
Yogi masih terdiam dalam lautan mayat penuh darah. Matanya jatuh pada sosok mayat yang sangat ia hormati. Tak mengenal status dan kehormatan, sangat bijaksana dalam menanggapi masalah serta murah senyum ketika kesulitan datang pada orang yang dikenalnya.
Tubuh Pak Gardi tergeletak tak berdaya dengan mata tanpa cahaya kehidupan. Bagian kiri tubuhnya habis, meninggalkan daging merah amis yang mengeluarkan darah terus menerus.
Yogi tak mengira bahwa hal ini akan terjadi. Momen di mana ia menceritakan keluarga dan impiannya, momen di saat mereka saling bertukar pikiran. Semua itu adalah kenangan yang luar biasa dan tak bisa digantikan oleh apa pun.
Namun, naas. Pria paruh baya tersebut sudah tak memiliki kesempatan lain untuk bertemu dengan keluarganya dan hanya bisa menunggu di alam lain selama waktu tak menentu.
Apa yang akan keluarganya katakan? Bagaimana reaksi mereka begitu mengetahui sosok harapan mereka telah menghilang? Bisakah mereka menahan hal ini dan terus bergerak maju untuk terus bertahan hidup?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Yogi. Tak tahu apa yang harus dilakukan, saat ini ia hanya melihat selongsong peluru yang berada di dalam genggaman tangan kanannya.
Perkataan-perkataan itu terus berputar dan tak pernah menghilang ... keluarga.
Pada akhirnya ia menggeledah mayat Pak Gardi dan mencari sesuatu sebagai pengingat. Rasa bersalah, tak bermoral, dan perasaan gelisah menghantui dirinya. Namun, ia terus berusaha mencari sesuatu sebagai pengingat.
Tak lama kemudian ia akhirnya menemukan sebuah dompet tersimpan pada bagian dalam jas mantan dosennya itu. Yogi langsung mengambil benda tersebut dan membukanya. Di dalam dompet tersebut terdapat beberapa lembar uang dan kartu kredit serta surat berharga.
Namun, ia tidak mengambil hal itu. Apa yang diambil olehnya adalah sebuah foto ... benar, hanya sebuah foto. Di mana dalam foto tersebut terdapat sebuah keluarga yang sedang tersenyum lebar.
“Gue gak bakal ngebiarin foto ini rusak,” pungkasnya dengan raut kusut lalu melempar menyimpan dompet itu kembali ke dalam jas mayat Pak Gardi.
Setelah itu, Yogi berdiri lalu menunduk sambil berdoa. Walaupun tidak tahu ingin berkata apa, tapi setidaknya inilah satu-satunya cara bagi Yogi menghormati kebaikan terakhir Pak Gardi.
“U-ughhh ... “
“Huh?” Yogi pun langsung berpaling dan mendapati sosok Ferdinan yang sedikit bergerak.
Tanpa ragu lagi ia segera berlari secepat mungkin dan memeriksa keadaan Mayor tersebut.
Demi apa? Ada yang masih hidup? Pikir Yogi kaget.
Beberapa saat kemudian pemuda itu membereskan sisa-sisa mayat yang bergeletakan dengan menutupi tubuh mereka dengan kain. Mungkin sederhana dan itu adalah solusi sementara karena jika ia ingin menguburkan mereka satu-persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
Apalagi mengingat tidak setiap mayat memiliki jasad yang utuh.
Di sisi lain, Adis masih mengistirahatkan tubuh pada batang pohon sembari mengaktifkan kembali [Silent Zone].
“Efek yang luar biasa ..., tanganku ... masih gemetar ....”
Kekuatan daya fokus yang diamplifikasi oleh Zero Null kemudian diperkuat dengan ledakan Mana yang berasal dari peluru sihir berhasil menghancurkan [Silent Zone] seperti kaca rapuh. Namun, bukan itu saja dampak yang dirasakan oleh Adis.
Selain kemampuannya yang hancur seketika dan berhasil menarik perhatian monster di sekitarnya. Tangannya juga bergemetar hebat, keringat dingin membasahi wajahnya. Padahal serangan itu berhasil ia seimbangkan dengan pekerjaannya sebagai Archer, ditambah dengan berkahnya, ia yakin bahwa reaksi kekuatan tembakan itu tidak akan sehebat ini.
Ada pun kekuatan kakinya yang melemah. Ia tidak bisa bergerak dari tempatnya berada dan menunggu sekumpulan monster untuk menjauh darinya. Karena saat ini ia berada dalam kondisi lemah dan tidak berdaya setelah menembakkan peluru terakhir.
Adis hanya bisa berharap yang terbaik. Ia juga sudah meminum ramuan penyembuh, tapi sayangnya efek tremor di tangannya belum berhenti.
Mengandalkan pernapasan yang stabil, ia berusaha untuk tetap tenang dalam keadaan kritis itu. Setidaknya ia sudah menyelamatkan beberapa orang dan itu sudah lebih dari cukup karena dirinya bukanlah sebuah entitas dengan kemampuan maha dahsyat.
Sedikit tapi pasti daripada tidak sama sekali.
▼▼▼
“Akhirnya selesai juga ...,” gumam Adis sembari mengeluarkan napas lega.
Waktu berlalu dan parade monster yang sempat melewati tempat Adis berada telah menghilang seutuhnya. Dalam waktu yang singkat itu ia tidak bisa bergerak, dengan napas sesak bak dicekik oleh tangan tak terlihat, Adis hanya bisa bertahan sesuai dengan kemampuannya sendiri.
Bagi orang biasa pemandangan itu bukanlah sesuatu yang patut disyukuri, karena efek setelahnya pun akan meninggalkan trauma mendalam bagi siapa pun yang melihatnya. Apalagi dalam beberapa detik itu ada sesosok monster berkepala panjang dengan rangka tulang tengkorak menatap lekat-lekat tempat Adis berada.
Untungnya ia menggunakan [Silent Zone[, jika tidak, maka kemungkinan besar Adis akan tamat dimakan oleh monster tersebut.
Setelah menguatkan diri dan memperbaiki napasnya kembali, Adis pun bangkit lalu beranjak pergi menuju ke perkotaan. Di mana tempat destinasi selanjutnya adalah panti asuhan yang jaraknya sangat jauh bahkan terbilang di dekat perbatasan.
Dengan kondisi kacau seperti ini, penggunaan transportasi akan hanya membuatnya jadi sasaran utama bagi para monster. Karena suara keras dan lantang dari transportasi apa pun yang digunakan oleh Adis akan menarik perhatian mereka.
Walaupun ia berusaha menggunakan sepeda dan mengayuh pedalnya sekuat tenaga, hal itu tidak akan bertahan lama. Stamina yang terkuras cepat akibat dikejar oleh monster, persediaan berat di ranselnya, dan juga kondisi kota yang berantakan. Mungkin jalan raya sudah diblokade oleh mobil ataupun bus yang sengaja ditinggalkan.
Satu-satunya cara adalah berjalan kaki. Ia tahu hal itu akan memakan waktu yang sangat lama, tapi setidaknya itulah cara paling aman bagi dirinya. Dengan kemampuan serta berkahnya, ia yakin dapat menempuh jarak sejauh itu dengan satu hari perjalanan.
“Masih bersalju ... anehnya lagi perasaan tidak enak ini mirip seperti di Blightmire. Aku tidak mengkhawatirkan hal ini ketika berada di sana, tapi sekarang ... aku yakin pasti ada sangkut pautnya dengan fenomena salju hitam ini.”
Tidak sedingin batu es dan juga menimbulkan efek gejala apa pun, tapi jika terlalu lama berada di luar. Salju ini akan menguras akal sehatku, itulah yang dipikirkan Adis sembari berjalan menuruni tebing, dan menyusuri lebatnya hutan.
Daerah Bandung Utara terkenal akan kondisi geografinya yang tinggi dan kental akan hutan. Apalagi tempat tersebut telah digunakan sebagai pangkalan militer. Namun, dalam perjalanannya menuruni tempat itu, yang Adis lihat adalah pangkalan rusak, penuh mayat, monster yang sedang memakan jasad, dan bangunan-bangunan yang terbakar.
Tidak ada lagi harapan di sana. Untuk bertahan hidup, tempat paling populer atau berkemungkinan besar sebagai tempat bersembunyi adalah daerah pertokoan, Mall, tempat perbelanjaan makanan, dan juga gudang.
Selagi kakinya terus melangkah dengan hati-hati, otaknya terus berpikir dengan beberapa kemungkinan yang ada. Itu pun termasuk dengan keluarganya yang mungkin saja sudah berpindah tempat, tapi dalam keadaan seperti ini kemungkinannya sangat kecil.
Letak panti asuhan berada di dekat perbatasan kota. Cukup terpencil dan sangat jauh dari pusat kota. Akses jalan hanya bisa memuat satu mobil berukuran sedang dengan satu arah, itu artinya jika ada dua mobil saling bertemu, maka salah satu di antara mobil tersebut harus ada yang mengalah, dan mengambil kemudi ke belakang jauh sekali.
Walaupun ada motor, tapi mereka belum tentu bisa mengoperasikannya. Motor memang terdengar mudah untuk dikendarai, sayangnya keluarga Adis meliputi orang-orang berumur di bawah 12 tahun.
Mungkin ... ya, mungkin saja bisa. Namun, untuk melakukannya harus memiliki nyali seperti orang gila karena mengendarai motor bising dapat memancing perhatian monster. Karena itulah Adis yakin bahwa mereka masih berada di dalam panti asuhan menunggu pertolongan.
“Aku cukup kaget karena tahu perbedaan zona waktu di Blightmire dan Bumi hanya terpaut setengah hari. Satu hari di sini sama dengan dua hari di sana, ini sedikit membuatku lega. Aku juga yakin kalau persediaan makanan di panti asuhan sudah cukup, apalagi waktu itu adalah hari berbelanja. Karen itu ... tolong, jangan sampai kenapa-napa.”
Adis terus menerjang wilayah hutan dan tidak lama kemudian ia akhirnya berhasil menemukan jalan utama. Dilihat dari kondisi bangunan serta Mall ikonik yang ia lihat, sekarang Adis tahu tepatnya di mana ia berada.
“Bangunan besar ini?” matanya pun naik ke atas dan mendapati sebuah plang tidak asing dengan taman luas dipenuhi oleh mobil. “Paris van ... Java ..., ya, nggak salah lagi. Berarti kurang lebih sekarang aku ada di deket daerah Sukajadi. Emang sialan, celah itu mengirimku ke tempat ini—”
“Tolongggg!—“
Tiba-tiba saja Adis menegang dan instingnya langsung memasuki mode waspada. Ia segera mencari tempat untuk bersembunyi sembari menggunakan [Silent Zone].
Teriakan melengking itu bukan saja berhasil membuat Adis ketakutan, tapi juga perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Setelah mendapatkan pelatihan dari Randolf, ia setidaknya mengetahui dasar-dasar menjadi The Odd One ... terutama ketika menghadapi situasi seperti ini.
Dari arah kanannya seorang wanita berpakaian compang-camping sedang berlari kocar-kacir. Tepat di belakangnya terdapat sebuah monster raksasa berkepala tengkorak dan berbadan daging busuk.
Perawakannya menyerupai T-Rex, sehingga tinggi monster itu kurang lebih sekitar lima meter kurang. Di lihat dari posisinya sekarang, mana mungkin monster sebesar itu bisa berada di dalam Mall, apalagi keluar dari bagian taman besarnya.
Adis terus mengamati situasi sebelum memutuskan tindakan seperti apa yang akan dilakukan olehnya. Tetap tenang dan jangan terburu-buru, itulah moto bagi seorang pemburu yang diajarkan oleh teman-teman The Odd One-nya di Blightmire.
“Kyaaaa!—“
HROAGHHHH!—
Namun, belum sempat monster itu berhasil melahap sang wanita. Entah dari mana sebuah meja terbang dan menghantam tubuh besar monster itu hingga membuatnya jatuh menghantam bangunan yang ada di belakang.
“Jangan coba-coba melukai orang lain ketika berada di hadapanku, kampret!”
Dari arah monster itu datang, seorang pria berperawakan besar dengan setelah pakaian tentara lengkap. Ia memiliki paras yang cukup tampan dan berdagu tegas. Gaya rambutnya mengikuti tren hairbun dengan bagian sampingnya yang dicat abu sementara atasnya tetap hitam.
Terdapat sepasang brass-knuckle pada kedua tangannya. Lengkap dengan sepatu bot kesatuan, ia pun berjalan mendekati Sang Wanita.
“Kamu baik-baik saja, ‘kan?”
“Y-ya ....”
Pria itu—Bayu pun bernapas lega. Serangan miliknya itu sudah berhasil menyelamatkan seorang warga, itu sudah lebih dari cukup. Namun, pertunjukan sesungguhnya adalah ketika monster itu kembali bangkit.
“Sistem sialan ini mengharuskanku untuk menghabisi gumpalan daging ini sebelum mengamuk. Guh! Ini benar-benar merepotkan sekali! Hei, sebaiknya Anda segera pergi ke tempat yang aman. Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu di sini”
“H-h-huh? T-tapi .. kamu, ‘kan, seorang tentara masa sih mengabaikan warganya seperti ini?” tanya Sang Wanita panik.
“Bukannya aku tidak bisa. Lagian jadi tentara juga bukan keinginanku—merepotkan sekali. Cepet pergi, gue gak yakin bisa ngalahin ni monster gitu saja!”
Mendengar ucapan aneh itu Sang Wanita langsung bangkit dan kembali lari mencari tempat yang aman. Sementara itu Sang Monster telah bangkit sembari membuka rahang tulang-belulangnya.
“Janji moto apaan? Intinya gue lagi, gue lagi yang kena, ‘kan? Ahk! Emang bangsat. Kalau gue bukan tentara mana sudi nyelamatin orang kayak gitu, bikin repot aja.”
【Falsehood Wind—Bayang-bayang pemangsa muncul dalam keadaan lapar. Menghadap Sang Fajar demi mengharapkan sedikit ampunan. Mereka yang berpaling dari murka Sang Penguasa hanya akan menjadi budak dalam kengerian semesta】
【Misi: Sang Juggernaut telah tiba. Tidak berpaling dari ancaman dan terus menerobos dinding baja dunia lain, bantu Bayu untuk mengalahkan monster di depannya [Hadiah: White Soul x300]】
Dih! Kok tiba-tiba sih? Selalu aja kayak gini, apa gak ada pilihan untuk tidak, gitu? Biar aku bisa tenang, tapi Bayu? Apa orang itu bernama Bayu, huh? pikir Adis sembari memasang wajah kesal.
Untuk seukuran orang biasa dengan kekuatan fisik sekuat itu sangatlah tidak normal, maka kesimpulan yang masuk akal dari kekuatan fisi abnormal tersebut merupakan ulah sistem. Itu artinya bukan Adis saja yang mendapatkan kemampuan untuk bertarung melawan monster, tapi ia juga yakin masih banyak orang di luar sana yang masih berjuang dengan kekuatan baru milik mereka.
Mendapatkan misi yang entah dari mana, Adis tidak bisa menolaknya. Apalagi hadiahnya juga lumayan, tapi ia masih belum bisa menemukan apa risikonya jika dirinya menolak misi tersebut. Ia tidak bisa menerka hal itu dan tidak ingin juga mengambil risiko yang mungkin membuatnya celaka.
Karena itulah ia terus menyelesaikan misi satu-persatu bukan hanya untuk mendapatkan hadiahnya saja, tetapi juga dengan harapan agar suatu saat nanti dapat menemukan risikonya yang ada di balik dari sistem ini.
Sekarang pilihan Adis adalah untuk membantu Bayu dan mengalahkan monster di sana.
Di saat yang sama sebuah papan notifikasi muncul di hadapan Bayu.
【Falsehood Wind—Bayang-bayang pemangsa muncul dalam keadaan lapar. Menghadap Sang Fajar demi mengharapkan sedikit ampunan. Mereka yang berpaling dari murka Sang Penguasa hanya akan menjadi budak dalam kengerian semesta】
【Misi: Sang Juggernaut telah tiba. Tidak berpaling dari ancaman dan terus menerobos dinding baja dunia lain. Dengan kekuatannya sebagai pembawa kehancuran tidak ada yang berani untuk menentang kekuasaannya [Hadiah: Soul of Damp x1, White Soul x400]】
“Lumayan juga. Ini baru buat gue semangat, ayo kadal busuk, maju sini!” tukas Bayu dengan seringai lebar sembari mengangkat jari tengahnya ke arah sang monster.