
"Gama.... boleh mama bantu?"tawar seorang wanita
Regis menggeleng. Dia berusaha membawa semua barangnya sendiri. Meskipun kesusahan karena berat badannya yang naik, ketrin hanya menatap lesu kearah putra kesayangannya. Sejauh ini dia berusaha mendekati regis tapi belum membuahkan hasil.
Dia tersenyum kecut. Andai dia dan suaminya tak pergi selama bertahun-tahun dan tidak meninggalkan kedua putra nya, mungkin keadaannya tak seperti ini.
Regis menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Mendudukan diri ditepi ranjang, dia mengamati fotonya dengan seseorang yang selama ini selalu bersamanya.
"Apa nanti abang sayangnya cuma sama giris ya?"ucapnya. "Bodo amatlah, kan ada bang jiko yang sayang sama aku"ujarnya lagi.
Dia mati-matian menahan buliran air bening jatuh di pipi. Gengsi atau se barbar nya regis, dia hanyalah seorang remaja yang masih haus akan kasih sayang. Apalagi dia tak pernah rasanya didekap oleh seorang ayah sejak saat itu. Hanya revin yang sentiasa mendekapnya.
"Apa aku boleh egois?,, tapi kan udah janji harus bersikap dewasa"lirihnya
Tring
Tring
Jani bantet
"Heh!! Ayo ke cafe bang sekop, ada traktiran nih!!"
"Ikutttt, otw"
Putralien
"Skuy!!! Awas loh, jatahmu nanti aku sikat!!"
"Wait me, jatahku kau makan!! habis lo!!!😬"
regis tersenyum melihat dua pesan yang temannya kirimkan. Setiap dia sedih pasti ada aja penangkalnya. Kalo tidak dua curut ini ya, para sahabat kakaknya.
Regis segera bersiap, dia mengambil kaos hitam dan celana hitam tak lupa tas warna senada. Dia membuka knop kamar dan berjalan tergesa menuju pintu utama,
Tring
Satu pesan kembali masuk, dan itu dari jiko. Regis tersenyum dan melanjutkan jalannya. Dia tidak menggubris keberadaan ayahnya. Karena beliau sendiri tak mau melihat kearahnya, maka regis akan menurut. Dia berusaha menjadi anak baik.
Regis berbalik dan berteriak lantang. Karena masih ada satu orang yang menyayanginya, regis tak mungkin melupakan itu.
"Bang, gama pergi sama jani cs"pekiknya.
"Ck, anak itu..!"gerutu revin yang masih berkutat dengan mainan adik kecilnya, giris.
"Mau kemana dia?"tanya ayah
"nggak tau"jawab revin acuh
"Yo! Regis, udah lama kita nggak kumpul begini ya?"ujar jani. Dia memeluk regis gemas. Begitupun putra
Mereka menghabiskan waktu bersama sambil makan tentunya. Lagipula pemilik cafe ini sepupunya jani. Mereka bebas mau sampai kapan pulangnya. Menginap pun tidak masalah.
"Kabar revin gimana dek?"tanya sekop. Dia juga salah satu teman dekat kakaknya
Regis mendongak.
"Abang baik. Mama sama papa juga udah pulang dari 3 hari lalu, makanya abang selalu di rumah"jelas regis. Membuat jay berhenti makan. Dia kaget, kenapa revin tidak cerita-pikirnya.
"Kan udah di bilang 3 hari lalu bang, hishh. Makanya dengerin dong"regis kesal karena jay tidak mendengarkannya
"Ohh. Kok kamu malah main sih. Nggak kangen-kangenan sama ayah mu?"tanya jani
Regis berhenti melahap kue di depannya. Pancaran matanya menyendu,
Regis menggeleng. Dia tidak mungkin cerita.
"Pasti ada yang kamu sembunyiin ya?"tebak jay. Dia jadi kepikiran jiko kalo gini. Apa di telpon saja ya? Kan asik tuh entar bocah di depannya ini akan di marahin terus mau buka mulut deh.
"Enggak bang. Apaan sih"elaknya. Tapi jay tetap yakin ada masalah pada regis.
Jay beranjak. Dia harus pergi ngurus cafe nya sendiri. Dia pamitan dengan sekop dan terakhir regis. Dia mencubiti pipi regis lalu benar-benar pergi dari hadapan mereka.
Regis menghela nafas. Dia harus bisa ngendalikin raut wajah, biar nggak ada yang bisa nebak.
Regis pulang sore.
Dia sudah menghubungi kakaknya. Dia beralasan mau mampir dulu ke rumah satria, katanya ada yang mau di beri padanya.
Sampai di kediaman satria. Dia memencet bel 4 kali barulah satria nongol. Satria langsung memberikan bingkisan pada regis untuk di berikan ayah dan ibunya. Mama satria dengar katanya mereka pulang.
"Makasih ya kak. entar regis bilangin sama mama"ucap regis
"Oke. Nggak mampir dulu? Di dalem ada kue kering"tawar satria membuka lebar pintunya.
"Enggak ah. Tadi udah di traktir sama bang jay kok. Makasih ya. Regis pulang"pamitnya
Satria mengangguk.
Regis berjalan sembari menenteng bingkisan dari rumah satria. Dia menghirup lamat udara sore hari,
"Aku pulang!"
Sepi.
Dimana semua orang?-batin regis
Dia celingak celinguk. Tapi tidak ada entitas siapa pun.
"Nyari siapa kamu?"datar ayahnya. Regis terkejut. Tapi dia bersikap biasa saja. Seakan tidak pernah terjadi
"Abang sama giris dimana yah?"
"Pergi. Oh iya, kamu udah gede kan? Jadi, jangan bergantung pada revin terus. Sekarang ada giris, dia lebih membutuhkan revin. Mengerti!"
Regis mengerti. Dia juga paham, pasti ayahnya perlahan ingin memisahkannya dari kakaknya.
"Tapi kenapa?"ucap regis
"Kamu tidak paham juga! Revin itu mau ayah jadikan pewaris utama ayah. Dia berhak, jadi kalau kamu masih mau tetap tinggal dengan revin turuti semua keinginan ayah"
Regis menimang. Tapi demi kakaknya dia rela. Regis tidak mau jauh dari revin. Dia juga tidak mau menjadi anak yang manja.
"Baik ayah. Tapi jangan pisahkan regis dari abang ya?"regis di tinggalkan sendiri. Bahkan regis belum memastikan jawaban yang benar dari ayahnya.