
Sehari setelah regis siuman, revin tak pernah mau beranjak dari tempatnya ia duduk yaitu dikursi samping regis. Meskipun sudah dipaksa atau dibentak jiko pun tetap tak mau berdiri, setidaknya membersihkan tubuhnya atau paling tidak ganti pakaian-pikir mereka.
"Vin, buru mandi dirumah sakit. Sumpah, bau tubuh lo..."ujar satria yang sedari tadi menutup hidungnya pakai tisu yang ia bawa dan buah buahan yang dia tenteng disebelah tangannya
"Bang sat, buahnya kasih aku"rengek regis menarik narik ujung baju satria
"Heh gendut, lo ngomong apa?! di bilang bukan bang sat... bocah"geram satria menyentil dahi regis pelan,
"Apa bedanya sih sat"ucap jay yang baru masuk ruangan dan langsung mencomot buah apel yang berada di piring regis. Tentunya mendapatkan pelototan tajam dari regis.
Sebelumnya udah dikupas sama revin.
"Pelit ih"sebal jay
"Sat sat sat bang sat"
Regis mengucapkan berulang kali dan mendapatkan teriakan dari yang punya nama. Jay tertawa terpingkal pingkal mendengarnya, revin terkekeh melihat pertengkaran adik dan sahabatnya.
jiko yang hendak menjemput alam mimpinya pun harus tertunda karena teriakan dan tawa yang menggema diruangan ini. Ia berdecak pelan dan menghampiri ranjang regis yang tak hentinya mengoceh.
"Diem atau gua bungkam pake kaos kaki"
Regis yang mendengar ancaman dari sahabat kakaknya seketika diam dan melanjutkan acara makannya. Satria cekikikan melihat regis ciut.
"Bang, jangan buat gama takut gitu"ujar revin memeluk regis possesive
jiko yang melihatnya memutarkan bola matanya jengah.
'Drama apa lagi ini"-pikirnya
Kemudian hening
Hanya suara regis yang tengah memakan ciki serta dengkuran halus si jiko. Satria yang bosan pun memilih keluar, dan tersisalah Jay serta regis. Jay yang memang tidak bisa membuat suasana menjadi ramai inisiatif menghibur regis,
"Gis? Bebek apa yang bisa nyanyi?"tanya jay
"Bebek? Nyanyi?"beo regis memiringkan kepalanya lucu, membuat jay mencubit pipi regis gemas.
"Uhh, kok gemes!!"
"Bwang"tepuk regis pada lengan jay yang masih bertengger manis dipipinya
"Ekhem.. lo gak tau nih?"
"Potong bebek angsaa~~ Hahaha"
Jay tertawa dengan leluconnya sendiri. Regis hanya menatap sahabat kakaknya datar,
"Apanya yang lucu"gumam regis memilih menyadarkan jay sebelum dirinya sendiri ikutan gila akan humor jay
"Payah. Itumah mempermalukan diri sendiri" lirih revin, tak berani bicara dengan keras. Takut di semprot jay.
Revin sendiri hanya duduk disofa melihat percakapan sahabat dan adiknya.
Hatinya menghangat melihat senyuman regis dan gigi kelinci yang menyembul malu-malu itu. Dia lega karena regis mau memaafkan sikapnya, dia lega karena sahabatnya mau mengerti akan dirinya. Tapi, masih ada perasaan yang mengganjal dihatinya. Tapi, revin bingung akan hal itu.
"Sebenarnya perasaan apa ini?!"-batin revin resah
Revin mendekati ranjang regis, lalu duduk dikursi samping jay. Dia mengelus puncuk kepala regis sayang. Dia kecup dahi regis lama. Ia pejamkan mata, seolah mencari ketenangan. Jay paham, mungkin revin masih dalam mode manjanya. Lain halnya dengan regis. Regis merasa ada yang mengganggu pikiran kakaknya, dari raut wajah dan prilaku regis paham.
Regis mengusap bahu revin menenangkan bahwa semuanya akan baik baik saja. Tak perlu ada yang dikhawatirkan.
"Selama ada kakak gama akan selalu baik, selalu sehat, selalu bahagia. Jadi, jangan tinggalin gama"lirih regis ditelinga revin pelan, sangat pelan hingga jay yang disamping mereka tak mendengar bisikan lirih itu.
"Sampai kapanpun abang nggak akan mengulangi kesalahan seperti dulu. Justru abang takut gama yang bakal ninggalin abang sendiri"
Keduanya tersenyum,
Lalu regis menutup netra bulatnya perlahan, nyaman sekali mendapatkan elusan halus dirambutnya membuat kantuk melanda. Jay menyingkir mendekati sofa dan betapa terkejutnya dia melihat jiko yang tidur dengan posisi duduk. Emang sudah biasa sih, tapi kakinya tak harus diatas meja yang berisi sisa makanan juga.
"Bau kaki bang" sarkas jay sinis sembari menendang kaki jiko. jiko membuka mata karena merasa ada yang mengusik tidurnya, setelah itu dia menatap jay datar. Malahan melanjutkan tidurnya.
"Dasar tembok nggak peka"
..........
"Apa kita harus kembali?
"Tentu saja, aku tak sabar melihat jagoanku tumbuh"
"Apa kita tak bisa menunda. Kasian Giris, dia masih kecil"
"Tidak. Ini waktu yang tepat, giris juga sudah berumur 6 tahun, dia pasti senang memiliki kakak"
"Baiklah"