
Banyak yang berkata bahwa takdir itu tidak dapat diubah maupun direkayasa. Namun, pada kenyataannya takdir sendiri bisa diubah dan tergantung dari seberapa usaha yang telah kita curahkan terhadap takdir tersebut, maka dengan keajaiban dari tangan Sang Pencipta hal itu bisa berubah.
Inilah yang terjadi pada Adis. Setelah pertemuannya dengan Diapthora membuka gerbang baru, kini ia dihadapkan pada sebuah buku misterius yang memberinya kekuatan secara tak langsung. O’l Frainus alias Sahabat Lama.
Orang-orang yang telah membaca buku tersebut selalu mendapatkan pengalaman pertama yang berbeda dari satu sama lain. Begitu pun Adis, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan dihadapkan pada suatu kondisi di mana dirinya kembali dibawa ke dalam keanehan itu sendiri.
【Selamat! Kau telah melalui semua proses untuk mendapatkan pemahaman dasar akan Kekuatan Astral dari Dunia Astal】
“Hahh ... huhh .. hahh ... l-l-lagi? Ada apa dengan semua itu?”
Selagi Kraun mengelus dagu berbulu miliknya, tepat di hadapannya seorang pemuda bernama Adis sedang kesulitan untuk mengatur napasnya yang terengah-engah.
“Ini menarik. Mungkin saya perlu mencatatnya ke dalam jurnal halaman baru,” pungkas Sang Rakun sembari mengangguk pelan.
O’l Frainus yang berada di tangan Kraun pun tiba-tiba saja lepas lalu mengambang membuka setiap halamannya dengan sangat cepat. Lembaran-lembaran kertas tersingkap, angin lembut berputar melingkar di sekitar buku itu lalu beberapa saat kemudian sekitar 12 halaman robek dan melayang ke atas Adis.
Lambang-lambang yang terlupakan muncul membentuk garis yang saling menyatu. Kebijaksanaan, Kekuatan, Keberanian, Kekuasaan, Kegigihan, Keadilan, Kebengisan, Kekejaman, Ketakutan, Kelemahan, Kebebasan, dan terakhir adalah ... Keagungan.
12 lambang terlupakan, 12 karakter Rune yang melambangkan peristiwa, dan 12 janji yang disematkan ke dalam tugu perjanjian pengetahuan bermunculan satu demi satu.
Sontak Kraun pun terperangah dengan mulutnya yang menganga. Meski sebelumnya ia adalah satu dari Pustakawan besar di Kerajaan Lavinus, ia sama sekali belum pernah melihat fenomena seperti ini.
“Astaga! Demi Sang Dewi Kesuburan, apa yang baru saja saya lihat ini adalah sungguhan?!”
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, keberadaan 12 Rune yang telah terlupakan kembali muncul, dan memberi warna pada Dunia Astal untuk kedua kalinya】
【Selamat! Kini O’l Frainus mengakuimu sebagai salah satu Pengelana di Dunia Astal. Mendapatkan poin atribut Kebijaksanaan +2】
【Status】
Stenght: 6
Agility : 4
Endurance : 4
Intelligence: 4
Wisdom : 6
【Poin Distribusi: 3】
Setelah semua 12 Rune itu bersinar terang dan hancur menjadi butiran debu yang menyebar ke segala arah. Lantai ruangan itu pun perlahan-lahan memunculkan rerumputan tipis dengan beberapa Bunga Dandelion yang tumbuh subur dengan pucuknya yang berpendar samar.
“Ruangan ini ... ruangan ini menjadi keajaiban Astal?!”
Kedua mata Kraun melebar dan ia sempat mencondongkan tubuhnya ke depan, tetapi tidak jadi, dan kembali berusaha menenangkan diri sambil berdeham pelan.
Sementara itu Adis masih tergeletak di atas sofa usang deka dengan tangga. Ia masih memegangi kepalanya, tetapi ekspresi kesakitan yang sebelumnya membuat wajah pemuda tersebut terlihat menyedihkan kini menjadi raut seorang bayi yang baru lahir.
Begitu tenang, lega, dan hangat. Tidak ada tanda-tanda ekspresi menyakitkan seperti sebelumnya.
“Tuan Adis ... apa sekarang Anda sudah merasa baikkan, Tuan Adis?”
Sayangnya Adis masih berada dalam keadaan linglung dan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dengan ini, sudah dua kali ia mendapatkan, dan mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan. Namun, meskipun semua itu memberinya rasa sakit, setidaknya semua konstitusi pada tubuhnya telah meningkat.
Ia masih belum menyadari hal itu dan merasa jika semua itu merupakan sesuatu yang buruk. Adis sendiri tidak mengira kalau dirinya akan bertemu dengan sesuatu yang tidak mengenakkan.
Kraun pun hanya membuang napas lega dan O’l Frainus yang mengambang di atas Adis kini kembali turun tepat ke atas meja konter.
“T-tadi itu apa?” tanya Adis gemetar.
“Tenang saja. Anda telah mendapatkan pengakuan dari O’l Frainus dan berkat itu sekarang konstitusi tubuh Anda telah mengalami perubahan. Jika Anda tidak percaya, cobalah periksa, apakah kata-kata yang keluar dari seorang mantan Pustakawan ini benar atau tidak,” jawabnya sembari menutup sampul O’l Frainus.
“Konstitusi ... tubuh?”
Kraun mengangguk pelan, meletakkan kacamata monocle-nya kembali ke dalam saku lalu mengelap sampul O’l Frainus. Judul buku itu pun menghilang dan kembali menjadi sampul buku polos ada adanya.
“O-ohh .. jadi begitu ....”
Dengan tangan yang ragu, Adis pun memeriksa perkataan Kraun, dan tanpa ia sangka semua status atributnya bertambah pesat. Selain itu, ia juga masih memiliki tiga buah poin yang belum sempat ia distribusikan pada atribut lainnya.
Ada pun berkah yang ia dapatkan dari Pandora serta perasaan aneh yang muncul ketika mencoba meremas tangannya beberapa kali.
“A-ada yang aneh dengan tubuhku”
“Itulah yang mereka katakan pertama kali begitu menyadari adanya perubahan yang terjadi pada tubuh mereka sendiri. Baik para pengelana tersesat maupun saya sendiri pernah mengalaminya,” ungkap Kraun sembari menyimpuhkan kedua tangannya di atas meja.
“Benarkah?”
“Tentu. Justru saya harus mengucapkan selamat kepada Anda karena telah berhasil diakui oleh O’l Frainus.”
Mendengar itu, Adis pun memperbaiki posisi tubuhnya lalu duduk menghadap Kraun.
“Ini artinya Anda telah mendapatkan berkah yang cukup hebat. Bukan hanya dengan The Child, tapi juga Anda berhasil membuat O’l Frainus menyadari keberadaan Anda di Astal ini”
“A-aku tidak terlalu mengerti. Apa aku harus menganggapnya sebagai sesuatu yang baik atau tidak”
“Hahahaha. Tentu saja itu adalah pertanda yang baik dan karena Anda sudah menunjukkan sesuatu yang menarik kepada saya dua kali. Kali ini giliran saya yang akan memberikan sesuatu.”
Sang Rakun penjaga tokok buku dan informasi itu pun meletakkan sebuah gulungan cokelat usang yang terikat oleh tali hitam bersimpul mati ke atas meja.
“Ini adalah gulungan permintaan. Jika Anda menerimanya, maka Anda akan mendapatkan hadiah, dan begitu juga sebaliknya. Sekarang ... pilihan berada di tangan Anda, Tuan Adis”
“Gulungan ... permintaan?”
Meskipun Adis berharap mendapatkan petunjuk dari ekspresi Kraun, tapi Sang Rakun sama sekali tidak mengubah raut wajahnya sama sekali. Karena itu Adis jadi semakin kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.
Memang benar ketika permintaan telah dituntaskan, maka akan hadiah yang menanti. Namun, hal itu juga tidak menutup kemungkinan bahwa ia sendiri akan berhadapan dengan sesuatu yang berbahaya. Seperti pepatah yang pernah Adis dengar ... high risk, high reward.
Adis tidak tahu permintaan seperti apa yang Kraun minta untuknya. Apakah permintaan itu berbahaya atau tidak? Itulah pikirnya.
Sebagai anak laki-laki yang belum atau pernah merasakan pengalaman seperti ini. Keraguan selalu hal pertama yang muncul di dalam benak pikirannya. Apakah itu baik-baik saja? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang mengerikan? Dan sejenisnya.
Sifatnya ini terbentuk karena rasa peduli terhadap adik-adiknya di panti asuhan. Karena itulah ia tidak bisa dan tidak pernah berpikir sesuatu yang buruk. Itu semua karena apa pun yang terjadi, Adis harus segera pulang, dan berkumpul kembali bersama dengan keluarganya.
“Hmm?” Kraun memiringkan kepalanya sedikit. “Tentu. Apa pun itu selama masih berada di dalam ranah pengetahuan milik saya. Saya pasti akan menjawabnya sebisa mungkin”
“Apa dengan gulungan ini aku bisa bertambah kuat?”
Mendengar hal itu, Kraun pun menyeringai kecil.
“Tergantung bagaimana Anda memanfaatkannya. Jika penasaran, maka Anda bisa mencoba menerimanya, dan perlu saya ingatkan bahwa hal ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya”
“J-jadi begitu?”
Adis pun mulai menimbang-nimbang. Saat ini keputusannya dapat mempengaruhi bukan hanya keselamatannya, tetapi juga keselamatan keluarganya di Bumi sana.
Memang benar jika bertambah kuat akan meningkatkan probabilitas kemungkinan selamat, tapi hal itu juga dipengaruhi oleh bagaimana cara Adis menggunakannya di masa depan.
Dengan tarikan napas yang dalam, Adis pun memejamkan matanya. Begitu ia mengembuskannya perlahan-lahan, ia membuka matanya, tapi kali ini tampak tidak ada keraguan sama sekali dari dalam iris matanya itu.
Adis yang sempat ragu kini tampak yakin dengan keputusan yang akan diambil oleh dirinya kali ini.
“Baiklah.” Adis mengangguk kecil. “Aku akan mengambil gulungan itu,” lanjutnya lalu beranjak menuju meja konter Kraun.
“Mata yang bagus dan keputusan Anda pun ... benar,” sahut Sang Rakun dengan memelankan kata terakhir.
Begitu Adis mengambil gulungan usang itu, sebuah notifikasi muncul di hadapannya.
【Misi Utama: Terdapat beberapa pengerat yang meresahkan berkeliaran di rumah dekat dinding batu selatan Blightmire. Basmi dan bawa ekor mereka sebagai bukti bahwa dirimu telah menyelesaikan misi dengan selamat】
【Kalahkan delapan anak-anak prematur The Plague sebanyak delapan ekor. Hadiah penyelesaian, mendapatkan satu set perlengkapan dasar pengelana, dan berkesempatan kecil mendapatkan perlengkapan langka dari penyimpanan rumah terbengkalai】
【Bonus: tambahan berupa vial yang bisa kau dapatkan ketika mengalahkan para pengerat di rumah terbengkalai tersebut】
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, kesempatanmu mendapatkan perlengkapan langka bertambah “sedikit”】
“Apa permintaan saya cukup menarik di mata Anda, Tuan Adis?”
Setelah memeriksanya ulang sebanyak tiga kali, Adis yakin bahwa permintaan ini cukup mudah, dan ia juga yakin dapat melakukannya meski tidak tahu jenis pengerat seperti apa yang akan ia hadapi nanti.
“Begitulah, aku sendiri kurang yakin, tapi akan kucoba terlebih dahulu”
“Bagus. Memang seperti itulah jawaban yang ingin saya dengar dan sebagai tambahan, bawalah benda ini sebagai asuransi pengaman.”
Kraun pun mengambil sesuatu dari bawah meja konter lalu meletakannya ke atas meja.
“I-ini ... “
“Seperti yang Anda lihat, Tuan Adis. Ini hanyalah pisau sederhana yang bisa Anda temukan di mana saja”
“B-benar ... aku lupa kalau saat ini aku tidak memiliki senjata apa pun.”
Mulut Kraun menyungging kecil. “Meski begitu, setidaknya pisau ini dibuat oleh salah satu pandai besi, dan saya bisa jamin bahwa kualitasnya dapat disandingkan dengan beberapa pedang di toko senjata,” tuturnya dengan nada ramah.
“Terima kasih,” sahut Adis lalu mengambilnya.
“Tidak-tidak. Seharusnya sayalah yang mengucapkan terima kasih, karena berkat Anda, saya dapat melihat sesuatu yang menarik”
“Begitu?”
Kraun mengangguk kecil lalu membungkuk pelan. “Semoga Anda selalu diberkati oleh Sang Dewi Kesuburan, Tuan Adis.”
Adis pun tersenyum kecil lalu ikut membungkuk.
“Terima kasih. Kalau begitu aku akan pergi dulu,” pungkasnya lalu berbalik dan pergi beranjak menuju pintu keluar.
Kraun pun memandangi punggung pemuda di depannya dengan tatapan kerinduan, seakan ia melihat kawan-kawan lamanya yang antusias dalam menemukan kebenaran di Astal ini.
Setelah Adis keluar dari Toko Kraun, ia berpapasan dengan Randolf tepat di dekat persimpangan. Namun, pria eksentrik itu hanya mengangkat ujung topinya sedikit seolah-olah ia sudah mengetahui apa yang ingin Adis lakukan.
Dengan seringai usilnya itu, Randolf pun berdoa dari dalam hatinya untuk keselamatan Adis dalam misi pertamanya di Astal ini. Sebagaimana seorang pengelana tersesat lainnya, ia juga akan mendoakan setiap orang yang akan masuk ke dalam jurang kegilaan, dan berharap untuk keselamatannya.
Gestur yang Randolf lakukan dengan mengangkat topinya adalah salah satu doa tersebut. Meskipun singkat dan terkesan acuh, tapi itulah cara Sang Kartografer mendoakan sesama kawan seperjuangan dalam mencari kebenaran di dunia yang telah kehilangan berkatnya ini.
Tidak lama kemudian Adis pun tiba di rumah terbengkalai di selatan Blightmire. Salju hitam yang turun tak kunjung reda, matahari senja mulai bersinar pudar mengikuti udara hangat yang mulai menjadi dingin.
Itulah tanda-tanda waktu malam akan tiba, tapi sayangnya tempat ini adalah Blightmire. Mau bagaimana pun kondisi cuacanya, sore adalah raja di sana, dan tidak ada yang bisa menurunkan fakta tersebut.
“Jadi inikah tempatnya?”
Sebuah rumah yang kumuh. Bertingkat dua dengan jendela-jendelanya yang pecah dan dipenuhi oleh sarang laba-laba. Kondisi luarnya pun tak jauh beda dan bisa dilihat dari kondisi kayunya yang lusuh serta tua.
“Mungkin aku harus memeriksa bagian belakangnya juga. Siapa tahu ada sesuatu di sana, lagi pula aku tidak ingin ada sesuatu yang mengganggu ketika urusanku di dalam sudah tiba.”
Mengambil langkah ringan, Adis pun mulai berjalan menuju ke belakang rumah, dan hanya mendapatkan sebuah kandang rusak serta sumur tua dengan katrolnya yang berdecit setiap angin berembus melewati benda tersebut.
Namun, perhatian Adis langsung teralihkan oleh suara kaca pecah dari belakangnya.
“Sial! Apa aku sudah ketahuan?!”
Seekor tikus bertanduk dan busuk mencuat dari kaca dalam. Sontak Adis pun melompat ke belakang karena terkejut, ia tidak menyangka jika keberadaannya akan ditemukan semudah itu.
“Siap atau tidak, aku harus selalu siap”
“Kikkkkk!!”
【The Rots: Makhluk prematur yang lahir dari air lendir The Plague. Dengan konstitusinya sebagai makhluk kegelapan, kehadiran mereka selalu membawa kerusakan, dan kemalangan bagi sekitarnya】
Adis pun langsung menerjang ke depan sambil menyiapkan pisaunya. Namun, the Rots tidak diam saja, dan langsung melompat ke arah Adis. Di saat yang sama itu untungnya sayatan cepat dari pisau Adis berhasil membuat makhluk kegelapan tersebut terkapar tak bernyawa.
Tubuh kecilnya telah bersimbah darah ungu dan bagian punggung hingga tulang ekor terbelah lebar.
Dengan ini Adis berhasil mengalahkan satu dari delapan target pembasmiannya. Namun, tidak berselang lama dari itu tiga ekor muncul dari bawah sela-sela fondasi rumah seperti tikus tanah.
Menatap Adis penuh permusuhan, suara cicit mereka layaknya pertanda bahwa pertarungan belum berakhir.
“Sepertinya ini tidak akan berjalan mulus. Kuharap aku bisa melakukannya dengan baik ....”