Pandoras Pride

Pandoras Pride
Chapter 2 - Sampah "Masyarakat" II



“Gah ....”


Adis hanya dapat tercengang melihat dua hal tersebut; sang monster dan kemunculan panel Side Quest.


—[Trash of the Tarnished People] Mereka yang membangkang terjerumus ke dalam dosa besar. Termakan oleh kerakusan tiada akhir dan pergi meninggalkan penyesalan tanpa bisa mengharapkan belas kasih dari siapa pun.


—Kalahkan The Tarnished People, Hadiah [Soul of Dependance x1, White Soul x50]


“H-hah? Apa-apaan ini? A-aku tidak mengerti?” tanya Adis dengan wajah pucat.


Sang monster pun memekik keras dengan intensitas yang bisa saja memecahkan gendang telinga setiap orang yang mendengarnya. Namun, Adis tak bereaksi karena masih berada dalam keadaan syok, dan tegang.


Di satu sisi ia ingin berlari, tapi di sisi lain kakinya tak bisa bergerak karena rasa teror yang mencekam seperti memasungnya. Meski begitu, Adis berusaha sekuat mungkin untuk bangkit.


Situasinya bukanlah lagi genting, tapi berada tepat di atas status kematian. Jika Adis tidak segera bergerak dan melakukan sesuatu, tubuh ramping nan lemasnya itu akan segera dilumat oleh The Tarnished People.


“A-a-ahh .. ahh .. gahhh!!!”


GRRAARGGGHH!!!


Sang monster pun membuka mulut besar diperutnya lebar-lebar. Jajaran gigi runcing nan tajam terlihat dipenuhi oleh lendir ungu. Guncangan yang terjadi akibat entakkan kaki besarnya itu sesekali menciptakan sensasi horor.


Kini di benak sang pemuda bernama Adis itu hanya terdapat dua bayangan masa depan yang muncul. Pertama adalah dirinya yang mati karena dimakan. Kedua adalah dirinya mati karena diinjak oleh monster besar di depannya.


Giginya bergemertak, akal nalurinya pun kacau, seperti anak yang kehilangan arah di kerumunan masa. Adis tergagu-gagu sambil mencoba mencari jalan keluar. Sementara tubuhnya ia seret sendiri ke belakang, The Tarnished People pun kembali membuka mulut besar diperutnya lalu mengambil ancang-ancang kuat.


Monster setinggi empat meter dan sebesar tumpukan lima karung besar itu pun langsung melompat tinggi. Membawa tubuh besarnya mengawang di langit, Adis pun terkejut melihatnya.


Tanpa basa-basi lagi, Adis memaksa tubuhnya berguling ke samping kanan. Untungnya ia berhasil menghindari timpaan sang monster pada detik-detik krusial. Seandainya ia telat saja sedetik, mungkin tubuhnya hancur, dan semua organ dalamnya berceceran.


“I-ini pasti mimpi, ‘kan? Tidak mungkin ada makhluk aneh sejelek itu di dunia ini,” ketus Adis dengan mata terbelalak.


Kini dengan mengandalkan pilar di sampingnya untuk bersandar, Adis hanya bisa terdiam sejenak sembari mengatur napasnya. Sang monster sendiri pun bahkan bergerak sangat lambat seperti siput, tapi kekuatannya bukanlah isapan jempol belaka.


Satu serangan dari monster itu layaknya godam besi atau pisau algojo sekali libas yang dapat membawa setiap orang ke dunia lain. Namun, menyadari pergerakannya yang lambat, Adis pun tersenyum kecut.


“P-pada akhirnya kekuatan itu dibayar oleh hal lain, huh?—uhukss. Bahkan kondisiku juga semakin memburuk ... d-darah? Ahahaha. Benar, tampaknya ini memang bukanlah mimpi semata.”


Adis mengernyitkan dahi lalu memejamkan mata sembari mengembuskan napas. Akhirnya ia telah menerima kenyataan yang ada di depannya dan tidak mempertanyakannya lagi.


Dengan kondisinya saat ini, kesempatan bertahan hidup melawan monster besar bermulut lebat tampaknya sangat kecil. Namun, ia tidak menyerah.


(Jika satu-satunya cara adalah mengalahkan monster ini, maka aku akan melakukannya)


“Tapi ... kakiku masih gemetar, apa itu mungkin?”


The Tarnished People kembali bergerak, berkat itu Adis pun langsung sadar masih ada yang harus dilakukan olehnya saat ini. Ia tidak berpikir untuk mati di tempat menyedihkan seperti ini.


Apa pun yang terjadi, dengan cara apa pun, dirinya harus bisa bertahan hidup. Itulah kata-kata yang disematkan olehnya ke dalam hatinya sendiri.


Ketika langkahnya yang pelan memberi perasaan teror dan bayang-bayang kematian, Adis pun ikut melangkah pelan dengan ketakutan. Mungkin ekspresinya ia sengaja buat tegar, tapi jauh di dalam hati kecilnya yang paling terdalam. Perasaan takut dan ketidakberdayaan menghantuinya berulang kali.


(Lift juga tidak bekerja, tangga ke lantai dua lewat koridor kiri tertutup puing-puing, selain itu ... gedung ini mungkin tidak akan bertahan lama lagi)


Sang monster memekik keras, Adis pun secara refleks langsung menengok ke belakang hanya untuk mendapati mulut besar itu menembakkan sebuah lendir ungu korosif tepat ke arah wajahnya.


“Gahh!!—“


Namun, Adis cukup beruntung. Karena sebelum lendir itu ******* kepala beserta cangkang kepalanya, ia terpeleset, dan terjatuh.


Ia secara tidak sadar berhasil menghindari serangan itu di saat-saat krusial.


“Hahh ... huhh ... c-cairan korosif?”


Di sisi lain, pilar penyangga gedung yang terkena serangan tersebut meleleh.


“I-ini gawat!”


Adis langsung memutar otaknya. Ia berusaha mencari jalan keluar dari teror sang monster, tapi seluruh gedung fakultas benar-benar telah kehilangan fungsinya. Tidak ada fasilitas yang bisa ia gunakan, apalagi di dalam keadaan mati listrik.


Satu-satunya pencahayaan yang menyinari gedung tersebut ialah berasal dari cahaya natural. Selebihnya adalah percikan kabel listrik yang terus mengeluarkan sengatan statis.


Adis celingak-celinguk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk keluar dari situasi itu.


“Guh ... kenapa lantai satu harus ruang administrasi sama penerimaan tamu, sih? Aku gak bisa nemuin apa-apa—tunggu!”


Setelah mengitari semua celah, mata Adis kini terpaku pada tabung pemadam kebakaran, dan sebuah kampak kecil yang tergantung di sebelahnya. Namun, jarak tabung itu cukup jauh, dan berada di sudut ruangan dekat meja penerimaan tamu.


Sementara itu, ia berada jauh di belakang dekat lift, dan lantai tangga lebar menjuju lantai dua. Monster itu juga berada di samping kiri Adis, itu berarti satu-satunya cara agar ia bisa mengambil tabung tersebut hanyalah melewati The Tarnished People.


(Apa tidak ada cara lain?)


Adis pun menggigit kukuknya dan kembali memastikan apakah tabung pemadam beserta kampak itu memang benar ada di sana atau tidak. Dan setelah memastikannya, tabung tersebut memang ada di sana.


Sekarang yang bisa gunakan untuk pergi ke sudut ruangan adalah dengan melewati sang monster. Atau ... menunggu monster itu melompat tinggi dan langsung berguling cepat hingga ke sudut ruang.


“Tchh ... akan kupertaruhkan pada kesempatan ini ....”


Sang monster yang telah memekik kembali mengencangkan kuda-kudanya. Adis pun menyadari postur aneh itu dan langsung bersiap melakukan manuver untuk menghindari hantaman sang monster.


GROARGHHHH!!!


The Tarnished People pun melompat tinggi membawa tubuh masif serta lendir-lendir korosif yang berjatuhan dari mulut besar di perutnya.


“Sekarang!” Adis pun memanfaatkan momentum itu untuk berguling ke depan sembari memaksa kakinya yang sakit bergerak. Setelah itu, ia menyeret kakinya ke arah sudut ruangan.


Sekali lagi Adis berhasil menghindari serangan mematikan itu, tapi dampak tak langsung yang tidak dipikirkan olehnya adalah guncangan hebat. Benar. Guncangan yang diakibatkan oleh hantaman tubuh The Tarnishde People berhasil mendorong tubuh Adis ke depan.


(Hampir saja, hampir saja aku menghantam meja resepsionis ....)


“M-monster sialan ... sebentar lagi, t-tunggu saja sebentar lagi. Aku pasti akan keluar dari tempat ini.”


Adis kembali melanjutkan misinya. Berkat dorongan tersebut, ia berhasil sampai di tempat tabung itu berada. Namun, setelah Adis berhasil mengambilnya dari kotak darurat, ternyata benda itu tidak berfungsi seperti semestinya.


Ekspresi Adis pun memucat dan ketika ia berbalik, The Tarnished People telah bersiap menembakkan lendir korosif ke arahnya.


Merasa dunia hancur dan tidak ada yang bisa ia lakukan lagi untuk membalikkan keadaan. Adis mengambil langkah kecil. Ia tahu betul posisinya tidak menguntungkan, apalagi ruang geraknya terbatas.


Langkah kecil yang diambil oleh Adis tidak lain adalah usaha terakhirnya.


GROARGHH!!


The Tarnished People pun menembakkan lendir itu, tapi entah dari mana sebuah suara misterius menyuruh Adis untuk mengangkat tangan kanannya.


—Angkat tanganmu!


“H-h-huhh?!” Adis pun refleks mengangkat tangannya ke atas sambil memejamkan mata.


Tiba-tiba saja tangan Adis mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan. Cahaya itu bukan hanya mengeluarkan semerbak aura yang hangat, tapi juga menyilaukan serta melenyapkan lendir korosif milik The Tarnished People.


—Terima kasih karena kamu mau menjadi teman pertamaku.


“H-huh?”


(Suara ... ini ....)


Begitu Adis membuka matanya. Ia mendapati monster yang berusaha membunuhnya sudah tak berkutik. Tubuhnya besarnya menancap kuat pada sebuah batu runcing besar, menjadikannya seperti setusuk sate monster.


“A-apa yang terjadi? Terus tadi suara siapa?”


—[Misi Berhasil] Mereka yang terkutuk telah bebas. Jiwa yang terlahir suci, namun memilih berpaling dari kebenaran kini merangkak dari dasar jurang kegelapan. Demi mencapai pengampunan, mereka yang telah ternoda akan dijatuhi hukuman oleh Sang Pembawa Kelahiran.


Panel pemberitahuan pun langsung muncul tepat di depan Adis.


—Mendapatkan Soul of Dependance x1, White Soul x50. Hadiah akan langsung dikirim ke dalam jiwa terdalammu.


“Ughh—ackhh!—a-apa ini? Apa yang terjadi dengan tubuhku?” Adis pun langsung jatuh berlutut sembari memeluk dirinya sendiri.


Setelah The Tarnished People berhasil dikalahkan. Tubuhnya pun terbakar oleh api putih dan debu beserta sisa jiwanya yang berwarna putih menyebar meninggalkan sebuah bola cahaya transparan yang diselimuti oleh api putih.


Bola cahaya itu kemudian pecah dan masuk ke dalam tubuh Adis.


Ia hanya bisa meringkuk kesakitan seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Adis tidak bisa melawan dan pasrah hingga kesadarannya pun lenyap.


▼▼▼


“G-Goy! Tungguin gue—aghhh!! GAhhahahaha!!”


“M-m-maafin gue, tapi gak ada yang bisa gue lakuin lagi.”


Yogi, Septian, dan Faisal tidak menyangka bahwa tempat persembunyian mereka berhasil ditemukan oleh beberapa kesatria kematian. Makhluk astral, tapi bisa dikatakan sebagai monster itu masuk melalui pintu depan toko grosir.


Yogi sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kelompok mereka bukan hanya bertemu monster seperti The Tarnished People, tapi juga monster-monster lainnya yang tidak bisa dimasukkan ke dalam logika, seperti; Kesatria kematian, mayat hidup tanpa kepala, makhluk pengerat yang menempel pada tiang listrik, wajah raksasa bermulut besar, dan lain-lain.


Sebelumnya mereka telah pergi dari tempat persembunyian yang sebelumnya karena terlalu banyak orang. Dengan modal nekat dan keberanian semata, mereka mencari tempat persembunyian lain.


Namun, tanpa disangka mereka berhasil menemukan toko grosir yang masih utuh. Persediaan makanan di sana juga masih banyak. Yogi pun meminta pendapat kedua temannya terhadap toko grosir itu dan mereka pun menyetujui usul Yogi untuk menjadikannya tempat persembunyian sementara.


Namun, tanpa mereka sadari sekumpulan kesatria kematian muncul dari dalam tanah, dan langsung menarik kaki Septian hingga menjatuhkannya. Merasa tidak berdaya dan putus asa, Yogi pun berteriak keras sambil memukul tangan kesatria kematian itu dengan balok kayu.


“Menyingkirlah! Menjauh dari temen gue! Gahhhh!!”


Faisal juga ikut membantu, tapi ia tiak bertahan lama karena kakinya yang gemetar, dan langsung jatuh terduduk.


Para kesatria kematian bangkit seutuhnya. Mereka semua memiliki perlengkapan yang sama, tapi tidak serpa. Ada yang hanya menggunakan zirah hancur, rompi rantai robek, tanpa zirah dan tombak saja, atau zirah lengkap sambil memegang pedang.


Naasnya usaha Yogi sia-sia karena lengan kesatria kematian itu lebih kuat dari perkiraannya. Selain itu, mereka juga terlihat tidak kesakitan, dan berkat serangan yang dilakukan oleh Yogi, kini semua perhatian mereka langsung beralih ke arah Yogi dan Faisal.


Korban pertama yang mendapat hukuman adalah Septian. Pemuda berambut kribo itu mendapati kaki kirinya terbelah lalu dikoyak-koyak oleh mulut kesatria kematian yang menariknya dari bawah.


Ia menjerit histeris dan semakin jeritan itu terdengar keras, Faisal yang sebelumnya ingin bangkit kembali terjatuh dengan kondisi menyedihkan. Tubuhnya bergetar hebat dan giginya bergemertak tak karuan.


“Gahhh!! Sakit!!—Kaki gue, k-k-kaki gue! Tolongin gue!—arghhhh!!!”


Septian terus meminta tolong kepada kedua temannya, tapi apa yang ia dapatkan adalah tatapan putus asa. Wajah kedua temannya itu sangat pucat. Untuk beberapa saat Yogi berpikir akan meninggalkan mereka berdua, tapi setelah melihat mereka telah dikepung oleh pasukan kesatria kematian.


Moralnya sebagai makhluk sosial yang ingin membantu pun pecah. Meninggalkan kedua temannya dalam keadaan tak berdaya, Yogi berlari ke dalam toko grosir sambil berkomat-kamit meminta maaf kepada mereka berdua.


Begitu ia membuka pintu depan, kini teriakan minta tolong Faisal lah yang terdengar jelas. Yogi sama sekali tak bisa berpaling dan terus masuk ke bagian paling dalam toko grosir hanya untuk mendengar cercaan serta makian dari kedua temannya.


“Bajingan ... apa yang sebenernya terjadi? Kenapa bisa tiba-tiba jadi seperti ini?”


Ia sama sekali tidak menyangka akan berada di dalam situasi seperti itu. Yogi mengira bahwa guncangan yang menimpa gedung fakultas universitasnya hanyalah sebuah gempa semata.


Namun, tanpa diduga-duga ternyata guncangan tersebut membaca bencana yang melebihi perkiraannya.


“Gak ada sinyal, listrik juga mati, keadaan kota yang kacau, jalanan berdarah dan mayat di mana-mana. Apa ini yang namanya kiamat?”


Yogi yang panik kini meringkuk di bawah meja besar di bagian paling belakang toko grosir. Sementara itu para kesatria kematian masuk dengan membawa suara keletak-keletuk dari rongga tulang rahang yang kering.


Wujud mereka setengah tulang dan daging. Mengeluarkan bau busuk seperti makanan basi dan langkah rapuh layaknya lansia. Meski begitu, kengerian yang muncul dari kehadiran mereka sudah cukup membuat setiap orang merinding, dan panik karena rasa teror luar biasa.


Namun, yang kini menjadi pertanyaan besar bagi setiap orang di kota besar itu bukan saja tentang kemunculan para monster. Melainkan cuaca yang berubah drastis dan memunculkan hujan salju hitam.