ketemu tapi dia takut ngebuat lo marah. Gua tau sepupu lo itu tamu, tapi jangan pernah lo diemin regis"


"Dia tambah kurus, binar dimatanya semakin hari semakin redup. Kita nggak tega ngeliatnya"


Revin terisak mendengar fakta adiknya, selama dia diamkan.


"Aku pikir gama bakalan berubah, aku berpikir untuk membiarkannya mandiri untuk sementara waktu"isak revin terlihat tubuhnya yang gemetar


"Dengan cara membiarkannya memakan seafood?"sarkas satria


"Ashhh, lupain yang udah berlalu, kita pikirin yang terjadi sekarang. Ini juga salah kami yang udah rahasiain semuanya"geram satria


"Aku nggak nyangka semuanya bakalan begini, aku bener bener bukan kakak yang becus"lirih revin


"Jangan terlalu dipikir. Ayo balik, besok gua kesini lagi. Jagain regis"ujar satria berlalu dari hadapan revin yang masih menunduk


Flashback off*#


Bulir aimata jatuh untuk sekian kalinya dalam sehari. Bahkan jika boleh berhyper bola airmata itu bisa ditampung dengan ember besar, saking derasnya air yang mengalir dipipi tirus revin


Dia merutuki kebodohannya sebagai seorang kakak. Dia lebih mengutamakan seseorang yang bahkan bukan adik sedarahnya.


Pintu ruangan serba putih itu terbuka, satria dan jiko memasuki ruangan dengan raut yang lelah dan sedih. Jay tak bergabung dengan mereka karena harus mengurus cafe nya yang terbengkalai.


"Regis, abang dateng. Ayo bangun, nanti abang kasih makanan gratis lagi"sendunya menatap netra bulat yang selalu membuatnya tenang dan nyaman karena tingkahnya


Revin menatap jiko iri.


Secara tak langsung dia merasa kalah dengan sahabatnya. Ia gelengkan kepalanya pelan.


"Ini salah. Masa iya aku iri sama sahabatku sendiri"batin revin, itupun tak luput dari tatapan satria


"Sakit?"tanya satria


"Gak"jawabnya


Satria mengangguk paham. Dan ia memilih duduk disofa yang disediain diruangan itu. Setelah beberapa menit kedepan jiko pamit pulang karena harus mengurus studio musik dan menggarap lagu yang belum ia selesaikan.


"Gua pulang. Kalo misal gendut udah sadar, telpon gua"pamitnya lalu melenggang pergi bahkan dia belum mendengar jawaban dari revin dan satria


"Kita bahkan belum jawab sepatah kata pun"gerutu satria sebal.


Revin hanya menghela nafas pelan. Sangat tau perangai sahabat dinginnya itu.


Hari telah berganti, seseorang yang ditunggu belum juga membuka matanya.


Bahkan ini sudah melewati hari setelah operasinya, dan itu berhasil. Tinggal menunggu ia sadar.


"Belum juga bangun?"tanya jay basa basi


"Punya mata fungsinya buat apa?"ketus jiko yang duduk selonjor disofa.


jay hanya mendecih.


"Bang geser ngapa"sebal satria, menendang nendang kaki jiko pelan, satria kesal karena satu sofa panjang dikuasainya sendiri


jiko masa bodo.


"Gama, maafin abang. Abang kangen gama, gama buka matanya"lirih revin mengusap ekor matanya yang lagi lagi mengeluarkan liquid bening


Sahabatnya melihat revin seperti itu iba.


Revin menggenggam tangan kurus regis dan mengecupnya berkali kali. Meminta maaf hingga puluhan kali. Isakan kecil mulai terdengar, dan itu menyayat hati yang mendengarnya,


"A...ban..g c.e...ng.eng"


Revin tergugu ditempat duduknya mendengar ucapan lirih dari regis. Meskipun lirih tapi revin mendengarnya, hati siapa yang tak bahagia melihat dan mendengar orang terkasihnya sadar dari tidurnya, meskipun hanya pingsan pasti kita sangat mengkhawatirkannya.


Satria dan jiko bahkan langsung mendekati ranjang pesakitan regis dan jay yang keluar memanggil dokter


"Gunanya tombol merah itu buat apa?"heran satria


"gitu tuh kalo otak ada di dengkul!!"gumam jiko