Pandoras Pride

Pandoras Pride
Side Chapter 20.5 - Api Unggun di Blightmire



Salju hitam misterius masih terus berjatuhan. Langit yang kelam diterangi matahari senja. Di kala ranting-ranting bergemulutuk terbakar oleh panasnya api merah. Sekumpulan The Odd One duduk melingkari sumber penghangat itu.


Salah satunya adalah Adis. Ia sedang ditemani oleh Randolf di samping kanannya. Pria eksentrik itu tengah merogoh ranselnya untuk mengambil sesuatu, sedangkan The Odd One yang tidak jauh dari mereka sedang berbincang-bincang.


“Hei ... si Penyair Hamelin kudengar kembali beraksi”


“Si Penyair Hamelin?! Kau pasti bercanda, ‘kan?”


“Apa kau tidak mempercayaiku, kawan? Aku bersumpah demi semangkuk sup wortel”


“Hahh. Paling juga tidak lebih dari sekedar rumor”


“Jangan begitu. Aku yakin jika orang itulah yang melakukannya.”


Percakapan itu berlangsung cukup lama. Di mana dua orang laki-laki dan seorang perempuan saling menceritakan kisah “Si Penyair Hamelin”. Bagi Adis yang tak sengaja mendengar cerita itu, perhatiannya langsung teralihkan, dan Randolf menyadarinya perubahan tersebut.


Pada awalnya ia mengabaikan hal itu, tapi tiba-tiba saja seorang pria kekar besar dengan perlengkapan minimalis lengkap dengan baji chain-mail datang menghampirinya.


“Hei, ular. Apa kau tidak akan memberitahu kawan kecilmu itu, huh?”


“Hmm? Oh, ternyata si otak otot. Apa yang kau inginkan dariku, Karl?”


“Jangan melihatku dengan mata itu, ular. Maksudku, kawan kecilmu itu.”


Untuk sesaat Randolf melirik Adis, tapi ia hanya mengangkat bahu sembari mendengus kecil.


“Biarkan anak itu beradaptasi dengan sekitarnya”


“Berbicara tentang kepedulian. Apa yang kau rencanakan kali ini, huh?”


Pria besar itu pun mengambil tempat tidak jauh dari Randolf. Matanya memicing seakan ingin menelisik tujuan Randolf dengan penuh kecurigaan. Namun, pria eksentrik yang sedang diperhatikan itu hanya menghela napas sembari meneruskan aktivitasnya dalam membuat sate daging kelinci.


“Tidak ada yang spesial. Lebih dari itu, untuk apa kau mencium urusan orang lain? Apa sebegitu menganggurnya dirimu hari ini, eh?”


“Hahahaha! Lelucon yang bagus, tapi tidak untuk kali ini, ular. Tidak lama lagi kau pasti akan mengerti maksudku”


“Teruslah berharap. Otak kosong sepertimu berpikir? Huh!” Randolf mendengus. “Aku ragu”


“Memang bajingan. Untung kita di Blightmire, kalau berada di Hutan Orlando. Sudah kupotong lidah beracun milikmu itu.”


Sebagaimana pengalaman lama berkata, berurusan dengan otak udang sangatlah merepotkan. Untungnya Adis tidak begitu sehingga Randolf merasa cukup nyaman berhubungan dengan pemuda tersesat itu.


Melihat ekspresi acuh dari Randolf, Karl pun bangkit dengan kesal. Meski sesaat, urat-urat pada kepala mengilatnya tampak keluar seakan cacing hidup. Sayangnya penampakan tak sedap itu sama sekali tidak membuat Randolf gentar malahan ia hanya bersiul pelan sembari membakar daging sate kelinci dengan tampang masa bodo.


Setelah pria berotot itu pergi meninggalkannya, kini perhatiannya kembali terarah pada Adis. Pemuda yang rela dibawa pergi ke tempat antah berantah meski tahu keluarganya dalam bahaya, tapi ia lebih memilih untuk mengambil jalan berbahaya ini dengan mata penuh keteguhan.


Sebagai orang yang telah melihat banyak kisah petualangan. Randolf adalah salah satu dari mereka yang bisa memprediksi masa depan. Itu bukan berasal dari berkah, kemampuan, ataupun keajaiban melainkan murni dari intuisinya sendiri.


Satu-satunya orang yang berhasil selamat setelah menghadapi sosok mengerikan dan membawa kembali kejayaan pada rekan-rekan The Odd One lainnya.


“Anak itu memang tangguh ...,” gumamnya dengan seringai kecil.


Mantan pahlawan dan sekaligus entitas yang telah mengubah identitasnya menjadi The Odd One dengan mengabaikan jati dirinya sendiri sebagai “orang” yang sama seperti Adis.


Melihat betapa canggungnya Adis dalam bergaul dan bercengkerama dengan sesama The Odd One membuatnya sedikit geli. Penampakan segar dalam kekacauan tiada tara, salju hitam masih berjatuhan meski tak memadamkan api unggun di sore hari.


Cuaca abstrak bagai lukisan pada era cahaya, dengan situasi penuh ketidakpastian terhadap masa depan yang luput dari jalan takdir. Sosok Adis bagai lentera di malam gelap nan horor. Meski begitu, ia sama sekali tidak keberatan dengan jalan yang dipilih oleh anak tersebut.


Randolf mendongak, kedua mata sayungnya memandangi langit yang tidak pernah berubah sama sekali sejak kutukan itu datang. Berharap sesuatu terjadi menjelang penantian baru, ia pun menghela napas.


“Mana mungkin aku bisa melihat pagi hari di tempat ini... ”


“Randolf?”


“H-huh?”


Tiba-tiba saja entah dari mana Adis muncul dan membuat dirinya sedikit terkejut.


“Ayolah. Jangan diam saja, aku tahu kau pura-pura tidak mendengarkanku, ‘kan?”


Ia pun hanya bisa memejamkan mata untuk sesaat. Begitu matanya kembali terbuka, sosok Adis telah berada di sisinya membawa beberapa bumbu, dan juga tanaman penyedap.


“Jadi apakah Si Penyair Hamelin itu nyata atau tidak? Aku baru saja ikut nimbrung di sana dan cerita yang mereka katakan membuatku ketagihan. Ini sama kayak salah satu urban legend di duniaku.”


Namun, Randolf hanya tersenyum samar kemudian membungkuk sedikit mendekatkan sate daging kelincinya ke tengah-tengah api unggun.