R For Regis

R For Regis
pengen berubah...



Lelah dan letih, itu yang revin rasakan sekarang ini. Keringat sebesar biji jagung mengucur ditubuhnya, terik matahari tak membuatnya gentar akan pekerjaan yang sedang ia lakoni. Bahkan berulangkali rekan kerjanya menawarkan untuk istirahat tapi ia menolaknya dengan halus dan sedikit menyunggingkan senyuman.


Bahkan semalaman ia tak dapat tidur dengan pulas selepas kepergian sahabatnya jiko. Karena kalimat yang ia ucapkan sebelum melenggang pergi dari rumahnya terus terngiang dikepalanya.


"Sekali kali lo itu harus tegas sama regis!! Biar regis itu sedikit punya rasa takut sama lo! Bukannya lo yang takut sama si gendut itu!!"ujar jiko


"Aku nggak bisa bang!"lesu revin menunduk takut


"*Cemen!"desis jiko malas.


"Lalu aku harus gimana? Abang taukan regis itu sumber kehidupanku"ucap revin*.


"*Lo jaga jarak mungkin, ya pokonya lo itu harus ngebuat regis ngerasa jauh dari lo gitu!! Cetek banget sih otak lo"umpat jiko keluar dari kediaman revin, membiarkan si pemilik rumah bengong menatapnya.


'Kasih solusi kek'-batin revin nelangsa*


"Apa aku harus coba memberi sedikit jarak dengan gama supaya ia mau menuruti semua ucapanku. Ya, itung itung menjahilinya"batin revin menghentikan aktifitasnya sejenak lalu membayangkan bagaimana reaksi adiknya. terkejutkah?


Lalu lamunan revin buyar ketika pundaknya digoyang (?) Keras oleh pemuda berdimple dan minuman soda erada ditangannya yang ia lemparkan pada revin.


"Makasih sat"ucap revin


"Sat? ******* maksudmu?"tanya pemuda tadi


"Satria *****, nama sendiri lupa"jengah revin


"Ya sorry, habisnya lo ngomongnya rada gimana gitu"balas satria dengan senyuman kikuknya,


"Omong omong, sekarang udah ada kemajuan ya!! kagak formal lagi"tambah satria membuat revin salah tingkah dan hening beberapa saat,


Krik


Krik


"Mikirin regis kamu!!"tebak satria dan itu tepat sasaran jelas terlihat dari raut revin. Bila revin lesu, nggak semangat, banyak ngelamun, hanya satu yang bisa membuat revin seperti itu yaitu Regis gamaputra adiknya.


Sahabat dan teman regis sering menjahilinya ataupun membuatnya kesal, revin tak pernah tuh marah dan banyak ngelamun gini. Palingan juga dibalas senyum kuda andalannya.


"Katanya bang jiko aku itu harus membuat keputusan dan tindakan tentang regis"ucap revin menatap satria dalam,


"lalu"sahut satria,


"aku bingung, apa harus nyampe pura pura ngejauh gitu ya biar regis itu ngerasa bersalah sama prilakunya selama ini, padahal kan aku biasa aja, aku malah suka sifat bar barnya"curhat revin


"regis juga perlu mandiri vin, biar dia itu nggak bergantung terus sama kamu. Coba dulu aja!"tambah satria total lupa apa tujuannya menemui sahabatnya ini, lalu melenggang pergi setelah menepuk bahu revin pelan tanda memberi semangat


Tapi aku nggak yakin ya-batin revin


"Sialan!! Lupa ngomong tentang tawaran bunda ke revin! Arrgggh, mati saja kau satria bodoh!"pekik satria ditengah jalan menuju rumahnya lumayan jauh dari tempat kerja revin.


"Abang ihh"kesal regis memutar badannya kesana kemari dikasur empuk abangnya yang baru mereka beli,


"Lama banget sih!! Pengen tidur"lirihnya mendusel dibantal sang kakak. Tidur ya tinggal merem mbul,


Krieet


"Gama? Abang lama ya. maaf, tadi abang mampir dulu belanja bulanan, sekalian beli snack buat gama!"revin menjelaskan sambil mengelus rambut legam regis, yang mana membuat regis merasa ngantuk karena elusan hangat dari kakaknya.


"Sini peluk, gama tau abang capek! Kata orang buat ngilangin capek itu kita harus pelukan"lirih regis semakin menenggelamkan wajahnya dibantal


"Kenapa ditutup wajahnya? Sini tatap abang"kekeh revin mencolek tangan regis,


Revin tau adiknya tengah malu atau gengsi yang dipertahanin revin juga tak tau.


"Gama ada masalah disekolah?"tanya revin dan regis menggeleng lemah,


"lalu kenapa bayi abang ini sikapnya kok manis gini dari kemarin"ujar revin tersenyum senang


"Gama pengen jadi adik yang baik"tutur regis pelan namun dapat didengar baik oleh revin


"Gama kemarin malam nggak sengaja denger percakapan abang sama bang agus, jadi gama pikir gama bukan adik yang baik"jedanya, revin meremang seketika. Namun, masih mendengarkan kelanjutan regis bicara.


"Suka seenaknya, membentak abang, kekanakan, sikap bar bar, egois dan masih banyak lagi sifat gama yang nggak baik, gama mau memperbaikinya"lirih regis menjatuhkan bulir air mata yang seumur hidup nggak pengen revin lihat.


Semakin lama semakin keras isakan kecil regis dikesunyian malam kamar revin. Ia dekap erat tubuh mungil sang adik memberikan kenyamanan dan ketenangan baginya, ia usap punggungnya perlahan namun pasti ia ikut menjatuhkan beberapa bulir airmata, hanya airmata yang menetes dipipi kurus revin tidak disertai isakan pedih seperti adiknya.


Belum apa apa saja sudah begini, apa jadinya kalau dia benar benar menjauhinya meski hanya kepura puraan, revin benar benar tak sanggup melihat adiknya sebegini rapuh.


"Hei, gama itu adik abang yang paling berharga. Sifat atau sikap gama itu khas diri gama, jangan bebankan omongan orang ya! Abang suka gama yang apa adanya"lirih revin menyatukan dahi mereka dan mengecup sayang mata bengkak regis


"Jangan nangis, itu menyakiti abang"bisik revin ditelinga regis,


Lalu mereka terlelap dengan saling berpelukan setelah melepaskan keluh kesah yang mereka pendam. Dan revin bertekad tak akan menjalankan misi yang pernah dia bicarakan dengan sahabatnya tempo lalu.


Biarlah...