
Revin heran dengan sikap regis, gimana nggak heran coba? Baru aja kemarin adiknya manja manjaan dengannya, tidur bersama saling berpelukan malah. Dan sekarang tuh buntelan kelinci balik ke sikap awalnya, cuek bebek.
"Padahal kemarin kamu manis banget lo"revin bicara memecahkan keheningan disiang hari, mereka berkumpul diruang tamu ditemani setoples biskuit,
"Kemarin gama khilaf bang"elak regis
"Masa?! Terus ngapa kok gama nangis kejer dipelukan abang"pancing revin,
Yang mana membuat rona merah menjalar di pipi gembul regis sampai ketelinga.
"I... itu kan reflek!!... udahlah gama mau ke cafe bang jay" regis melesat keluar rumah sebelum ditertawakan oleh abangnya.
Sedangkan revin udah ketawa sampai guling guling dikarpet beludrunya,, tak lama kemudian revin bangkit mengambil ponselnya lalu mengetik beberapa kalimat, lalu melemparnya disembarang arah.
Melamun.....
Lalu
Tertawa...... Lagi.......
Regis mengingat kejadian dia menangis seperti anak kecil kemarin membuatnya malu bertatap muka dengan abangnya, demi kolornya jani regis mau masuk kejurang saja kalau masih ingat hal kemarin.
"Huaaa, bang revin gak peka!!! Harusnya kejar gama dong, atau bujuk gitu kek biar nggak keluar rumah. Panas!!"
Regis mengeluh, menyeret paksa kakinya menuju cafe.
"Panas panas gini, minta es dingin lah ke bang jay biar bang revin yang bayar. Hihihi"kekehnya..
Usai ketawa revin mencoba menghubungi seseorang yang diyakini adalah kerabat jauhnya.
"Kok nggak diangkat? Kemana sih kayak orang sibuk aja"gerutunya melemparkan ponsel disamping ia duduk,
Drrt drrt
"Halo, gimana? Jadi?"
"Jadi, gua 2 hari lagi kesana. Tapi, nggak papa kan?"
"Kalo gua sih boleh aja, tapi keputusan ada di adek gua"
"Yaelah, itukan rumah lo bukan regis. Masa apa -apa harus ke regis"
Revin mengernyitkan dahinya mendengar lontaran kata sepupunya terdengar tidak suka, tapi emang regis nggak terlalu akrab sih sama keluarga besar orangtuanya.
Orangtua ya??!!
"Bukannya gitu tom, kamu kan tau sudah dari kecil aku sama regis tinggal berdua. Paman dan bibi juga jarang nengok kami, jadi kami harus mendiskusiin ini. Kalo regis nggak mau ya gua minta maaf ya"
"Jangan gitu dong vin, usahain lah. Cuman seminggu kok"
Pip
Revin mengusap wajahnya gusar, beberapa kepingan memori tentang harmonisnya keluarga yang masih utuh menari dikepalanya. Bagaimana wajah ibunya yang cantik dan lembut, wajah tegas nan tegap ayahnya dan tawa adiknya memenuhi isi kepalanya.
Revin harus kuat. Revin harus terlihat baik baik saja, nyatanya tidak. Revin lelah tapi dia harus merawat dan menjaga satu satunya orang yang berharga dihidupnya, entah sudah berapa kali ingatan tentang orangtuanya muncul tiba tiba.
Dan sekarang beban pikirannya bertambah karena sepupunya menitipkan adiknya padanya, revin sih tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah regis, anak itu pasti menolak mentah mentah, apalagi ini reno anak dari adik ayahnya dan kakaknya tomi. Regis tidak terlalu dekat dengan mereka sejak kecil.
Tapi mau gimana lagi, keluarga mereka cukup membantu jika revin dan regis mempunyai masalah yang pelik.
"Abang!! Sepatu gama kemana sih?! Kemarin gama taruh disini lo"regis menunjuk rak sepatu yang isinya berantakan karena dirinya sendiri,
Regis mendumel dan menghentakkan kakinya kesal
Revin hanya menghela nafas jengah, menatap adiknya yang sedari tadi mengobrak abrik kamarnya dan ruang tamu hanya demi sepasang sepatu.. ekor matanya tak sengaja melihat sepatu yang teronggok rapi dibawah meja. "Pasti lupa lagi"batin revin
"Dibawah meja! cepat pakai, bekalnya sudah abang taruh ditas"ujar revin merapikan kembali kekacauan yang dibuat regis pagi pagi
Lalu regis berlari menuju meja yang ditunjuk abangnya dengan penuh semangat tak lupa dua giginya yang mengintip.
Revin menatapnya gemas ingin sekali memeluknya seharian.
"Gama berangkat, oiya nanti gama pulang telat mau main kerumah jani bareng putra dan yang lain"regis melesat sebelum mendengar jawaban revin
"Kebiasaan, belum juga jawab"gerutu revin
"Udah ijin sama bang revin?"tanya jani sembari memasukan bukunya dalam tas
"Ntar bang revin nyariin kamu sampe nangis gimana?"ujar putra ngasal
"Mau ngehina apa gimana?!"jawab regis menekkukan wajahnya
"Cuma nanya gendut!!!"sambar putra cepat, kalo regis ngambek kan berabe dompet mereka.
"Ohh"
"Jadi gimana jadi nggak nih? Bambam sama yang lain udah nunggu diparkiran"celetuk yugi yang sedari tadi mendengarkan celotehan 3 sahabatnya ini
"Ayo!! Tenang aja aku udah pamit tadi pagi sama bang revin"ujar regis melihat raut wajah teman temannya. Dan diangguki oleh jani, putra dan yugi.
Hari menjelang malam dan regis baru saja pulang dari rumah jani sahabatnya. Badannya terasa lengket dan bau akibat terlalu lama bermain kejar kejaran dihalaman rumah jani bareng yugi dan bambam. Dan sekarang kakinya begitu pegal
Ketika kediamannya sudah kelihatan regis dibuat kaget akan keadaan rumahnya yang ramai dan suara tv menyala keras, seingatnya kakaknya itu tak terlalu suka menonton tv jika bukan dirinya yang merengek untuk menemaninya.
Akhir akhir ini juga regis bertekad mengubah sifatnya menjadi sedikit terbuka dan manja pada kakaknya, yah meski sifat gengsinya masih melekat tapi___
Patut dicoba bukan??!