
Uap semu nan dingin terus mengepul dari sekitar mulut Adis. Dengan langkah penuh perhatian dan kehati-hatian, sosok pemuda itu menyelinap ke antara jajaran gedung, dan perkantoran. Menghindari setiap perhatian yang bisa ia dapatkan karena kecerobohan kecil.
Jalan yang ditempuhnya kali ini jauh dari kata sorot perhatian. Bukanlah jalan raya yang diambil, melainkan beberapa jalan pintas yang cukup strategis. Menembus barikade hutan lindung dan lapangan golf, kini Adis tiba di persimpangan jalan menuju Jalan Soekarno-Hatta atau pedesaan.
Namun, ia lebih memilih jalan pedesaan yang mana tidak banyak orang lalui. Ia yakin bahwa jalan yang diambil olehnya minim orang dikarenakan evakuasi, jika pun ada, maka mereka hanya berlindung dari dalam rumah.
Sudah sekitar tiga jam Adis menempuh jalan panjang hingga ke tempatnya sekarang. Menjauhi tempat kerumunan dan terus menerjang barisan pagar betis.
Begitu ia bertemu dengan monster, Adis pun langsung mengambil tempat berlindung, mengaktifkan kemampuan [Silent Zone] kemudian mengamati sekitarnya dengan jeli. Jika terdapat satu monster sedang hingga besar, maka ia akan melepaskan tembakan tajam ke arah belakang kepalanya.
Berbeda jika hanya monster kecil. Ia akan lebih berjalan mengendap-endap sembari memanaskan pisau belati yang tersimpan dalam sarung pada dada kirinya. Mengambil jarak pasti hingga memasuki Radis lalu mengeksekusi monster tersebut sesuai jenis dan juga fisiknya.
Sekali dayung, dua sampai tiga pulau terlewati. Berjalan menuju panti asuhan sembari memanen Vial tanpa diketahui. Antara sebuah anugerah yang disamarkan atau hanya karena faktor keberuntungan bahwa kehadirannya belum pernah diperhatikan oleh monster-monster yang lewat.
Adis menggunakan taktik ini berulang kali untuk bisa melewati setiap rintangan yang ada. Baik itu jalanan hancur penuh dengan anomali, sekumpulan monster dengan indra penciuman tajam, bangunan-bangunan hancur yang meledak hebat akibat diterjang bencana, dan lain-lain.
Namun, satu hal yang tidak bisa ia hindari adalah fakta bahwa kemampuannya membutuhkan Mana yang tidak sedikit. Karena itulah setiap kali Adis menggunakan [Silent Zone], ia akan mengistirahatkan tubuhnya selama 8-13 menit.
Hal itu guna untuk mengembalikan Mana yang telah dikeluarkan olehnya. Saat ini saja Adis sedang menyandarkan punggungnya pada sebuah etalase di dalam toko minuman.
Tanpa ada siapa pun dan juga seorang pun. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan tenaga serta Mana miliknya. Meski Sunset Ring dapat memulihkan stamina sebesar 2%, ia juga harus bermeditasi agar semuanya berjalan dengan sempurna.
“Ternyata apa yang dikatakan Randolf memang benar. Meditasi, huh? Ini pertama kalinya aku bermeditasi di duniaku sendiri ....”
Beberapa saat kemudian ....
“Akhirnya selesai juga. Kita lihat ... sekarang jam empat sore. Sebentar lagi malam, aku bisa saja sampai di sana sekitar jam setengah delapan, tapi apa aku harus mengambil risiko itu?”
Saat ini cuaca cukup memungkinkan dirinya melihat jauh ke depan dan merasakan keberadaan beberapa hal di sekitarnya. Namun, begitu malam tiba, semua itu dibatasi oleh tirai gelap. Beberapa indra mungkin masih berfungsi dengan baik, tapi dengan terbatasnya akses yang bisa dilalui oleh Adis, risiko paling besarnya adalah serangan kejutan atau jarak jauh yang senyap.
Sebagai seorang The Odd One pengguna senapan jarak jauh, kedua hal itu bisa saja diantisipasi, tapi dengan keterbatasan penglihatan akan cukup sulit untuk menghindarinya. Apalagi dengan situasi seperti saat ini yang mana monster bukan hanya semata The Rots atau Serigala Hutan.
“Belati ... cek. Ramuan penyembuh ... cek. Peralatan dan perlengkapan darurat ... cek.”
Sebelum kembali menerjang medan perang penuh ketidakpastian itu, Adis memeriksa setiap perlengkapan dan peralatan yang dimiliki olehnya. Seandainya ia kekurangan atau kehabisan salah satu hal tersebut, ia harus memikirkan rencana cadangan apabila semuanya tidak berjalan dengan lancar.
Adis mengangguk mantap ....
“Tunggu aku di sana. Kakak pasti akan sampai tidak lama lagi.” Adis mengeratkan cengkeraman tangan kanannya sembari memejamkan mata.
▼▼▼
Mengambil jalan pintas yang tersembunyi. Adis menyisir bagian samping pedesaan dan membaur dengan bangunan sekitar agar keberadaannya tersamarkan.
Melewati jembatan antar jalan di bawah sungai kecil, akhirnya ia tiba di tempat persinggahan terakhir sebelum memasuki Stadion Gelora Bandung Lautan Api.
Napasnya terengah-engah, dengan keringat dingin membasahi keningnya. Adis mengambil langkah santai sembari melihat-lihat sekitar.
Salju yang turun bukanlah sebuah berkah, tanpa adanya matahari pemberi harapan nyata yang senantiasa memberikan kehangatannya. Semua yang dilihat oleh Adis hanyalah kematian tanpa kepastian.
Lahan sawah yang kering penuh akan darah, bangunan hancur dipenuhi oleh cakar-cakar merah, pohon-pohon layu tumbang yang busuk serta jalanan retak yang mengeluarkan aroma tidak sedap.
Langit pun tak bersahabat. Situasi yang mencekam, tak ada tanda-tanda kehidupan di sepanjang mata memandang. Menutupi mulutnya dengan syal yang memiliki efek penetral, Adis terus melangkah sembari menyiapkan senapan hangat apabila terjadi sesuatu yang tidak terduga.
Di antara pemandangan tidak mengenakan itu, entah dari mana sekumpulan monster berlari mengejar sesuatu. Dari sudut mata kirinya, Adis bisa melihat hal itu dengan sangat jelas. Ia pun mengambil tempat berlindung dan mengamati hal tersebut dengan anggapan bahwa bisa saja monster itu berganti arah lalu menyerangnya.
“Ini buruk ... t-tunggu?! Dani?!”
Sosok yang dikejar oleh sekumpulan monster itu tidak lain adalah Dani. Salah satu Adik Adis di panti asuhan. Anak kecil berumur enam tahun itu sedang memeluk sesuatu di dadanya. Adis pun memicingkan kedua matanya.
“Sekantung beras?!—jangan-jangan ... tch, sial.”
Tanpa ragu, Adis pun mengambil posisi. Mengaktifkan [Silent Zone] lalu membidik tujuh monster paling depan. Sekumpulan monster itu tidak lain adalah keluarga mayat hidup, tapi beberapa di antaranya adalah kesatria kematian.
Meskipun pergerakan mereka terbilang cukup lambat, tapi bagi seorang anak kecil berumur enam tahun dengan kaki pendek. Hal itu justru sangat berbahaya, apalagi jika mengenal kepribadian Dani yang cengeng.
“Sialan. Emang keparat ... siapa sih yang nyuruh Dani keluar dari panti asuhan sampai-sampai dikejar monster?” tukas Adis dengan nada kesal.
Tarikan napas pertama menyetabilkan pandangan, tarikan napas kedua jari telunjuk perlahan mundur menarik pelatuk dengan sangat pelan. Begitu Adis mengambil tarikan napas ketiga, ia pun langsung menarik pelatuk sekencang mungkin.
Berawal dari kesunyian yang hampa, sebuah retakan tercipta bagai ranting pohon. [Silent Zone] pun hancur lebur menjadi kepingan kaca transparan yang lenyap dimakan oleh butir-butir cahaya.
Melepas kesunyian yang ada, sebuah peluru dengan aura biru menembus dinding hampa itu bagai kilat di langit mendung. Sangat senyap. Dan begitu peluru tersebut bersarang tepat di kepala Sang Monster.
Kekuatan aura biru yang tersimpan di dalamnya meledak hebat, menyebarkan guncangan es yang langsung menyapu habis semua monster yang berada di belakangnya.
Adis telah mengompres kekuatannya cukup padat dan mengkalkulasikan semuanya dengan baik. Namun, tetap saja ledakan kekuatan itu menerbangkan tubuh Dani tinggi ke langit.
Adis pun mendecakkan lidahnya lalu keluar dari tempat persembunyian dan berlari sekuat tenaga menuju ke arah Dani. Sementara itu, Dani yang tidak tahu-menahu apa-apa hanya dapat menangis dengan wajah pucat dan pipi yang sembab.
Tubuhnya sangat kotor bahkan dipenuhi oleh beberapa bercak darah. Pakaiannya lusuh dengan celana pendek robek.
Adis mempercepat larinya. Dikejar oleh waktu yang tak menentu, setiap langkahnya memantulkan gema kekhawatiran.
“Kakak akan segera datang. Tunggu Kakak di sana, Dani!”
“Gwahhhhhhhhh!—“
Setelah jarak mereka semakin dekat, Adis melempar ranselnya ke depan lalu melompat sekuat mungkin mengikuti ransel yang telah maju terlebih dahulu.
“Gaahhhhhhhhhh!—“
“Tch ... sedikit lagi—“
Namun, kedua tangan Adis tampaknya tidak akan sempat untuk menangkap Dani tepat waktu. Adis pun mengeratkan giginya kuat-kuat lalu menjatuhkan tubuhnya sebelum berhasil menangkap Dani.
Tidak ada cara lain, pikir Adis.
Setelah itu, ia menggunakan teknik Art of Liberation. Menguatkan tubuh bagian bawah dengan menginfus ujung kakinya dengan Mana. Memutar pinggul setengah demi mendapatkan momentum.
Dalam beberapa detik yang tersisa, semua indra Adis menajam. Debu pasir pun berputar di sekitar tubuhnya dan begitu detik-detik penuh penantian itu lenyap, tubuh Adis meluncur cepat bagai peluru terakhir.
“Guhh!—“
“Ketangkep juga ....”
Adis berhasil menangkap Dani dengan selamat, tapi sayangnya punggung serta kaki kirinya lah yang menjadi bayaran atas penggunaan teknik tiba-tiba tersebut.
Bukan hanya meninggalkan bekas luka beret penuh darah, tapi kaki kirinya juga menjadi sedikit kaku. Namun, hal itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan keselamatan anggota keluarganya, itulah yang dipikirkan Adis.
Adis pun melepaskan pelukannya lalu membaringkan tubuh dengan napas tersengal-sengal. Sementara itu, Dani yang masih memejamkan matanya sama sekali tidak terlihat ingin melepaskan sekantung beras dalam pelukannya.
“Dani ... kamu baik-baik aja,’ kan?”
“S-s-suara ini ....”
Tubuhnya masih menggigil ketakutan, tapi Dani berusaha membuka matanya pelan-pelan. Setelah ia yakin bahwa di sekitarnya tidak ada apa-apa lagi—termasuk geraman monster dan makhluk-makhluk lainnya, Dani pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka mata seutuhnya.
Apa yang dilihatnya adalah seseorang yang tidak asing. Dengan wajah berantakan dan penuh debu itu, Adis pun tersenyum lebar.
“Hai ... “
“K-Kak Adis?!”
Mengetahui bahwa orang yang ada di bawahnya adalah Adis, Dani pun melepaskan sekantung beras dalam pelukannya lalu merangkul leher Kakaknya itu sambil menangis.
▼▼▼
“Sudah baikan?”
Sembari menyeka air mata dan mengelap hidung Adiknya, Adis pun tersenyum lega.
“U-umm ... “
“Nah, sekarang Kakak mau tau. Kamu bawa ini untuk apa?” tanya Adis sambil mengangkat sekantung beras.
“Ibu sakit, Melia masih tidur, Kak Dimas lagi cari obat, terus Putri juga gak tau kenapa pingsan dan nggak bangun-bangun,” tutur Dani tersendat-sendat.
“Jadi kamu keluar buat nyari makanan, gitu?”
Dani pun mengangguk.
“Dasar. Kamu ini berani sekali pergi keluar.”
Adis pun mengusap kepala Dani pelan-pelan lalu perhatiannya beralih menuju tas ransel yang tidak jauh dari sampingnya.
“Ambilin botol yang airnya warna merah gih. Bisakan?” tanya Adis sambil menunjuk tas ransel.
“Umm ....”
Adis pun bernapas lega, ia ingat bahwa bahan penampung air ramuan itu cukup kuat dan yakin tidak akan pecah setelah di lempar seperti itu. Tidak lama kemudian, Dani menghampirinya sambil membawa botol air berwarna merah.
“Yang ini?”
“Ya ... kerja bagus.”
Adis pun langsung mengambil ramuan itu dan meminumnya setengah. Tubuhnya perlahan-lahan diselimuti oleh cahaya kuning keemasan yang hangat. Luka pada bagian punggung dan kakinya pun mulai pulih meski tidak sembuh total.
Meski begitu, ia sudah cukup lalu memberikan sisa ramuan di tangannya kepada Dani.
“Minum gih, lumayan rasanya kayak Buah Naga sama Stroberi.”
Tanpa meragukan perkataan Kakaknya itu, Dani mengambil ramuan tersebut, dan langsung meminumnya.
“Iya enak! E-e-eh? Kakak kenapa ini? Kok badan Dani ada cahayanya?”
“Nanti juga kamu tahu.” Adis pun bangkit perlahan-lahan, mengambil ranselnya yang tergeletak lalu mengusap kepala Adiknya itu sekali lagi.
Dani yang masih belum mengerti hanya bisa terenyak takjub. Sama seperti Adis, semua luka pada Dani berangsur-angsur pulih. Adis mengulurkan tangannya, “Anter Kakak ke panti asuhan, yuk”
“Ya!”
Dani masih takjub dengan apa yang terjadi dengan tubuhnya, tapi saat ini ia lega karena tepat di sampingnya terdapat seorang Kakak yang dapat diandalkan. Ia pun mengambil uluran tangan itu dan berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut sambil menggandeng tangan Kakaknya.