
Satria menghentikan laju kendaraannya ketika sampai di kediaman yang di maksud regis. Kakinya menyanggah beban agar seimbang, dia menengok ke belakang, regis hanya diam. Satria pikir regis tertidur tapi nyatanya tidak, mungkin melamun pikirnya.
Satria menyenggol lengan regis, mengisyaratkan bahwa mereka telah sampai di tujuan. Namun, regis menggeleng lesu.
"Lah. Katanya ke tempat bunda, masuk gih. Pegel gue"
"Males bang, bunda pasti ngomel lagi"regis membenamkan wajahnya di bahu satria.
"Dih, itu mah derita. Siapa suruh nggak nurut, sok-sok an nge kos lagi"satria mencibir
Regis menatap nyalang satria, regis turun dari motor dan melengos masuk ke dalam tanpa menunggu satria atau mengucap terima kasih. "Dasar ngambekan"gumam satria.
"BUNDA!!.. EGIS HANDSOME IN HERE~~"
"EGIS. ANAKNYA BUNDA!"
Wanita paruh baya membalas dengan teriakan, sembari kedua tangannya penuh memegang piring dan toples kue kering, bunda menghampiri regis dan memeluknya erat. Membenamkan kepalanya di dada regis, sekarang pun tingginya 179, dan otot lengannya menonjol seksi.
Satria berdehem keras, supaya kedua orang yang tengah melepas rindu menyadari bahwa dia juga berada di sana. Regis melepas pelukan mereka, tangannya terangkat untuk mengusap keringat yang ada di dahi bunda
"Bunda lagi masak?"
"Udah selesai ini. Egis mau makan sekarang"
"Aku nggak di tawari bun?"satria menyahut, kesal juga dia di lupakan begini. Seolah satria itu transparan. Tidak terlihat.
"Oh satria, bunda lupa kalo kamu juga di sini"bunda mneyengir lebar.
"Bunda mah gitu, kalo ada regis, satria suka di anggurin. Ngambek nih"satria mencebik kecil, regis menatap jijik kearahnya
"Ngimbik nih"tiru regis dengan aksen menyebalkannya
"Udah-udah. Kalian kapan akur sih, dari dulu berantem mulu"lerai bunda, "jiko nggak sama kamu sat?"kata bunda sambil mengambilkan mereka lauk di atas piring mereka
"Jangan sat bun, kesannya bunda kaya manggil ******* gitu"satria menyahut cepat,
"Nama kamu kan satria, ya bebas dong mau di panggil sat apa tria"protes bunda, "nah!! Panggil tria aja bun, keren kayanya"satria menyahut cepat.
"Nggak deh, bunda lebih nyaman manggil kamu sat"ujar bunda.
"Setuju bun"kata regis mengacungi jempolnya, satria menggerutu sebal.
"Oiya bun, egis besok mau tampil sama afkar dan zaidan. Bunda jangan lupa dateng"
"Pasti bunda dateng, masa anak gantengnya bunda tampil bunda nggak nonton"bunda mengusap surai regis, memberikan senyum yang selama ini di rindukan regis.
"Ganteng dari mananya coba? Tengil gitu"satria menyahut asal. Tatapannya masih pada makanannya,
"Besok bunda datengnya sama jiko, kamu baik-baik ya tampilnya. Ga boleh pecicilan, apalagi nyampe badannya muter-muter kaya gasing"
"Ya ampun bunda, itu namanya dance. Ih, bunda mah kuno. Egis nggak like"regis mengerucutkan bibirnya sebal,
"Pokonya nggak boleh pecicilan. Awas kalo bunda liat egis kaya gitu, bunda marah"
"Bunda~"
Tanpa sadar regis merengek, dia menggelayuti lengan bunda ke kanan dan kiri. Seperti di masa lalu, regis juga sering bergelendotan di lengan atau di tubuh revin atau jiko. Hati satria menghangat melihat kelakuan ajaibnya regis, sebentar-sebentar manja, terus dingin tak terbaca. Lalu menyebalkan, satria jadi nggak bisa baca raut regis yang sekarang. Sepenuhnya berubah total,
........
"Mama, ayo turun ke bawah. Ayah udah nunggu"
"Kamu aja yang ke sana. Mama nggak laper"jawabnya.
Tatapannya kosong, dan giris benci fakta yang membuat mama nya seperti ini. Anak itu mengepalkan kedua tangannya melihat respon mama nya,
"Ma! Giris di sini. Tatap Giris!"
Ketrin menatap kosong ke arah giris, itupun tak lama. Hanya beberapa detik. Setelahnya kembali mengalihkan atensinya pada sebuah foto yang dia dapat dari anak sulungnya. Foto terbaru dari putra kesayangannya.
Giris sempat melirik. Ternyata benar kan, regis yang selalu membuat mama nya tidak pernah memberinya kasih sayang lagi. Segalanya terpusat pada regis, tak berubah sedikitpun.
"Terserah mama. Giris muak."setiap katanya giris beri penekanan. Namun, tak di gubris oleh ketrin. Wanita itu tetap diam tak merespon
Setelah perginya giris barulah ketrin meluruhkan liquid bening yang menumpuk di ekor matanya, menangis tersedu sembari mendekap foto itu di dadanya.
"Mama rindu. Gama apa kabar? Kangen mama nggak?"
"Mama kangen banget sampe sesak, gama udah besar ya sekarang. Sekarang ganteng banget kaya kakamu"
Ketrin kembali terisak.
Revin sesak melihatnya, dia sedari tadi melihat percakapan adiknya dengan sang ibu dari awal sampai akhir. Hanya diam mengamati, jika revin mendekat pasti ibunya akan tersenyum palsu, revin tidak mau itu terjadi. Dia hanya bisa melihat ibunya menumpahkan segala kerinduannya untuk regis,
Omong-omong soal adik tersayangnya itu, banyak yang berubah. Revin juga rindu dia, sangat.
Revin punya banyak foto adiknya dari sosmed adik temannya, yang kebetulan berteman baik di kampus adiknya.
Dia mengamati detail bentuk wajah adiknya sekarang. Rahang yang tegas, postur tubuh tegap, mata tajam dan tak lupa badan yang terbentuk kekar.
Wajar sih, regis udah dewasa bukan lagi remaja.
"Abang harap kamu nggak benci abang ya, kalo itu terjadi nggak tau lagi abang musti gimana"gumamnya