
Adis masih bergelut dengan rasa sakit di kepalanya, sementara Randolf hanya menatapnya dingin seakan ia sudah mengetahui hal ini pasti akan terjadi. Mengingat bagaimana hubungan Adis dengan The Child, pemuda itu pasti akan memikat perhatian dari berbagai makhluk di seluruh Astal.
Keberadaan Adis sendiri seperti sebuah pemikat dalam berbagai arti. Tidak mengenal apakah mereka adalah para Penguasa ataupun penghuni, jelmaan astral atau para pengelana tersesat Astal. Mereka semua akan tertarik kepada Adis dan ingin berkomunikasi dengannya, bahkan sekelas Diapthora pun telah memperlihatkan tanda-tanda tersebut.
[Diapthora, Sang Pengantar Jiwa sangat penasaran dengan perjuanganmu]
Wajahnya terdistorsi, suara geraman tak jelas terus terdengar, dan tangan yang tak henti meremas kepala memperlihatkan bagaimana menderitanya Adis dalam mempertahankan kesadarannya.
Pemuda itu tidak pingsan. Sungguh sangat kuat, kekuatan mentalnya pun tampak tidak selemah kebanyakan laki-laki yang seusia dengannya.
Mungkin The Child memang membantunya. Jika dipikir-pikir lagi, tidak mungkin bagi seorang anak laki-laki seperti dirinya bisa menahan serangan mental seperti itu. Apalagi serangan itu berasal dari Diapthora, Sang Pengantar Jiwa secara langsung, pikir Randolf.
Tubuhnya terus menggeliat dan terus berkontraksi dengan serangan mental yang dilancarkan oleh Diapthora. Namun, Adis masih bertahan hingga akhirnya tubuhnya terlentang penuh dengan keringat dingin.
Tatapannya kosong, tapi perlahan-lahan cahaya dari matanya kembali muncul.
Randolf pun mengeluarkan napas lega. Ekspresi dinginnya luntur dan kini hanya senyum hangatlah yang terlihat jelas di wajahnya. Itu adalah raut yang sama persis ketika ia sedang berbincang-bincang bersama Adis.
[Diapthora, Sang Pengantar Jiwa puas dengan hasil yang kau dapat]
[Selamat! Kau telah diakui oleh Diapthora, Sang Pengantar Jiwa sebagai salah satu pengelana di Astal]
[Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, Diapthora, Sang Pengantar Jiwa memberimu sedikit "Aether" miliknya]
[Selamat! Karena kau berhasil melalui ujian kecil dari Diapthora, Sang Pengantar Jiwa. Kau mendapatkan tambahan poin kemampuan +1]
Setelah itu panel notifikasi muncul dan menampilkan status Adis secara otomatis.
[Status]
Stenght: 6
Agility : 4
Endurance :4
Intelligence: 1
[Poin Distribusi: 3]
"Aku takjub dengan kekuatan mentalmu, anak muda."
Pria eksentrik itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Adis.
Namun, Adis yang masih terkulai lemas sembari berusaha mengontrol napas beratnya. Ketika ia melihat sosok Randolf mengulurkan tangan, dengan refleks Adis pun langsung meraihnya pelan-pelan.
"Bagus. Tahap pertama telah selesai dan sepertinya Diapthora, Sang Pengantar Jiwa pun cukup menyukaimu"
"H-huh?"
"Sudahlah. Sekarang kita istirahatkan dulu tubuhmu itu di dekat tendaku."
Melihat Adis yang kewalahan, ia pun langsung mengalungkan tangannya ke leher pemuda itu lalu menutup Luks dengan melafalkan beberapa kata. Serpihan Luks yang sebelumnya berserakan di tanah langsung mengambang dan kembali lagi menjadi satu kristal utuh di atas telapak tangan Randolf.
Setelah itu, ia memapah Adis pergi menuju tendanya.
▼▼▼
Beberapa saat kemudian ....
"H-hummm ... "
"Hei, kawan kecilku. Sepertinya kau sudah siuman."
Suara Randolf yang terdengar riang itu langsung membangunkan Adis. Sontak tubuh sang pemuda lesu itu pun menegang seperti tersengar listrik.
"A-a-apa yang b-baru saja terjadi?!"
Dengan wajah panik nan histeris itu, wajah Adis dibasahi oleh keringat dingin. Bahkan pupil matanya pun berkedut-kedut seperti mengatakan "Itu pasti mimpi, 'kan?" kurang lebih.
Namun, Randolf hanya tertawa usil sambil menurunkan ujung topinya hingga menutupi wajahnya sendiri.
"Entah. Hanya kau yang tahu akan hal itu."
Sayangnya Adis tidak mengerti dengan celetukkan Randolf. Kondisinya saat ini sedang kebingungan, karena itu Adis hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh.
"Sudah. Sebaiknya kau pastikan buku yang kau pinjam dari Kraun. Rakun besar itu akan marah jika orang yang meminjam bukunya tidak mengembalikan barang yang sudah dijanjikan pada waktunya"
"O-ohh ... uhmm, b-benar."
Sontak Adis pun bangkit seperti orang yang panik dan segera berlari menuju Toko Kraun. Di sisi lain Randolf menghela napas panjang lalu mendongak menatap langit senja dengan raut tenang.
"Roda waktu kembali berjalan ...."
▼▼▼
Tempat itu dapat dibayangkan seperti perpustakaan kecil. Dengan konter penerima tamu maupun transaksi yang dapat dilihat begitu membuka pintu depan. Jajaran rak serta beberapa tempat penyimpanan terlihat mengelilingi bagian belakangnya.
Pada bagian sisi kanannya terdapat sebuah tangga menuju lantai dua yang ditutupi oleh seutas tali terikat dengan simpul mati.
Adis yang baru masuk dari pintu depan langsung jatuh berlutut. Napasnya terengah-engah sementara buku yang ia pinjam dari Kraun terlihat berada dipelukkan tangan kirinya.
"Hmm? Ah! ternyata Tua Adis, mengapa Anda terlihat kelelahan seperti itu?"
Kraun, sang Rakun penjaga toko buku pun memiringkan kepalanya, tapi tidak hingga ia melihat tamu barunya itu mengangkat sebuah buku.
"Oh! Ternyata buku pinjaman, ya? Saya tidak mengira Anda akan mengembalikannya secepat ini"
"Secepat ... i-i-ini?"
"Ya. Tepatnya lima menit sebelum waktu pengembaliannya."
Adis pun terkejut karena mendengar jatah waktunya berlalu cepat seperti itu. Ia merasa waktu yang ia habiskan hanya beberapa jam saja, tapi begitu kenangan, dan juga perasaan aneh setelah Diapthora itu muncul.
Semuanya berjalan sangat cepat, bahkan satu jam yang ia kira telah berlalu ternyata satu hari. Untungnya Randolf mengingatkan Adis akan waktu pengembalian buku, seandainya saja ia telat, mungkin akan konsekuensi yang cukup berat yang ia dapatkan dari Kraun.
"He ... hehehe .... terima kasih, Randolf," gumamnya dengan senyum kecut.
Tidak lama kemudian Adis pun jatuh terkulai lemas. Buku yang ada di dalam genggaman tangan kirinya pun jauh tepat di depan kepalanya.
"Oya! Apakah Anda baik-baik saja, Tuan Adis?"
Kraun pun mencondongkan tubuhnya untuk melihat Adis. Namun, pemuda itu memberinya lambaian tangan kanan seakan memberitahunya "aku baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan" seperti itu kurang lebih.
Sang Rakun penjaga toko buku pun berdeham lalu keluar dari meja konter. Setelah itu mengambil buku yang Adis jatuhkan sembari membersihkan bagian sampulnya dengan sapu tangan.
"Jadi ... pengalaman seperti apa yang Anda dapatkan setelah membaca buku ini, Tuan?"
"Hahh ... huhh ... hahh"
"Ah! Maaf, sepertinya saya terlalu bersemangat untuk mendengarkan kisah Anda sampai-sampai lupa dengan kondisi Anda saat ini."
Sang Rakun hanya mengangkat jari telunjuk kanannya dan seketika itu juga tubuh Adis melayang perlahan-lahan.
"W-w-whuoaa!—"
"Tenang saja. Anggap ini sebagai wahana dunia kami dan ... di sana," lanjutnya sembari mengarahkan jari telunjuk ke arah sofa samping tangga.
"T-terima kasih"
"Sama-sama," balas Kraun dengan senyum hangat. "Kembali pada pokok pembicaraan saya tadi. Apakah sekarang Anda bisa menceritakan pengalaman Anda, Tuan Adis?"
"K-k-kurang lebih ... ya?"
"Bagus. Kalau begitu tunggu sebentar, tempat ini terlihat kurang cocok dengan kisah yang mungkin dapat menggerakkan hati saya."
Kraun pun bertepuk tangan lalu kondisi tokoknya yang lusuh dan terlihat seperti sarang laba-laba tiba-tiba saja menjadi bersih. Tumpukan buku yang berserakan di atas konter serta beberapa lembar kertas langsung beterbangan.
Semua itu dibawa oleh angin yang lembut dan seiring waktu berjalan semua barang-barang yang berserakan, tidak tersusun rapi, dan juga berada bukan pada tempatnya menjadi tersusu rapi seakan-akan kondisi tokok milik Kraun menjadi tempat lain.
"Baiklah. Dengan ini semuanya telah selesai, apa kita bisa melanjutkan ini ke tahap selanjutnya, Tuan Adis?"
Adis yang menyaksikan semua keajaiban itu hanya bisa menganga seperti orang bodoh. Dengan ekspresinya yang tidak dapat dideskripsikan dengan satu kata, Kraun pun kembali menanyakan hal yang sama, tapi dengan sedikit berdeham.
"A-a-ahh ... iya! Jadi dari mana kau ingin mendengarnya?"
Bagi seorang mahasiswa tingkat awal yang sebelumnya belum pernah melihat keajaiban seperti itu, tentu akan membuatnya tertegun. Bahkan jika dibandingkan dengan sulap dan juga trik orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli sulap atau magician. Semua trik itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keajaiban yang baru saja Kraun perlihatkan kepada Adis.
Baik itu kemampuannya dalam menata dan membersihkan tokoknya dalam sekejap mata maupun mengangkat tubuh Adis lalu menurunkannya tepat ke atas sofa. Satu saja sudah cukup membuat Adis terkejut, apalagi jika sampai dua hal menakjubkan itu diperlihatkan secara langsung oleh Kraun tepat di depan matanya.
"Mengenai buku ini ... tentunya," tunjuk Kraun pada buku di tangan kirinya.
"Oh! Ya ... baiklah. Apa kau keberatan jika aku menceritakannya dengan seperti ini?"
"Jika maksud Anda adalah kecintaan terhadap sofa usang dan menciumnya seakan melepas rindu terhadap Sang Kekasih, tentu saya tidak keberatan sama sekali," tutur Kraun dengan nada ringan.
"Terima kasih. Aku tidak tahu dari mana kau bisa mengetahuinya, tapi sungguh ... aku merindukan kamarku," papar Adis dengan memelankan kata terakhir.
"Ahahahahaha. Saya jelas mengetahuinya karena setiap pelanggan yang datang ke tempat ini memiliki keluhan yang sama," tandas Sang Rakun.
Tidak lama kemudian, tepatnya setelah Adis mengambil sedikit waktu. Ia pun mulai membuka kisah awalnya dengan melontarkan sedikit keluhan kepada Kraun.
"Aku tidak mengerti. Aku sama sekali tidak mengerti tentang buku itu. Awalnya kukira buku itu seperti buku pada umumnya, tapi semua itu salah ... "
"Buku pada umumnya? Salah? Menarik ... mari kita dengar kelanjutannya"
"Aku tidak tahu, tapi buku yang aku pinjam darimu itu seperti seorang pendongeng. Padahal aku kira hanya membacanya selama beberapa menit, tapi nyatanya sudah berjam-jam"
"Anda benar. Buku yang Saya pinjamkan memang bukan sembarang buku, meski sampulnya berkata 'Air', tapi tidak menutup kemungkinan jika buku ini malah akan memberi Anda 'Madu'"
"Sebenarnya buku apa itu? Aku memang awam dan bisa mengerti dari judul yang kau katakan saat itu, t-t-tapi ... "
"Seperti seorang pendongeng pada era tertentu, benar?" potong Kraun sambil meletakan buku itu ke atas meja konter di depannya.
Buku yang dibaca oleh Adis mungkin seperti air hambar yang bisa ia lihat di mana saja. Itulah permukaannya, tapi begitu masuk, dan terjerumus ke dalamnya. Berbagai ilmu, sejarah, dan juga pengetahuan umum hingga tingkat menengah akan memaksa masuk ke dalam otak.
Seperti tamu tak diundang yang berusaha ramah, begitulah isi dari buku yang Adis baca. Namun, ia sama sekali tidak menyadarinya. Bukan ia yang berusaha memahami isi dari buku itu, melainkan buku itulah yang berusaha memahami Adis lalu mengambil semua informasi yang dibutuhkan kemudian mengeluarkannya kembali menjadi potongan-potongan informasi yang mudah dipahami.
Berkat kemudahan itulah Adis dapat membacanya dengan sangat mudah. Dengan kemudahan itu juga tingkat fokusnya bertambah dan kemantapannya dalam memilah informasi juga merupakan salah satu faktor yang membuatnya dapat bertahan selama kurang lebih empat jam hanya menatap, membaca, dan memahami buku yang bahkan belum pernah ia sangka-sangka.
"Buku ini adalah buku yang hidup." Kraun mengelus sampul depannya. "Saya tidak mengetahui buku seperti apa ini. Baik nama dan sifat buku ini beragam, tapi para pengelana tersesat yang telah membacanya meyakini bahwa buku ini adalah informasi yang telah terlupakan"
"Terlupakan? Lalu bagaimana mereka bisa mengetahuinya jika informasi itu terlupakan?"
"Semua itu berkat buku ini dan karena buku inilah yang sengaja memberitahu mereka yang layak menerima informasi tersebut."
"Benar," tandas Kraun.
Sang Rakun penjaga toko buku sekaligus mantan Pustakawan besar di Kerajaan Lavinus itu mengeluarkan kacamata monocle dari saku kanan jas hitamnya kemudian memakainya. Setelah itu ia mengangkat buku itu kembali menggunakan tangan kanan.
"Buku ini disebut juga sebagai O'l Frainus atau dalam bahasa yang Anda kenal adalah 'Sahabat Lama'"
"Sahabat lama?"
[Selamat! Kau telah berhasil menemukan identitas sejati dari buku misterius pertama Anda. Menambahkan atribut pemahaman ke dalam opsi atribut]
[Pemahamanmu terhadap dunia Astal bertambah. Mendapatkan kepingan kecil informasi baru tentang Dunia Astal]
[Status]
Stenght: 6
Agility : 4
Endurance : 4
Intelligence: 1
Wisdom : 1
[Poin Distribusi: 3]
[Kebijaksanaan dan Intelijen milikmu telah memenuhi syarat awal dalam penggunaan berkah serta keajaiban Dunia Astal. Dengan ini kau sudah bisa menggunakan sihir tingkat awal]
[Aether milik Diaphtora bereaksi terhadap perubahan di dalam tubuh dirimu. Mendapatkan tambahan +6 poin atribut yang akan dibagikan ke dalam opsi Kebijaksanaan dan Intelijen]
[Status]
Stenght: 6
Agility : 4
Endurance : 4
Intelligence: 4
Wisdom : 4
[Poin Distribusi: 3]
Adis pun sontak mengerang kesakitan setelah mendapatkan pemberitahuan tersebut. Untuk kedua kalinya ia harus memberontak terhadap rasa nyeri yang menyengat di kepalanya.
Di sisi lain Kraun sama sekali tidak menunjukkan kepanikan atau rasa khawatir. Buku yang ia pegang pun mulai mengeluarkan aura halus berwarna hitam. Sampul depan yang sebelumnya kosong dan tidak memiliki apa pun kini menunjukkan beberapa guratan.
Satu guratan, dua guratan, tiga guratan, dan akhirnya semua guratan tunggal acak itu bersatu padu menjadi sebuah kalimat ... "O'l Frainus" yang artinya "Sahabat Lama".
Perlahan-lahan tubuh Adis diselimuti oleh aura hangat yang samar hingga akhirnya menyelimuti seluruh tubuhnya dalam balutan cahaya bias.
[Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, efek bias yang menggerogoti akal, jiwa, hati, serta rasa rasionalitasmu dinetralkan. Pembentukan ulang dalam simbiosis telah dimulai]
[Berkat berkahmu sebagai Friend of the Straless Child, semua katalis buruk yang berusaha memakan hatimu telah dibentuk ulang, dan mulai diproses menjadi katalis penguat berkah milikmu]
Layaknya sebuah entitas asing yang berusaha mengambil alih tubuh Adis. Konstitusi tubuhnya yang mulai berubah dan beradaptasi terhadap perubahan sekitar kembali direka serta disesuaikan menyesuaikan kondisi tubuhnya semula.
Selain berkah itu berhasil memusnahkan unsur kegelapan yang berusaha menggerogoti Adis dari dalam, berkah miliknya juga mencerna konstitusi jahat lalu memakannya, dan menjadikannya sebagai nutrisi penguatan.
Namun, apa yang belum ia sadari adalah fakta bahwa dirinya perlahan-lahan memasuki sebuah keadaan di mana tanah tandus, dan badai kegelapan mulai menerjang ke arahnya.
Note**:**
WAhahahaha ... maaf lama banget upnya. Manajemen waktu ane buruk makannya kelabakan, yah cukup sekian rantnya. Semoga kalian menikmati chapter baru ini :3
Adios~