
“Omong-omong kenapa kau masih mau membantuku, Randolf?”
Setelah sekian lama Adis menaruh rasa curiga dan juga keraguan, akhirnya ia mengungkapkannya dengan jujur. Ia tidak tahu apa alasan Randolf menolongnya hingga ke titik ini.
Namun, menurut pendapatnya setelah bertemu serta menolongnya dari The Tarnished People. Adis yakin jika Randolf memiliki tujuan lain dan ia merasa waswas dengan hal itu.
“Oya? Kenapa tiba-tiba menanyakannya?”
“Tidak. Hanya saja firasatku berkata demikian”
“Hahahaha. Tentu saja aku memiliki tujuan lain, tapi tidak hingga membuatmu waspada seperti itu”
“Jadi?”
“Hmm ... bagaimana jika aku menceritakannya sambil makan?”
Adis pun memiringkan kepalanya. “Makan?”
Randolf hanya memberinya senyum usil, setelah itu mereka berjalan menuju kamp para The Odd One.
Pria eksentrik itu langsung menyiapkan api unggun dan beberapa rasio makanan kecil yang dibagi menjadi beberapa bagian. Terdiri atas daging ayam, beberapa sayuran, makanan batangan, dan umbi-umbian yang ia ambil dari ransel kemudian diletakkan pada satu helai daun raksasa.
“Duduklah”
“Apa kau tidak keberatan dengan semua ini? Maksudku menawarkan makanan secara gratis”
“Anggap saja sebagai investasi masa depan”
“Investasi ... masa depan?”
Sang Kartografer mengangguk pelan sembari menyusun beberapa rangkai ranting kecil yang ditumpuk ke atas balok kayu.
“Setelah melihat tempat asalmu. Aku jadi tertarik untuk memetakannya”
“Tentang itu kau bisa mendapatkannya secara Cuma-Cuma di toko alat-alat ekstra”
“Itu dan ini berbeda. Merasakan, menyentuh, dan mengalaminya secara langsung selalu membuatku berdebar-debar. Karena itulah aku ingin mencobanya sendiri ... memetakan dunia yang belum pernah aku lihat sebelumnya”
“Pekerjaanmu unik juga, ya?”
Sudah lama sekali Adis tidak melihat orang seperti Randolf. Sosoknya yang menggebu-gebu dan penuh api semangat dalam mengarungi pekerjaannya membuat Adis sedikit iri. Pasalnya ia memang memiliki cita-cita yang ingin segera direalisasikan.
Namun, untuk beberapa alasan ia harus menundanya terlebih dahulu. Adis tidak tahu berapa lama ia bisa bertahan dan merelakan setiap kesempatan yang ada.
Mimpinya sebagai koki harus terhenti, tapi meski begitu ia juga sudah cukup senang dengan menjadi juru masak di panti asuhan. Mungkin itu adalah jalan lain yang bisa ditempuh olehnya dalam menggapai cita-citanya yang hampir pupus.
Kini di sampingnya seorang pria paruh baya yang eksentrik sedang menjelaskan seberapa hebat dan luar biasanya pekerjaan seorang Kartografer. Apalagi ketika mereka yang memiliki profesi ini menemukan dunia baru, dunia yang belum dijelajahi Kartografer lainnya dari Dunia Astal.
“Memang benar kalau melihat sesuatu yang baru dan menarik selalu menimbulkan tanda tanya besar. Namun, jika itu sesuai dengan selera kita sendiri, merasakannya secara langsung memanglah pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.”
Mendengar itu Randolf pun langsung berbunga-bunga.
“Benar, ‘kan?! Aku tahu kau pasti bisa mengerti perasaanku ini, pria kecil.”
Setelah itu, ia tertawa puas dengan ekspresi puas. Ini pertama kalinya Randolf tertawa lepas dengan lega dan bagi Adis yang menyaksikannya secara langsung pun ikut terbawa suasana.
Ia ingat momen-momen seperti ini selalu menjadi tradisi di panti asuhan. Makan bersama, saling berbagi cerita keseharian masing-masing, canda tawa, dan juga aktivitas lainnya persis seperti ini, itulah yang Adis pikirkan sembari melihat langit senja bersalju hitam.
“Kalau ada waktunya dan sempat, mungkin aku akan membawamu jalan-jalan, tapi dengan kondisi kacau seperti ini ... apa kau yakin masih ingin melakukannya?”
“Harus. Wajib. Apa pun kondisinya, aku harus melakukan pekerjaanku dengan segenap hati. Jika tidak, jiwa yang kami tanamkan dalam karya kami sebagai Kartografer akan memudar”
“Peta sama dengan sebuah karya, eh?” Adis tertawa kecil. “Ungkapan yang tidak buruk, tapi sebaiknya kau pikirkan lagi. Kalau memang seperti itu sepertinya aku tidak punya pilihan lain untuk terus bergerak maju dan menjadi lebih kuat”
“Itulah motivasi yang bagus. Untuk menjadi kuat demi keluarga?”
“Salah satunya itu dan lainnya mungkin menjadi pemandumu di dunia asalku.”
Tiba-tiba saja Randolf menepuk-nepuk punggung Adis dengan kuat.
“Hahahaha! Terdengar sangat menarik, aku sekarang jadi tambah menyukai dirimu, kawan kecilku,” pungkasnya dengan tawa terbahak-bahak.
“U-u-ughh! Woi! Jangan keras-keras!”
Namun, Randolf menghiraukan keluhan Adis, dan terus menepuk punggung pemuda itu tanpa henti hingga membuatnya terbatuk-batuk.
▼▼▼
“Kau perlu ingat bahwa setiap serangan memiliki esensinya tersendiri. Kau juga memerlukan tujuan yang pasti dan meyakini 100% bahwa tujuan itu berasal dari dalam hatimu.”
Adis kembali masuk dalam menu latihannya untuk menguasai senapan berburu. Kali ini sebelum pemuda itu memasuki zona merah alias zona di mana keberadaannya dapat dirasakan oleh The Rots, Randolf memberinya sedikit arahan.
“Meski pekerjaanku seorang Kartografer, tapi dalam mengarungi liarnya dunia ini, aku juga memerlukan keahlian untuk bertahan hidup. Karena itulah apa yang diperlukan olehmu saat ini adalah pengalaman yang terus diasah, berhentilah ketika tubuhmu lelah kemudian lanjutkan begitu jiwamu siap,” tuturnya sambil mengamati Adis dari samping kiri.
Astal adalah dunia liar di luar dugaan. Setiap entitas yang ada di dunia ini memiliki kekuatannya tersendiri, baik itu untuk kemakmuran serta kebahagiaan atau kesengsaraan dan penderitaan bagi penghuninya.
Hal itu dapat terlihat dari kegigihan Randolf dalam melakukan pekerjaannya sebagai seorang Kartografer alias orang yang memiliki keahlian dalam memetakan suatu tempat. Untuk dapat menarik garis dari satu titik ke titik lainnya pada sebuah kanvas ataupun kertas raksasa, ia perlu bertahan hidup, dan mengingat setiap detail tempat yang telah dikunjungi olehnya.
Bercermin dari pengalamannya yang sudah sangat lama. Ia memutuskan untuk mengajari Adis dalam latihannya. Ini bukan tentang profit, tapi tentang kepeduliannya terhadap sesama The Odd One.
Tidak ada yang tahu satu jam lagi seperti apa, satu hari? Atau bahkan satu bulan? Karena itulah esensi bertahan hidup dalam kegilaan dunia ini perlu Randolf ungkapkan melalui cerita serta perkataannya.
Ia bukanlah seorang pahlawan yang ditakdirkan, bukan juga penguasa dengan segala titahnya yang memiliki kekuasaan mutlak dalam kehidupan di Astal. Sosoknya hanyalah seorang pria paruh baya dengan hobi menggambar peta dalam sebidang kertas lebar nan kosong.
“Aku tidak tahu mengapa kau memilih senapan sebagai senjata utamamu, tapi dengan ini aku bisa memberimu sedikit tips tentang berbagai zona.”
Selagi Adis menyiapkan senapannya, Randolf terus menjelaskan berbagai hal seputar zona, dan kegunaannya dalam pertempuran.
“Terbagi menjadi tiga kategori dengan indikasi tiga warna yang melambangkan keberadaan. Hijau yang artinya aman, jauh dari sarang monster, tapi kau masih bisa melihat tempat mereka berkerumun. Zona ini memiliki jarak di atas 20 meter dari tempat targetmu.”
Randolf menaikan jari telunjuknya.
“Kedua adalah kuning yang artinya waspada. Targetmu mungkin telah mengetahui keberadaanmu, tapi tidak sepenuhnya. Zona ini memiliki jarak di bawah 15 meter dari tempat targetmu. Sedangkan untuk zona terakhir yaitu merah yang artinya bahaya. Ketika kau menginjakkan kakimu di zona ini, keberadaanmu mutlak telah diketahui oleh monster dan entitas berbahaya lainnya. Perlu diingat bahwa jarak zona ini berada di bawah 8 meter,” jelas Sang Kartografer sembari menaikan jari tengah dan manisnya.
Memang ... ini mirip sekali dengan gim RPG, pikir Adis.
“Senjatamu memiliki jarak serang yang sangat jauh, tapi kelemahannya berada pada seberapa cepat kau bisa mengisi kembali persediaan peluru ke dalamnya”
“Benarkah? Kalau begitu aku tidak perlu lagi menjelaskannya. Bersiaplah, kita akan segera memasuki zona kuning”
“Apa ada sebutan yang lebih singkat? Aku baru saja membaca tentang tingkatan benda dan senjata, tapi sepertinya ini juga ada sebutan khususnya, ya?”
Mulut pria eksentrik itu menyungging kecil.
“Kurang lebih. Lagi pula ini sebutan yang biasa kami The Odd One gunakan dalam berburu atau sedang dalam misi penjelajahan”
“Hooo. Bisakah kau memberitahuku,” pinta Adis sehabis menyelesaikan persiapan senapannya.
“Dimulai dari zona hijau, varadus. Zona kuning, fladis. Dan yang terakhir adalah Zona merah, radis. Setelah ini aku akan menjelaskannya dengan sebutan, kau tidak masalah, ‘kan?”
“Varadus, Fladis, Radis.” Adis menggumamkannya seperti berusaha mengingat-ingatnya dengan baik. “Ya. aku tidak masalah”
“Bagus.”
Sebelum Adis terjun ke dalam zona berburu miliknya, Randolf menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi seorang penembak seperti Adis.
“Ada dua hal yang berlaku dan spesial bagi orang dengan senjata utama senapan atau senjata jarak jauh lainnya”
“Serangan kritis?”
“Hahaha! Sejak kapan kau mengetahui hal yang seharusnya diingat oleh para pengguna senjata jarak dekat?”
“Eh? Jadi aku salah, ya?”
“Tidak terlalu, tapi itu sebutan yang keliru. Bagi para pengguna senjata jarak jauh, baik itu serangan fisik atau sihir, kami menyebutnya sebagai zravitas—zero null. Ini adalah sebutan bagi seorang penembak jarak jauh ketika memasuki mode fokus tinggi sehingga penglihatannya menajam beberapa kali lipat dan mendapat bantuan dari atribut kegelapan”
“E-ehh?! Kok bisa?”
“Biar kutunjukkan padamu. Bolehkah?”
Melihat sikap Randolf yang mengulurkan tangannya, Adis langsung mengerti, dan meminjamkan senapan miliknya.
“Terima kasih.”
Setelah itu, pria eksentrik tersebut berjalan menuju Fladis. The Rots yang terlihat santai tiba-tiba menegang dan tubuh mereka berdenyut kuat.
Posisi Randolf semakin dekat dan dekat dengan para tikus-tikus busuk itu. Ketika antena bahaya mereka mulai bereaksi terhadap kehadiran Randolf yang semakin dekat, mereka pun mulai menyiapkan kuda-kuda.
Begitu pria paruh baya itu menginjakkan kakinya ke Radis, semua tikus-tikus yang sebelumnya waspada langsung menyerbu dirinya.
Sama seperti sebelumnya, The Rots yang berlari ke arah Randolf berjumlah delapan ekor, dan mereka terlihat tidak segan-segan untuk langsung menyerang pria itu tanpa ampun. Di sisi lain ekspresi Randolf tenang, ia sama sekali tidak gentar, pijakkan kakinya kuat, dan tatapan matanya fokus pada tujuan.
Mengarahkan senapan di tangan kanannya ke arah Teh Rots. Kedua iris matanya perlahan meninggalkan garis jejak aura yang samar, melayang perlahan, dan begitu tarikan napas kedua keluar secara perlahan. Ia pun melepaskan tembakan yang sangat kuat.
Jalur lintas tembakan pelurunya bahkan mengeluarkan aura kehitaman. Ketika salah satu The Rots melompat tinggi, peluru dengan satu arah itu menariknya kembali ke bawah kemudian menghantam kuat semua tikus-tikus busuk yang berada di dalam jalannya dengan aura hitam.
Alhasil mereka semua langsung terkapar dengan kondisi kritis. Tidak musnah menjadi debu hitam yang mengeluarkan jiwa-jiwa tersesat, tapi masih hidup hanya saja dalam keadaan setengah mati.
Setelah itu Randolf melirik Adis sembari memberinya seringai tipis lalu ia beranjak kembali menuju tempat kawan kecilnya itu.
Adis pun langsung terpukau dengan serangan yang dilepaskan oleh Randolf. Padahal peluru yang ia masukan ke dalam senapan itu hanyalah peluru biasa dan bukan peluru sihir.
“Ambil lagi senapanmu ini. Merasa takjub dengan kemampuanku, eh?”
“H-hei ... apa yang baru saja terjadi? Kenapa tikus itu bisa seperti ditarik oleh peluru? Terus kok masih hidup?” tanya Adis dengan ekspresi bodoh.
“Hahahaha! Aku suka ekspresi itu.”
Tidak lama kemudian Randolf menjelaskan semuanya dengan cukup singkat dan juga detail.
Zero null bukanlah mode di mana setiap serangan akan mutlak menghabisi target sasarannya. Justru sebaliknya, mode fokus tinggi ini menciptakan momentum kuat lalu memanfaatkannya demi mendapatkan percikan atribut kegelapan dengan meminjam kekuatan berkah The Fallen.
Tujuan dari serangannya adalah untuk melemahkan musuh dan membuat setiap monster yang terkena serangan ini terkapar tak berdaya. Namun, tentu saja semua itu juga hanya berlaku jika kekuatan fokus serta faktor-faktor lainnya terpenuhi.
Semisalnya adalah status ketangkasan, kekuatan, dan intelijen berada di atas rata-rata. Karena kekuatan ini bukan hanya memerlukan keahlian semata saja, tapi juga mental, serta kesiapan akan reaksi penolakan apabila terjadi kesalahan.
Jika berhasil, maka monster akan dilemahkan bahkan dibuat tidak berdaya, dan begitu juga sebaliknya.
“Biasanya zero null hanya digunakan ketika berhadapan dengan makhluk besar dengan kekuatan yang menakutkan, tapi kali ini aku mendemonstrasikannya kepada para tikus-tikus itu. Sekarang kau sudah mengetahuinya dan kuharap bisa menguasainya suatu saat, Adis”
“Whoaaa~ jadi ada yang seperti itu juga, ya? sungguh ajaib”
“Hehehe. Teruslah memujiku, wahai pria kecil”
“Tapi, masih ada yang belum aku mengerti—“
“Untuk itu kita simpan untuk nanti. Sekarang lakukanlah pekerjaanmu dengan baik,” potong Sang Kartografer sembari melirik kumpulan The Rots yang tidak berdaya.
“Ya.” Adis mengangguk mantap.
【Kau berhasil membasmi sekumpulan The Rots, mendapatkan 80 vial】
Dan begitulah akhirnya. Adis menyelesaikan urusan yang belum diselesaikan oleh Randolf sehingga ia bisa mendapatkan vial dan juga pengalaman tambahan untuk bertambah kuat.
Dalam waktu satu minggu ia terus berlatih dengan bimbingan Randolf. Memburu The Rots dengan berbagai taktik dan langkah mematikan, membasmi mereka berulang kali seolah-olah anak-anak prematur The Plague itu adalah samsak berjalan.
Semakin hari kondisi mental Adis dilatih menjadi matang dan siap untuk menghadapi segala bahaya yang akan menantinya begitu ia kembali ke Bumi. Pada awalnya ia ingin segera pulang, tapi Randolf mencegahnya karena kekuatannya belum cukup untuk melawan monster-monster di Bumi.
Pria eksentrik itu memberikan dua syarat untuk Adis jika ia ingin pergi kembali ke bumi. Pertama adalah terus berlatih hingga semua keahlian serta kecakapannya mencapai tingkat menengah dan yang kedua adalah untuk memperkuat kekuatan mentalnya dalam mengambil keputusan.
Semua itu ia perlukan untuk menghadapi teror tak menentu yang akan datang. Selain itu, menurut pengakuan Randolf, celah di mana tempat persimpangan distorsi ruang dan waktu hanya akan muncul dua minggu sekali di tempat-tempat tertentu.
Sebelum celah retakan itu muncul kembali, Adis perlu mengembangkan setiap aspek yang diperlukan untuk bertahan hidup. Bukan hanya untuk keberlangsungan hidupnya saja, tetapi juga sebagai pengingat bahwa ia akan membawa Randolf menjelajahi kota tempat kelahirannya tersebut.
Di sisi lain, kondisi Bumi semakin memburuk dengan gelombang monster yang terus berdatangan dan membumi hanguskan satu-persatu kota di seluruh negara. Banyak sekali korban yang berjatuhan dan tidak ada yang mengetahui dari mana mereka berasal.
Tidak terkecuali kota tempat kelahiran Adis, yaitu Kota Bandung.
Saat ini kota tersebut sudah memasuki siaga lima yang artinya masuk ke dalam kategori paling berbahaya. Perang akan segera dimulai dan tidak ada yang bisa menghentikan perintah langsung itu dari petinggi militer.
Semenjak kemunculan salju hitam yang melanda seluruh dunia, perlahan-lahan Bumi memasuki krisis paling mengerikan sepanjang sejarah. Dan melihat penderitaan orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan Sang Pengamat, bocah itu hanya tersenyum lebar tanpa peduli dengan nasib penghuni Bumi.
“Hehehehehe~ Teruslah bertarung, tunjukkan padaku seberapa kuat kegigihan kalian dalam bertahan hidup melawan anomali Astal~ hehehehe~”