
Setelah berhadapan dengan The Rots Adis pun terlelap di atas ringannya kapas sofa, tapi rasa kantuk yang tak bisa digambarkan secara sederhana kini kembali memakan kesadaran pemuda tersebut.
Ia seperti diundang oleh sesuatu yang tak kasat mata. Menunggu seorang untuk datang hanya untuk menariknya ke dalam jurang kegelapan. Tersesat dalam kehampaan tiada batas, tubuh sang pemuda tersebut terus tenggelam lebih dalam ... dalam ... dalam ... dan lebih dalam.
Tidak lama kemudian tubuh Adis membentur sesuatu yang lembut dan memantul kembali hanya untuk di hadapkan pada sesuatu yang tak biasa.
“U-ughh ... kepalaku, kenapa terus seperti ini? Apa tempat ini membenciku?”
Tepat setelah tubuhnya terbentur, kesadarannya pun ikut terbangun. Dengan geraman nyeri, Adis mulai mengusap belakang kepala lalu ke belakang pinggulnya.
“A-apa—hngg!!—“
Namun, begitu matanya terbuka lebar. Apa yang disaksikan oleh kedua mata normal miliknya adalah suatu keabsurdan. Ia tidak bisa mendeskripsikannya dengan baik dan tak henti bergetar karena syok.
Selagi matanya terus memelototi makhluk yang ada di depannya. Adis pun berusaha menguatkan dan memberanikan diri untuk melihat sosok itu.
Dengan lingkungan berupa pesisir pantai di tengah malam. Lautan tenang diterangi bulan hitam, bintang-bintang pun terlihat gundah ketika menyinari seisi langit. Pohon-pohon dengan batang mati busuk terlihat tumbuh di sepanjang sisi dan kanan Adis.
Pasir putih, tapi lebih terlihat seperti pucat. Ketika Adis mencoba untuk berdiri, tubuhnya kembali ditekan oleh aura tak terlihat, dan akhirnya jatuh dengan posisi duduk dengan tulang kering kaki.
Meski matanya terus melebar dan dipenuhi oleh rasa takut. Mulutnya yang berusaha mengaga terus ia pertahankan agar tetap tertutup.
Tubuhnya besar. Hampir menutupi seisi langit. Terdapat sembilan sayap busuk yang kontras dengan sayap satu dan lainnya. Selain itu berbagai macam rantai bermunculan dari seisi tempat itu yang mengekang keberadaannya.
Bertaring lebar dengan iris mata tajam. Memiliki moncong, tapi tak mendengus. Asap hitam menyelubungi tubuhnya bagai selimut di malam hari. Tak jelas dan terlihat tak kasat. Memiliki raga layaknya makhluk hidup, tapi di saat yang sama juga tak terlihat karena bulan hitam menyembunyikan sosok asilnya.
Begitu makhluk tersebut menggeram halus, jantung Adis pun berdetak kencang. Pemuda tersebut langsung terkapar sambil kejang-kejang.
Sebuah tekanan yang sangat kuat meski nyatanya hanya sebatas geraman pelan tanpa indikasi niat menyerang. Namun, raga serta jiwa Adis terlihat memberontak, dan alhasil ia pun terkapar seperti orang mati.
Mulutnya berbusa dan pikirannya kacau balau. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama begitu setitik cahaya muncul dari tangan kanan Adis.
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, resistensi kekebalan jiwamu terhadap atribut kerusakan telah meningkat “sedikit”】
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, resistensi kekebalan jiwamu terhadap atribut kerusakan telah meningkat “sedikit”】
Perlahan, tapi pasti kondisi Adis mulai membaik. Kompleksititas ekspresinya pun jauh lebih hidup dan aura kerusakan yang sebelumnya merayapi tubuh pemuda tersebut ikut lenyap.
Makhluk misterius itu menyeringai kecil. Matanya berkedip beberapa kali dan perhatiannya kini tertuju pada Adis yang mencoba bangun.
【Xaenayrth, Sang Overlord mulai tertarik dengan keberadaanmu】
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, Xaenayrth tidak menganggapmu sebagai penyusup】
Xaenayrth pun mendengus. Makhluk besar penguasa tempat hampa itu mulai membuka mulutnya.
“Teman ... ? The ... Child?”
Suara sang penguasa tempat itu langsung masuk ke dalam kepala Adis. Nadanya saling bergema dan berat, tidak seperti seorang laki-laki dewasa ataupun perempuan dengan suara bas. Tak memiliki gender dan tak juga memiliki sifat selayaknya makhluk hidup.
Sontak Adis yang baru saja ingin duduk dan mengolah semua pemandangan yang dilihatnya langsung tersentak. Wajahnya menjadi pucat dan keringat dingin membasahi dahi serta punggungnya.
Menurut catatan sejarah Astal yang telah dibukukan yang sayangnya hilang oleh kekuatan misterius. Selain keberadaan 14 penguasa dan Sang Penengah alias The Child. Ada satu keberadaan anomali yang muncul dan tidak bisa dijelaskan oleh legenda serta mitos-mitos belaka.
Tidak ada yang bisa melihat seperti apa sosok sebenarnya dari makhluk itu, namun ada yang mengatakan jika bentuknya sendiri tak berbentuk. Hanya satu hal yang bisa dipastikan dan faktanya mereka yang melihat itu langsung terkapar dengan jiwa hancur.
Begitu makhluk itu menyeringai, maka langit pun akan terbelah seperti disobek secara paksa. Rangkaian taring tajam penuh racun akan mencuat dari setiap pinggirnya menyebarkan miasma hitam pekat.
Untungnya Adis memiliki berkah pemberian Pandora yang tak sengaja ia dapatkan ketika waktu kecil. Berkat berkah inilah ketahanannya terhadap sifat korosif atribut kerusakan milik Xaenayrth tidak sekuat saat pertama kali ia bertemu.
Sang Overlord kemudian menyeringai, menahan tawa yang tak kunjung terlihat. Sosoknya mulai condong sedikit ke arah depan, berusaha menatap makhluk rendah yang ia sebut sebagai manusia.
“Kau ... menarik ....”
Lagi-lagi suara itu muncul di dalam kepala Adis dan membuatnya kembali tersentak. Untungnya kali ini ia tidak jatuh karena keterkejutan yang tak biasa.
“Ini ... semakin ... menjadi ... tidak ... beraturan ....”
Adis pun berusaha mempertahankan dirinya dari serangan mental. Meski menurutnya itu adalah sebuah serangan mental, nyatanya suara yang muncul tiba-tiba itu merupakan bentuk komunikasi Sang Overlord kepada Adis. Hanya saja pemuda berambut hitam itu tidak menyadari.
“The ... Child ... “
“U-ughhh ....”
Setiap kali Xaenayrth mengeluarkan suara. Vibrasi nada dari suara miliknya itu langsung menggetarkan telinga serta menginvasi kepala Adis. Sembari memegangi kepalanya yang sakit, Adis pun mendongak, menatap suatu anomali untuk memastikan apakah “hal” yang berhasil ditangkap oleh kedua matanya itu nyata atau sekedar ilusi.
Tubuhnya masih gemetar. Kakinya yang terus dihantam oleh rasa lemah masih berdiri tegak mempertahankan tubuh utama dari gempuran aura kerusakan.
“S-s-siapa? ... “
“Hmmm.” Sang Overlord Menyeringai. “Makhluk ... mortal ... hina ... dan ... menjijikkan. Kami ... menyukai ... nyalimu.”
Setelah itu sosok Xaenayrth menghilang menjadi ledakan pasir hitam kuat. Adis pun terempas hebat hingga menghancurkan ruang isolasi milik Sang Overlord menjadi berkeping-keping.
Namun, sebelum kesadarannya menghilang akibat ledakan itu. Adis menangkap suara halus yang sangat dingin dan langsung membuat semua bulu kuduk di tubuh rampingnya berdiri.
—Darah ... atau Nyawa ....
▼▼▼
“Whuoaaa!!!—“
Seperti genderang tabuh yang berdebum kuat, teriakan lantang nan histeris itu langsung membangunkan Adis dari tidurnya.
Dengan ekspresi pucat penuh rasa kehororan itu, Adis memeriksa dirinya sendiri apakah ia masih hidup atau tidak dengan meraba-raba sekujur tubuhnya.
Setelah yakin bahwa raga serta jiwanya masih menyatu. Adis pun mengembuskan napas lega.
“A-a-ahh ... hahh ... huhh ... hahh. Apa-apaan tadi?” tanyanya sendiri sambil meremas tangan yang masih gemetar.
Jika bukan karena berkah dari Pandora, mungkin kondisi mental Adis telah hancur. Menghadapi sosok astral yang ditakuti bahkan oleh para penguasa itu bisa dikatakan sebagai anugerah terselubung atau sebuah bencana tak terlihat bagi Adis.
“P-peti? ... ah!” Seakan semua nyalinya telah berkumpul, Adis kembali menyadari bahwa dirinya masih berada di lantai dua rumah terbengkalai. Alhasil kini pandangannya mengarah pada peti kusam nan berlumut yang ada tepat di hadapannya.
Benar ... aku baru saja selesai dengan tikus-tikus itu, begitu berjalan ke lantai dua, aku menemukan peti ini. Terus tanganku bergerak sendiri dan .... Itulah pikirnya sembari memeriksa kedua tangannya.
Namun, rasa cemas itu tiba-tiba saja hilang seperti dilenyapkan oleh sesuatu. Kini perhatian Adis kembali lagi ke arah peti di depannya.
Ia pun bangkit lalu mencoba meraih peti tersebut dengan ragu-ragu. Di sekitar benda itu tidak ada layer cahaya, tidak ada perangkap, ataupun hal-hal yang membahayakan lainnya. Namun, jauh di dalam kepalanya, ia mulai bisa menangkap anomali dan beberapa fenomena aneh lainnya di Astal ini. Karena itulah, meski tidak tampak bukan berarti aman.
Beranggapan demikian, tangan kanan Adis perlahan-lahan mendekati peti. Begitu ia berhasil menyentuhnya, Adis pun yakin bahwa tidak ada keganjilan apa pun di sekitar peti berlumut itu.
Napasnya mulai naik-turun, berusaha untuk menenangkan diri, tapi pengalamannya ketika bertemu Xaenayrth masih menghantui dirinya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika membuka peti itu, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan kesempatan yang langka.
Bercermin dari pengalamannya sebagai yatim piatu. Untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari saja sudah cukup sulit, apalagi jika harus membaginya dengan semua saudara di panti asuhan.
Berawal dari rasa kekurangan, Adis mulai mencari kesempatan di setiap saat untuk menghasilkan uang, dan membelanjakannya hanya di saat tertentu saja—diskon mingguan, bulanan, tahunan, atau ketika pada hari spesial yang menyertakan harga murah.
Peti di depannya persis seperti potongan harga. Pakaiannya lusuh dan celana bawahnya robek karena terkena serangan The Rots. Apalagi setelah kejadian hancurnya gedung fakultas, baju dan jaketnya kotor. Ia memerlukan pengganti dan kebetulan sekali, hadiah dari penyelesaian permintaan Kraun ini adalah satu perlengkapan pakaian.
Mungkin di dalam peti ini ada sesuatu yang dapat berguna, itulah pikirnya dengan jantung yang terus berdetak cepat.
Terkadang ekspektasi tidak seindah kenyataannya, karena di dunia ini tidak ada yang bisa menjamin apakah isi dari peti rusak nan berlumut itu dapat berguna atau tidak. Mungkin hanya sebatas barang rongsokan yang dibuang atau benda-benda tak berguna seperti lukisan robek dan barang-barang rusak lainnya.
Namun, meski itu hanya 1% dari kemungkinan untuk mendapatkan sesuatu yang bagus. Tidak ada salahnya untuk mencoba dan meyakini kemungkinan tersebut dapat memberi kejutan tak terduga.
“Sebuah cincin dan gulungan kertas?”
Adis pun memiringkan kepalanya lalu mengambil dua benda tersebut.
【Sunset Rings: Cincin bukti keabadian senja di Blightmire. Benda yang telah ada selama ribuan tahun ini memiliki sejarah yang panjang dan saksi akan kutukan yang menimpa Blightmire】
【Efek: Menyembuhkan 2% stamina lebih cepat dan memperkuat afinitas kekuatan sihir atribut kegelapan “sedikit”】
Selain itu cincin tersebut mengeluarkan aura ungu yang tipis dan keterangan yang muncul melalui panel notifikasi pun berwarna sama. Adis yang keheranan hanya bisa mengawang-ngawang dan menebak apakah aura serta warna tersebut adalah sesuatu yang abnornal atau tidak.
“Mungkin aku harus menanyakan ini kepada Kraun,” pungkasnya sembari menyimpan cincin itu ke dalam saku celana. “Lalu ... gulungan, hmm?”
【Appraisal Scroll [A]: Sebuah gulungan kuno nan misterius yang dapat memberitahu pengguna akan asal-muasal suatu benda dan membuka potensi tersembunyi yang terkunci】
“Jadi intinya gulungan ini seperti kunci, ya? atau beda lagi. Aku tidak terlalu mengerti, memang sebaiknya aku langsung pergi ke Toko Kraun saja. Daripada terus menunggu di sini, aku tidak tahu apalagi yang akan terjadi,” tuturnya sambil mengambil gulungan tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku jaket.
Setelah itu Adis bergegas pergi dari rumah terbengkalai dan berlari menuju Toko Kraun yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana.
Beberapa saat kemudian ....
“Hmm? Ah! Selamat datang kembali, Tuan Adis”
“Hahh ... huhh ... hahh. Ya, aku berhasil melakukannya.”
Begitu Adis memasuki Toko Kraun, sosok orang berkepala Rakun dengan setelan formal langsung menyambutnya dengan nada hangat.
“Bagaimana dengan permintaan saya? Apa semuanya berjalan dengan lancar, Tuan Adis?”
“Begitulah ....” Adis pun langsung berjalan menghampiri Kraun lalu meletakan tujuh ekor The Rots ke atas meja konter. “Maaf. Aku hanya mendapatkan tujuh buah saja, yang terakhir jatuh ke dalam sumur tua”
“Fhmm ....” ekspresi Kraun tampak tidak terlalu jelas, tapi ia terlihat seperti sedang menimbang-nimbang. Tidak lama kemudian ia mengambil semua ekor tikus itu dan langsung membakarnya menjadi abu hitam. “Tidak masalah. Saat ini yang terpenting Anda telah mendapatkan gambaran besarnya. Lalu dengan para The Rots itu?”
Adis pun menatapnya beberapa saat lalu menceritakan kisahnya di saat para tikus busuk itu datang dan berusaha menyerangnya. Bagaimana ia menghindari serangan-serangan mereka, berhadapan langsung sekaligus memusnahkan mereka, dan mendapati peti misterius yang berisi sebuah cincin serta gulungan kertas.
“Omong-omong tentang cincin itu. Bisakah kau memberitahuku apa maksudnya dari aura ungu ini?” tanya Adis sambil mengeluarkan cincin yang disebut.
“Oho! Ternyata Dewi Kesuburan telah memberkati Anda, Tuan Adis?”
“Huh?”
Kraun pun mengambil kacamata monocle-nya dari saku jas kemudian memakainya, setelah itu ia mengamati cincin yang ada di atas telapak tangan Adis dengan seksama.
“Di tempat ini ... khususnya Astal. Terdapat beberapa kategori barang yang dijajarkan pada kasta dan tingkat. Di mulai dari aura berwarna putih, hijau, biru, ungu, merah, dan yang terakhir adalah hitam. Masing-masing warna ini melambangkan tingkat kekuatan dari suatu benda dan tentunya warna aura yang muncul dari suatu benda itu juga merupakah pemberian berkah dari The Old One’s”
“The Old One’s?”
“Dalam bahasa kita biasa dikenal sebagai Sang Mitos atau Sang Pemberi Anugerah ....”
Setelah itu Kraun menceritakan asal-muasal kenapa setiap benda memiliki tingkat dan kastanya. Semakin benda tersebut memiliki sejarah, keterkaitan, hubungan, dan juga unsur atribut, maka benda itu akan semakin kuat.
Untuk mengatasi kekuatan yang dahsyat tersebut The Old One’s menempanya dan mengategorikan setiap benda ke dalam beberapa tingkatan.
Benda yang memancarkan aura putih disebut sebagai Albus. Memiliki arti sederhana dan tak berbahaya, Albus adalah tingkat paling rendah dari suatu benda.
Yang kedua adalah Virdis, memiliki arti netral tanpa campur tangan siapa pun dan tidak terikat oleh atribut mana pun. Benda yang memancarkan aura hijau ini bisa mengeluarkan efek positif dan langsung memberikan manfaatkan kepada penggunanya secara langsung.
Ketiga adalah Caeruls, memancarkan aura berwarna biru yang melambangkan ketenangan, dan kedamaian. Orang yang menggunakan benda dengan aura biru ini akan langsung mendapatkan ketenangan serta kedamaian dikarenakan efek yang timbul dari benda ataupun barang tersebut.
Sedangkan yang keempat adalah Pursus. Aura ungu yang keluar samar, tapi sangat dingin ini seperti organ tambahan, efek yang muncul dari barang dengan aura ini selalu berkaitan dengan konstitusi serta mental. Pursus juga selalu digambarkan seperti sayap tak terlihat.
Untuk yang kelima adalah Ribras. Aura merah yang keluar dari barang ataupun benda tertentu sama halnya seperti sebuah senjata yang mana tingkat aura ini lebih mengarah pada konstitusi serangan. Bersifat agresif layaknya suara genderang perang, benda yang memiliki aura ini adalah mereka yang berani maju demi tujuan baik.
Yang terakhir dan paling mematikan adalah Nidheos. Berwarna hitam pekat layaknya kabut kematian pembawa kesengsaraan. Benda dengan aura hitam ini layaknya seperti pedang bermata dua. Memiliki manfaat yang abnormal, tapi juga menyerang balik dengan kekuatan abnormal. Hanya orang-orang dengan atribut kekacauan serta kehancuran sajalah yang dapat menggunakan benda beraura Nidheos ini.
Adis pun meneguk ludahnya. “Lalu selanjutnya?”
“Selanjutnya? Hahahaha. Saya memberikan informasi ini secara Cuma-Cuma karena telah masuk ke dalam hadiah dari permintaan Saya. Namun, apabila Anda ingin mengetahuinya lebih dalam, dan terperinci. Bagaimana jika kita bertransaksi selayaknya seorang pembeli dengan pedagang?”
Kraun pun menyimpan kembali kacamata monocle-nya ke dalam saku jas kemudian mulutnya menyungging kecil—tersenyum tipis layaknya seorang pedagang yang baru saja mendapatkan tangkapan besar.