
"Haaaa!"
Adis menerjang The Rots dengan perasaan waswas dan juga tegang. Hatinya yang terus berdetak kencang tak henti-hentinya memperingati Adis akan bahaya yang akan dihadapi olehnya.
The Rots pun tak kunjung diam. Mereka mendesis layaknya ular kemudian mendecit. Seperti pertanda siap dan akan menerjang, semua tikus busuk yang mengelilingi Adis langsung berlari memperlihatkan gigi tajam serta cakar bau amis.
Pada dasarnya sifat tikus tidaklah agresif, terkecuali jika mereka merasakan bahaya yang mengancam, maka sifat pasif mereka akan berubah 180 derajat. Apalagi jika yang mereka serang adalah seorang pengelana tersesat yang memiliki bau jiwa sedap.
Mata mereka terpaku pada Adis. Kedua mata merah kecil mereka hanya melihat mangsa dan bukanlah ancaman. Tanpa rasa takut, mereka langsung mengepung pemuda itu dengan decit penuh sukacita.
Namun, Adis sendiri tidak gentar. Sebagai seorang Kakak, pekerjaannya bukan hanya membantu Sang Ibu, tetapi juga membereskan masalah yang terjadi di rumah mereka. Baik itu pertengkaran kecil, perebutan makanan, bersih-bersih, mengajar, dan pekerjaan sederhana seperti membasmi tikus nakal yang berusaha mencuri makanan.
Di saat para tikus busuk itu berusaha menyerang Adis dengan cakarnya. Adis sendiri berguling ke samping dan berhasil menghindari serangan mereka.
Seekor tikus muncul dari dalam sumur tua. Moncongnya mencuat dan terlihat oleh Adis, memanfaatkan kesempatan itu, ia pun langsung menghunjam makhluk busuk itu dengan pisau.
Sang tikus mendecit kesakitan, darah ungu keluar, dan tubuh kecilnya tumbang menerjunkan diri ke dasar sumur tua.
[Kau berhasil membasmi The Rots, mendapatkan 10 vial]
[Kau berhasil membasmi The Rots, mendapatkan 10 vial]
"Haahhh ... dengan ini dua tikus busuk berhasil kuatasi, sisanya enam lagi."
Demi keluargaku, adik-adik, serta Ibu ... aku tak akan kalah dari sekumpulan makhluk jelek seperti mereka, pikir Adis.
The Rots kembali mendecit, tapi kali ini mereka langsung menerjang Adis dengan mata merah darah. Seolah-olah marah karena keluarga mereka dibunuh oleh seorang manusia, aura hitam yang samar terlihat keluar dari seisi bulu hitam yang sudah bau.
Adis pun menyadari perubahan kecil yang terjadi pada para tikus busuk itu. Ia pun meneguk ludahnya sendiri dan terlihat keringat dingin mengalir dari dahinya.
Tikus-tikus itu pun kembali mendecit, tapi kali ini lebih histeris, dan intens. Begitu mereka berlari, kecepatan berlari mereka bukan lagi seperti sebelumnya, bahkan Adis sendiri cukup kesulitan untuk menangkap pergerakan mereka.
Seekor The Rots berhasil kabur dari perhatian Adis dan begitu ia sadar, sang makhluk busuk itu telah berhasil menggores kaki kiri Adis dengan cukup keras.
"Ughh!!—"
Kemudian disusul oleh The Rots lainnya yang menyasar kaki kanan. Mereka seperti satu pasukan kecil yang terkoordinasi dan memiliki rencana dalam menghadapi Adis. Kecepatan dan serangan mereka jadi lebih terarah.
Sekali lagi Adis menerima serangan tepat di bagian kaki kanannya, alhasil sang pemuda tersebut menggeram, dan jatuh berlutut.
Ekspresinya pun kini terdistorsi dan seperti ingin berteriak keras, tetapi Adis lebih memilih untuk menggigit lengan kirinya sembari meneriakkan rasa frustrasi itu di dalam hatinya sekuat mungkin.
The Rots kembali mendecit seakan menertawakan Adis dengan suara khasnya.
Namun, para tikus busuk itu tidak membiarkan Adis beristirahat dengan tenang. Mereka kembali menerjang pemuda tersebut secepat angin. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha melubangi perut Adis dengan lompatan nekat, sayangnya serangan itu berhasil diantisipasi oleh Adis dengan tepat.
Jika seandainya ia gagal dalam menggagalkan serangan itu, maka mungkin saja perutnya sudah berlubang membuncahkan darah segar.
"S-sial! Mereka terlalu cepat—t-tunggu sebentar, poinku!"
Seakan mendapatkan wejangan, Adis tiba-tiba saja ingat akan status poin atributnya. Ia pun langsung memunculkan panel informasi mengenai statusnya.
Benar saja, masih ada tiga poin yang belum aku distribusikan. Jika aku menambahkannya pada agility mungkin aku bisa mengikuti kecepatan mereka, pikirnya.
Tanpa berpikir lebih panjang, Adis pun menekan simbol tambah pada bagian samping status agility, dan poin status yang sebelumnya hanya empat kini meningkat menjadi tujuh.
[Status]
Stenght: 6
Agility : 4 –> 7
Endurance : 4
Intelligence: 4
Wisdom : 6
[Poin Distribusi: 0]
"I-i-ini? T-t-tubuhku—"
Sayangnya para tikus busuk yang mengelilingi Adis sama sekali tidak ingin memberikan napas kepada mangsa mereka. Dengan cepat dan ganasnya, sekali lagi mereka menyerang Adis dengan kecepatan angin.
Namun, apa yang mereka tidak sadari adalah perubahan yang terjadi pada tubuh Adis terjadi dalam satu kedipan mata. Begitu decit para The Rots saling beresonansi satu dengan lainnya, tubuh Adis bergerak dengan refleks yang lebih cepat daripada gerakan mereka semua.
Menyadari serangan mereka gagal, The Rots langsung bermanuver, tetapi kecepatan Adis lebih cepat. Pemuda itu berhasil menancapkan pisaunya pada tikus busuk yang berada di dekat sumur tua.
"Sekarang tinggal tiga lagi ... dan yang di dalam, dua?" tanyanya sendiri sembari mengatur napas.
Kini target yang tersisa untuk dibereskan oleh Adis tersisa lima lagi. Tiga di luar dan dua di dalam. Dengan mempertimbangkan segala cara dan juga hal lainnya, Adis hanya bisa mengeratkan gigitnya sambil menatap lurus ke depan.
Ia telah memaksakan dirinya sendiri untuk bergerak. Dari luar mungkin sosoknya terlihat biasa saja, tetapi pada kenyataannya pemuda tersebut sedang menahan rasa sakit.
Aku tidak tahu berapa lagi bisa menahan rasa sakit ini, tapi aku juga tidak bisa tumbang di sini, pikirnya.
Sosok Adis memang bukanlah seorang yang pemberani ataupun mereka dengan kelebihan anugerah. Namun, dorongan yang selalu memompa jantungnya untuk terus bergerak adalah keluarganya sendiri.
Mereka bukanlah keluarga yang sesungguhnya—terhubung oleh darah dan terlahir dari orang tua yang sama, melainkan mereka lah yang menerima keberadaan Adis semenjak kedua orang tuanya meninggal sembilan tahun yang lalu.
Sebagai seorang anak yatim piatu yang tak memiliki keluarga asuh ataupun sanak-saudara yang tidak ingin menerimanya menjadi keluarga, hanya panti asuhan itulah yang menerimanya dengan kedua tangan terbuka.
Ia pun mengeratkan genggaman tangannya pada pisau. Wajahnya mulai berkeringat, dengan celana jins yang lusuh serta robek, dirinya masih berdiri tegar. Tidak ada keluh yang terlihat dari ekspresi pemuda tersebut dan yang terlihat hanya sebuah resolusi untuk bertahan hidup.
"Majulah, tikus bajingan!" teriaknya tak gentar.
The Rots kembali mendecit dan mereka mulai melakukan serangan balasan. Satu dari kiri, dua lagi dari kanan, sedangkan bagian tengah kosong. Adis tak mengerti kenapa tidak ada yang mengambil jalur tengah, mungkin mereka tidak ingin berhadapan langsung dengan Adis karena takut, atau mungkin karena alasan lain.
Meskipun begitu, pemuda berambut hitam itu tidak mengambil langkah tiba-tiba, dan tetap diam mengamati pergerakan The Rots dengan tenang.
Begitu telinga kirinya menangkap suara decitan, kaki kirinya melangkah mundur, dan untuk ke sekian kalinya Adis berhasil menghindari serangan ganas sang tikus busuk yang melompat tajam mencoba mengoyak wajah tampannya.
Di sisi lain kini telinga kanannya lah yang bergerak mendapati suara decitan lain. Adis mengambil langkah cepat dengan melompat ke belakang, kemudian ia mengambil ancang-ancang lalu menerjang menyerang balik serangan tikus busuk yang gagal menghantam tubuh rampingnya.
Begitu dua tikus busuk itu berputar, apa yang mereka hadapi adalah seorang manusia tinggi yang tengah melesatkan tendangan kuat. Tanpa bisa menghindari serangan itu, kedua tikus busuk itu pun langsung terempas jauh menghandam dinding kayu rumah terbengkalai.
Memanfaatkan momentum tersebut, Adis lekas berlari kembali. Kali ini ia mengayunkan pisaunya secara horizonal dan menukik cepat layaknya serangan burung elang.
The Rots yang terempas itu jatuh dengan keadaan pincang dan begitu mereka mendecit untuk saling mengabari. Sayatan panas nan cepat tanpa keraguan telah mendarat tepat di bagian punggung mereka sangat lebar.
Darah pun membuncah kuat, tubuh kedua tikus busuk itu menggeliat kuat tak karuan. Adis yakin jika kedua makhluk menjijikkan itu telah tamat, kini ia berbalik menghadap mangsa selanjutnya. Namun, apa yang ia tidak sangka adalah kemunculan tikus busuk terakhir yang seharusnya ia basmi telah berada tepat di hadapannya melompat tinggi.
"G-guhh! Haaaa!!—"
Untungnya refleks Adis sangat cepat dan ia langsung mengarahkan pisaunya tepat ke arah The Rots terakhir. Bukannya mendapatkan daging segar, tikus busuk itu malah mendapatkan besi keras nan tajam masuk ke dalam mulutnya.
Jika berada dalam keadaan normal tubuh tikus sendiri tidak lebih dari tangan orang dewasa atau anak kecil. Namun, The Rots yang Adis basmi memiliki ukuran tubuh satu setengah lebih besar dari ukuran tangan orang dewasa. Karena itulah saat ini Adis terlah seperti sedang menyate seekor tikus besar.
Darah merembes keluar dari sekujur tubuh tikus besar itu dan untuk beberapa saat setelah menggeliat akhirnya tidak terlihat ada tanda-tanda kehidupan.
[Kau berhasil membasmi The Rots, mendapatkan 10 vial]
[Kau berhasil membasmi The Rots, mendapatkan 10 vial]
[Kau berhasil membasmi The Rots, mendapatkan 10 vial]
Setelah menghadapi semua tikus busuk bertanduk itu lutut Adis bergetar dan pada akhirnya ia jatuh terduduk dengan perasaan lega.
Dan sayangnya, momen lega itu tidak bertahan lama karena ia kembali dikagetkan oleh kemunculan The Rots terakhir yang bersembunyi di dalam rumah. Kedua tikus busuk itu menerjunkan diri dari lantai dua.
The Rots ... nama yang mengindikasikan arti kebusukan. Mereka juga memiliki antena penghubung di dalam kepala mereka yang mana dapat menransferkan kejadian di sekitar mereka.
Kedatangan dua tikus busuk yang menerjunkan diri itu tidak lain karena merasakan bahwa keluarga mereka sedang berada dalam keadaan bahaya. Karena itu sebagai anggota yang tersisa mereka pun datang dan mencoba memeriksa keadaan di luar.
Namun, refleks mangsa yang coba mereka serangan sangat cepat. Adis dengan mudahnya berguling ke samping, bangkit kembali lalu langsung menerjang The Rots terakhir.
Dengan tingkat kecepatan serta kelincahan yang dimiliki oleh pemuda itu, dua tikus busuk yang terlah mendarat langsung dilibas dalam satu tusukan, dan satu sayatan beruntun.
[Kau berhasil membasmi The Rots, mendapatkan 10 vial]
[Kau berhasil membasmi The Rots, mendapatkan 10 vial]
"Dengan ini semuanya telah berakhir. Ini bukan lagi di dalam rumah, tapi aku seperti mengerjakan pekerjaan lapangan ... hahh ... huhh ... hahh. Ah! ekornya!"
Untuk menyelesaikan permintaan dari Kraun, Adis memerlukan beberapa ekor The Rots sebagai bukti bahwa ia telah berhasil menyelesaikan permintaan itu. Dan tanpa basa basi lagi ia segera mengerjakan pekerjaan terakhir
"Mungkin tempat ini tidak buruk juga, lagi pula aku terlalu lelah untuk berjalan ke Toko Kraun," gumamnya lalu memandangi rumah tua di depannya dari bawah ke atas.
Adis pun berjalan ke dalam rumah dengan langkah tertatih. Kondisi kakinya tidak memungkinkan ia untuk berjalan ke Toko Kraun, karena itu ia memutuskan untuk mengistirahatkan kakinya di dalam rumah.
Hal pertama yang menyambutnya begitu membuka pintu ialah sebuah ruang makan yang terbagi menjadi dua bagian. Pertama, meja makan lengkap dengan sofa dan kedua, sebuah dapur sederhana yang kotor. Di bagian kirinya terdapat dua pintu sedangkan bagian kanan adalah tangga menuju lantai dua.
Adis pun memutuskan untuk membaringkan tubuhnya ke atas sofa. Terlelap begitu menyentuh kelembutan kapas sofa, pemuda itu langsung terkapar dengan raut wajah yang tenang seakan ia merasa aman berada di dalam rumah.
Padahal sebelumnya ia telah membasmi sekumpulan The Rots dalam pertarungan tegang penuh aksi. Meski ia adalah seorang mahasiswa yang belum memiliki pengalaman dalam pertarungan, tetapi pengalamannya dalam berburu tikus dengan karung goni, ember, pisau, dan beda tajam telah membuatnya terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Tidak lama setelah tubuhnya rileks dan mendapatkan nutrisi tenaga kembali. Adis pun terbangun dengan keadaan tubuh yang cukup segar.
"Hmm ... hnm? Ah ... sepertinya aku ketiduran ...."
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, tetapi dengan ini aku tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan kakiku. Memang benar ini belum sembuh total ..., tapi aku harus tetap bergerak, selain itu ... aku juga lapar.
Tidak ada jalan lain, mungkin aku harus memeriksa rumah ini. Aku ingat ada kemungkinan jika barang langka. Aku juga sudah mengumpulkan ekor tikus, sisanya memang memeriksa rumah ini, huh? Pikir Adis.
Setelah itu, Adis mulai memeriksa satu persatu tempat dengan seksama. Mulai dari ruang tengah hingga belakang, bagian samping yang berupa kamar biasa, tapi yang ditemukan olehnya hanyalah pakaian biasa, dan juga perabotan rusak.
Hingga akhirnya menuju lantai dua yang berupa tempat kosong yang mengarah langsung menuju balkon. Di sana ia menemukan sebuah peti rusak. Terdapat sebuah lingkaran kuning pasi menyala di bagian bawahnya.
"Sebuah peti?"
Apa aku bisa membukanya, tapi ... bagaimana caranya? Pikir Adis.
"E-eh?"
Namun, entah kenapa tangan Adis bergerak sendiri, dan berusaha meraih peti itu. Begitu jari telunjuknya menyentuh layer cahaya samar yang mengelilingi peti itu, tubuh Adis pun tiba-tiba langsung terkejang-kejang seolah-olah ia disambar oleh petir.
"G-grahahahahhhh!!!—"
Seperti reka film yang diputar ulang, bayang-bayang serta gambaran masa lalu bermunculan di dalam kepala Adis. Satu-persatu gambar yang tidak ia ketahui dan juga aneh masuk lebih dalam menceritakan apa yang terjadi pada Blightmire di masa lalu.
Semua itu berlangsung sangat cepat hingga membuat Adis jatuh berlutut. Tubuhnya mengeluarkan uap semu dan mulutnya menganga. Dan untuk kedua kalinya ia kembali tumbang, tapi bukan karena rasa lelah atau sakit yang menyengat melainkan dibawa masuk oleh entitas penjaga peti yang selalu menunggu kedatangan seorang pengelana membawanya keluar dari dalam peti tersebut.