
“Awas, pak!”
Yogi melangkah mundur, pinggulnya berputar lalu melepaskan sebuah pukulan kuat dari tombak besinya. Kesatria kematian yang berada tepat di belakang Pak Gardi dan ingin menusuknya pun langsung terpental jauh.
“T-terima kasih, Yogi”
“Gak masalah, pak. Sebaiknya bapak lebih hati-hati lagi.”
Pak Gardi pun mengangguk mantap.
Setelah hitungan mundur gelombang monster mencapai nol. Tempat pertama yang digempur oleh sekumpulan makhluk kegelapan itu adalah gerbang utara dari kamp evakuasi.
Beberapa infanteri telah dikerahkan. Dengan menggunakan pengetahuan berdasarkan sistem, kini kemampuan mereka sedikit meningkat, dan dapat mendesak mundur beberapa monster yang datang menerobos barisan pertahanan.
Walaupun ada yang berhasil masuk, Yogi langsung menerjang monster itu dengan tombak besinya. Berbekal dengan status yang telah meningkat dan pengetahuan akan kemampuannya dalam mengolah keterampilan menombak.
Kini Yogi dapat berhadapan satu lawan satu dengan monster yang bahkan melebihi tinggi tubuhnya.
“Haaaa!!!”
“Pertahankan barisan! Jaga sebelah selatan!” teriak Ferdinan.
Monster-monster yang menyerang kamp evakuasi didominasi oleh makhluk berbentuk kadal besar, kesatria tengkorak, dan tikus-tikus busuk. Mereka semua adalah anak prematur The Plague.
Dengan membawa konstitusi kehancuran miasma, kemampuan mereka dalam melemahkan manusia terbukti sangat ampuh. Namun, hal itu justru membawa musuh mereka menjadi lebih kuat karena bantuan sistem
Sistem juga tidak hanya serta merta sebuah panel yang menunjukkan angka kapasitas kemampuan seseorang. Namun, sistem juga dapat membawa kemampuan bawaan yang dimiliki oleh seseorang.
Salah satu contohnya adalah Pak Gardi yang memiliki konstitusi status Intelijen dan Kebijaksanaan. Dengan kedua status tersebut yang mungkin masih terbilang di bawah rata-rata, pria paruh baya ini mampu mengeluarkan sebuah sihir yang dapat melemahkan monster.
Baik itu dari gerakan mereka yang melambat, tubuh mereka yang dibuat tak bergerak, hingga memberikan efek penurunan kemampuan tingkat rendah. Di sisi lain Ferdinan dan Mukhtar memiliki kemampuan untuk meningkatkan status orang di sekitar mereka dengan teriakan yang mana mempengaruhi fisik serta mental mereka.
Sebagai seorang atasan dari masing-masing pekerjaan mereka, kemampuan ini tidak hanya dapat mempertahankan keselamatan saja, tapi juga sekaligus meningkatkan moral mereka secara drastis.
Bawahan mereka menyebutnya sebagai “Teriakan Penyemangat” dan “Perintah Mutlak”.
Tidak ada yang tahu lebih detailnya selain mereka berdua sendiri. Setidaknya dengan keahlian bawaan ini mereka dapat memberikan bantuan moral dan arahan dengan lebih presisi.
Kembali pada Yogi yang membabi buta menghancurkan pasukan kesatria kematian. Rasa gelisah, benci, takut, cemas menjadi satu, dan menjadikannya sebagai seseorang dengan tingkat adrenalin tinggi.
Di mata pemuda tersebut, merekalah yang merenggut Faisal dan Septian. Teman sekaligus sahabat karibnya semata. Dua orang yang telah bersamanya sejak SMA, tapi semua itu kini telah sirna karena keterlibatan kesatria kematian.
Bukan saja merenggut dan membunuh mereka berdua, bahkan jasad kedua temannya itu pun menghilang karena dimakan oleh mereka.
“Monster bangsat! Bajingan! Kampret!”
Melampiaskan segala emosinya yang terpendam, Yogi bermain cepat dengan gerakan tombak, dan langkah kaki yang sangat lincah. Setiap pukulan dan hunjaman yang ia lakukan berhasil melumpuhkan beberapa kesatria kematian dalam sekali gerakan.
Berkat keahlian pasifnya yang berupa “Spear Mastery”. Pengetahuan, gerakan, kemampuan, dan beberapa kekuatan yang terkandung dalam teknik tombak terbuka secara luas. Walaupun masih berada di tingkat dasar, tetapi setidaknya itu sudah cukup membuat semua monster yang melawan pemuda tersebut kewalahan.
Setiap kali ia melayangkan tombak besinya, satu monster jatuh. Dua gerakan, satu baris kesatria tengkorak jatuh berdebur. Sayangnya kemampuan itu tidak bertahan lama karena stamina yang dimiliki oleh Yogi juga terbatas.
Penyerangan monster juga telah memasuki tahap kedua, tapi kondisi fisiknya sangat lelah bahkan tubuhnya penuh akan keringat dingin. Wajahnya sedikit pucat dan kedua kakinya mulai menunjukkan tanda-tanda tidak kuat.
“Satu lagi ... satu lagi, sialan! Ughhh—“
GROARGHHH!!
“YOGI!!!”
Tanpa ia sadari seekor monster berhasil menyusup tepat ke belakang tubuhnya, Yogi baru tersadar setelah mendengar geramannya yang ganas, dan teriakan Pak Gardi yang cemas berdengung di telinganya.
Apa gue bakal nyusul si ian sama isal? Boi ... gue bakal ke sana, pikir Yogi pasrah.
Dengan kondisinya yang telah mencapai batas, Yogi juga tidak dapat berbuat banyak. Namun, satu hal yang ia tidak sangka adalah ketika monster kadal itu berusaha menerkam kepalanya. Kepala monster itulah yang meledak terlebih dahulu menjadi daging cincang dengan darah membuncah hebat.
Pak Gardi pun segera pergi menuju Yogi yang kini jatuh terduduk. Pemuda itu tidak tahu apa yang baru saja terjadi dalam kekacauan itu, ia sama sekali tidak mengira bahwa nyawanya masih utuh.
“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” tanya Pak Gardi khawatir.
Namun, Yogi masih terenyak untuk beberapa saat. Raut ekspresinya kosong dan matanya terbelalak. Pak Gardi pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh muridnya itu dengan sekuat tenaga.
Beberapa saat kemudian Yogi pun akhirnya tersadar dan memandangi Pak Gardi yang ada di sebelahnya dengan kebingungan.
Pak Gardi memang terdengar membentak Yogi yang terlalu gegabah, tapi dalam kata-kata peringatan itu tersirat sebuah kekhawatiran. Sebelumnya Yogi lah yang menyelamatkan nyawa Pak Gardi, tetapi jika seandainya pemuda itu mati tepat di depan matanya, hal itu pasti akan meninggalkan bekas luka yang mendalam.
Untungnya entah karena apa, nyawa pemuda itu berhasil selamat sebelum diterkam oleh rahang lebar Sang Monster.
“T-tadi itu apa, pak?”
Pak Gardi hanya mengangkat bahunya lalu perhatiannya langsung tertuju pada sebuah benda kecil tepat di dekat Yogi. Ia pun jongkok dan mengambil benda itu.
“Besi ... tidak, ini peluru?”
“Peluru?!”
Ketika mereka berdua masih kebingungan dengan kejadian yang baru saja terjadi. Di sisi lain seorang penembak jitu dari dataran yang lebih tinggi sedang mengamati keadaan sekitar dengan kemampuan [Eye of Eagle] miliknya.
Kemampuan yang dapat melihat benda jauh dengan cukup jelas serta mengamati sekitar dari langit itu adalah kemampuan milik Adis. Saat ini ia seperti seorang mata-mata yang sedang menjalankan tugasnya dengan baik.
Dengan bantuan semua perlengkapannya yang telah mencapai Virdis. Perlengkapannya bukan hanya memiliki sedikit kekebalan akan serangan fisik, tapi juga memberinya status tambahan yang meningkatkan kekuatan tempur.
Berbeda dengan perlengkapan dulu miliknya yang lebih menyerupai sebagai pemburu amatir. Kini Adis terlihat sangat matang. Berbekal sebuah syal pendek segitiga menurun, kemeja putih dengan vest kulit, celana panjang hitam cukup ketat yang diikat oleh dua sabuk menyilang. Semua perlengkapan itu memberinya sedikit tambahan kekuatan.
Sedangkan untuk bagian pelengkap, yaitu sepatu bot, tas ransel, dan sepasang sarung tangan adalah perlengkapan atribut yang dapat memberinya keunggulan dalam bertahan hidup.
Bersembunyi dengan cukup sempurna dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya menjadikan sosok pemuda itu tak terlihat. Matanya memicing, mengamati keadaan sekitar. Dengan satu tembakan itu ia berhasil menyelamatkan Yogi tepat waktu.
“Jadi seperti ini rasanya menggunakan [Silent Zone], eh?”
Silent Zone merupakan keahlian yang Adis dapatkan ketika berhasil memburu sekitar 100 tikus busuk dengan sempurna dan tanpa suara. Keahlian ini memungkinkan dirinya memasuki sebuah ruang kedap udara tak terlihat.
Meski begitu, Adis sendiri masih dapat bernapas di dalamnya. Dengan keahlian inilah suara tembakan Adis seperti kepakkan sayap burung hantu, begitu senyap, dan tidak meninggalkan jejak sedikit pun terkecuali sisa peluru yang diambil oleh Pak Gardi.
Keahlian itu kembali diperkuat oleh senjata barunya saat ini sehingga daya rusak yang keluar dari serangannya sangat fatal. Bahkan untuk seukuran monster setinggi dua meter pun lenyap seketika.
“Dengan ini satu telah jatuh. Selanjutnya ....”
Adis kembali membidik target selanjutnya. Ia memejamkan mata kirinya dan memfokuskan seluruh perhatiannya pada mata kanan yang diperkuat oleh [Eye of Eagle]. Selain itu, keahlian pasif [Natural Breath] berhasil memberikan ketenangan serta kondisi top notch pada penglihatannya.
Ia pun menarik napas perlahan-lahan kemudian melepaskan tembakan kedua. Kali ini target sasarannya adalah seekor monster raksasa yang berusaha masuk menerobos dari arah barat kamp evakuasi.
Jaraknya mungkin terbilang sangat jauh hingga menyentuh angka satu kilometer. Namun, berkat semua keahlian serta kemampuannya Adis berhasil mengatasi hal itu dengan sangat baik.
Diberkati dengan keahlian menembak serta konstitusi sebagai seorang Archer. Tembakan keduanya itu berhasil meledakkan setengah badan monster tersebut dengan hebat.
Adis mulai mengambil peluru ketiga, mengisi ulang senapan miliknya, dan masuk kembali dalam mode fokusnya. [Silent Zone] dikeluarkan dan bersamaan dengan [Natural Breath] yang merupakan keahlian pasifnya.
Pemuda itu berhasil mendapatkan target ketiga dan mencetak triple kill dalam waktu yang sangat singkat. Namun, hal itu tidak membuatnya puas.
“Di sana ....”
Target keempatnya berada di balik sebuah bangunan dan tampaknya beberapa monster itu sedang berusaha menerobos tempat para pengungsi yang tidak ikut bertarung. Intuisi milik Adis memberitahunya untuk segera melenyapkan monster itu.
Ia tidak tahu apakah bangunan itu vital bagi para petarung di sana atau tidak. Namun, intuisinya terus berteriak tak henti-henti. Alhasil tembakan keempat keluar dan melepaskan peluru berkecepatan super.
Menerobos barisan pepohonan dan rindangnya kondisi geografi di sana. Peluru itu berhasil masuk ke dalam barisan monster. Meledakkan dua kepala sekaligus hingga akhirnya mencapai sasaran utama.
Monster yang berusaha masuk ke dalam bangunan itu pun akhirnya tumbang dengan kondisi dada hancur. Mendapatkan serangan kritis dan mengalahkan tiga monster sekaligus, Adis pun meremas tangan kirinya pertanda ia mendapatkan serangan luar biasa.
Adis pun melepaskan perhatiannya terhadap kamp evakuasi lalu mengambil napas.
“Ternyata ini cukup intens. Jika intuisiku benar, maka jarak tempat ini menuju kamp itu mungkin sekitar 900 meter lebih. Kekuatan dari [Eye of Eagle] ternyata sangat luar biasa, bisa mencapai jarak sejauh itu, kuh,” gumam Adis sambil tertawa kecil.
Sebelumnya aku hanya dibawa untuk berburu The Rots yang jaraknya tidak terlalu jauh dan beberapa serigala hutan. Namun, siapa sangka aku mendapatkan kesempatan langka seperti ini, dan menguji coba kekuatan baruku, pikirnya sembari mengatur pernapasan.
“Masih ada sekitar 60 peluru lagi. Aku bisa saja menghabiskan semuanya di sini ..., tapi masih ada hal yang sangat penting untuk kulakukan. Baiklah ....”
Adis mengangguk pelan dan menatap telapak tangan kanannya lekat-lekat.
Dulu ia adalah orang biasa, kini dengan pengakuan Randolf, dan penghuni Blightmire ia menjadi seorang The Odd One yang mana memiliki kemampuan khususnya tersendiri. Dengan pekerjaannya sebagai pemanah—Archer. Adis hanya bisa menyembunyikan rasa senangnya dengan senyum tipis.
Kekuatan yang ia inginkan bukan untuk menjadi senjata bertahan hidup, tapi juga untuk melindungi panti asuhan tempatnya tinggal. Sekarang yang menjadi kekhawatiran pemuda tersebut ialah keselamatan orang-orang di sana.
“Tempat ini tidak asing ... dan kalau aku berada di tempat tinggi seperti ini. Kemungkinannya adalah bagian utara, deket Dago ke atas lagi. Sedangkan panti asuhan ada di deket Stadiun Gelora Bandung Lautan Api. Kayaknya ini bakal lama, tapi untuk sekarang aku akan membantu mereka dulu.”