R For Regis

R For Regis
perubahan ayah



Dia sadar orang yang telah menjadi panutannya selama ini tak mungkin seperti dulu lagi.


Dia mati-matian menahan gejolak untuk tak menumpahkan liquid bening yang sudah menumpuk dipelupuk matanya itu. Jemari mungilnya mengusap kasar lelehan bening itu bukannya berhenti malah semakin menjadi.


Dia berjalan mundur. Memberikan ruang untuk mereka menghabiskan waktu. Dia cukup memantau dari jauh, tersenyum miris akan perubahan dari orang yang selama ini dirindukannya.


Bohong kalau regis tak rindu. Sebenci apapun pada orang tuanya, setiap anak pasti tak akan sanggup menahan rasa rindu itu jika sudah berhadapan langsung pada objeknya.


Regis berdiri dibelakang pintu kamarnya, mengintip dari celah pintu. Melihat canda dan tawa di ruang tamu. Dia tak berani mendekat lantaran ayahnya tak menyukainya, dari caranya menatap dan berbicara dengannya saja sudah Berbeda.


"Ayah berubah"lirihnya menatap mereka sendu


Setelah mendapatkan penjelasan dari revin tentang adik bungsu sekaligus orang tuanya yang telah kembali. Regis memutuskan memberi ijin untuk merawat giris untuk sementara, karena bagaimanapun juga giris adalah adik kecil nya, mereka mempunyai aliran darah yang sama.


Regis sudah tak sanggup lagi melihatnya. Dia juga merindukan mereka tapi kata kakaknya harus bersabar karena ayah butuh waktu. bukankah seharusnya regis yang butuh waktu?


regis nggak ngerti lagi.


Tetapi, seharusnya mereka cukup memberikan pelukan sebagai pembuka, karena mereka sudah lama berpisah selama beberapa tahun belakangan. Kenapa revin tak mengerti juga?


"Apa salah gama? Gama nakal ya?"tanya pada dirinya sendiri.


"Bang jiko, gama harus gimana?"lirihnya menyembunyikan kepalanya pada lipatan tangan dan lutut yang ditekuk


Sudah dibilang bukan jika revin tak disampingnya maka regis pasti akan mencari jiko. Bagi regis jiko adalah kakak kedua baginya, kakak yang sangat bisa diandalkan meski dihatinya sudah sepenuhnya ada revin, tapi regis juga sangat menyayangi jiko layaknya kakak kandung.


"Lo kenapa? Kusut kayak kain pel emak gua"


"Gak usah bacot ya! Gua kangen regis"


"Tinggal telpon atau langsung kerumahnya"


"Lo liat diluar lagi hujan kan? Ya kali gua terobos gitu aja"


"Bener juga, yaudah kita nginep di cafe bang jay aja. Besok langsung kerumah regis"usul satria


"Gua juga kagak bisa, gua besok ke studio"jiko mengucapkan sembari menyodorkan sebuah naskah lagu untuk ditunjukan pada jay. Jay menerimanya dengan suka cita, karena lagu yang dibuat agus adalah favoritnya.


"Padahal dia yang rindu tapi dia juga yang nggak bisa dateng. Dasar upil dugong"gumam satria menatap datar jiko yang asik memainkan bolpoin, seraya mengamati hasil jerihnya membuat sebuah lirik lagu.


Rencananya dia mau membuatkan sebuah lagu dan menghadiahkan pada regis. Dia sudah berjanji.


"Aku mau bicara sama ayah"datarnya duduk berhadapan dengan yang dia sebut ayah tadi


"Mau bicara apa?"


"Ayah kenapa keliatan tak suka pada gama? Dulu ayah tak begini."tukas revin to the point


"Ayah dengar dia berulah dan selalu membuat onar, selalu merepotkanmu. Ayah tidak suka dengan sikap seperti itu. Dan soal perubahan ayah, ayah pikir itu bukan urusanmu!"


"Lalu, kenapa ayah dan bunda pulang? Kenapa harus membuat gama sedih?"


"Ayah dan bunda mengaku salah meninggalkan kalian selama bertahun tahun lamanya. Ayah juga tak menyukai sikap regis yang manja"


"Itu urusanku!!. Kenapa ayah ikut campur dengan mengatakan hal yang membuat gama sedih dan menangis semalaman?!!"sentak revin. Nafasnya terengah


"Dia sudah besar. Dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri dengan baik. Pikirkan adikmu yang lain, giris juga butuh figur seorang kakak"sengit ayahnya balik.


"Tapi gama juga butuh aku! Yang merawatnya sampai sebesar ini aku. Kalian tak berhak mengatur! Aku juga yang membuatnya manja seperti ini, ini rumah kami, sudah menjadi hak kami sejak dulu. Jika ayah tak suka dengan gama maka jangan salahkan aku__


kalian harus angkat kaki dari sini!"desis revin.


Revin sudah lupa akan etika terhadap yang lebih tua, dia mendesis jengkel karena ayahnya tak pernah berkata lembut dengan regis. Dia kecewa untuk sekian kalinya terhadap ayahnya, dia yang mengajarkan supaya tak membenci sesama anggota keluarga dia juga yang mengingkari ucapan keramatnya dulu.


Sejak tadi regis menguping di balik tembok dengan kain dan air hangat ditangannya. Regis sedikit demam, dia ingin meminta bantuan kakak atau bundanya. namun, karena tak ingin mengganggu adik kecilnya bermanja ria dengan bunda, dia melakukan semuanya sendiri. apalagi mengintrupsi obrolan ayahnya dengan sang kakak.


Dia beranjak pergi menuju kamar.


Sedangkan ayah memijit hidungnya, menghadapi putra kebanggaannya mengusir secara terang-terangan dirinya yang notabene nya adalah orangtua kandungnya sendiri. Membuatnya pusing tak karuan.