Pandoras Pride

Pandoras Pride
Chapter 11 - Sistem dan Ritual I



Seorang pemuda berwajah lesu terlihat keluar dari Toko Kraun. Penampilannya tidak terlalu mencolok dan terlihat sederhana membaur dengan sekitarnya. Namun, ada satu hal yang terlihat berbeda darinya.


Itu adalah raut wajahnya. Tidak terlihat gundah, cemas, ataupun gugup. Penuh rasa percaya diri yang tinggi dan juga terlihat telah menemukan sesuatu yang membuat sadar bahwa semua yang dilakukan olehnya pada titik ini merupakan bentuk rasa peduli terhadap orang-orang terkasih.


Ia adalah Adis. Pemuda yang sebelumnya tidak yakin apakah tindakannya dapat dikategorikan ke dalam perlindungan diri atau pemenuhan kebutuhan. Setelah melakukan transaksi dengan Kraun, akhirnya ia mengetahui informasi mendasar perihal Astal ini.


Dari bagan-bagan mengenai kategori barang, daerah, benua, kota, desa, hingga pada beberapa informasi tentang sistem yang berlaku di dunia itu. Salah satunya adalah sistem untuk menguatkan diri yang terdiri dari hal; pertama adalah berdoa di gereja cahaya, kedua adalah memakan jantung monster tingkat tinggi, dan yang ketiga adalah mempersembahkan jiwa yang tersesat kepada Diapthora.


Adis sendiri pun ingat bahwa ia memiliki cukup jiwa di dalam dirinya. Mengingat hadiah dari pertarungannya melawan The Rots serta permintaan Kraun. Adis yakin bahwa ia bisa mempersembahkannya kepada Diapthora sebagai bentuk pertukaran yang setara.


Selain itu ia juga telah membentuk koneksi dengan Sang Pengantar Jiwa tersebut. Hanya saja saat ini Adis tidak memiliki Luks untuk memanggil Diapthora karena mengingat perkataan Randolf bahwa Luks merupakan barang yang sangat berharga.


Jadi satu-satunya cara untuk bertemu dengan Sang Pengantar Jiwa tersebut ialah meminta Randolf untuk menggunakan Luksnya atau berusaha mencari Luks itu sendiri. Ada pun sistem penguatan diri ini mirip seperti sistem naik level pada sebuah gim RPG.


Dengan menganggapnya mirip seperti itu, Adis pun mengerti dengan sisa penjelasan yang diberikan oleh Kraun. Namun, perbedaan yang paling mencolok dalam sistem ini adalah keterkaitan Sang Penguasa dengan subjeknya.


Dalam kasus Adis, karena ia telah berteman dengan Pandora alias The Child. Ia pun memiliki hak khusus dalam persembahan jiwa, yaitu pengurangan dalam mempersembahkan jiwa itu sendiri.


“Benar-benar mirip seperti diskon, eh?”


Tidak lama setelah itu, Adis pun tiba di tempat kamp Randolf. Pria eksentrik bertopi lusuh itu sedang duduk memandangi langit sembari membiarkan api unggun berkobar ria menyebarkan kehangatannya.


“Hmm? Oh ... jadi bagaimana perburuannya, kawan? Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari?” tanyanya sambil mengangkat ujung topi sedikit.


“Kurang lebih. Setidaknya dengan ini aku juga tidak terlihat seperti orang terlantar”


“Heee ... lumayan. Sepertinya perlengkapan pemula itu cukup cocok untukmu”


“Hah. Ya, tapi setelah keluar dari sini aku mungkin akan dianggap aneh.”


Randolf pun tertawa kecil lalu melemparkan ranting ke arah api unggun. Sementara Adis berjalan memutar lalu ikut duduk di sebelahnya.


Pakaian yang Adis gunakan saat ini mungkin akan sangat kental dengan gim RPG. Seperti jubah, sepatu bot, baju kain yang sedikit tebal, sepasang sarung tangan hitam dengan bagian ujungnya yang berlubang, celana panjang yang sedikit ketat, dan terakhir adalah sabuk kulit kayu. Untuk dalaman sama sekali tidak berubah.


Namun, hal yang cukup mencolok dari pemuda yang kini Randolf perhatikan adalah sebuah cincin pada tangan kirinya. Cincin itu berwarna perak pasi dengan ukiran sebuah berlian pada bagian tengahnya. Sedangkan pada bagian sisinya terdapat garis dengan huruf-huruf kuno.


Apa yang membuat Randolf mengernyitkan dahinya adalah bukti bahwa cincin yang Adis gunakan mengeluarkan aura berwarna ungu samar. Mulutnya pun menyeringai kecil.


“Sepertinya kau berhasil mendapatkan tangkapan besar, eh? Pemula”


“Apa harus sampai sebegitunya?”


“Tidak, tidak. Anggap saja kau sudah naik tingkat. Dari yang terlihat seperti orang awam tak jelas menjadi pemula super, tapi jangan bangga terlebih dahulu karena perjalanan menjadi pengelana tersesat tidaklah mudah”


“Aku tidak memiliki tujuan untuk menjadi pengelana tersesat. Sebutan itu terlalu panjang, apa tidak ada yang lain seperti nama-nama penguasa ... eumm, kalau tidak salah The Tarnished apalah itu”


“Maksudmu anak buangan dari The Plague? Tentu, kita memiliki sebutan lain”


“Misalnya?”


“The Odd’s One ... tidak memiliki tempat untuk pulang, terbuang dalam kegilaan, termakan oleh bualan para Sang Penguasa, dan terhina karena tidak malu untuk menantang para Pencipta di Astal ini,” pungkas Randolf lalu melempar ranting kedua ke dalam api unggun.


Adis pun sedikit terenyak dengan penjelasan Randolf. Ia sendiri bahkan terkejut karena mengetahui status para pengelana tersesat lebih rendah dari yang ia kira.


“Apa itu tidak berlebihan? Maksudku ... sampai-sampai kau mengatakannya seperti itu”


“Tidak, tidak. Tentu saja itu adalah ungkapan yang paling tepat untuk kita saat ini. Lihat ....”


Randolf pun mengarahkan pandangannya kepada para pengelana tersesat lainnya. Sontak Adis pun mengikuti arah tatapan pria eksentrik tersebut.


“Dari seorang kesatria mulia menjadi orang gila yang selalu membenturkan kepalanya pada batu. Dari seorang pedagang yang kaya dan memiliki harta kini hancur menjadi pengemis yang pikirannya kacau. Terlebih ... banyak orang-orang yang memiliki pekerjaan lebih hebat dan berakhir menjadi ... sebutlah sesuka hatimu menjadi seperti apa.”


Perkataan itu langsung menyadarkan Adis bahwa dunia ini memanglah seperti itu. Astal mungkin kurang lebih sama seperti Bumi, tapi yang menjadi garis nyata adalah fakta perbedaan kenyataan yang ada.


Astal terikat oleh kegilaan dan berkah yang dibawa oleh para Penguasa sedangkan Bumi memiliki sistem yang berbeda dari itu. Walaupun memiliki sistem yang berbeda, tapi perlakukan serta sisi gelap yang dimiliki oleh kedua ini tidak jauh berbeda.


Yang satu menantang maut demi mencari kebenaran, sedangkan yang satu lagi menantang dunia untuk bertahan hidup dari kejamnya kehidupan.


Setelah melihat semua pengelana satu-persatu dari tempatnya berada, Adis baru menyadari hal itu karena sebelumnya ia hanya fokus pada urusannya sendiri. Namun, begitu berpaling dan mendapati kenyataan yang ada di sekitarnya berbeda, ia sendiri tidak yakin apakah berkah yang dimilikinya sanggup menahan sesuatu seperti itu.


Mereka yang berjaya kini hancur menjadi tak berada. Memiliki kekuatan bukan berarti dapat menjamin mental sehat dan memiliki pikiran serta wawasan yang luas bukan berarti bijaksana, mungkin itu hanya sebatas ilusi yang terlalu manis.


Astal memang tidak sesimpel yang Adis pikirkan dan tidak menutup kemungkinan lebih gelap dari Bumi.


“Banyak sekali kawan kami yang berguguran dan bangkit kembali hanya untuk merasakan neraka untuk kedua kalinya. Namun, meski begitu kami tidak pernah putus asa karena keberadaan salah satu Penguasa akan memberi kami berkah untuk menyongsong hari berikutnya, tanpa perlu khawatir dengan kegilaan,” tutur Randolf sembari mengeluarkan sepotong roti dari ransel di sebelahnya. “Mau?”


Untuk beberapa saat mata Adis terpaku pada Randolf sebelum akhirnya ia sadar lalu mengangguk pelan. “Tidak. Untukmu saja”


“Begitu? Sayang. Padahal ini roti sendiri cukup langka di Blightmire.”


Pria eksentrik itu langsung mengambil satu gigitan besar kemudian mengunyahnya perlahan-lahan.


Adis pun mendongak. Memandangi langit senja yang mana salju pun tidak meleleh ketika berguguran dari langit. Berwarna hitam dan sama sekali tidak membuat api unggun di depannya padam.


Tidak lama kemudian Adis sadar ada sesuatu yang lebih penting daripada mendengarkan kesengsaraan para pengelana tersesat.


“Omong-omong tentang Luks. Apa kau masih bisa mengaktifkannya di sini? Aku ingin bertemu dengan  Diapthora”


“Bertemu dengan ... nya?” Randolf memiringkan kepalanya sedikit. “Hahaha. Kau ini memang menarik, tidak masalah, tapi perlu diingat kita tidak bisa menggunakan Luks dengan sembarangan,” lanjutnya sembari menjilati jari-jemari.


“Begitu?”


Randolf mengangguk lalu bangkit dan melakukan sedikit peregangan.


“Aku yakin Nona itu pasti senang bertemu denganmu kembali, tapi dari caramu mengatakannya. Pasti Kraun telah memberitahumu tentang hal itu, bukan?”


Kata “itu” dalam pendengaran Adis memiliki makna yang banyak, tapi ketika Randolf menyinggung nama Kraun, ia pun langsung mengangguk.


“Ya. Aku tidak keberatan dengan itu”


“Sepertinya tabungan jiwamu cukup banyak hingga rautmu juga mengikutinya,” pungkas Sang Pria eksentrik sembari tertawa kecil.


“H-hei! Maksudmu apa? Aku tidak mengerti—“


Namun, sebelum Adis menyelesaikan perkataannya. Randolf melebarkan tangan kirinya sembari memberi isyarat “Mundurlah” dengan raut wajahnya. Sontak Adis pun langsung tercekat lalu melangkah mundur.


Randolf mulai mengumpulkan cahaya di tangan kanan. Butiran cahaya muncul dan berkumpul perlahan-lahan di atas telapak tangannya. Tidak lama kemudian sebuah kristal cantik muncul,  mengambang pelan lalu jatuh ke atas tanah.


Suara pecahnya yang nyaring langsung membentuk sebuah ruang isolasi dengan dinding layer selimut cahaya. Layaknya aurora pada langit kutub utara, kini fenomena itu muncul tepat di sekitar Adis, dan Randolf.


Kabut putih juga ikut keluar dari dalam tanah. Sebuah aura yang hangat dan juga sedikit horor keluar dari samping kiri Adis.


“H-hei ... kenapa cara penggunaannya jadi sedikit berbeda?—“


Tiba-tiba saja kedua mata Adis ditutup oleh dua buah tangan dingin. Ia pun langsung meneguk ludahnya sendiri, keringat dingin terlihat menetes dari pipi kirinya. Saking terkejutnya Adis terlihat seperti seekor hamster yang berhasil disudutkan oleh predator ganas.


“Apa? Aku tidak mendengarmu dengan jelas, kawan.”


Namun, samar-samar Adis bisa mendengar tawa ledek dari arah Randolf.


S-s-sensasi ini ... tidak salah lagi, tapi kenapa setiap kali makhluk-makhluk Astal muncul selalu membuat bulu kudukku merinding? Itulah pikir Sang Pemuda berambut hitam dengan perlengkapan pemula yang kini menciut karena mendapati kehadiran Diapthora di belakangnya.


Begitu telinga Adis menangkap suara yang sangat halus seperti bukan suara, ia pun langsung melompat ke depan, dan tidak memedulikan tangan yang menutupi matanya.


“Hahahaha. Reaksi yang natural, aku sudah lama sekali tidak melihat reaksi seperti itu”


“S-sialan. Aku memang tidak terlalu takut dengan hantu, tapi kalau munculnya seperti ingin mencekikku beda lagi ceritanya”


“Jangan khawatir. Lagi pula Sang Pengantar Jiwa telah datang dan tampaknya Nona juga cukup senang melihatmu lagi”


“K-kau bisa mendengar suaranya?”


“Tentu. Ah!” Randolf langsung menepuk jidatnya. “Aku lupa memberitahumu satu hal yang paling penting”


“Penting?”


“Ya. Untuk dapat berkomunikasi dengan Diapthora kau memerlukan izin dariku, karena saat ini orang yang memiliki Luks adalah diriku, maka otomatis kau memerlukan persetujuan dariku.”


Adis pun langsung membeku seketika, tapi raut wajahnya mengindikasikan sebuah protes keras.


Mungkin saat ini ia terdiam seperti patung, tapi jika dilihat lagi secara seksama, kedua matanya sedang memelototi Randolf layaknya atasan yang tidak bisa memarahi bawahannya.


Setelah itu Randolf mengulurkan tangan kanannya ke arah Adis. Pemuda itu pun mengerti lalu menjabatnya pelan.


Punggung tangan pria eksentrik itu bersinar terang dan memunculkan kumpulan kaca transparan di sekitarnya. Semua kaca itu kemudian membentuk sebuah jembatan tipis yang menghubungkan tangannya dan Adis.


“I-ini ... “


“Tenanglah pria kecil. Ini tidak akan lama.”


Begitu semua kaca transparan yang diimbuhi oleh cahaya itu menyatu dengan tangan Adis. Samar-sama ia mendengar sebuah suara halus dari belakangnya.


“Apa semuanya berjalan lancar, wahai pengelana tersesat dan sahabat Sang Penengah?”


Namun, yang membuat Adis kaget kali ini bukan hanya suara Diaphtora saja yang terdengar sangat lembut melainkan kemunculan notifikasi yang muncul secara tiba-tiba di depan matanya.


【Selamat! Kau telah membentuk jalur komunikasi sementara dengan Diapthora, Sang Pengantar Jiwa】


【Selamat! Kau telah melakukan interaksi dengan Diapthora, Sang Pengantar Jiwa】


【Keberhasilanmu membentuk ikatan sementara dengan entitas Astal mendapat pujian serta kekaguman dari beberapa makhluk di Astal】


【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, Diapthora telah menganggapmu sebagai salah satu dari pengelana tersesat sekaligus tamu penting di kediaman sementara miliknya. Mendapatkan sebagian kecil informasi Dunia Astal】


【 Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, Diapthora memberikanmu izin untuk melakukan ritual sakral di kediaman sementara miliknya. mendapatkan poin atribut +3】


【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, keberadaanmu mulai disadari oleh beberapa Penguasa di Astal. Mendapatkan sedikit Aehter dari langit senja Blightmire】


Adis pun berbalik dan kini sosok yang sebelumnya ia lihat memiliki paras menyeramkan berubah 180 derajat.


Wajahnya putih pasi dengan kontur sempurna. Mata merah gelapnya terlihat seperti batu rubi yang indah. Apalagi yang membuatnya terpukau adalah bagaimana hanya dari warna bibirnya saja sudah membuat Adis jatuh hati.


Seperti buah persik yang terlarang dan buah eden pencipta kehancuran. Tak bisa dijangkau dan apabila diraih, maka kemalangan akan menimpa orang yang mendapatkannya.


Rambutnya panjang putih hingga sepinggul. Diselimuti oleh tudung halus dengan lambang bulan sabit pada bagian tengahnya menjadikan sosok Sang Pengantar Jiwa terlihat lebih indah.


Apalagi sosoknya juga menyerupai seorang biarawati cantik dan penuh perhatian. Meski kompleksitas wajahnya dingin dan sangat menindas, tapi jauh dari dalam kilauan matanya terlihat kehangatan yang tidak dapat dikatakan oleh kata apa pun.


Ia juga membawa sebuah timbangan di tangan kirinya dan sebuah pedang tipis dengan emblem bulan sabit pada gagangnya di tangan kanan.


Adis berdiri mematung. Tubuhnya kembali membaku seakan dihantam oleh ledakan uap dingin di malam hari. Dalam seumur hidupnya baru kali ini ia melihat sosok anggun nan penuh godaan seperti Diapthora.


Namun, godaan yang ia rasakan dari entitas tersebut bukanlah godaan terhadap ketertarikan terhadap lawan jenis melainkan saat ini ia bisa melihat sosok siluet Ibu tercintanya yang sudah meninggal dari balik senyum Diapthora.


Benar. Itu bukanlah kekaguman atau rasa takjub akan bertemu dengan sesuatu yang luar biasa, tetapi rasa rindu yang dalam terhadap orang terkasihnya.


Bibir Adis bergetar hebat, ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi entah kenapa seperti ada sesuatu yang menahannya. Namun, tidak lama kemudian mulutnya pun terbuka.


“I-I-Ibu ... ?”


Diapthora hanya memperlihatkan senyum lembut nan menyejukkan selagi Adis masih terenyak dalam ilusi manis yang ia ciptakan sendiri.