
“Bertahanlah! Tidak lama lagi ini akan segera berakhir!”
Dengan suara berat nan bass-nya itu, Ferdinan memberi bantuan moral untuk mendorong semangat para petarung yang masih bisa berdiri. Kondisi mereka terlihat sangat letih.
Namun, tidak sedikit juga yang masih bisa memegang senjatanya. Baik itu senapan, tombak besi, golok, tombak dengan ujung pisau dapur, atau senjata-senjata lainnya.
“Gawat! Mayor, gerbang selatan tidak akan bertahan lama lagi!”
“A-apa?!”
Mendengar itu Ferdinan pun tercengang, ia tidak bisa mempertahankan raut tenangnya, dan alhasil membuat rekan-rekan di sekitarnya panik.
“Kerahkan mereka yang masih bisa bertarung untuk mempertahankan gerbang selatan!”
“B-baik, pak!”
Setelah itu, bawahan Ferdinan memberi hormat lalu berlari meninggalkannya.
“Bagaimana keadaan di sebelah sana?” tanya Mukhtar.
“Tidak baik. Pak Yono pingsan, Rizki terluka di bagian kaki kanannya, dan Letda Dian sedang membantu para pengungsi menuju ke tempat yang lebih aman”
“Hhmm ... jadi begitu. Apa bapak memiliki usulan lain?”
“Sejauh ini semua berjalan lancar berkat bantuan penembak misterius. Saya tidak tahu siapa orang itu, tapi saya berterima kasih karena jika bukan karenanya, maka mungkin saja kondisi kita akan semakin buruk”
“Penembak itu, ya? Jika dihitung-hitung jumlah monster yang berhasil diledakkan lebih dari 20”
“Benar. Berkat penembak misterius itu juga lah, Yogi, dan Pak Gardi bisa selamat berulang kali”
“Apa jangan-jangan penembak misterius itu memiliki hubungan dengan mereka?”
Ferdinan pun berpaling ke arah Mukhtar. Dari ekspresinya yang kosong itu, Mukhtar menyimpulkan bahwa atasannya pun tidak tahu.
“Saya tidak tahu detailnya, tapi jika itu memang benar, maka saya harus memberi mereka ucapan terima kasih secara langsung,” pungkas Ferdinan lalu kembali melihat ke arah gerbang selatan. “Sekarang masih ada yang perlu diselesaikan.”
Mukhtar mengangguk tanda setuju lalu mereka berdua pergi menuju barak yang berada dekat dengan gerbang selatan.
Di sisi lain Yogi sedang bersandar pada sebuah papan kayu dengan kotak persediaan tidak jauh dari gerbang utara. Bersama Pak Gardi, ia ditemani oleh dosennya itu dengan tujuan untuk saling melindungi.
“Ambilah ini,” ujar Pak Gardi sembari menyerahkan sebotol air mineral.
“P-pak? Gak usah repot-repot gini”
“Jangan begitu, Yogi. Kamu udah nyelamatin bapak berulang kali, bapak jadi tidak enak kalau kamu kayak begitu.”
Pada akhirnya Yohi mengambil botol air mineral itu dan langsung meminumnya.
Setelah mempertahankan gerbang utara bersama dengan Pak Gardi serta penembak misterius. Stamina milik pemuda tersebut kini berada pada titik terendah dan tampak tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Sedangkan Pak Gardi tampaknya masih bisa bergerak dengan mengeluarkan kemampuannya lagi meski tidak sekuat saat staminanya masih penuh.
Yogi pun memejamkan matanya sambil mengambil napas. Di dalam benaknya saat ini terdapat beberapa kejadian mengerikan yang tidak bisa ia jelaskan. Dari mulai terkaman monster yang gagal, serangan meleset, dan juga beberapa peluru tumpul berjatuhan dari langit.
Namun, apa yang membuatnya sangat penasaran adalah sosok penembak misterius. Sedikit yang ia ketahui bahwa penembak itu adalah teman satu kelasnya sendiri, Adis. Namun, mengingat-ingat kembali setiap peristiwa yang terjadi hingga saat ini, ia tidak akan mengira bahwa orang tersebut adalah mahasiswa tukang tidur yang sama seperti dirinya.
Perbedaan paling mencolok adalah Adis ketiduran di kelas karena rasa lelah sehabis bekerja paruh waktu. Sedangkan dirinya tidur di kelas karena rasa kantuk dan bosan. Dua hal yang berbeda, baik penyebab, dan alasannya.
Untuk saat ini semua sudah terkendali dan gerbang utara tampaknya telah selesai. Yogi tidak tahu apakah masih ada pergerakan monster lainnya di gerbang lain, tapi setidaknya dengan ini ia dapat mengistirahatkan tubuhnya meski tidak tahu sampai kapan.
Pak Gardi pun ikut duduk di samping Yogi lalu menyandarkan punggungnya pada papan kayu.
“I-ini sudah berakhir, ‘kan?”
Yogi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Yogi gak tahu, pak. Yang pasti sekarang kita masih bisa selamat gara-gara penembak misterius itu. Syukur-syukur selamat sampai besok, kita juga gak tahu gimana ke depannya nanti”
“Kamu benar. Mungkin ini baru permulaan dari kekacauan ini, bapak tidak sabar ingin segera bertemu dengan keluarga bapak”
“Keluarga, ya?”
Pemuda itu menatap langit kelam yang masih menurunkan salju hitam. Bola-bola kecil yang tidak terlalu dingin itu adalah pertanda dimulainya kekacauan ini. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib orang-orang di luar sana, tapi ia cukup lega karena perannya di sini mungkin telah berakhir.
Selain mengumpulkan banyak vial dari penumpasan monster. Yogi juga ingat tentang keluarganya. Ia penasaran dengan kondisi orang tua serta adik laki-lakinya. Apakah mereka selamat atau tidak.
Namun, hal itu ia kesampingkan terlebih dahulu. Mengingat kekuatannya saat ini, Yogi belum cukup kuat untuk melakukan hal tersebut. Apalagi dengan kondisi kamp evakuasi yang sedang kacau, prioritasnya saat ini adalah untuk bisa selamat hingga esok hari, dan berlatih mempertajam kemampuan menombaknya.
Ada pun hal lainnya yang menyangkut kekuatan serta peningkatan status. Ia harus bisa selamat agar bisa bertemu dengan Diapthora kembali dan meningkatkan kekuatannya. Setelah itu, baru ia bisa pergi mencari keluarganya.
Begitu pula dengan Pak Gardi yang mengkhawatirkan istri serta putri semata wayangnya. Ia tidak bisa berdiam diri saja dan menunggu laporan mengenai keberadaan keluarganya dari sumber yang tidak bisa dipercaya.
Sebagaimana pikiran Yogi yang kini terus berputar di sekitar Diapthora untuk bertambah kuat, Pak Gardi pun tidak jauh dari pemikiran Yogi. Hanya saja saat ini ia tidak bisa terus melamun dan memutuskan untuk tetap melanjutkan apa yang bisa dilakukan olehnya sekarang.
“Udah ini, apa bapak ingin mencari keluarga bapak?”
“Bapak sendiri kurang tahu, tapi setidaknya bapak masih ingat perkataan yang bapak katakan saat itu”
“Perkataan?”
“Kalau gitu sama kayak Yogi, pak”
“Oh? Hahahaha—“
GHROARGHH!!—
Namun, momen tenang itu tiba-tiba saja hancur. Beberapa orang terlempar sangat jauh hingga melewati Yogi dan Pak Gardi.
Tanah yang berguncang hebat membuat kamp evakuasi dilanda kepanikan besar. Bahkan tidak sedikit dari para pengungsi yang berlarian keluar karena takut bungker tempat mereka berlindung runtuh.
“Pak, ayo kita pergi dari—“
Mata Yogi tercekat, mulutnya bergetar hebat. Sosok dosen yang menemaninya selama ini telah tersungkur tak berdaya bersimbah darah. Lengan kirinya terdislokasi, bagian punggungnya hancur karena sebuah benda tajam besar menancap kuat.
“PAKKKK!!!—“
Saat itu juga Yogi berteriak penuh histeris. Ia pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh mantan gurunya itu, tapi sayang, sosok pria yang selalu mengingatkannya akan keluarga, dan juga pelajaran telah terbujur kaku dengan mata tertutup.
Seluruh tubuhnya dipenuhi darah dan tidak ada yang bisa Yogi lakukan lagi. Semuanya sudah terlambat, bahkan setelah kepergian Pak Gardi yang menghunjam hatinya, sosok yang ia kenali pun mengalami nasib sama seperti mantan dosen tersebut.
Tiga orang terkapar tak berdaya di hadapan Yogi. Pak Yono dengan kepala terpenggal dan tubuh tercerai berai, Mukhtar dengan kondisi tubuh terbelah menjadi dua, dan terakhir adalah Dian yang kondisinya tidak jauh berbeda seperti Mukhtar.
Ketiga orang ini pernah Yogi jumpai di rapat khusus sebelumnya, tapi ia menolak, dan akhirnya pergi meninggalkan ruangan rapat itu karena mereka meragukan kekuatannya. Namun, saat ini mayat ketiga orang itu tergeletak begitu saja dengan bersimbah darah.
Setelah melihat pemandangan itu dengan mata horor, Yogi tiba-tiba saja dihujani oleh darah, dan juga daging-daging tak jelas yang berjatuhan langit.
“E-eh?”
Hanya bisa memasang tampang bodoh penuh keterkejutan. Sekali lagi batin Yogi dihantam oleh pukulan horor. Tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan akhirnya jatuh terduduk.
Bagai mayat hidup yang sedang memohon ampun. Ekspresinya pucat tak terbantahkan dan sikapnya yang pasrah terlihat mengenaskan.
Tanah kembali bergetar hebat dan kali ini yang terlempar adalah Ferdinan. Sosok besarnya tersungkur dengan wajah penuh darah tidak jauh dari mayat Mukhtar berada.
Namun, apa yang seharusnya dikhawatirkan oleh Yogi bukanlah orang-orang tersebut melainkan monster yang menerbangkan sekaligus mengeksekusi mereka dalam sekejap. Walaupun sosok Ferdinan terlihat sekarat, tapi sebenarnya ia masih hidup, hanya saja napasnya sangat tipis.
Di saat yang sama sebuah bayangan besar muncul dari belakang Yogi. Entakkan kakinya menciptakan debur tanah naik ke atas. Dengusan napas dan aura di sekitarnya menyatu bagai kabut kematian.
Tak dapat bergerak karena syok berat, Yogi hanya bisa menggerakkan mulutnya bak robot rusak.
Di sisi lain, Adis masih mengamati sosok besar itu dari jarak yang sangat jauh dengan kemampuan [Eye of Eagle] miliknya. Belum sempat ia ingin melepaskan tembakan pengalihan, tiba-tiba saja sebuah panel notifikasi muncul.
【Misi Darurat: Sesosok entitas berbahaya telah mengancam kedamaian kamp evakuasi. Musnahkan monster tersebut dan bawa kembali kedamaian yang sempat redup kepada para pengungsi kamp evakuasi】
【Ray of Light—di balik kelamnya kisah para pahlawan. Mereka yang bertahan akan selalu menumbuhkan benih-benih baru. Demi menyongsong masa depan penuh harapan, sebuah guncangan hebat diperlukan untuk merangsang takdir yang ada di sekitar mereka [Hadiah: Soul of Terror x1, White Soul x500]】
“Baiklah. Aku akan mengambil misi ini ... hmm, jadi kali ini aku harus menghabisi anak dari The Wretched, eh?”
Begitu Adis kembali mengamati monster itu. Sebuah indikasi langsung menandai entitas tersebut dan nama sebenarnya dari monster itu muncul di kepala Adis. Dengan kemampuan berkah miliknya, Adis mampu mengetahui sekilas makhluk atau entitas apa yang menjadikannya sebagai musuh.
Hal itu pun tak luput dari keterlibatan Pandora serta [Eye of Eagle]. Dengan mengandalkan kemampuan ini, Adis langsung bisa mengetahui bahwa sosok monster itu adalah anak dari The Wretched.
Salah satu penguasa yang mengatur emosi negatif dan menjadikannya sebagai kambing percobaan untuk dijadikan makhluk mengerikan. Kali ini apa yang dilihat oleh Adis adalah sosok besar bertubuh banteng.
Memiliki tiga kepala dengan kepala utama berupa serigala dan dua lagi manusia. Lengan kiri yang besar sebelah memiliki otot besar sedangkan lengan kanannya adalah sebuah rantai dengan bola besi berduri besar.
【Eksekusi→The Diminished Rotten-Man】
Adis pun mengambil napas lalu mengarahkan bidikan Senapan Virdis miliknya ke arah monster tersebut. Segala yang berada di sekitarnya menjadi hening, udara berembus pelan, bunyi-bunyi menjadi samar, dan semua gangguan musnah seketika.
Memanfaatkan jarak Varadis, Adis memasuki mode fokusnya. Setelah tarikan napas pertama, senapannya meledak senyap menembakkan peluru pembuka. Memanfaatkan mode tersebut, Adis kembali bergerak mengambil peluru spesial yang ia simpan pada sabuk pinggang.
“Gotcha ... habislah kau, makhluk busuk,” gumamnya pelan.
Begitu Adis memasukkan peluru spesial itu, dirinya memasuki Zero Null yang mana peluru tersebut akan memantik kekuatan dari The Fallen. Sebuah aura gelap berkumpul di ujung moncong senapan dan ketika Adis menarik pelatuk senapannya.
Silent Zone hancur berkeping-keping, pepohonan yang berada dalam parameter tembakannya rata menjadi abu, tubuh Adis pun berguncang cukup hebat untuk melepaskan tembakan penghancur berdaya masif itu.
Menyusul peluru pembuka, peluru spesial berkecepatan suara itu mengekor di belakang layaknya sebuah komet. Kini dua peluru itu meleset menerobos hutan dan pohon-pohon tinggi.
Ketika monster tersebut mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi. Keseimbangan tubuhnya hancur seketika berkat peluru pembuka yang menyasar pelipis kaki kanan. Mengerang kesakitan dan penuh pilu, tubuh besarnya kembali disambar oleh peluru kedua.
Energi The Fallen yang berhasil menyusup ke dalam tubuh besar monster itu dalam sekejap menyerap semua darah di area sekitar lalu meledakkannya tepat di dalam tubuh Sang Monster. Bagai reka adegan film mundur, semua itu terjadi sangat cepat, bahkan bagi Adis yang memiliki penglihatan sangat jeli pun kesulitan untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Itu semua karena peluru kedua merupakan peluru sihir berkekuatan es yang digabung oleh energi kegelapan The Fallen. Tubuh monster yang meledak hebat itu membeku menjadi sebuah patung daging serta darah es.
Melihat serangannya berhasil, Adis menembakkan peluru ketiga yang langsung menghancurkan patung es tersebut hingga berkeping-keping.
【Selamat! Kau adalah orang pertama yang berhasil memusnahkan ancaman besar bagi keberlangsungan hidup orang banyak】
【Berkat jasamu dalam membantu para pengungsi di kamp evakuasi. Kau mendapatkan 100 vial】
【Selamat! Kau berhasil menyelesaikan misi darurat dalam mengalahkan monster berbahaya. Kau mendapatkan Soul of Terror x1 dan White Soul x500】
Adis pun jatuh terduduk sembari memegangi senapannya.
“I-itu sungguh tak terduga ...,” pungkasnya dengan raut berantakan.