
Seminggu telah berlalu dan sekarang pasti adiknya akan menagih apa yang diinginkannya seminggu silam. Uang yang ia kumpulkan masih kurang 300 ribu, dimana lagi ia akan mendapatkannya sedangkan pekerjaannya serabutan, adiknya pasti akan kecewa padanya.
"Dimana lagi ya tuhan"doanya merenung diruang tamu sembari memijit keningnya, tiba-tiba kepalanya berdenyut memikirkan adiknya dan kebutuhan sehari-harinya
"Abang!!!"panggil regis antusias sembari menodongkan tangan kanannya didepan revin,
"Ada apa hm?"revin tersenyum lembut mngusak surai adiknya lembut penuh kasih sayang
"Abang lupa ya?"sedih regis
"Abang kan sudah janji mau membelikan handphone untuk gama"ucap regis lagi merubah raut sedihnya menjadi raut tak terbaca
"Maaf, uangnya belum cukup. Jika ini abang kasih ke gama, kita mau makan pakai apa? Gama kan perlu jajan kesekolah, makan, terus tagihan listriknya bulan lalu dan bulan ini belum dibayar, ibu yeti udah minta keabang"jawab revin pelan dan penuh kehati-hatian, salah bicara sedikit adiknya bisa salah mengartikan maksud dari perkataannya. Kan sudah dibilang regis itu tak sabaran, suka ngambil keputusannya seorang diri.
"Kalau abang nggak bisa nepatin janji abang ke gama, nggak usah bikin janji. Gama kecewa sama abang"ucap regis ketus dan rautnya datar, lalu bergegas keluar rumah dengan jaket yang ia belikan waktu ulangtahunnya menginjak 15 tahun
"Maaf"sesal revin menunduk, sedetik kemudian ia berlari keluar rumah menyusul adiknya, yang entah ada dimana
bukannya revin tega mengingkari janji mereka, tapi kemampuannya hanya sebatas itu. apalagi revin butuh pekerjaan tambahan lagi, dia juga belum melunasi biaya listrik bulan lalu.
revin mencari-cari adiknya, dia teramat menayayangi adiknya. apapun yang terjadi revin nggak bakal tega untuk memarahi adiknya,
"Kamu tak seharusnya pergi gitu aja ninggalin kakakmu, tolong sekali saja mengerti keadaan kakakmu!"nasihat satria pada bocah remaja yang usianya hampir 17 tahun yang sedang menunduk.
"Kakakmu adalah kakak yang paling sabar dan sangat menyayangimu dia rela banting tulang, pergi pagi pulang kadang malam hanya untukmu regis!"ujar satria menatap dalam.
"Aku hanya sedikit kecewa, lagian bukan salahku juga. Bang revin aja yang udah ingkar janji katanya mau beliin hp yang gama mau. Tapi, sekarang apa."jawab regis tak mau kalah ketika ia terpojok
"Astaga!, kau mau tak makan nasi selama seminggu hah!!"satria mengusap kasar wajahnya. Dan regis menggeleng lemah.
"Kau tau kan harganya berapa hp itu?"tanya satria gemas pada regis yang memasang raut polos minta ditampol.
"Tetep aja bang revin yang salah"ngotot regis tak mau kalah.
"Gusti nu agung paringono pistol!!, terserahmu anak kecil kelebihan gengsi"ujar satria kesal akan kekeras kepalaan teman adiknya yang imutnya seperti kelinci, pengen nampol tapi tak mampu..
"minta maaf sana!, revin udah capek tapi malah disuguhkan sama kanakalanmu. Emang sih kakakmu itu nggak nunjukin kalo dia itu capek tapi apa kamu tak melihat raut wajahnya. Hah!!"
"Jika memang benar, berarti gama jahat banget sama abang, maafin gama ya bang"sesal regis disepanjang jalannya.
Terdapat seorang pemuda berlari kencang bolak balik kesana kemari sembari memanggil adiknya, namun sang pemilik nama tak kunjung terlihat batang hidungnya. Ia menumpu tangannya pada kedua lututnya, nafasnya terengah. Matanya masih melirik sekitar dan tak satupun orang yang ia cari berada dihadapannya. Ia hampir saja mendial nomor kepolisian jika adiknya tak segera ditemukan, lebay emang. Namun, revin emang selalu panik jika itu menyangkut adik satu-satunya, bahkan belum sampai 2 jam adiknya keluar rumah.
"Abang lebay sekali"cibir seorang remaja dibelakangnya, revin membatu dan cepat membalikkan tubuhnya menghadap sang pemilik suara. Betapa terkejutnya ia melihat adik dan satu-satunya keluarga yang ia miliki sedang menatapnya dengan raut datar dan kesal mungkin.
"Gama!! Jangan pergi tanpa memberitau abang kemana tujuanmu ya. Abang takut gama pergi dari hidup abang"ujar revin memeluk regis erat dan menggumamkan kalimat-kalimat penenang dan manjur agar adiknya tak kabur-kaburan lagi,
"Abang, gama ini bukan bayi!! Gama juga nggak bakal pergi kok,,takut banget sih. Nggak keren sama sekali"jawab regis memutar bola matanya jengah namun anehnya memeluk balik kakaknya tak kalah erat. Menumpu kepalanya pada bahu bidang sang kakak.
"Lagian, abang kan segalanya buat gama. Meski abang suka bikin gama emosi"ucap regis mendusel diperpotongan leher sang kakak, membuat revin tersenyum hangat dan lebih mendekap adiknya.
"Bang, handphone nya nggak usah dibeli ya"regis berkata setelah saling memeluk usai.
"Loh, kenapa?"tanya revin bingung, tumben sekali adiknya membatalkan apa yang dia kehendaki. Biasanya jika belum terpenuhi regis pasti akan merengek dan disambung ngambek selama beberapa hari, sampai sesuatu itu dapat ia miliki.
"Katanya abang udah nggak punya uang lagi, gama nggak mau ya kalau kita nggak makan nasi, kata kak satria gitu"jawab gama sembari mengerucutkan bibirnya maju.
"Kalau kak satria yang bilang langsung percaya tapi kalau abang..."sebal revin, memalingkan wajahnya dari adik tercinta.
"Cemburu!!"sewot regis nggak nyelow.
"Plis deh bang, abang itu udah pantes buat berkeluarga jangan kayak anak kecil deh"revin hanya merotasikan bola matanya malas akan tingkat kepekaan adiknya, bukannya dibujuk dengan kata-kata manis malah dikatain.
"Nggak peka kamu sama abang"
"Tapi gama tetap sayang abang, abang yang terbaik"teriak regis menghentikan langkah kaki revin yang sempat menjauh untuk pulang, setelahnya revin berlari kearah sang adik dan menubrukan tubuh mereka sekali lagi kepelukan yang lebih hangat dan menenangkan.
Malam itu, sepanjang perjalanan pulang dihabiskan oleh celotehan revin dan tawa sang adik yang terus menghina sang kakak. melupakan sejenak konflik yang sempat terjadi pada mereka berdua
Revin merasa beban yang sempat ia tanggung meluap karena mendengar tawa regis.
Regis merasa dialah seorang adik yang paling beruntung karena dianugerahi kakak sebaik dan sesabar revin menghadapi tingkah kekanakan dan bar-barnya.