Pandoras Pride

Pandoras Pride
Chapter 17 - Sebatas Ransum, Lentera di Hari Gelap III



“Generasi boomer sialan. Gue udah susah payah ngalahin monster malah kagak dianggap. Emang dikira ngusir orang gila apa?”


Yogi pun meremas tangannya.


“Yan ... sal ... maafin gue.”


Mengingat kembali masa-masa damai di masa lalu, Yogi ingat betul setiap kenangannya bersama kedua sahabat yang kini hanya tinggal nama. Mereka berdua telah mati karena dilibas oleh kesatria kematian.


Tak berdaya menghadap kematian dan gemetar memikirkan kematian itu sendiri, Yogi hanya bisa meringkuk di dalam toko serba ada. Ia menyaksikan betul bagaimana kedua sahabatnya itu mati dengan mengenaskan.


“Kalau terus kayak gini juga percuma. Gue harus bertambah kuat, tapi dengan status kek gini ....”


【Name: Yogi Indra Lesmana】


【Level: 3】


【Status】


Stength: 5


Agility: 7


Endurance : 6


【Poin Distribusi: 1】


【Title】The One who Chasing the Wind—Kau adalah seorang yang tangguh dalam mengejar sesuatu. Potensimu hampir menyerupai seorang demi-god pada era Olympus. Dengan kegigihan yang nyata, kakimu akan menjadi petunjuk bagi takdirmu sendiri.


Ia pun menatapi statusnya yang terbilang masih rendah dan di bawah rata-rata. Yogi hanya bisa menghela napasnya sangat dalam.


“Apakah dengan ini gue bisa bertahan?” tanyanya sendiri sembari memejamkan mata. “Ah! masih ada satu poin lagi? Kebetulan sekali. Kalau lari sih sudah jadi hobi, mungkin gue lebih butuh kekuatan otot, ya?”


Setelah itu, Yogi mendistribusikan poin atribut yang masih ada ke dalam Kekuatan. Kini poin Kekuatannya menjadi enam dan ia juga bisa merasakan perubahan samar pada tubuhnya.


“Ini memang gak seberapa, tapi lebih mending daripada nggak ada.”


Saat ini Yogi sendiri berada di luar kamp evakuasi. Bersandar pada sebuah batang kayu besar, matanya menatap tinggi ke langit, dan membayangkan masa lalu yang damai. Ia merindukan masa-masa di mana bolos kelas adalah suatu tantangan.


Namun, semua itu tentunya tidak akan terjadi karena kota tempat tinggalnya saja sudah menjadi lahan para monster untuk berburu.


“Jadi kamu ada di sini toh”


“E-eh? Pak Gardi?”


Ketika Yogi sedang duduk dan melihat ke kejauhan sana, tiba-tiba saja Pak Gardi muncul dari samping kirinya. Pria paruh baya itu memandangi muridnya dengan mata khawatir.


“Boleh saya ikut duduk di situ?”


“Y-ya ... gak masalah, Pak. Silakan,” jawab Yogi sambil menyisih sedikit.


“Kamu ini kenapa toh? Tiba-tiba keluar ruangan kayak begitu?”


“Gue kesel pak—eh maaf—“


Namun, Pak Yogi menepuk pundak muridnya itu sambil menggelengkan kepala.


“Gak masalah. Asalkan kamu nyaman, yang penting komunikasi kita terjalin lancar”


“Duh ... jadi gak enak. Bapak yakin ini? Logat bicara saya kurang enak soalnya”


“Iya. Bapak tidak mempermasalahkan hal itu, selama kamu masih sopan, dan menjaga etika.”


Yogi pun mengelus belakang kepalanya beberapa kali. Ia sebenarnya masih ragu karena lawan bicaranya adalah seorang dosen yang kebetulan adalah walinya. Jika diibaratkan, saat ini Yogi seperti anak dari Pak Gardi, dan untuk berbicara kepada orang yang lebih tua pemuda itu perlu menjaga kosa-katanya.


Berbeda jika sedang bersama dengan teman-temannya yang ceplas-ceplos tak karuan. Namun, setelah mendapatkan persetujuan Pak Gardi, Yogi pun meneguk ludahnya sendiri lalu melirik walinya itu dengan mata sayu.


“A-anu ... pak. Gue tau itu nggak sopan dan kesannya kayak ngeremehin, tapi masa usaha kita dianggap sia-sia juga? Kan rasanya gak etis”


“Yogi ... bapak tahu kalau kamu itu masih belum matang, tapi setidaknya bertahanlah. Di dalam kondisi kacau seperti ini merekalah yang paling kompeten dan berdasarkan bidang jasa pekerjaan mereka yang sudah lama mengabdi pada negara. Bapak yakin kalau mereka itu hanya tidak ingin kita terlibat dalam operasi pembasmian itu”


“I-iya, Yogi sendiri tau pak, tapi tetep aja mengatakannya secara gamblang setelah merekalah yang mengundang kita. Apa bapak rasa itu bener?”


Pak Gardi pun menghela napasnya.


“Kalau kamu sudah lulus dan masuk ke dalam dunia kerja, hal seperti itu sudah biasa. Dan lagi rata-rata mereka yang berada dalam kondisi seperti itu lebih suka bertahan demi menyesuaikan diri, tapi ada juga orang yang tipenya kayak kamu, Yogi. Agresif, tak sabaran, tak bisa menahan amarah, dan berapi-api. Tentu kami bisa saja cocok di sana, tapi sebagai ganjarannya kamu bakal dijauhin karena lebih memilih individualis daripada berkelompok.”


Yogi hanya terdiam sembari mendengarkan bagaimana Pak Gardi menceramahinya. Ia juga tahu betul jika perbuatannya kurang layak, tapi hati nuraninya menolak untuk bekerja sama dengan orang-orang yang meremehkan usahanya.


Dan menurutnya orang seperti itu perlu digampar oleh realitas yang nyata, sebagai contoh ialah bukti jelas bagaimana seorang mahasiswa atau lebih tepatnya mantan seorang mahasiswa dapat mengalahkan monster.


“Yogi ngerti pak, tapi untuk ini serahin aja buat Yogi. Nanti juga mereka sendiri yang minta-minta,” pungkasnya sembari tertawa lega.


“Jika itu memang jalanmu dan juga keputusanmu, maka bapak tidak akan menghalanginya. Semoga kamu beruntung, bapak mau balik lagi ke sana,” sahutnya dengan senyum hangat. “Oh! Ini ada sedikit ransum, tadi kamu lupa bawa ini”


“O-ohh ... makasih, pak,” jawab Sang Mahasiswa sembari mengangguk berterima kasih.


“Kalau begitu bapak pergi dulu, ya”


“Iya, pak. Hati-hati.”


Setelah itu, Pak Gardi pun pergi meninggalkan Yogi sembari melambaikan tangan.


Ternyata sekali dosen tetap dosen, eh? Gue gak nyangka bakal dengerin ceramah dari Pak Gardi lagi. Memang bener juga apa kata bapak, tapi gue gak mau ngikutin cara mereka yang ngerendahin seseorang berdasarkan statusnya. Sekarang ... dunia ini udah beda, hierarki juga bukan dari status doang. Kekuatan adalah segalanya, karena itu gue butuh kekuatan lebih, pikir Yogi sembari membuka ransum.


“Dendeng sapi sama nasi anget? Tumben ....”


Sementara Yogi menikmati ransum keduanya itu dengan perasaan sedikit tenang, di sisi lain jarum waktu terus berjalan, memperpendek jarak kontras dengan kemunculan gelombang monster yang sebentar lagi akan muncul menyerang kamp evakuasi.


Ferdinan, Dian, Mukhtar, Yono, Rizki serta Pak Gardi pun masih berkutat di ruang rapat. Mereka masih mempersiapkan berbagai hal berkenaan dengan cara melindungi kamp dari gempuran gelombang monster.


Meski awalnya ada beberapa orang yang tidak menyukai kehadiran Pak Gardi karena sikap muridnya yang kurang sopan. Ferdinan pun datang menengahi masalah tersebut. Untungnya semua dapat diselesaikan dengan baik.


Kondisi kamp juga cukup baik dan tidak ada keganjilan apa pun yang terlihat. Kamp yang dapat menampung ribuan orang itu di jaga oleh empat menara pengintai yang terletak di empat sudut bagian luar. Dua lagi di bagian dalam dekat dengan markas utama dan satu menara terakhir berada di bagian gudang persediaan.


Kini harapan mereka terletak dari rencana buatan Ferdinan dan juga mereka yang terlibat dalam rapat rahasia. Sementara itu Yogi masih memikirkan beberapa hal, tapi ia memutuskan untuk bangkit, dan mencari monster di sekitar bagian luar kamp.


Ia berniat untuk mengalahkannya dan mengumpulkan vial untuk ditukarkan dengan beberapa kebutuhan. Selain itu, mantan mahasiswa tersebut tak sabar menanti munculnya Luks di dalam kamp.


Pertemuannya dengan Diapthora berbeda dengan apa yang di alami oleh Adis. Jika Adis melihatnya sebagai siluet mendiang ibu kandungnya, maka Yogi melihat sosok Sang Pembawa Jiwa itu sebagai sesuatu yang menyeramkan.


Namun, meski begitu ia tidak peduli karena dengan bertemu dengannya lah ia dapat bertambah kuat. Ia juga tidak lupa memberitahukan tentang ini saat sesi pengajaran dan pemahaman akan sistem.


Sebagai pesan pengingat, ia memperingati mereka yang ingin bertransaksi dengannya agar tidak terlalu serakah. Karena hal itu dapat menimbulkan sesuatu yang buruk, apalagi mata uang yang dipakai dalam prosesnya bukanlah mata uang dunia mereka, melainkan mata uang dunia asal Diapthora sendiri, yaitu vial—jiwa-jiwa tersesat yang tak bisa kembali pulang kepada tempat asalnya.


▼▼▼


“Dengan ini persiapan gue udah mateng,” gumam Yogi lalu memeriksa panel statusnya.


【Name: Yogi Indra Lesmana】


【Level: 5】


【Status】


Stength: 9


Dexterity: 12


Endurance : 9


Resistance : 3


【Poin Distribusi: 0】


【Passive Skill】


Spear Mastery [F]


【Title】The One who Chasing the Wind—Kau adalah seorang yang tangguh dalam mengejar sesuatu. Potensimu hampir menyerupai seorang demi-god pada era Olympus. Dengan kegigihan yang nyata, kakimu akan menjadi petunjuk bagi takdirmu sendiri.


Setelah melihat statusnya itu, mulut Yogi menyungging lebar. Usahanya selama dua hari penuh tidak sia-sia dan sekarang statusnya pun meningkat cukup pesat.


“Gak sia-sia gue ngefarming di sekitar benteng luar kamp, lumayan juga, ‘kan?”


Pada hari pertama ia mencoba mengalahkan monster, taktik yang digunakan oleh Yogi adalah hit n run kemudian di susul oleh serangan tiba-tiba secara mengendap-endap. Semua itu ia lakukan demi memuaskan hasratnya dalam membalaskan dendam kematian kedua sahabatnya.


Yogi yang dulu bertindak sebagai pengecut kini berubah drastis. Ia menginginkan kekuatan dan kekuatan yang muncul dalam dirinya didorong oleh balas dendam. Untuk beberapa saat rasa takutnya sirna, tapi setelah mengalahkan seekor monster tubuhnya langsung roboh lantaran adrenalin yang terlalu deras.


Siklus itu ia ulangi terus-menerus selama dua hari menanti gelombang monster. Di saat Pak Gardi beserta anggota Ferdinan mengurus keamanan kamp, dosen itu terkejut mendapati sosok Yogi yang berjalan ke arah kamar mandi dengan penuh darah.


Sorot matanya tidak lagi layu. Tidak ada keraguan, sorot matanya memperlihatkan tatapan tajam layaknya seekor predator. Ia terheran-heran akan perubahan drastis pada muridnya itu, tetapi begitu ia menanyakan apa yang terjadi, Yogi hanya membalasnya “Nggak usah khawatir, pak. Ini cuman pemanasan” begitulah katanya.


“Tapi bisa-bisanya status agility gue berubah jadi dexterity pas udah nyentuh angka 10. Mungkin yang lain juga sama, tapi kayaknya gue kurang yakin sudah. Lah ... masa bodo, yang penting gue jadi kuat meski harus pake cara pengecut kayak gini.”


Ia pun menyeringai puas.


Ketika tubuhnya sedang rileks menikmati kucuran air dingin dari sungai jauh di belakang kamp. Tiba-tiba saja notifikasi muncul dengan memperlihatkan angka bergerak mendekati nol.


“S-satu jam lagi?!” ekspresi Yogi menegang, sembari meremas tangannya, ia pun langsung memukul batu yang ada di hadapannya. “Bagus. Ini yang gue tunggu-tunggu, awas! Liat aja nanti monster bajingan!”


“Yogi ... Yogi, masuk. Ini Gardi ....”


Suara tersebut berasam dari walki-talki dan anehnya Yogi mendapatkan barang tersebut karena direkomendasikan oleh walinya tersebut.


Emang bener sih listrik udah sekarat. Smartphone gue juga baterenya dikit lagi, tapi walki-talki, eh? Idenya memang unik juga, pikir Yogi.


Penggunaan listrik sudah cukup sulit, apalagi harus memenuhi satu kamp. Dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga uap maupun gas tampaknya akan sulit, selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan pembangkit listrik tenaga apa pun.


Letak kamp evakuasi berada pada dataran tinggi yang mana cocok untuk tenaga udara, tapi masalahnya adalah para monster itu sendiri. Sehingga penggunaan listrik diminimalkan hanya untuk keadaan darurat saja.


Untuk penerangan pada malam hari, kamp evakuasi menggunakan lentera, senter, lampu minyak, lilin, dan beberapa benda lainnya yang mudah digunakan. Karena itulah dalam melakukan komunikasi jarak jauh, Ferdinan menyarankan untuk menggunakan walki-talki.


Pada awalnya Pak Gardi meminta mayor tersebut untuk memberikan satu kepada Yogi karena ia tahu potensi muridnya tersebut. Namun, Dian, Mukhtar, dan Rizki tidak sepakat dengan hal itu. Adu argumen pun terjadi yang akhirnya dimenangkan oleh alasan Pak Gardi.


Selain itu, Ferdinan juga sudah melihat kemajuan pemuda tersebut dengan kedua matanya sendiri. Tanpa bisa menyanggah dengan bukti kuat yang telah ada, ketiga laki-laki itu pun menyerah, dan mengikuti perkataan pemimpinnya.


Itulah kenapa Yogi berhasil mendapatkan walki-talkinya. Ada pun kenapa ia bisa berada di mata air sungai, itu semua karena daerah tersebut dihantam oleh meteor kuat hingga menciptakan jalur air alternatif dari atas pegunungan.


Ia pun mengambil alat komunikasi itu. “Iya, Pak?”


“Sekarang kamu ada di mana?”


“Sekarang Yogi ada di mata air sungai belakang kamp”


“Mata air?! T-tunggu sebentar ... cepat segera kembali. Semua orang di kamp telah bersiap, tinggal kamu seorang yang ada di luar.”


Mulutnya pun menyungging lebar. “Bentar lagi Yogi bakal ke sana, jadi tunggu saja,” balasnya sembari memakai baju.


“Baiklah. Awas hati-hati”


“Siap!”


Setelah pemuda itu selesai dengan urusannya, ia pun melakukan sedikit peregangan, dan mencoba beberapa teknik menombak yang telah ia dapatkan dari Diapthora. Kemampuan seni menombak tingkat rendah, dalam buku keahlian tersebut dijelaskan beberapa gerakan yang perlu dikuasai demi memperdalam seni menombak.


Salah satunya adalah artikulasi gerakan yang saling bersinkronisasi antara gerakan pinggul, tangan, otot betis, dan juga tatapan mata. Sejauh ini Yogi berhasil mempelajarinya hingga 74%, meski begitu ia sudah bisa menghadapi monster satu lawan satu tanpa melarikan diri hanya dengan tombak bambu atau tongkat besi-baja.


“Satu! Haaaaa!! Dua! Haaaa!!”


Pemuda itu langsung mengayunkan tombaknya secara vertikal dari bawah ke atas. Kemudian diteruskan dengan sedikit gerakan menyamping guna menguatkan pegangan. Setelah tombaknya sejajar dengan garis dagu, ia pun mengibaskannya secara horizontal sekuat mungkin.


Sekumpulan angin tercipta dan mengentak aliran air di sampingnya dengan kuat. Melihat usahanya sudah cukup baik, Yogi pun menyeringai puas.


“Hahh ... kayaknya segini udah cukup. Langsung cabut,” tuturnya sembari mengambil napas lalu beranjak pergi menuju kamp.