R For Regis

R For Regis
rindu yang membuncah



Semuanya gelap seperti beberapa tahun lalu, namun ini lebih sakit dibanding yang dulu. Regis ingin membuka mata tapi tak mampu. Matanya menutup tapi telinganya mendengar orang orang disekitarnya.


Flashback on#


"Regis harus dioperasi, tapi usianya bahkan masih 12 tahun. Daya tahan tubuhnya lemah bu"lesu revin pada bibi nya. Ibu dari tomi dan reno.


"Itu resikonya nak, jangan khawatir paman dan bibi yang akan membiayai nya. Revin cukup jaga diri, jangan ikut sakit"jawab ibu hana mengelus pundak revin pelan


"Tapi, kenapa bisa begini?"lirihnya


"Takdir dari Yang Kuasa. Ayo kita kedalam ruang inap regis"ajak bu hana


"Maaf udah ngerepotin paman dan bibi. Saya benar benar sangat takut kalau besok regis dioperasi saya nggak bisa bayar tagihannya"ujar revin setelah menghadap paman dan bibinya


"Jangan sungkan. Kalian juga bagian keluarga kami, kami akan membantu kalian menemukan ayah dan ibu kalian juga"ucap danil. Paman revin dan regis.


"Tak perlu paman. cukup regis, saya sudah bahagia"lirih revin


Danil hanya tersenyum menanggapi ucapan lirih dari keponakannya. Karena danil tau, revin dan regis sangat kecewa pada orangtuanya karena meninggalkan mereka tanpa pamit.


Besoknya.


Regis memasuki ruangan operasi. Suasananya tegang apalagi revin tak hentinya menangis dan merapalkan doa doa untuk adiknya


"Ayo kita makan dulu. Biar nanti nggak pingsan, regis nggak suka lo kayak gini"ujar satria yang memang menemaninya dirumahsakit


Revin menggeleng lemah.


Satria hanya menuruti sahabatnya yang sedang kalut pada pikirannya


Lalu ruangan terbuka. Revin bergegas menemui sang dokter


"Dok! Adik saya"


"Tenang, sebaiknya kita bicarakan diruangan saya"ucap dokternya


Satria mengajukan diri untuk menemani revin. Takutnya ada sesuatu yang penting dan revin tak bisa menangkap sesuatu itu jika sedang shock.


Paman dan bibi revin memilih menunggu regis diruangan itu bersama kedua anaknya,


Tomi dan Reno.


"Tenanglah nak, ini hanya seputar kesehatan adikmu yang memang memprihatinkan"jedanya__


"Operasi ini gagal__


"Apa!!" Dok, jangan bercanda. Adik saya gimana"pekik revin


"Jangan memotongnya vin"ujar satria memegang lengan revin erat


"Namun, tidak membahayakan nyawanya. Hanya saja lambungnya membengkak, dan itu mengeluarkan banyak darah tapi kami bisa mengatasi itu. Dan soal golongan darahnya, itu sangat langka kami kewalahan mencarinya"


"Untungnya masih ada stok dirumah sakit ini, kami sarankan mulai dari sekarang kamu menjaga pola makan adikmu supaya tak kambuh dan akan dioperasi jika itu terjadi. Kami mendiagnosa jika adikmu akan kehilangan banyak sekali darah, karena memang pasien punya kulit yang tipis sehingga darahnya masih tetap keluar meski sudah ditanggulangi."


CEKLEK


"GAMA! abang pulang!"teriak revin dikediamannya


"Gama!!"teriaknya lagi


Revin mencari cari keberadaan regis disekeliling rumahnya. Nihil, regis tak ada.


Hingga revin teringat sesuatu. Bahwa regis tengah menginap dirumah satria, ia menepuk jidatnya pelan akan daya ingatnya yang lemah.


Revin mengambil ponselnya disaku lalu mendial nomor satria, kemudian menempelkan pada telinganya menunggu sang nama menjawab telponnya.


"Dimana?"


Revin mengernyit heran mendengar intonasi serak dan datar yang belum pernah revin dengar sebelumnya dari satria. Kenapa mirip sekali dengan jiko.


"Dirumah. Gama dimana?"


"Yakin pengen tau?!"


"Gama adikku. Aku berhak tau apapun tentang gama!"


"Shareloc kalo gitu!"


Kemudian sambungan terputus sepihak. Revin hanya menghela nafas maklum.


Revin total tak menyadari kesalahan yang ia perbuat.


Revin bergegas pergi dari rumahnya menuju lokasi yang satria beri padanya diponsel bergambar apel digigit.


Ia mengernyit melihat gedung besar yang pernah ia kunjungi bersama reno beberapa hari lalu. revin berkali kali melihat alamat yang satria beri, dan alamat itu benar


Tapi kenapa disini-pikirnya


Tanpa membuang waktunya revin langsung masuk digedung besar itu. Bermodalkan keraguan dan kejanggalan dihatinya, sesak dan sakit. Revin tak tau artinya itu. Tapi, satu nama yang revin selalu pikirkan adalah Regis.


Revin heran melihat satria dan jiko yang terduduk lemas dikursi tunggu. Tanpa basa basi ia hampiri mereka.


Ketika sudah dihadapan satria dan jiko, revin bingung atas prilaku agus padanya.


BUK


Kenapa aku dipukul-pikir revin heran


"*******!! Lo mau denger adek lo mati baru lo dateng hah!!"


"Kalo ngomong disaring bisa?!"


"Gak!, kalo lo nggak bisa jaga regis biar gua aja yang jaga. Gua lebih pantes daripada lo!"emosi jiko udah diubun-ubun total tidak menyadari ucapannya


"Sampe kapanpun gama tetep adek gua. Karena dia punya darah yang sama dengan gua"ujar revin tak kalah emosi


"Saudara gak harus dilihat dari golongan darah. Brengsek!!"


Kemudian jiko berjalan menjauhi revin dan satria yang masih mematung dengan jay yang memegang lengan revin.


Revin bingung akan semua yang terjadi.


Regis kenapa?


Kenapa semuanya jadi runyam?


"Lebih baik lo masuk diruangan itu"tunjuk jay


"Lo bisa liat semuanya"lirih satria lebih memilih duduk bersandar sembari menutup matanya.


Revin berjalan pelan menuju pintu yang ditunjuk oleh jay. Ia pegang knop dan memutarnya perlahan. Entah kenapa jantungnya tak bisa berdetak normal.


Sesak. Tapi revin tak tau apa yang sesak itu.


Menghela nafas lalu membuangnya.


CEKLEK