
"ABANG!!"sentak adik laki-lakinya yang masih sekolah senior high school, ketika revin hendak memasuki rumahnya. Siapa yang tidak kaget coba, dikejutkan seperti itu?
"kenapa? Abang baru saja pulang kerja, biarkan abang membersihkan diri, kotor"ucap revin berusaha menyembunyikan wajah terkejutnya pada sang adik. Terlihat wajah muram tercetak jelas diwajah regis
Adik yang dimaksud oleh revin adalah Regis Gamaputra, adik satu-satunya dan paling disayang olehnya, revin akan melakukan apapun demi adiknya meskipun nyawa taruhannya, regis remaja berwajah mirip dengan abangnya revin, tetapi sifatnya kebalikan dari revin. Regis terlihat arogan, jutek dan memiliki gengsi tinggi. Tidak sabaran dan kasar, persis seperti ibunya.
"ada apa? Tadi memanggil abang, pake disambut depan pintu lagi"ucap revin setelah membersihkan diri dan duduk dekat adik satu-satunya itu
"abang, gama pengen handphone keluaran terbaru"ucap regis ketus,
Mengapa regis memanggil namanya gama bukan nama depannya sendiri? Karena, dari kecil revin terbiasa memanggilnya dengan nama itu, jadinya sampai kebawa dewasa.
Dan Keluarga?
Ibu dan ayah mereka meninggalkan mereka sejak regis berumur 10 tahun, dan revin 14 tahun. Entah pergi kebelahan dunia mana orangtua mereka itu, tetapi revin sudah tak perduli lagi. Toh, sejak kecil mereka juga sudah mandiri, lebih tepatnya hanya revin yang mandiri sejak mereka mengetahui orangtuanya sudah tak ingin bertanggung jawab dengan anaknya. Regis? Anak itu hanya bergantung pada kakak laki-lakinya. Berperan sebagai kakak, dan tulang punggung keluarganya. Sebagai ibu ketika adiknya membutuhkan kasih sayang, sebagai ayah yang senantiasa memotivasi dan memberinya dukungan penuh untuk adiknya, bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan adiknya.
Hidupnya adalah untuk adiknya, separuh jiwanya adalah untuk adiknya, jika adiknya sedih ia akan terluka, jika adiknya bahagia maka ia akan lebih membuatnya bahagia dari yang sebelumnya.
"abang usahakan, berapa harganya?"tanya revin berusaha memenuhi apa yang diminta adiknya, meskipun ia tak yakin dengan uang yang ia pegang sekarang ini.
"sekitar 5 jutaan, itu paling murah"jawab regis antusias mendengar abangnya akan memenuhi keinginannya kelewat antusias malah
"ahh, 5 juta ya, abang usahakan ya. Mungkin satu mingguan bisa kita beli handphone itu"ucap revin tersenyum lembut,
"abang janji ya, mana kelingkingnya"ucap regis senang dan tersenyum memperlihatkan dua gigi kelincinya yang menyembul keluar. Dan revin dengan senang hati menautkan kelingkingnya pada kelingking mungil sang adik, melihat adiknya regis tersenyum bahagia adalah sumber semangat untuknya
"sekarang tidur, besok sekolah yang rajin dan kuliahlah seperti yang abang bilang, oke"ucap revin mengusak surai hitam legam adiknya gemas akan tingkah adiknya yang lucu meski kadang suka keluar sifat bar-barnya tanpa tau sebab akibatnya
"siap, aku sayang abang!!"jawab regis kemuadian berlari menuju kamarnya, meninggalkan revin yang tengah mematung akan balasan adiknya, apa katanya 'sayang' sepertinya revin tengah bermimpi, jarang-jarang adiknya itu bersikap manis padanya.
revin kemudian beranjak ke kamarnya sendiri, rumah yang mereka miliki tidak terlalu besar, hanya ada 4 kamar. dua di lantai atas dan sisanya di bawah, perabotan yang di miliki juga tidak banyak. bahkan beberapa tak layak di pakai,
"semoga besok dapat pekerjaan yang lebih besar gajinya" monolog revin